
“Baiknya aku ke mana yah?” Gumam Sea. Tangannya memutar kemudi sesekali ke kiri lalu ke kanan.
Hari ini memang gadis itu tak ada jadwal perkuliahan, itulah sebabnya ia memiliki ide untuk makan siang bersama suaminya. Sayangnya semua ide di benaknya hanya akan tersimpan sebagai rencana saja.
“Percuma saja aku menurunkan egoku, huh!” Gerutunya seorang diri. Maafkan dirinya yang hanya berani menggerutu di belakang Noah. Perasaan cinta yang tak salah saja ia pendam selama 3 tahun karena segan dan takut pada pria itu, bagaimana mungkin Sea bisa menggerutu atau melawan Noah? Ia sudah bergidik membayangkan jika hal itu sampai terjadi.
“Cukup sekali aku menantangnya, sepertinya semua keberanianku sudah kuhabiskan saat memaksanya menikahiku,” lesu Sea bermonolog.
Setelah tadi Sea dipusingkan dengan berbagai praduga atas apa yang dilakukan suami dan dokter wanita itu, kini gadis itu harus memikirkan ke mana ia akan pergi. “Jika kembali ke rumah, mami pasti akan bertanya panjang lebar. Mas Noah pasti akan menuduhku sebagai pengadu,” lirihnya.
Kkkruuccuukk.
Perut Sea berbunyi, beruntung saat itu ia hanya seorang diri di dalam mobil. “Akhh, aku lapar!” Gumamnya dengan tangan yang mengelus perut ratanya.
Sea mengurungkan niatnya untuk menghubungi Tessa dan Phila. Selain tak ingin mengganggu waktu libur kedua sahabatnya, Sea benar-benar sedang tak ingin berbicara banyak. Sea butuh ketenangan, yah wanita itu butuh tempat untuk menenangkan pikirannya.
Rasa rindu akan rumahnya seketika muncul. “Aku rindu Mbok Sum, apa yang ia masak yah hari ini?” Sea lalu memasang ear phone di telinganya lalu menghubungi Mbok Sum via telepon.
Celoteh wanita paruh baya yang sudah mengasuhnya sejak bayi selalu bisa menghibur Sea. Sebelum keluarga Myles menjemputnya, hanya Mbok Sum yang ia punya setelah kedua orang tuanya tiada.
“Non, kapan mengunjungi Si Mbok? Si Mbok rindu, Non.” Keluh Mbok Sum terdengar lucu oleh Sea. Hangat terasa hingga ke relung hati Sea mendengar ucapan pengasuhnya itu.
“Aku juga merindukan Si Mbok, tapi suamiku sedang sibuk bekerja Mbok. Aku berencana mengajaknya ke sana untuk menemui Mbok,” jawab Sea.
“Baik ... baik ... Mbok ngerti kok, Non. Pengantin baru kan memang sibuk.” Ujar Mbok Sum. “Sibuk bercocok tanam,” celetuknya diiringi tawa.
Begitulah Si Mbok sesekali menggoda Sea. Meski belum pernah merasakan bagaimana itu bercocok tanam yang dimaksud Mbok Sum, namun rona merah muda kini sudah menghiasi wajah cantiknya.
Bagaimana yah seandainya aku dan Mas Noah menikah karena saling mencintai? Apa benar kami akan sibuk bercocok tanam seperti kata Mbok Sum? Batin Sea.
Pikiran iya iya Sea akhirnya harus buyar sebab Mbok Sum kini sudah mengganti lagi topik obrolan keduanya. Kini wanita paruh baya yang memilih untuk tak menikah hanya karena ingin menjaga nonanya sedang bercerita mengenai apa saja hidangan yang telah ia siapkan untuk makan siang.
“Mbok, stop!” Cegah Sea. “Kumohon berhenti membahas makanan, aku jadi semakin lapar. Rasanya aku bisa saja melajukan mobilku ke sana hanya untuk menikmati semua masakanmu, Mbok.”
“Jangan aneh-aneh deh, Non. Izin dulu sana Pak Su, jika diizinkan barulah Non pulang ke mari. Mbok janji akan masak banyak makanan kesukaan non Sea.”
“Pak Su? Siapa dia, Mbok?” tanya Sea dengan kening yang mengernyit.
Mbok Sum terkekeh. “Pak Su itu singkatan dari Pak Suami, Nona,” jawabnya di sela-sela tawanya. “Akh, katanya tinggal di kota, tapi Si Mbok lebih gaul dari non Sea.” Imbuh Mbok Sum mengundang tawa keduanya.
