Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 81. Kebenaran Terungkap


__ADS_3

“Maaf Nyonya, tapi Tuan Alfio menolak untuk bertemu dengan Anda.” Ucapan tegas dari seorang aparat kepolisian, membuat Sea kembali bergeming.


Apa kesalahannya? Bukankah harusnya dia yang marah? Lalu mengapa Alfio menolak untuk bertemu dengannya? Banyak pertanyaan di dalam benak Sea.


Selama hampir 5 jam berada di kantor polisi, Noah melihat istrinya lebih banyak diam. Hal itu membuat Noah semakin khawatir. Kejadian di rumah saat Sea histeris membawa tanda tanya besar dalam benak Noah, apakah dia telah lalai? Apakah dirinya telah salah menilai jika istrinya sudah benar- benar pulih?


Elusan lembut Noah pada punggungnya, membawa Sea kembali ke kesadarannya. “Lebih baik kita pulang, ayo!” ajaknya.


“Apa mungkin semua tuduhan itu benar?” tanya Sea.


“Tuduhan apa yang kamu maksud, Sayang?” Noah yang sudah berdiri, kembali duduk tepat di sisi Sea.


“Kak Alfio. Apa dia menolak bertemu denganku karena semua tuduhan itu benar? Apa sebenarnya dia membenciku?” Sea memberondong suaminya dengan pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh batinnya.


Noah mengedikkan bahunya. “Entahlah. Dari sini kita bisa belajar, apa yang ada dalam hati seseorang siapa yang tahu. Benar?”


Sea mengangguk, tanda ia setuju. Benar kata suaminya, siapa yang bisa menebak isi hati seseorang. Sebaiknya setelah ini, aku lebih waspada lagi. Harusnya aku lebih hati-hati sebelum memutuskan untuk mempercayai seseorang, batin Sea.


“Baiklah, sekarang saatnya untuk kita pulang,” ajak Noah.


Samar-samar mendengar pembicaraan putra dan menantunya, Ayah Peter pun menyela. “Kalian boleh pulang lebih dulu, urusan di sini biarkan Ayah dan tim kuasa hukum yang menyelesaikannya,” ujarnya.


Mendengar itu Sea dan Noah setuju kemudian berpamitan dengan keempat pengacara dari tim hukum Sea Industries. Namun belum selesai mereka berpamitan, seorang petugas polisi menghampiri.


“Maaf Tuan Noah, apakah Anda ingin menemui Tuan Alfio?” tanyanya.


“Bukan saya, tapi istri saya,” jawab Noah.


“Begitu, ya …. Bagaimana jika Anda saja yang mewakili istri Anda? Tuan Alfio bersedia jika Anda yang bertemu dengannya.”


Mendengar hal ini sontak Sea dan Noah saling bertukar pandangan. Keduanya menyampaikan pertanyaan yang sama lewat tatapan masing-masing.


“Ti-tidak perlu, kami akan bertemu nanti saat pemeriksaan selan-“


“Ya, ya, ya. Suami saya akan menemuinya,” ujar Sea menyela ucapan Noah.


Noah menatap istrinya dengan tatapan heran. “Mhiu sayang, tapi kita sudah harus pulang sekarang. Kamu kelelahan, Sayang. Kamu butuh istirahat sekarang,” sanggah Noah dengan lembut namun penuh penekanan pada istrinya.


“Phiu sayang, aku mohon.” Sea menggunakan jurus andalannya. Tatapan puppy eyes yang begitu melemahkan seorang Noah.


“Aku yakin ada alasan mengapa Kak Alfio ingin bertemu denganmu dan tidak denganku,” imbuh Sea meyakinkan suaminya.


“Nanti, kita akan bertemu dengannya nanti saat pemeriksaan berikutnya.” Noah masih saja terus mengelak.


Sementara petugas polisi yang melihat perdebatan suami istri itu hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tak gatal.


“Jadi, apakah Anda bersedia bertemu atau tidak?” tanya petugas tersebut sekali lagi.


