
Noah duduk termenung di sofa yang berada dalam ruang perawatan Sea seorang diri. Rasanya tak percaya jika kini ruangan itu benar-benar kosong. Kebersamaan mereka selama seminggu benar-benar membekas di hati Noah.
Meski tak semua kenangan yang ia lalui bersama Sea adalah kenangan indah, namun apa yang telah mereka lewati bersama akhir-akhir ini sungguh membekas di dalam benaknya. Mulai dari, bagaimana saat Sea histeris ketika mendengar berita duka mengenai janin yang dikandungnya. Lalu bagaimana istrinya yang bersikap tak acuh padanya. Hingga semua perdebatan yang terjadi di antara mereka, masih terekam jelas di dalam benak Noah.
Satu hal yang mungkin tak akan bisa ia lupakan adalah saat-saat kerika dirinya menanti Sea terlelap. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk mencuri kecupan di kening istrinya. Lucu bukan, padahal keduanya adalah pasangan yang sah dan halal, namun Noah masih harus melakukan itu secara diam-diam. Ingatannya akan hal itu membuat kedua sudut bibir Noah membentuk senyuman tanpa ia perintah.
Hingga Noah teringat jika, beberapa hari terakhir Sea terus saja bertanya mengenai perasaannya. “Apakah kamu mencintaiku, Mas?” begitulah pertanyaan yang beberapa kali Sea ajukan. Pertanyaan yang belum sempat Noah jawab.
“Apa mungkin karena hal itu?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Jika memang karena hal itu, Noah akan semakin bingung dibuatnya. “Bukankah aku sudah berjanji untuk menebus semua kesalahanku?” gumam Noah.
“Apa hal itu masih tak cukup, Sea?”
“Tak bisakah kamu memberiku waktu, hingga aku yakin pada perasaanku ini?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Noah yang bergetar.
Tak bisa pria itu pungkiri, jika kini hanya Sea… satu-satunya wanita yang bersemayam dalam benaknya. Hal itu juga yang membuat Noah merasa sangat putus asa ketika Sea benar-benar memilih untuk pergi.
Keputusasaan Noah juga dirasakan oleh seorang pria yang kini berdiri di ambang pintu. Pria itu turut merasa putus asa sebab hingga saat ini, dirinya belum berhasil menghilangkan rasa cintanya pada wanita yang tak mungkin ia miliki.
Owen… pria itu adalah Owen. Sahabat Noah yang juga memendam rasa cinta pada Sea. Sama seperti Noah, pria itu juga merasa terkejut saat mengetahui fakta jika wanita yang telah lama tinggal di hatinya sudah tak dirawat lagi di rumah sakit itu.
Karena tak percaya, Owen bergegas ke ruang perawatan Sea untuk memastikannya. Dan benar saja, tak ada lagi sosok wanita cantik itu di sana. Yang ia temui hanyalah sahabatnya yang Owen yakin kini sedang dilanda penyesalan.
..............................
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki Owen yang mendekat ke arahnya, tak dihiraukan oleh Noah. Yang bisa Noah lakukan hanya menghela napas, mengusap wajahnya dengan kasar, atau jika boleh ingin sekali Noah berteriak dan melampiaskan penyesalannya saat ini juga.
“Jadi, Sea benar-benar pergi? Dan lu gak tau istri lu ke mana?” tanya Owen.
“Ck…” Noah berdecak, saat ini ia sungguh tak ada niat dan tenaga untuk menanggapi sindiran Owen.
“Jangan ganggu gue!” ucap Noah tak ramah. “Gue tak ada tenaga untuk membalas sindiran, lu!” Imbuhnya.
“Jadi benar dugaan gue. Lu gak punya petunjuk sama sekali ke mana Sea pergi, kan?” Tanya Owen
__ADS_1
“Kata perawat, orang yang telah mengurus semua administrasi adalah Mami,” ungkap Noah. “Orang terakhir yang juga bersamanya, adalah Mami.”
“Lalu? Lu udah hubungin Mami Joanna? Apa katanya?” Akibat mencecar pertanyaan pada Noah, Owen akhirnya mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya.
“Lu pikir gue bodoh, huh!” Emosi Noah mulai terpancing. Netranya lalu menyorot benda pipih yang telah tak berbentuk dan kini berserakan di lantai.
Owen mengernyit, namun sorot matanya mengikuti kemana pandangan Noah. “Oooopppsss…!” Serunya.
“Mungkinkah Ayahmu juga ikut ambil bagian dalam rencana pelarian Sea?” Tebak Owen.
Noah berpikir sejenak. Seingatnya, pagi tadi sang Ayah sempat menghubunginya. Ayahnya berkata jika hari ini dirinya tak bisa menggantikan Noah menjaga Sea di rumah sakit, sebab ada meeting penting yang harus ia hadiri.
Mengingat akan hal itu, Noah segera bangkit. Meski hanya sebuah senyuman tipis, setidaknya bibir itu sudah bisa kembali tersenyum.
Ia tepuk pundak Owen yang berdiri dan menatapnya heran. “Terima kasih, Bro,” ucapnya. “Kau sudah memberiku petunjuk.”