Nasihat Mbok Sum memang selalu didengarkan Sea. Walaupun tak dapat terlihat oleh pengasuhnya itu, Sea mengangguk patuh menuruti ucapan pengasuhnya itu.
Setelah panggilan telepon berakhir, cacing-cacing di perut Sea kembali berdemo. “Apa aku ke Kafe Venus saja yah?” Sea jadi mengingat bagaimana lezatnya salah satu menu makanan yang ada di kafe milik Alfio. Tanpa pikir panjang lagi Sea akhirnya melajukan mobilnya menuju Kafe Venus.
__ADS_1
......................
Sementara di Kafe Venus, sejak pagi Alfio tampak uring-uringan. Hampir seharian bersama Sea, entah mengapa membuatnya tak bisa mengusir bayangan wanita itu dari benaknya.
“Ya ... dia wanita, istri orang pula. Tak sepantasnya aku terus memikirkannya,” gumam Alfio. Tubuhnya sudah ia rebahkan di atas sofa bed yang ada di ruang kerjanya. Salah satu tangannya menepuk-nepuk jidatnya berharap isi kepalanya mengenai Sea bisa ia hilangkan.
“Ingat Alfio, Sea adalah targetmu. Dia adalah alat untuk membalaskan dendam Aneesa!” Ucapnya berapi-api.
Namun saat netranya tak sengaja melirik ke arah monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV dari pintu masuk kafenya, Alfio segera terlonjak. Api dendam yang tadinya membara seperti tersiram air yang sangat banyak dan sejuk. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik ke samping membentuk senyuman. “Pucuk di cinta, ulam pun tiba!” Seru Alfio segera berlari keluar dari ruangannya yang berada di lantai 2 kafenya.
Saking bersemangatnya, bos yang terkenal ramah itu tak lagi menghiraukan sapaan karyawan yang berpapasan dengannya, kakinya yang terantuk meja, bahkan anak tangga ia turuni hanya dengan beberapa langkah saja. Semuanya pria itu lakukan agar bisa secepatnya bertemu dengan wanita cantik yang menari-nari di benaknya sejak semalam.
Berbeda dengan Sea, dirinya sempat ragu sebelum turun dari mobil. “Apa tak masalah jika aku ke Kafe Venus? Bagaimana jika aku bertemu dengan Kak Alfio? Bisa-bisa Noah murka.”
Kembali Sea bergidik membayangkan kemarahan Noah semalam. Bagaimana pria menyentaknya, mencengkeram lengannya, dan semua makian Noah kembali teringat di benak Sea.
Namun gemuruh dari dalam perutnya kembali terdengar, Sea menyesal saat sarapan tadi dirinya tak makan dengan lahap padahal menu sarapan yang disediakan mertuanya adalah makanan kesukaannya. Bayangan akan kotak bekal yang terpaksa Sea tinggalkan di ruangan Noah semakin memperburuk suasana hatinya.
“Apa mungkin Mas Noah akan menyantap makanan yang kubawa bersama wanita tadi yah? Apa mereka akan suap-menyuap lagi?”
“Aaarrrggghhh ... mengapa aku menjadi curigaan begini sih!” Keluhnya. “Lebih baik aku masuk saja, makan, lalu kembali ke rumah,” putus Sea pada akhirnya.
......................
Sea menatap bingung pada pria tampan di hadapannya. Ada buliran peluh di keningnya. “Kak Alfio? Apa kakak baik-baik saja?” tanya Sea.
Tanpa permisi Alfio mengambil posisi duduk pada kursi di hadapan Sea. Pria itu memberi kode pada karyawannya untuk membawakan segelas air minum untuknya. Tanpa sengaja netra Alfio menangkap ada bekas kemerahan di salah satu lengan Sea.
Apa yang telah dilakukan kep*rat itu padamu? Apa dia menyakitimu? Batin Alfio geram. Ia amati raut wajah Sea, setelah beberapa lama akhirnya ia temukan ada kesedihan dan kekecewaan dari sorot mata wanita itu.
Tak ada niat Alfio untuk memberondong Sea dengan banyak pertanyaan yang kini mengusik pikirannya. Ia biarkan Sea memesan makanan yang diinginkannya, menyantap dengan lahap lalu setelah Sea selesai dengan makan siangnya barulah Alfio membuka suara.
“Sea, bolehkah aku mengajakmu ke suatu tempat?” tanya Alfio.
“Maafkan aku Kak Al. Tapi, aku harus pulang lebih awal hari ini.” Tolak Sea.