“Tidak!” jawab Noah.


“Ya!” jawab Sea.


Jawaban yang berbeda itu datangnya bersamaan, membuat sang petugas polisi semakin kebingungan. “Yang benar yang mana?” lirihnya.

__ADS_1


“Aku tak akan pulang!” Jurus terakhir yang dimiliki Sea. Jurus bibir cemberut dan tangan yang disedekapkan di dada.


Noah menghela napas berat saat melihat tingkah istrinya. “Baiklah. Aku akan bertemu dengannya,” putus Noah pada akhirnya.


Senyum penuh kemenangan akhirnya tercetak di wajah istrinya. “Terima kasih, Phiu sayang. Sampaikan salamku padanya, katakan aku masih berharap suatu saat dia mau menemuiku,” pesan Sea pada suaminya.


Sementara Noah hanya berdecak, lalu mengecup kening istrinya. “Duduk dengan tenang di sini dan jangan ke mana-mana, oke?”


Sea mengangguk patuh. Kemudian ia segera mengambil tempat duduk di sisi Ayah Peter sesuai dengan instruksi Noah.


“Ayah, tolong jaga Sea sebentar. Aku akan menemui pria itu,” pinta Noah dan direspon oleh Ayah Peter dengan menaikkan satu jempolnya tanda ia setuju.


...……....


Di sebuah ruangan kecil yang sangat minim perabot, hanya sebuah meja persegi panjang yang tak terlalu besar dan dikelilingi 4 buah kursi besi yang saling berhadapan. Terlihat Noah telah duduk di salah satu kursi tersebut. Jemarinya bermain-main di atas meja, mengetuk-ngetuk meja menimbulkan bunyi agar suasana tak terlalu hening.


Tak butuh waktu lama, Alfio datang diantar petugas polisi yang tadi. Ditahan beberapa hari, terlihat perubahan besar dari segi penampilan pria itu. Kumis tipis tampak di wajahnya. Rambut-rambut kasar mulai tumbuh di dagu dan rahangnya.


Berantakan, kesan Noah kepada Alfio saat pertama kali keduanya bersitatap.


“Bagaimana keadaan Sea?” tanya Alfio segera setelah ia duduk di kursi yang ada di hadapan Noah.


Noah tertawa. Berani sekali pria ini, pikirnya. “Kau mengharapkan jawaban apa?”


“Kuharap dia baik-baik saja,” jawab Alfio seraya menunduk.


Noah mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Gerakan spontan Alfio yang menunduk dan sekilas tatapan pria itu yang berhasil tertangkap oleh kedua netranya. Kejujuran, ketulusan, dan penyesalan jelas terlihat dari pancaran netra Alfio, pikir Noah.


Alfio megusap wajahnya kasar. “Kasihan Sea. Dia pasti sangat terpukul,” imbuhnya.


Noah mengangguk, ia membenarkan ucapan Alfio. Benar jika istrinya sangat terpukul.


“Jika kau seperhatian itu padanya, mengapa tak setuju untuk bertemu dengannya? Jangan kira aku sudi menceritakan pada Sea bagaimana kau yang begitu mengkhawatirkannya.”


“Ya, itu bukan masalah. Karena ada masalah yang lebih penting yang perlu kau tahu,” ucapnya dengan serius.


“Sebelumnya, kau harus tahu siapa aku,” lanjut Alfo . “Aku adalah kakak sepupu dari almarhumah Aneesa, mantan kekasihmu.”


“Apa?” pekik Noah.


Pantas saja aku tak asing dengan wajahnya. Ya, aku ingat sepertinya aku pernah melihat fotonya bersama Aneesa, batin Noah.


“Ya, itu benar. Aku adalah kakak sepupu Aneesa. Satu-satunya keluarga wanita malang itu yang masih menerima dan mengakuinya sebagai keluarga,” jelas Alfio.


