Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 70. Pilihan Tessa (1)


__ADS_3

Setelah mengemudi berjam-jam lamanya, Tessa merasakan sakit pada punggung juga panggulnya. “Astaga, aku sudah tak tahan. Sebaiknya aku beristirahat sejenak,” gumamnya seraya mulai menurunkan kecepatan laju mobilnya.


Saat melihat sebuah mini market, Tessa menepikan mobilnya di sana. “Kebetulan sekali, aku juga sangat haus,” serunya.


Sebelum turun, ia gunakan masker untuk menutupi sebagian besar wajahnya. Meski bukan seorang artis terkenal, profesinya sebagai selebgram membuatnya cukup dikenali.


Jika mengikuti aplikasi penunjuk arah dari ponselnya, tempat yang ia tuju masih cukup jauh. Masih butuh sekitar 3-4 jam untuk tiba di sana.


Dari wajahnya jelas sekali jika Tessa sudah mulai kelelahan. Rasa kantuk turut menderanya. Tessa butuh memejamkan matanya meski hanya beberapa menit saja.


Dengan langkah lunglai ia kembali ke mobilnya. Setelah ia menghabiskan satu cup teh hangat yang ia buat di mini market.


“Syukurlah, tubuhku sudah lebih hangat sekarang,” gumamnya diiringi tawa.


Sebelum melanjutkan perjalanannya Tessa ingin beristirahat sejenak. Diubahnya posisi kursi menjadi berbaring. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas sana.


“Akh, tidak begitu buruk. Rasanya cukup nyaman,” monolognya sebelum akhirnya kedua netra miliknya terpejam sempurna.


...…………...


Beberapa saat setelah Tessa larut dalam tidurnya, sebuah mobil berhenti tepat di samping mobilnya. Dua orang wanita yang duduk di kursi belakang keluar lebih dulu. Lalu disusul oleh dua orang pria lainnya yang keluar dari pintu bagian depan.


Kedua wanita berseragam putih-putih itu bergegas masuk lebih dulu ke dalam mini market. Mereka hendak membeli bahan-bahan makanan untuk dijadikan persediaan. Sementara dua orang pria lainnya menunggu di depan mini market sembari menikmati sebatang rokok.


“Lelahnya,” keluh salah seorang pemuda seraya melakukan gerakan-gerakan untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku.


“Semoga ini cepat berlalu. Bagaimana menurutmu, dokter Owen? Tapi kulihat Anda begitu menikmati tugas ini,” imbuhnya lagi.


Ya, salah satu dari dua pria tadi adalah Owen. Sudah hampir sebulan dokter tampan itu menjadi salah satu ketua tim sukarelawan dari Rumah Sakit Pelita Harapan. Tim Sukarelawan yang dibentuk khusus ini, mengemban tugas untuk mengunjungi desa-desa terpencil yang memiliki akses cukup jauh ke pusat kesehatan terdekat.


Desa P adalah desa ke 2 yang tim ini kunjungi. Meski sudah seminggu berada di sana, namun semakin hari jumlah warga yang datang memeriksakan kesehatan mereka semakin meningkat. Itulah sebabnya, kemarin Owen dan ketiga rekannya kembali ke kota untuk mengambil persediaan obat dan alat-alat kesehatan tambahan.


Rekan Owen, seorang dokter umum yang bernama Reno berdecak sebab tak mendapat respon dari ketua timnya. “Ekhem… lagi mikirin apa, Dok?” tanyanya seraya menepuk lengan Owen.


“Ti-tidak, tidak ada apa-apa. Tadi kau bertanya apa?” jawabnya.


Meski bertanya pada Reno, namun pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang tampak tak asing baginya. Mobil siapa, ya? Sepertinya tak asing, ucapnya dalam hati.


“Apa Anda terbebani dengan tugas sukarela ini?” tanya Reno tanpa basa basi lagi.


Owen menggeleng. “Tentu saja tidak,” jawab Owen yakin.


“Kupikir Anda melamun karena memikirkan hal yang sedang jadi perbicangan hot di rumah sakit,” ucap Reno.


“Perbincangan hot? Apa itu?” tanya Owen.


