
“Di-dia….”
Noah mematung di tempatnya. Bertahun-tahun yang lalu, pria yang tengah berbaring di brankar ini adalah pria yang paling ingin ia temui. Sayangnya, keinginan Noah tak pernah bisa terwujud. Tak pernah ia duga jika, akhirnya dia bisa bertemu pria ini meski, dalam waktu dan situasi yang tak tepat.
“Nama pasien adalah Tuan Hanif. Usia saat ini 48 tahun, dok,” ucap salah seorang perawat. “Setelah saya lakukan pemeriksaan TTV dan hasilnya tekanan darah pasien 210/150 mmHg,” imbuh sang perawat menjelaskan kondisi pasien.
Noah hanya mengangguk. Walaupun, belum memberi respon apa-apa, bukan berarti Noah tak memerhatikan setiap kata yang diucapkan oleh si perawat.
Noah hanya masih berusaha menormalkan hatinya, apakah sekarang ia masih harus membenci pria ini? Begitulah tanya yang disuarakan oleh batinnya.
Melihat Noah yang tak bergeming, ditambah dengan tatapan yang menuntut dari keluarga pasien, perawat tadi terpaksa berbisik pada dokter agar bergegas melakukan tugasnya.
“Dok… dokter Noah!” serunya dengan suara berbisik. Perawat itu akhirnya menyikut lengan Noah. Terserah jika ia akan dianggap bersikap tak sopan, pikirnya.
Noah kembali pada kesadarannya. Dia seorang dokter dan sesuai dengan sumpah yang telah ia ikrarkan, maka, kesehatan pasien adalah yang utama.
Mengesampingkan segala perasaaan yang berkecamuk dalam hatinya, Noah segera melakukan pemeriksaan dan pertolongan yang tepat kepada pasien paruh baya bernama Hanif.
......................
Sekitar 6 tahun yang lalu, seorang gadis yang berprofesi sebagai pelayan di sebuah restoran telah membuat seorang pria jatuh cinta pada pandangan pertama. Pria itu adalah salah seorang petinggi di sebuah perusahaan besar yang ada di kota A.
Hanif Sanjaya, direktur sekaligus menantu dari pemilik perusahaan besar tersebut telah terpikat oleh pesona gadis yang berasal dari keluarga sederhana bernama Aneesa.
Aneesa, gadis yang tak pernah merasakan kemewahan itu akhirnya terbuai oleh semua pemberian Hanif. Perhatian, kemewahan, dan kasih sayang yang ia terima dari Hanif, membuatnya rela memberikan apa saja pada pria yang telah menjadi ayah dari 2 orang putra, termasuk kesucian yang selama 20 tahun telah ia jaga.
Hidupnya dikendalikan oleh Hanif, Aneesa bagai seorang ratu yang terpenjara. Semua hal itu karena Hanif harus memastikan jika kehadiran Aneesa tak akan menjadi ancaman bagi rumah tangganya.
Aneesa sangat mencintai Hanif, begitupun sebaliknya. Bersama Aneesa, Hanif merasa dihargai layaknya seorang pria. Namun, bagaimanapun besarnya cinta di antara keduanya, hubungan sejoli itu tetaplah salah. Dan untuk sesuatu yang salah, seberapa besar usaha untuk menyembunyikannya tetap akan ketahuan juga.
Selama 8 bulan, hubungan Aneesa dan Hanif berhasil berjalan tanpa diketahui siapapun. Namun hari itu, Aneesa tak tahu bagaimana ia harus bereaksi. Entah ia harus bahagia atau sedih, saat melihat dua garis pada alat tes kehamilan. Buah cintanya bersama Hanif, kini hidup di dalam rahimnya.
“Gugurkan!” suara bariton milik Hanif menggema di seluruh sudut kamar sebuah apartemen. Kamar yang menjadi saksi bisu setiap kali pergumulan panas keduanya terjadi.
__ADS_1
“Apa?!” Aneesa tak habis pikir dengan keputusan Hanif. Apa pria ini menyuruhku menjadi seorang pembunuh? pikir Aneesa kala itu.
“Tidak, Mas! Aku tak akan pernah menggugurkan anak ini!” putus Aneesa. “Kau tak harus menikahiku. Aku tak pernah menuntutmu untuk mengakui keberadaanku. Tapi tidak dengan anak kita, kau ayahnya! Anak dalam rahimku ini adalah darah dagingmu!”
“Kau ingin aku melakukan apa? Aku tak akan mungkin mengakuinya sebagai anakku!” Hanif menolak permintaan Aneesa.
Tak mungkin bagi pria itu melakukan apa yang diinginkan kekasih gelapnya. Hanif tak akan mengorbankan karir yang selama ini ia bangun. Sebentar lagi mertuanya akan memberikan posisi direktur utama padanya.
Tanpa Aneesa duga, hari itu menjadi hari terakhir wanita itu bertemu dengan Hanif. Bahkan saat Aneesa nekat mengakui hubungannya dengan Hanif pada keluarga pria itu, hanya hinaan dan cacian yang ia terima. Hanif mencampakkan dirinya dan calon buah hati mereka.
Istri sah Hanif mengambil kembali semua fasilitas yang Aneesa terima dari suaminya. Beruntung Aneesa tak diusir dari Apartemen, ia diizinkan tinggal hanya sampai melahirkan anak dalam rahimnya. Aneesa bekerja banting tulang menghidupi dirinya.
