Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 89. Ayo, pulang!


__ADS_3

“Mas, kumohon,” pinta Sea.


Entah untuk keberapa kalinya, Sea memohon pada Noah untuk mengabulkan permintaannya. Sudah banyak jurus andalan miliknya yang ia gunakan.


Mulai dari bermanja-manja, puppy eyes, hingga mode cemberut dan berpura-pura merajuk. Akan tetapi, Noah belum juga memberikan jawaban pasti atas permintaannya.


“Kupikir Mas Noah juga menyayangi Izzan,” celoteh Sea tak kunjung henti.


“Benar, aku memang menyayanginya,” balas Noah.


“Lalu?” Wajah bingung Sea begitu menggemaskan menurut Noah. Hal itu membuatnya tak bisa menahan untuk tak memberikan kecupan di kedua pipi istrinya.


“Bukan perihal menyayangi atau tidak. Tapi ini perihal kesiapan kita berdua. Apakah kita sudah siap bertanggung jawab pada masa depannya? Merawat dan mengasihinya hingga dewasa? Tanpa membeda-bedakan dengan anak- anak kita yang lainnya, kelak?”


”Apa kita sudah siap menjadi orang tua?” imbuh Noah.


Mendengar penuturan suaminya, Sea mendadak bungkam. “Benar. Kamu benar, Mas.” Sea melangkah mundur untuk duduk di sofa kamarnya.


Ya, dirinya selalu seperti ini. Pikir Sea merutuki dirinya seperti ini. Bertindak tanpa pikir panjang. Hanya memikirkan emosi sesaat.


Noah menghampiri Sea, ia ikut duduk di sisi istrinya. Pundak Sea, ia rangkul agar Sea merasa nyaman saat menyandarkan kepala pada dada bidangnya.


“Bukannya aku tak ingin. Aku juga sama inginnya denganmu. Tapi, semua butuh proses. Mengadopsi anak tak seperti membeli barang,” jelas Noah.


“Banyak yang harus kita lakukan. Kesiapan kita sebagai orang tua akan menjadi isu pertama yang akan diperiksa oleh dinas terkait. Kita akan melalui masa percobaan selama minimal enam bulan. Dan pada akhirnya kita pula akan menjalani sidang,” jelas Noah.


Sea mendongak. Ia menatap wajah tampan suaminya. Ia pikir, mengadopsi anak itu hanya perlu menyiapkan beberapa dokumen untuk dibawa ke panti asuhan. Setelah itu ia akan menjemput Izzan, lalu mereka akan menjadi orang tua anak itu.


“Apa sangat sulit?” tanyanya.


Noah menggeleng. “Tidak.”


“Yang berhubungan dengan administrasi, semuanya pasti akan ada jalan keluarnya.” Melihat warna merah muda alami dari bibir istrinya, membuat Noah tak tahan untuk tak mengecupi bibir Sea.


“Yang aku ingin tanyakan, apa kamu siap menjadi ibu bagi Izzan? Masa depannya akan menjadi tanggung jawab kita berdua. Kita harus bisa membimbingnya untuk bisa sukses di dunia juga di akhirat. Kamu siap?” tanya Noah.


Kedua netra sepasang suami istri itu saling bertukar pandangan cukup lama. Hingga Noah mengangguk lebih dulu. “Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk kalian. Untuk kamu, untuk Izzan, dan untuk putra-putri kita nanti.”


“Bagaimana denganmu?”


Sea begitu terharu dengan penuturan Noah. Kedua netranya mulai berkaca-kaca.


“A-aku juga akan berusaha sepertimu. Bantu dan bimbing aku ya, Mas.” Sea tak bisa lagi membendung tangisnya.


Ia sandarkan kepalanya kembali pada dada bidang suaminya. Mendengar irama detak jantung Noah yang selalu menjadi kesukaannya.

__ADS_1


Kemeja putih yang dikenakan Noah, telah basah oleh air mata. Namun si empunya tak peduli. Ia kecup puncak kepala istrinya berkali-kali.


Jika Tuhan mengizinkan, kebahagiaan mereka sebentar lagi akan semakin lengkap dengan kehadiran Izzan di tengah-tengah mereka.


“Sebentar … aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Noah melerai pelukannya dan beranjak dari sofa. Diraihnya sebuah map warna merah dari dalam tas kerjanya.


“Bacalah!” Suruh Noah ketika ia kembali duduk di sisi Sea.


Sea melakukan apa yang disuruh Oleh Noah. Ia baca dengan perlahan selembar demi selembar kertas yang berada dalam map.


Tangis yang tadinya telah mereda kini kembali. Sea kembali terisak saat menyadari jika sebentar lagi apa yang sangat diharapkannya akan terwujud.


“Mas, apa semua ini benar?” tanya Sea seraya mengangkat lembaran kertas yang tak beraturan lagi dari pangkuannya.


Noah mengangguk untuk membenarkan. Menambah binar dari sorot mata Sea.


Jika Sea boleh berteriak, ingin rasanya ia berteriak. Bersorak gembira atas kejutan yang diberikan suaminya.


Ya, ini kejutan untuknya. Setelah beberapa hari Noah terus menggantung jawaban atas permintaannya. Lembaran kertas ini menjawabnya.


Lembaran kertas yang berisi dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mengadopsi anak. Semuanya telah siap dan ditata rapi oleh Noah di dalam map yang tadi ia beri pada istirnya.


“Mas … terima kasih,” ucap Sea di sela-sela isak tangisnya.


