
Tessa terlihat membenahi sarung yang melilit tubuhnya. Ia bangkit dari posisi berbaringnya.
Dengan derai air mata, wanita itu duduk di tepian ranjang. Kepalanya terus menunduk, mana berani ia menatap wajah tampan pria yang ia kagumi di hadapannya.
“Ayo!” Owen melemparkan jaket yang ia pakai ke pangkuan Tessa. “Kita harus segera pergi dari tempat ini!”
Tessa akhirnya mengangkat kepalanya, pandangannya lurus menatap Owen. Tatapannya menyiratkan jika kini ia dilanda perasaan malu, marah, menyesal, dan putus asa.
Tessa menggeleng. “Lu aja yang pergi! Gue gak akan ke mana-mana.” Tessa tak berniat mundur. Tak ada harapan lagi baginya, pikirnya.
“Lu udah gila?!” bentak Owen. Wajah lelahnya ia usap dengan kasar.
“Tessa … ini bukan waktunya untuk bersikap kekanakan!” imbuhnya.
“Apa pedulimu, huh?! Lu gak tahu apa pun yang sudah terjadi pada gue!” balas Tessa dengan teriakan yang tak mau kalah dari bentakan Owen.
“Gue gak peduli sama lu. Sama sekali gue gak peduli,” ungkap Owen.
“Yang gue pedulikan adalah perbuatan gila lu yang bakal ngorbanin nyawa janin tak berdosa yang lu kandung!”
Dengan kedua tangannya Tessa menutupi wajahnya. Sementara ia semakin terisak di baliknya. Pundaknya ikut bergetar dan kakinya seakan kehilangan kekuatannya. Sulit sekali untuk bangkit, meski hati kecilnya sangat ingin berlari menghampiri pria di hadapannya.
“Gue emang gila! Semua yang terjadi di hidup gue emang gila. Puas?!” Ego Tessa memaksanya mengatakan hal yang tak betul-betul diinginkan hatinya.
“Jangan ikut campur pada pilihan hidup gue,” ujar Tessa.
Suaranya mulai melemah, sebab jauh dalam lubuk hatinya ia sedang meronta. Meminta tolong untuk diselamatkan dari tempat itu.
“Selagi lu gak punya solusi yang lebih baik dari ini, mending lu pergi aja. Anggap saja malam ini gak pernah ada. Lu gak tau apa yang terjadi malam ini, sebab kita tak pernah bertemu.”
“Aaarrgghh!” Owen tak lagi tahan untuk tidak menggeram. Tessa adalah wanita paling egois dan keras kepala yang pernah ia temui.
Kedua tangannya berkacak di pinggang. Owen mengatur embusan napasnya saat menatap ke arah Tessa. “Solusi?” tanyanya.
“Yang lu mau cuma solusi, kan?” tanya Owen sekali lagi.
Raut wajah pria itu menyiratkan keraguan. Entah apa yang terpikir olehnya. Tessa hanya bisa menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Sebagai seorang dokter, gue menghormati kehidupan. Sekecil apa pun itu. Jadi jangan lu pikir … gu-gue melakukan ini karena lu,” ujar Owen.
Tanpa bicara apa-apa lagi, Owen mendekat pada Tessa. Jaket miliknya yang teronggok di lantai ia ambil. Semua gerak-gerik Owen di amati dengan seksama oleh Tessa.
Ibu hamil itu dibuat terlonjak saat dengan lembut Owen memakaikan jaket untuknya. “Ayo! Yang harus lu lakuin sekarang hanyalah menjaga janin yang ada dalam kandungan lu.”
“Hah?!” Tessa menggeleng dengan kening yang mengernyit. Dia pikir hamil dan mengandung itu mudah, gerutu Tessa dalam hati.
“Lu masih gak paham? Ck!” Pria itu juga bingung harus bagaimana untuk mengungkapkan maksudnya.
