Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 21. Mungkinkah?


__ADS_3

“Sus, apa masih ada pasien yang menunggu?” tanya Noah pada perawat yang bertugas bersamanya saat ini.


Entah sudah berapa kali dalam sehari ini, dokter tampan idola para pasien dan perawat terlihat memijat keningnya. Mungkinkah ia sedang sakit? Namun dilihat dari bagaimana ia bekerja hari ini, sepertinya Noah baik-baik saja.


Tentu saja terlihat baik, sebab yang sedang tak baik itu tentunya tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kini dalam hati pria itu sedang dipenuhi oleh perasaan tak nyaman, gelisah, dan mungkin rindu yang tidak ingin diakui oleh Noah.


Semakin Noah pikirkan, perasaan itu semakin berkecamuk. Semakin Noah ingin mengelak, semakin tak bisa ia pungkiri jika semua perasaan itu berujung pada satu wanita bernama Seanna, istrinya.


“Pasien sudah tak ada lagi, dok.” Jawaban perawat tadi seperti angin yang berembus dan berhasil menyejukkan hatinya.


“Baiklah, aku akan pulang sekarang,” ucap Noah. “Kalian tahu kan di mana harus menghubungiku jika terjadi sesuatu yang penting?” Noah harus memastikan semuanya akan terkendali dengan baik sebelum ia pergi.


Anggukan dari dua orang perawat secara bersamaan mampu mengembalikan senyum di wajah tampan Noah yang sebulan terakhir ini sangat jarang terlihat. Sebulan terakhir, dokter tampan itu memang menjadi bahan perbincangan di seluruh penjuru rumah sakit.


Dimulai sejak berita mengenai hubungannya dengan dokter Alesandra yang terbukti hanya gosip. Hingga banyaknya pertanyaan dan asumsi yang timbul karena dokter Noah lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Pembahasan mengenai kondisi rumah tangganya yang tak harmonis pun menjadi topik utama yang paling sering dibicarakan. Namun bagi seorang Noah, apa pun yang orang lain bicarakan tentangnya, tak penting baginya.


Noah tak pernah merasa sangat bersemangat seperti saat ini untuk pulang ke rumah. Sejak kejadian malam itu, Noah berusaha sebisa mungkin untuk menjauh dari Sea. Terlebih melihat sikap Sea yang juga menjauh darinya, Noah pikir lebih baik dirinya yang menghabiskan waktu di luar rumah dibanding Sea.


Sea akan merasa lebih nyaman di rumah jika aku tak ada di sana, begitu pikir Noah.


Langkah kaki Noah yang terburu-buru harus terhenti kala mendengar namanya dipanggil. Belum sempat ia menoleh, pundaknya sudah dirangkul oleh salah satu sahabatnya, Sandy.


“Mau ke mana, lu?” tanyanya.


“Pulang,” jawab Noah singkat. Langkah kaki kedua dokter muda itu tampak selaras.


“Gak salah? Emangnya lu masih punya rumah?” tanya Sandy dengan maksud untuk menyindir Noah. “Saking seringnya gue lihat lu di rumah sakit, gua sempat berpikir lu sudah di usir dari rumah atau lu sudah gak punya rumah lagi,” imbuh Sandy masih dengan maksud untuk meledek sahabatnya.


Noah tak membantah ucapan Sandy. Meski, ia tahu itu semua hanya candaan yang dibuat oleh sahabatnya, namun, Noah tak menampik kebenaran ucapan Sandy.


Sementara Sandy, tak ia duga jika ucapan asalnya berhasil mengusik Noah. Meski kakinya terus melangkah bersamaan, Sandy tahu jika kini sahabatnya itu memikirkan sesuatu


“Ngopi dulu, yuk!” bujuk Sandy. “Jarang-jarang kali… kita bisa pulang saat matahari aja masih bekerja,” celetuknya.