Kembali ia peluk Sea, ia belai lembut surai panjang milik istrinya. Lalu ibu jarinya bergerak mengusap buliran air mata di pipi Sea.


”Mhiu Sayang, kertas-kertas ini adalah awal perjuangan kita berdua. Setelah ini masih banyak yang harus kita lakukan. Kamu siap?”


Sea mengangguk dalam dekapan Noah. “Aku siap, Phiu Sayang. Selama kita melakukannya bersama, aku siap.”


Malam ini keduanya lewati dengan berbincang mengenai langkah selanjutnya yang akan mereka tempuh untuk mengadopsi anak.


Demi hati yang telah tertaut pada seorang anak laki-laki bernama Izzan, Sea dan Noah telah bertekad melakukan yang terbaik agar mereka bisa mengasuh Izzan. Memberi kasih sayang, membimbing Izzan, dan menjadi orang tua yang baik bagi anak itu kelak.


...……….....


Setelah menyerahkan dokumen yang telah disiapkan kepada Dinas Sosial setempat, Sea dan Noah harus menjalani uji kelayakan untuk menjadi orang tua angkat. Setelah mengatur pertemuan, petugas yang berwenang segera melakukan kunjungan ke kediaman keluarga Myles.


Semoga pertemuan hari ini memberikan hasil baik yang sesuai dengan harapan, doa Sea dalam hati.


Setelah berbincang cukup lama, kini Sea dan Noah tengah mengantar petugas yang berkunjung ke kediaman mereka ke depan pintu rumah.


“Terima kasih atas kunjungan Bapak dan Ibu,” ucap Noah dengan ramah saat para petugas tersebut berpamitan.


“Sungguh kami sangat berharap bisa segera menerima kabar baik,” lanjutnya.

__ADS_1


Noah merangkul pundak Sea. Dari helaan napas istrinya, Noah bisa merasakan ketegangan yang dirasakan Sea.


“Semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku, semua akan berjalan lancar,” ucap Noah menyemangati Sea.


Dan apa yang diucapkan Noah benar terjadi. Hanya dua hari berselang, pria itu menerima surat pemberitahuan jika mereka diberi izin untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.


Tahapan yang paling dinanti Sea, sebab mereka akan di beri izin untuk mengasuh Izzan dalam jangka waktu sementara. Selama enam bulan, mereka akan membawa Izzan ke kediaman mereka. Sebagai langkah untuk perkenalan. Dan selama itu pula Sea dan Noah harus memberikan laporan secara intensif.


Pemberitahuan ini pertama kali diketahui oleh Noah. Sungguh lega rasanya. Noah tak sabar untuk melihat kebahagiaan istrinya juga Izzan.


Dari yang Noah ketahui, selama dua hari terakhir Sea tak pernah absen mengunjungi Izzan. Istrinya itu bahkan sudah tahu jadwal-jadwal kelas anak itu.


Senyum di wajah Noah tak pernah luntur semenjak ia menerima berita bahagia itu. Bahkan selama perjalanan menuju Panti Asuhan Kasih Ibu, Noah tak henti bersenandung.


Tak terasa Noah telah tiba di tempat tujuannya. Setelah menepikan mobilnya, dengan setengah berlari Noah menuju satu kamar yang hampir sebulan ini ditempati oleh Izzan.


Ada beberapa anak lain di dalam kamar. Mereka semua telah berbaring di ranjang bersusun yang terbuat dari besi. Sementara Sea, duduk di salah satu ranjang di mana Izzan berbaring di sana.


Noah menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar, saat mendengar suara istrinya yang sedang membacakan buku cerita untuk anak-anak. Tak ingin mengganggu, Noah menunggu hingga cerita yang dibacakan Sea selesai.


Bahkan saat cerita telah selesai Noah masih harus bersabar. Noah masih harus menunggu. Anak-anak itu sungguh ingin tahu banyak hal. Mereka terus berceloteh, mengajukan pertanyaan pada Sea. Dan entah sampai kapan seandainya Sea tak menghentikan mereka.


Di saat suasana mulai hening, Noah membuka pintu lebih lebar. Sea, Izzan, dan beberapa anak lain yang masih terjaga menyambut kedatangannya.


“Ayo, pulang!” Ajak Noah setelah membalas sapaan untuknya.


“Ya, aku ambil tasku dulu.” Sea berdiri hendak mengambil tasnya di atas meja.


“Mhiu Sayang, tolong kemasi juga barang-barang Izzan,” pinta Noah membuat Sea menghentikan langkahnya.


“Hah? Barang-barang Izzan?” tanya Sea memastikan. Mendengar itu Izzan yang duduk di atas tempat tidurnya ikut menatap Noah penuh tanya.


“Ya, karena kita akan pulang bersama.” Akhirnya, Noah menyampaikan kabar gembira itu.


“Benarkah?” lirih Sea bertanya, rasanya ia tak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Ya, Sayang. Izzan akan ikut dengan kita,” jawab Noah bersemangat.


Tak hanya Noah dan Sea yang kini bahagia. Izzan, anak laki-laki itu kini termangu di tempatnya. Tak ada kata yang bisa dia ungkapkan. Tak tahu pula bagaimana caranya harus menyikapi semua ini.


Jauh dalam lubuk hati Izzan, ia bersyukur. Sungguh bersyukur, Tuhan tak pernah berhenti memberi nikmat untuknya.


Terima kasih, Tuhan. Engkau menjawab doaku. Batin Izzan.


...————————...

__ADS_1


__ADS_2