Reno mendekat pada Owen. Dengan gayanya yang gemulai ia mendekatkan wajahnya ke telinga Owen, membuat pria itu harus mundur satu langkah.


“Ada desas-desus yang beredar, jika yang dokter ditugaskan dalam tim sukarelawan ini adalah dokter yang telah membuat kesalahan,” ungkap Reno.


“Lalu?” Salah satu alis Owen naik.


Sungguh pria itu tak paham maksud Reno. Ia tak merasa punya kesalahan apa pun hingga harus berakhir dengan tugas tersebut.


Reno melirik ke kanan dan kiri, mengamati keadaan sekitar. Seolah-olah sedang berjaga seandainya pembicaraan mereka didengar oleh orang lain.

__ADS_1


“Banyak yang bilang jika ini adalah hukuman,” ucapnya dengan berbisik.


Owen menyikut lengan Reno, hingga pria itu menjauh sembari meringis. “Hoax. Berita omong kosong semacam itu kau percaya!”


“Ta-tapi berita itu datangnya dari sumber yang terpercaya.” Reno masih berusaha membuat Owen percaya.


“Aku tak peduli yang dikatakan orang lain. Mereka berhak membuat penilaian,” ucap Owen.


“Tapi sejujurnya alasan aku di sini atas murni karena permintaanku sendiri. Aku yang mengajukan diriku,” aku Owen.


Reno bertepuk tangan, “Anda mengajukan diri sendiri? Wah… aku mengagumi jiwa sosial Anda.”


Owen menggeleng melihat tingkah dokter juniornya. Sebatang rokok yang sejak tadi ia hisap pun kini tak bersisa lagi, telah habis menjelma menjadi asap dan abu.


“Entah apa tujuanmu saat memutuskan untuk menjadi dokter. Namun jika kau mengingat sumpahmu, sekali pun ini sebuah hukuman maka tetaplah melakukan yang terbaik,” ujar Owen menasihati Reno.


Setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara keduanya. Reno bungkam sedangkan Owen kembali mengamati sebuah mobil yang masih menarik perhatiannya.


Apakah tak masalah jika aku mendekat dan mencari tahu, sosok siapa yang ada di balik kemudi itu? Batin Owen.


Sayangnya, belum juga melaksanakan niatnya kedua perawat yang ikut bersamanya telah selesai dengan kegiatan belanjanya. “Dokter Owen, Dokter Reno… ayo lanjutkan perjalanan, kami sudah selesai,” ucap keduanya.


“Baiklah,” balas Owen.


Kemudian ia mengikuti langkah kedua perawat tersebut menuju mobil dan melajukannya. Meski hatinya diselimuti rasa penasaran yang besar.


...……………....


Detik demi detik berlalu. Niat awalnya, Tessa hanya ingin beristirahat selama 15 menit saja. Tetapi lelah yang ia rasakan membuat tidurnya sungguh lelap dab tak terganggu dengan bunyi alarm dari ponselnya.


Setengah jam telah berlalu, pegawai mini market mulai cemas pada keadaan Tessa yang ia rasa sudah cukup lama memarkirkan mobilnya di sana. Akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk kaca jendela mobil Tessa.


“Maaf, ada apa?” tanya Tessa.


“Tak ada apa-apa, Nona. Aku hanya cemas, Nona cukup lama tertidur di dalam mobil.”


“Terima kasih, aku baik-baik saja. Dan terima kasih telah membangunkan aku,” ucap Tessa ramah.


Tessa kembali melajukan mobilnya, mengikuti panduan dari aplikasi penunjuk arah pada ponsel pintarnya. Empat jam berselang, ia pun tiba di sebuah desa. Saat melihat kerumunan warga, Tessa menepikan mobilnya.


“Selamat siang,” sapanya ramah saat ia menghampiri kerumunan warga tersebut.


“Bapak, Ibu, benarkah di sini adalah Desa P?” tanyanya.


“Bener Neng, ini Desa P.” Jawab salah seorang wanita yang sedang memangku sebuah bakul besar.


“Oh, Neng ini juga dokter ya?” tanyanya.


“Dokter?” kening Tessa mengernyit.


“Ya, dokter. Neng salah satu dari dokter yang datang dari kota, kan?” Tanyanya ibu itu lagi.