“Jangan gugurin kandungan lu. Tugas lu hanya menjaganya selama dia berada di kandungan lu,” Owen terdiam sejenak. Pria itu terlihat menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar.
“Lahirkan bayi itu. Setelahnya, bayi itu akan menjadi urusan gue. Setelah lahir, dia akan menjadi tanggung jawab gue.”
__ADS_1
Sontak saja kedua netra Tessa membelalak mendengar apa yang baru saja dikatakan Owen. Tessa tertawa, “Bukan gue yang gila, tapi lu!”
Tessa merasa semakin kesal pada Owen. Pria itu telah mengacaukan semua hal yang telah ia rencanakan. Semuanya menjadi sia-sia.
Tessa mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. Lantas ia berdiri, menutup ritsleting jaket milik Owen yang sudah melekat di tubuhnya.
“Andai saja mengandung dan melahirkan semudah itu, gue gak akan pernah terpikirkan untuk melakukan hal gila ini!” ucap Tessa tanpa menatap Owen.
Tessa mengenakan kembali celana panjangnya. Tak ia pedulikan tatapan tajam Owen padanya. Malam ini adalah salah satu malam terburuk di sepanjang hidup Tessa.
Sudah terlanjur menanggung malu, lalu pria di hadapannya terus saja menambah kekesalannya. Membuat suasana hatinya semakin buruk.
“Mengandung tak hanya soal membiarkan janin ini tetap berada dalam perutku saja. Lu tak pikirkan bagaimana gue akan dipandang sebelah mata oleh orang lain?!”
“Dan setelah bayi ini lahir … hanya karena lu dokter, jadi lu pikir merawat seorang bayi itu mudah?”
“Gue butuh solusi, bukan omong kosong!” Tegas Tessa sebelum ia mulai melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar.
Sementara Owen tetap bergeming di tempatnya. Kedua netranya tampak memejam sesaat. Ia butuh meyakinkan dirinya dengan keputusan yang akan diambilnya saat ini.
“Gue akan tanggung jawab!” ucapnya menghentikan langkah Tessa.
Berganti Tessa yang bergeming. Tiba-tiba saja kakinya terasa sulit untuk melangkah. Begitupun Owen, dari tempatnya berdiri saat ini ia hanya bisa melihat punggung Tessa. Begitu dekat dengannya, harusnya sangat mudah untuk ia hampiri tapi mengapa rasanya begitu sulit untuk ia gapai.
“Lu dengar? Gue yang akan TANG-GUNG JA-WAB!” Owen kembali berucap, pria itu bahkan semakin menekankan kata tanggung jawab berharap Tessa tak akan bergeming lagi.
Namun Tessa masih sama. Wanita itu masih berdiri, diam membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, namun mengapa ia sulit bernapas, pikirnya.
Apa yang salah dengan kata tanggung jawab? Sejak tadi orang gila itu memang mengatakannya! Lantas apa yang salah? Tanggung jawab pada siapa? Tak mungkin padaku, kan? pertanyaan dalam hati Tessa.
Ucapan lembut Owen menarik Tessa kembali pada kesadarannya. Ia menggelengkan kepalanya, “Tapi gue memang tak mengerti. Lu tahu sebodoh apa gue,” jawab Tessa.
Owen menarik napas panjang, memenuhi seluruh rongga dadanya dengan oksigen. Ia yakin setelah satu kalimat ini ia akan merasa sesak dan sulit untuk bernapas.
“Huuuuffftt ….” Pria yang tengah gugup itu mengembuskan napasnya panjang.
“Gue yang akan tanggung jawab. Tidak hanya pada bayi lu … gue juga akan tanggung jawab atas kehamilan lu!” jelas Owen. Sungguh pria itu bersyukur ia tak tergagap saat mengungkapkannya.
“Bagaimana? Lu paham sudah paham, kan?” Jelas Owen, sementara Tessa menjawabnnya dengan gelengan kepalanya.