Bagi Noah, usul Sandy bukanlah ide yang buruk. Menikmati secangkir kopi, mungkin bisa mengusir rasa lelahnya. Tapi bagaimana dengan kepalanya yang seharian ini terus terasa pusing. Noah tak bisa menjabarkan apa yang ia rasakan kini. Yang pasti di telinga maupun di pikirannya, nama Sea terus saja terngiang.

__ADS_1


“Lain kali ya, bro.” Tolak Noah, kesehatan batin dan mentalnya lebih penting. “Gue harus segera pulang! Add sesuatu yang harus gue pastiin.”


“Gue, duluan ya!” Seru Noah dari dalam mobil, salah satu tangannya sengaja ia lambaikan untuk berpamitan pada Sandy.


........................


Sepanjang perjalanan tak sekalipun pikiran Noah teralihkan dari Sea. Pria itu pun bingung, mengapa saat ia sedang berusaha menghindar, saat itu pula ia merasa bayangan Sea terus saja mengikutinya.


Noah bukannya tak paham jika ucapannya terakhir kali telah melukai hati Sea begitu dalam. Namun, hal itu sengaja ia lakukan agar tak ada harapan yang muncul.


“Aku sendiri belum bisa menentukan bagaimana perasaanku saat ini. Maka, tak mungkin jika aku malah menumbuhkan harapan bagi Sea,” gumam Noah.


Sejak malam yang ia lalui bersama Sea, Noah mengaku kesulitan untuk mengenyahkan bayangan wanita itu. Menghindari Sea menjadi bagian tersulit baginya. Hingga tiba hari ini, seakan Noah tiba di satu titik di mana ia tak bisa lagi menghindar.


Meski terdengar aneh, namun benar jika hanya membayangkan Sea saja dadanya terasa sesak. Mengingat bagaimana merdu dan lembutnya suara Sea, membuat Noah merasa gelisah. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut-denyut, tatkala ingatan malam itu terlintas dalam benaknya.


Memikirkan semua itu membuat Noah tak menyadari jika tempat yang ia tuju telah berada di depan mata. Pria yang akrab di sapa Kang Deden, sekuriti kediaman keluarga Myles, bergegas membukakan pintu gerbang saat melihat mobil anak majikannya mendekat.


Mimpi apa lagi ya aku semalam? Tumben banget si aden jam segini udah pulang, batin Kang Deden.


...……….....


“Semoga Sea ada di kamar,” gumam Noah.


Pintu kamarnya telah ia buka, lantas seakan tak asing dengan apa yang terjadi, lagi-lagi ia harus kecewa sebab sosok yang ingin ditemuinya tak ada di sana.


Seketika tubuh Noah menjadi lemah. Langkah kakinya pun berubah menjadi lemas, kepalanya tiba-tiba terasa semakin pusing, perutnya seakan diaduk-aduk. Rasa mual menyerang, namun, untuk muntah pun rasanya Noah tak memiliki tenaga.


“Ada apa denganku?” tanya Noah entah pada siapa. Ingin mengeluh, namun, ia tak tahu pada siapa. Kalaupun ada orang yang bisa mendengar keluhannya, ia sendiri merasa bingung harus mengatakan apa yang terjadi padanya.


Noah mendudukkan dirinya di sofa, tempat di mana Sea selalu duduk sambil menonton TV. Secara naluriah, Noah memposisikan dirinya seperti yang biasa Sea lakukan. Dan anehnya, melakukan itu membuat perasaannya lebih tenang. Apalagi saat ia mencium wangi khas milik Sea dari mukena yang tersampir di sandaran sofa.


Tanpa sadar, mukena milik Sea sudah berada dalam dekapannya. Noah hirup aroma wangi yang rupanya ampuh meredakan pusing di kepalanya. Kedua netranya terasa semakin berat, akhirnya terpejam.


Begitu nyamannya, hingga Noah tak menyadari jika apa yang ia lakukan beberapa saat lalu menjadi tontonan menarik bagi Sea. Awalnya ia merasa bingung hingga keningnya mengernyit, lama kelamaan wanita itu merasa apa yang dilakukan suaminya sangatlah lucu hingga ia kesulitan menahan tawanya.