“Sayangnya kesibukanku melakukan pameran di luar negeri membuat kami jarang bertemu.”


“Mengapa baru mengakuinya sekarang? Aku yakin kamu sudah tahu siapa aku dan apa hubunganku dengan Aneesa sejak lama,” tanya Noah.


“Tentu saja, aku tahu dan sesungguhnya hal itu juga yang menjadi alasan mengapa aku ke mari,” jawab Alfio.


“Aku ingin membalaskan dendam Aneesa. Aku tak terima kau bahagia sementara dia yang sakit hati karenamu berakhir dengan bunuh diri,” ungkap Alfio.


“Dan salahku karena awalnya berpikir untuk membuatmu kehilangan Sea, hingga kau juga akan merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kau sayangi,” lanjut Alfio dengan jujur.

__ADS_1


“Kau salah! Ada alasan lain mengapa sampai Aneesa memilih mengakhiri hidupnya,” sanggah Noah. “Aku pun sama sepertimu, awalnya aku menyalahkan Sea.”


“Sungguh istriku tak tahu dan tak terlibat apa pun,” sambung Noah.


Alfio mengernyitkan keningnya, “Maksudmu?”


“Bukan Sea yang terakhir kali bertemu dengan Aneesa,” jawab Noah.


“Hah?!” Alfio cukup terkejut dengan fakta yang baru ia ketahui.


“Sudahlah. Ada hal yang lebih penting,” ujar Alfio.


“Kuakui, awalnya memang aku mendekati Sea sebab aku ingin mencelakainya,” aku Alfio. Namun belum sempat ia melanjutkan ucapannya, Noah sudah menyelanya.


“B*ngs*t kau!” Makinya. Noah mulai tersulut emosi saat mengetahui niat Alfio mendekati Sea.


“Tenanglah dulu. Dengarkan aku,” pinta Alfio.


“Tapi sungguh bukan aku pelakunya. Bukan aku juga yang merencanakan itu semua,” ungkapnya.


“Istrimu terlalu sulit untuk kusakiti, ia terlalu mudah untuk dicintai,” imbuhnya semakin menyulut emosi Noah.


Braakkk.


Noah memukul keras meja di hadapannya.


“Kau!” tunjuknya ke arah Alfio dengan amarah yang luar biasa.


“Dengarkan aku! Kau boleh marah padaku, ingin melukaiku juga silakan,” ujar Alfio.


“Tapi di luar sana, ada seorang wanita yang sedang merencanakan untuk mencelakai Sea. Dan wanita itu juga yang mengkambing hitamkan aku, seolah- olah aku pelakunya. Menjadikan perasaanku pada istrimu sebagai alibi yang kuat mengapa sampai aku mencelakai Sea,” jelas Alfio.


“Wanita?” Noah masih diliputi dengan keraguan atas semua ucapan Alfio.


“Ya, seorang wanita. Wanita yang begitu menginginkan dirimu hingga berpikir untuk melenyapkan Sea agar bisa memilikimu,” jawab Alfio.


“Dia adalah Alesandra,” lanjutnya.


Noah terkejut bukan main, pria itu sampai membelalak. “Alesandra?” ulangnya.


“Ya, dia adalah dalang sesungguhnya dari semua kejadian ini,” ungkap Alfio.


Bungkamnya Noah dapat dimengerti oleh Alfio. “Aku tak memintamu untuk percaya padaku,” ujarnya.


“Aku memintamu untuk menjaga Sea. Jauhkan dia dari wanita licik itu.”


“Kupastikan, wanita licik itu akan segera menyusulku ke balik jeruji. Aku berani berjanji padamu, karena aku memiliki buktinya,” ungkap Alfio.


“Selagi aku menyelesaikan semua masalah ini, kumohon lindungi Sea.” Noah bisa melihat kesungguhan dari sorot mata Alfio.


“Tanpa kau minta, aku akan tetap melindunginya!” Balas Noah.


...—————————...

__ADS_1


__ADS_2