“Oke … oke ….” Owen mengangkat kedua tangannya ke udara tanda ia menyerah.
“Ayo kita menikah!” Ungkap Owen.
“Me-ni-kah?” akhirnya terdengar jua suara Tessa.
“Ya. Aku dan kau menikah. Kita akan menjadi sepasang suami istri,” jawab Owen.
“Kita … suami istri?” tanya Tessa seolah tak yakin jika semua ini nyata.
“Ya. Lu butuh solusi, kan?” tanya Owen.
__ADS_1
“Ini solusi yang gue tawarkan. Kita pergi dari sini. Kembali ke kota, menikah, menjadi pasangan suami istri. Lu akan mengandung bayi kita, lu dan gue akan menjaganya selama ia berada dalam kandunganmu. Hingga bayi kita lahir dan menatap dunia ini,” lanjut Owen.
Tessa kembali bungkam. “Bagaimana solusi dari gue?” Owen menanyakan kesediaan Tessa.
“Ta-tapi ….”
“Tak ada tapi. Ayo pulang!” ajak Owen.
“Lalu kita menikah,” imbuhnya.
Owen meraih tangan Tessa untuk ia genggam saat wanita itu menitikkan air mata seraya mengangguk. Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Pinta Tessa dalam hatinya.
Owen tersenyum. Dengan jemari yang saling menggenggam, ia menuntun langkah Tessa meninggalkan tempat terkutuk itu.
Ibu Ida mengikuti langkah kedua insan yang sedang bergejolak dengan diri mereka sendiri, di dalam batinnya masing-masing. Wanita paruh baya itu bersyukur, Tessa tak sempat melakukan hal gila itu. Senyumnya mengembang kala mengingat jika semua hal baik malam ini terjadi karena dirinya.
“Owen,” panggil Tessa.
Meski kedua kakinya terus melangkah, Pria itu menoleh pada Tessa. “Hemm?”
“Lu gak sedang bercanda, kan?” tanyanya.
“Lu benar akan nikahin gue, kan?”
Owen tergelak. Lucu sekali pikirnya, haruskah ia kembali melamar gadis ini? Meminta Tessa menjadi istrinya, di tengah hutan? Apakah itu ide yang baik? Pikir Owen.
“Yup. Kita akan menikah,” jawab Owen singkat. “Tapi … nanti,” imbuhnya.
“Nanti? Kapan? Kehamilan gue akan terus membesar.” Tessa mengungkap kekhawatirannya.
“Gue paham,” jawab Owen.
“Tentu kita akan menikah, tapi tidak sekarang,” lanjutnya.
“Tak mungkin kita akan menikah di sini, bukan?” tanya Owen yang segera mendapat respon anggukan oleh Tessa.
“Seminggu lagi. Tunggulah di sini bersamaku. Setelah kegiatan ini selesai, kita kembali ke kota dan gue akan langsung melamar lu pada kedua orang tua lu.”
Tessa tersenyum. Akhirnya malam ini ia bisa bernapas lega. Keduanya melanjutkan lagi perjalanannya untuk keluar dari hutan. Rumah Ibu Ida sudah tampak, hanya beberapa meter lagi dan keduanya telah tiba.
Owen mengantar Tessa hingga ke depan pintu kamar wanita itu. “Tidur dan istirahatlah!”
Tessa mengangguk. “Owen, terimakasih.”
Terlihat senyum di wajah tampan Owen sebelum ia mengangguk.
“Terima kasih sudah bersedia menikahiku,” ucap Tessa. Senyuman masih terukir jelas di wajah Owen. Ia merasa telah memutuskan hal yang paling tepat.
“Jika kita menikah, bagaimana dengan … cinta?” tanya Tessa ragu.
Mendengar satu kata itu, senyum di wajah Owen sontak menghilang.
__ADS_1
“Cinta?” gumam Owen lirih.
...——————————...