“Sayang sekali, tapi aku ingin mengajakmu melihat galeri fotoku. Ada banyak foto-foto yang kamu suka di sana,” bujuk Alfio.
“Benarkah?” manik mata Sea tampak berbinar.
Tawaran menarik, batin Sea. Apalagi kini hati dan pikirannya sungguh terasa menyesakkan, tawaran Alfio rasanya akan efektif untuk mengurangi sedikit sesaknya.
“Baiklah, Kak Al.” Putus Sea akhirnya. “Tapi mungkin aku tak akan lama, aku tetap harus pulang ke rumah lebih awal,” imbuhnya.
__ADS_1
Setelah menitipkan kafe pada karyawannya, Alfio dan Sea berangkat menuju galeri foto milik pria itu. Betapa Sea dibuat takjub saat tahu jika lokasi galeri foto milik Alfio berada tak jauh dari lokasi salah satu pantai yang terkenal di kota itu.
“Kak Al, tempat ini sungguh indah.” Sea memuji sebuah bangunan yang tampak artistik. Sea bahkan melupakan jika saat tadi di perjalanan dirinya sempat merutuki jauhnya jarak tempat yang mereka tuju.
Sea dibuat semakin terpukau dengan keindahan yang tersimpan di dalam bangunan tersebut. Galeri foto yang diberi nama Galeri Foto Venus menyimpan banyak maha karya seorang Alfio.
Dari sekian banyak foto yang berhasil diabadikan oleh lensa kamera Alfio, Sea terpaku memandang pada satu dinding yang dipenuhi dengan gambar pantai, laut, matahari terbit juga matahari terbenam. Tak cukup sampai di situ, keindahan bawah laut pun tak luput dari tangkapan lensa kamera seorang Alfio.
Melihat senyuman di wajah cantik Sea, melihat wanita itu yang tampak kagum dengan hasil karyanya membuat Alfio merasa lebih baik. Hilang sudah sesak di dada Alfio saat tadi ia melihat kesedihan dari sorot mata Sea.
Syukurlah jika semua ini dapat membuatmu melupakan sedihmu sejenak, batin Alfio.
......................
Sore ini Sea menjadi saksi saat mentari beranjak dari peraduannya. Setelah puas melihat-lihat foto hasil karya Alfio, keduanya memutuskan untuk pulang. Namun di tengah perjalanan, Alfio memutar kemudinya menuju sekitar tepi pantai. Tujuannya yaitu melihat keindahan senja bersama ciptaan Tuhan yang juga sangat indah.
“Indahnya,” guman Alfio dan Sea secara bersamaan. Bagi Sea pemandangan matahari terbenam yang dinikmati dari tepi pantai seperti saat ini sedikit mengobati kerinduannya pada rumahnya. Sedangkan bagi Alfio, pemandangan Sea yang tersenyum sangat indah dan mampu menggetarkan hatinya.
Keduanya berhasil melupakan sejenak hal-hal yang membebani pikiran keduanya. Sea berhasil melupakan kekecewaannya pada suaminya, Noah. Sedangkan Alfio berhasil melupakan dendamnya atas kematian Aneesa.
Sejenak, ya hanya sejenak. Alfio memaksa untuk mengantar Sea pulang ke rumahnya sebab malam sudah cukup larut. Semua ketenangan yang tadi tercipta akhirnya sirna saat mobil Alfio dan mobil Noah tiba bersamaan di depan gerbang kediaman keluarga Myles.
Tanpa diminta Alfio bergegas turun agar dapat membukakan pintu mobil untuk Sea. Semua itu tak luput dari tatapan tajam Noah. Seringai di bibir Noah terbit saat dugaannya benar, Sea bertemu pria itu lagi.
Dengan langkah kaki lebar, kedua tangan yang biasa Noah gunakan untuk memeriksa pasien dengan lembut kini telah mengepal erat.
“Sea!” Bentaknya. “Berani sekali kau!”
“Ma-as,” Sea tampak takut-takut mendekat ke arah Noah.
Geram melihat tingkah Sea, dengan kasar Noah menarik tangan istrinya. Semua perlakuan kasar Noah memaksa Alfio untuk bertindak.
“Hei! Biasakah kau lebih lembut pada wanita?!” cegah Alfio.
Masih ingin Alfio menyela, namun ....
Bugh.
Bukannya jawaban yang ia dapatkan melainkan sebuah pukulan yang mendarat tepat di rahangnya.
“Maaass!” Jerit Sea.
...----------------...
__ADS_1