__ADS_1


“Ekhheemm,” Sea berdeham hingga mengejutkan Noah.


Noah yang terkejut dan panik secara bersamaan tampak semakin lucu di mata Sea. “Ka-kau sudah pulang?” tanyanya gugup. Sea menjawabnya hanya dengan anggukan saja.


“A-aku kelelahan hingga tertidur di sofa,” imbuh Noah menjelaskan situasi yang terjadi tanpa diminta.


Lagi-lagi Sea menanggapinya hanya dengan mengangguk. Bungkamnya Sea membuat suasana canggung semakin terasa. Noah mengamati wajah istrinya yang tampak pucat. Ingin sekali Noah bertanya mengenai keadaan wanita itu, namun melihat Sea yang bersikap acuh membuat Noah mengurungkan niatnya.


“Silakan lanjutkan istirahatmu, aku ingin mandi.” Ucapan Sea sebelum berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Noah yang masih menyimpan tanya.


Tak jauh berbeda dengan Noah, saat berada di dalam kamar mandi Sea merasa sesuatu yang aneh pada dirinya. Kehadiran Noah, seperti obat baginya. Pusing dikepalanya mereda serta ada perasaan nyaman dan aman saat Sea tahu jika Noah berada tak jauh darinya.


Malam itu, keduanya lewati hanya berduaan di dalam kamar. Merasa lebih baik jika saling berdekatan, tanpa mereka sadari keduanya telah saling membutuhkan.


Meski tanpa melakukan apa pun, hanya berbaring saling memunggungi tanpa ada sepatah kata yang terucap. Rasanya hal itu bukan masalah, selama keduanya bisa terhindar dari rasa sesak, pusing, dan mual yang menyiksa. Bersyukur malam itu keduanya bisa mengakhirinya dengan tidur yang nyenyak.


........................


Setelah melewati malam yang tenang, hari ini Sea dan Noah akhirnya bisa mengawali hari mereka dengan lebih bersemangat. Meski tak ada perubahan dari sikap keduanya. Baik Sea dan Noah masih memungkiri, jika entah apa pun alasan di balik ini semua, yang pasti mereka saling membutuhkan.


Noah tetap berangkat bekerja lebih dulu, tanpa menunggu Sea yang masih bersiap untuk ke kampus. Sea pun sepertinya tak terpengaruh lagi dengan hal itu, wanita itu hanya fokus bersiap tanpa peduli dengan Noah yang pergi tanpa pamit.


Baru saja Sea tiba di kampus, saat ia melihat kedua sahabatnya berlari menghampirinya.


“Sea, ada keadaan darurat!” Teriak Tessa dari jauh.


“Ada apa? Kenapa kalian berlari seperti dikejar hantu, hemm?” tanya Sea saat kedua sahabatnya kini sudah berada di hadapannya.


Phila berbalik badan, menunjukkan bercak kemerahan yang ia tutupi dengan tasnya. “Astaga… kupikir ada apa,” seru Sea menyadari kondisi darurat yang dimaksud Tessa.


Bersyukur sebab Sea selalu menyediakan pembalut wanita di mobilnya. Berjaga-jaga jika situasi seperti ini bisa saja ia alami.


“Sebentar, aku ambilkan pembalut dulu, ya!” Sea segera kembali ke mobilnya.


Gerakan tangannya terhenti tatkala ia melihat pembalutnya masih utuh, jumlahnya tak berkurang satu pun sejak satu bulan yang lalu. Sea mengingat-ingat tanggal hari ini, jika tak salah sudah dua minggu berlalu dari tanggal periode menstruasinya.

__ADS_1


“Mungkinkah… ?” Sea menelan salivanya berkali-kali. Tangannya yang bergetar tak dapat ia hentikan. “Apa mungkin aku ….”


...--------------...


__ADS_2