...…………….....
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Noah segera melajukan mobilnya menuju gedung perusahaan Seas Industries. Perusahaan milik istrinya yang saat ini masih dipimpin oleh Peter Myles, ayahnya.
Tak ada satu pun karyawan Seas Industries yang tak mengetahui sosok Noah. Ketampanan dan sikap misteriusnya juga telah banyak memikat hati karyawati dari perusahaan itu. Langkahnya untuk bertemu sang ayah tak mendapatkan halangan sama sekali.
Tok
Tok
“Ayah… boleh aku masuk?” ucap Noah sopan.
Ayah Peter yang sedang menandatangani beberapa berkas cukup terkejut dengan kehadiran putranya yang tiba-tiba. “Noah… kemarilah, Nak!”
Noah duduk di kursi yang ada di hadapan ayahnya. Kedua pria tampan beda generasi itu, hanya dipisahkan oleh sebuah meja kerja.
“Ada apa? Mengapa meninggalkan Sea begitu lama? Bagaimana jika dia mencarimu?” tanya Ayah Peter.
Kening Noah yang tampak mengernyit membuat Ayah Peter bingung. Noah mengembuskan napasnya dengan kasar. “Tak akan mungkin Sea mencariku, Yah,” jawabnya.
“Maksudmu?” Jawaban Noah tak bisa diterima Ayah Peter. Jawabannya semakin membuat bingung pria paruh baya tersebut.
“Sea tak akan mungkin mencariku, Yah… karena bukan aku yang meninggalkan dia. Tapi dia yang telah pergi meninggalkanku,” ungkap Noah dengan suara yang bergetar.
“Kau jangan bercanda, Nak. Bagaimana bisa hal itu terjadi, sementara Sea masih dirawat di rumah sakit. Apa kalian bertengkar?” Selidiknya.
__ADS_1
Noah menggeleng. “Ya, tapi hanya pertengkaran kecil.”
Tatapan Ayah Peter yang tak beranjak dari kedua netranya, berhasil memaksa Noah untuk bercerita.
“Kami sempat berdebat karena aku cemburu,” akunya.
“Namun kupikir, bukan karena itu Sea akhirnya pergi,” jelas Noah.
“Lalu, karena apa?”
“Aku tak memberinya jawaban saat ia menanyakan perasaanku padanya,” jawab Noah lirih. “Dia bertanya apa aku mencintainya… dan aku hanya diam dan tak menjawabnya.”
Sontak Ayah Peter menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. “Kapan kau akan pintar, Noah!”
“Pantas saja Sea pergi! Kau pikir mana ada wanita yang mau bertahan bersama pria yang tak pernah mencintainya,” ucap Ayah Peter.
“Kau sudah terlalu beruntung, Noah. Mendapatkan cinta dan hati dari wanita sebaik Sea.”
“Entah apa sebenarnya yang kau cari, namun yang Ayah khawatirkan kau hanya akan merasakan kehilangan!” Nasihat Ayahnya bagai momok yang sungguh mengerikan.
Kehilangan lagi? Noah tak akan sanggup!
Noah bungkam. Ayah Peter bisa melihat kebingungan, kekhawatiran, juga ketakutan dari sorot mata putra semata wayangnya.
“Apa Sea pergi bersama Mami?” Tanya Ayah Peter. Dijawab anggukan oleh Noah.
Ayah Peter lalu meraih ponselnya. Mencoba menghubungi istrinya, lalu menantunya, dan terakhir adalah sopir pribadi Mami Joanna yang ia tugaskan untuk mengantar istrinya ke mana pun.
Sayangnya semua panggilan yang ia lakukan, tak mendapat jawaban.
Ayah Peter mendengkus, ia sungguh tak tahu keberadaan istri dan menantunya. Yang ia tahu, apa pun yang terjadi saat ini, istrinya pasti punya alasan yang tepat hingga berani mengambil langkah ini.
“Kupikir, Sea dan Mami akan pergi ke kampung halaman Sea. Bisakah Ayah memberitahuku di mana itu?” Pinta Noah.
Ayah Peter mengangguk. “Tentu, ayah akan memberitahumu.”
“Tapi tidak sekarang, Nak.” Imbuhnya.
“Lihat dirimu! Penampilanmu sungguh berantakan,” ujar Ayah Peter.
“Sekarang sebaiknya kau pulang dan beristirahatlah. Tenangkan hatimu seraya kumpulkan tenagamu. Perjalananmu masih sangat panjang, Nak. Kau butuh tenaga untuk bisa meluluhkan hati Sea yang terlanjur membeku.” Noah membenarkan nasihat Ayahnya. Meski akan sangat sulit, namun Noah akan mencoba melewati hari ini tanpa kehadiran Sea.
__ADS_1
Momen ini akan ia gunakan untuk memantapkan hati dan perasaannya. Aku harus berhenti bersikap egois! Yang paling penting saat ini adalah kebahagiaan Sea. Jika memang yang kurasakan ini bukan cinta, maka sudah seharusnya aku berhenti.
...——————-...