“Ehmm, bukan Bu. Saya seorang mahasiswi.”


“Sebenarnya tujuan saya adalah desa X, masih cukup jauh dari sini. Tapi karena terlalu lelah mengemudi, saya ingin beristirahat di desa ini dulu,” jelas Tessa.

__ADS_1


“Apa ada penginapan di sekitar sini?” tanya Tessa.


Ibu dengan bakul di pangkuannya kembali menjawab. “Desa kecil seperti ini mana ada penginapan, Non.”


“Tapi jika ingin, bisa menyewa kamar di rumahku. Masih ada satu kamar lagi yang kosong,” ucap ibu itu dengan netra yang berbinar.


“Ya, ya, aku mau, Bu.” Jawab Tessa.


Dengan mobil milik Tessa, wanita paruh baya bernama Ida itu menunjukkan jalan menuju rumahnya. Tak butuh waktu lama, sebab jaraknya cukup dekat.


Bu Ida mengantar Tessa ke kamar yang ia maksud. Tessa tak ada alasan untuk tak menerima penawaran Bu Ida. Sudah ada ranjang kecil yang hanya muat untuk satu orang saja. Ada meja kecil di sudut. Cermin kecil yang menempel di dinding dan rak kayu yang kata Bu Ida bisa dijadikan tempat untuk menyimpan pakaian.


“Istirahatlah dulu, Neng. Ibu akan siapkan makan siang untuk Neng,” ucap Bu Ida ramah.


“Terima kasih, Bu.”


Bu Ida hendak beranjak keluar kamar saat Tessa tiba-tiba saja mencegahnya.


“Maaf Bu, bolehkah aku bertanya apakah ada hutan di sekitar sini?” tanya Tessa.


“Hutan? Maksudmu hutan di pegunungan?” Bu Ida sedikit bingung dengan pertanyaan Tessa.


“Ya, benar Bu. Apa Bu Ida tahu jalan ke sana?”


“Apa di sana ada penduduk yang tinggal?”


Tessa mencecar Bu Ida dengan pertanyaan yang membuat tatapan wanita paruh baya itu sontak berubah padanya.


“Ada beberapa penduduk yang tinggal di sana,” jawab Bu Ida.


“Tapi tak banyak, biasanya rumah di sana hanya digunakan sebagai persinggahan saat warga mencari kayu bakar,” jelas Bu Ida.


Tessa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jika aku ingin ke sana, aku harus ke arah mana, Bu?”


“Lewat belakang rumah Ibu, juga bisa.” Bu Ida seperti ragu memberi informasi ini pada Tessa.


“Meski hutan di sini lengkap dengan papan penunjuk jalan, tapi lebih baik jangan masuk ke sana,” ucap Bu Ida.


“Bahaya!” Sekali lagi Bu Ida memperingatkan Tessa agar tak pergi ke hutan.


Tessa mengangguk, sebelum ia berbalik masuk kembali ke kamar dan menutup pintunya. Rupanya saat itu, seorang pria yang juga menyewa salah satu kamar di rumah Bu Ida mendengar percakapan keduanya dari balik pintu kamarnya.


“Bu Ida, apa gadis yang baru saja mengobrol bersama Ibu, bernama Tessa?” tanyanya.


“Iya bener, Mas dokter.”


“Eh, Mas dokter kenal?” tanya Bu Ida.


Sementara pria itu hanya mengangguk lemah seraya tersenyum.


“Mas dokter, tau gak… dia nanya-nanyain soal jalan ke hutan.” Bu Ida berucap seperti seorang yang sedang berbisik.


“Semoga dia gadis baik-baik, ya… bukan seperti gadis-gadis yang sebelumnya,” ujar Bu Ida sebelum berlalu menuju dapur.


Pantas saja aku merasa tak asing dengan mobil itu, rupanya mobil itu miliknya. Tapi, apa yang ingin dilakukan selebgram bar-bar itu di sini? Semoga saja kecurigaan Bu Ida tidak benar.

__ADS_1


Batin pria yang biasa dipanggil Mas Dokter oleh Bu Ida dan warga di Desa P.


...—————————...


__ADS_2