Sudah ia coba pulang kepada keluarga yang sempat ia tinggalkan, sayangnya sudah tak ada lagi tempat baginya. Saat ketahuan menjadi simpanan pria beristri saja, Aneesa diusir dari rumahnya. Apalagi ketika Aneesa datang dengan perut membuncit, keluarganya tak lagi ingin mengenalnya.
Waktu berlalu, Aneesa akhrinya melahirkan seorang putra yang ia beri nama Timothy. Kelahiran Timothy juga yang menjadi jalan bagi wanita itu untuk bertemu dengan dokter tampan bernama Noah. Timothy yang lahir saat usia kehamilan Aneesa baru menginjak 32 minggu membuat malaikat kecil itu sering sakit-sakitan.
Keterbatasan ekonomi adalah masalah utama Aneesa. Beruntung ada Noah, dokter yang selalu bersedia membantunya memeriksa dan memberikan obat pada Timothy.
Hubungan yang awalnya hanya sebatas dokter dan pasien berkembang menjadi hubungan pertemanan. Aneesa tak menyembunyikan apa pun dari Noah. Pria itu merasa iba, terutama pada bayi kecil, Timothy yang menjadi korban sedangkan ia tak bersalah sama sekali.
Sementata di apartemen Aneesa, ibu muda itu kini dilanda kepanikan luar biasa. Timothy tiba-tiba kejang setelah semalaman ia demam. Aneesa menghubungi Noah dan pria itu meminta Aneesa menunggu karena ia akan segera datang. Aneesa mempercayai Noah, wanita itu menunggu Noah yang tak kunjung datang. Hingga putranya, malaikat kecilnya mengembuskan napas terakhir.
Kembalinya Timothy kepangkuan Sang Khalik, berdampak buruk pada Aneesa. Wanita itu depresi, sempat ingin bunuh diri karena merasa tak memiliki siapa-siapa lagi. Di sisi lain, ada seorang pria yang turut menyalahkan dirinya. Noah menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Timothy. Sebuah janji akhirnya terucap, Noah akan menjaga Aneesa. Berada di sisi Aneesa, bertanggung jawab atas kebahagiaan wanita itu.
...…………….....
Setelah menghela napas panjang berkali-kali, sesak di dada Noah tak kunjung hilang. Pertemuan dengan Hanif, pria yang menjadi awal kehancuran hidup Aneesa membuatnya kembali mengingat bagaimana takdir mempertemukannya bersama Aneesa. Wanita malang, yang kini semoga telah tenang di alam sana.
Rasa bersalahnya pada Timothy kembali menyeruak. Bagaimana ia bertanggung jawab sedangkan, kini Aneesa pun telah tiada. Rasa bersalahnya semakin belipat-lipat ganda, saat penyebab kematian Aneesa juga masih berhubungan dengan dirinya.
Sampai saat ini, Sea masih jadi orang yang disalahkan oleh Noah atas pilihan Aneesa mengakhiri hidupnya.
Hingga malam tiba, Noah masih mengurung dirinya dalam ruangan prakteknya. Ketukan di pintu yang akhirnya menyadarkan Noah, jika bulan telah menggantikan tugas matahari.
__ADS_1
“Masuk,” teriak Noah dari dalam ruangan.
Seorang perawat wanita menghampiri meja Noah. “Dok… pasien dari ruang VVIP yang bernama Tuan Hanif ingin bertemu dengan Anda,” ungkapnya.
Kening Noah mengernyit. “Katakan padanya, besok saya akan menemuinya saat melakukan visite,” balas Noah.
“Sudah saya sampaikan seperti itu, dok,” ujar si perawat. “Namun, pasien memaksa, dok.”
Noah menghela napas kasar. Apa yang diinginkan pria itu! Setelah sekian lama dan sudah terlambat pula untuk menemuiku, batin Noah.
“Jika memungkinkan, katakan padanya jika aku menunggunya di taman rumah sakit.” Setelah berpikir dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Noah memutuskan untuk menemui Hanif.
........................
... ...
Di sinilah sekarang, Noah duduk di sebuah kursi taman. Di bawah sinar rembulan, menanti Hanif yang entah apa tujuannya ingin bertemu dengan dirinya.
Cukup lama Noah menunggu, hingga Hanif tiba dengan bantuan seorang perawat yang mendorong kursi rodanya.
“Maaf aku memaksa menemuimu,” ucap Hanif saat baru tiba.
“Silakan katakan apa tujuan Anda ingin menemuiku, waktuku tak banyak.” Balas Noah ketus.
Senyum terlihat di wajah tampan Hanif meski usianya tak lagi muda. “Akh, aku lupa jika pengantin baru tak ingin berpisah lama-lama,” celetuk Hanif menggoda Noah. Tawa pria itu terdengar lemah, mungkin karena kondisinya yang belum pulih benar.
“Cukup basa-basinya, Tuan!” ujar Noah Ketus. “Segera katakan apa yang Anda inginkan!”
“Aku ingin membahas mengenai Aneesa. Kupikir hal ini sangat penting untuk kau ketahui. Aku merasa berdosa. Jika, aku mati pun kurasa aku tak akan pergi dengan tenang,” ucapnya.
Melihat raut wajah serius dan penyesalan di wajah Hanif, membuat Noah tertarik untuk mengetahui hal penting apa yang dimaksud oleh pasiennya ini.
“Aku merasa bersalah telah merahasiakan ini,” aku Hanif.
__ADS_1
“Jadi, hari itu ….”
...————————...