
Masih dengan wajah ditekuk, Sea memperhatikan gerak-gerik suaminya yang sedang merapikan meja kerjanya. “Udahan dong cemberutnya. Kan aku udah jelasin semuanya,” ucap Noah seraya menatap istrinya dengan wajah memelas.
“Apa kamu sering mendapat pasien yang seperti itu?” tanya Sea. Daripada dia terus menduga-duga, mencari jawaban pada suaminya langsung lebih baik.
“Pasien yang seperti apa?” tanya Noah. Sungguh pria itu bertanya sebab ingin penjelasan lebih spesifik dari pertanyaan istrinya.
Dalam sehari, pasien yang ia temui sangat banyak dengan bermacam-macam keluhan. Noah butuh pertanyaan yang lebih jelas sebelum ia bisa menjawab.
Sea menarik napas dalam, mencoba menenangkan gejolak api cemburu dalam hatinya. “Pasien yang menginginkan hal lebih,” jawab Sea.
Noah masih tak menjawab, pria itu malah semakin menatap istrinya dengan tatapan tak mengerti. “Pasien yang menyukaimu sebagai seorang pria, bukannya sebagai dokter,” jelas Sea.
Noah terkekeh, ia hampiri istrinya yang duduk di sofa. Duduk di sisi Sea, memudahkan Noah untuk menggapai kedua tangan istrinya untuk ia genggam.
Cup.
Sebelum berucap, Noah menyempatkan untuk mengecup satu per satu tangan istrinya. “Mungkin banyak yang menyukaiku, ” ucap Noah.
Sea yang sebelumnya menatap ke wajah tampan suaminya, seketika memalingkan wajahnya ke arah lain. Baru saja pria itu membuatnya merona, tapi dalam hitungan detik ia juga telah membuatnya kesal.
“Aku terpaksa menerimanya sebagai resiko menjadi pria tampan,” lanjut Noah memuji diri sendiri.
Ucapannya mengundang decakan dari sang istri. Wajah cantik Sea semakin ditekuk. Noah tahu jika istrinya kini sedang cemburu. Hal ini membuatnya semakin gemas ingin mengurung istrinya seharian di dalam kamar.
“Jangan cemburu, Mhiu sayang.” Noah berkata dengan lembut. “Meski banyak yang menginginkan suamimu, tapi yang suamimu inginkan hanya kamu,” imbuhnya.
Dan rona merah di pipi Sea, kembali lagi. Terutama saat Noah dengan lembut menarik dagunya agar tatapan keduanya kembali bertemu.
Saat tatapan mereka saling mengunci, Noah mulai menyatukan kedua bibir mereka. Merasakan manisnya bibir istrinya yang telah menjadi candu baginya.
“Hanya kamu… hanya kamu, Mhiu kesayangan aku yang aku harapkan menjadi ibu dari putra putri kita kelak,” imbuh Noah.
...……………....
Kemesraan Sea dan Noah akhirnya terganggu oleh bunyi tak asing dari perut Sea. “Kamu lapar?” tanya Noah sambil menahan tawa.
Sea mengangguk lemah. Wajahnya sudah bisa dipastikan semakin merona karena menahan malu.
“Kupikir kamu sudah makan?” Noah mendadak cemas.
Kali ini Sea menggeleng. “Itulah mengapa aku kemari. Aku ingin makan siang bersamamu,” jawab Sea.
“Astaga, Mhiu sayang… kamu harus lebih memperhatikan kesehatanmu. Ingat, kesehatanmu itu belum pulih benar,” ucap Noah.
Sepertinya mulai sekarang ia akan harus lebih memerhatikan lagi jadwal kegiatan istrinya, pikirnya.
“Ya, akan kulakukan. Hari ini aku tak bertemu Tessa dan Phila. Kampus rasanya sangat sepi dan aku tak berselera makan,” Sea berkeluh kesah pada suaminya.
__ADS_1
Noah membelai lembut puncak kepala istrinya. “Tak apa, ada aku.”
“Ayo ke kantin, kita harus makan sekarang.” Noah berdiri lebih dulu. Mengulurkan tangannya agar bisa disambut oleh Sea.
Sepanjang perjalanan menuju kantin, tangan Sea dan Noah terus saling menggenggam. Kemesraan keduanya menarik perhatian banyak pasang mata.
Sampai seorang pria bertubuh kekar berjalan terburu-buru, mendahului Sea dan Noah. Awalnya hal itu tak menjadi perhatian Sea, namun semuanya berubah ketika pria itu terlihat mengetuk pintu sebuah ruangan. Lalu beberapa saat setelahnya, pintu dibuka dan Sea bisa melihat jika yang yang ingin ditemui oleh pria kekar tadi adalah Alesandra.
Semuanya menjadi semakin menarik saat Sea baru menyadari jika ia sepertinya parnah melihat pria itu di suatu tempat. Namun di mana ia melihatnya masih menjadi tanda tanya bagi Sea.
“Ada apa?” tanya Noah saat melihat istrinya beberapa kali menoleh ke belakang di saat keduanya masih berjalan menuju kantin.
Sea menggeleng. Akhirnya ia berhenti menoleh karena tak ingin mengundang banyak pertanyaan dari suaminya.
“Apa kamu mengenal pria itu?” tanya Noah.
“Pria yang mana?”
“Pria yang tadi mendahului kita, yang membuatmu terus menoleh padanya,” jelas Noah.
“Tidak. Aku tak mengenalnya,” jawab Sea tak sepenuhnya berbohong. Sebab ia pun masih tak yakin dimana ia pernah melihat pria itu. Bukan tak mungkin jika pria itu hanyalah pria yang mirip atau bisa saja ingatannya yang buruk.
Tanpa terasa keduanya sudah tiba di kantin. Setelah memesan makanan, keduanya memilih bergabung di meja Owen dan Sandy yang lebih dulu berada di sana.
“Sea cantik… bagaimana kabarmu?” Sapa Sandy. Sungguh berbeda dengan Owen yang menyapa Sea hanya dengan senyuman.
“Tentunya Sea sangat baik. Sea pasti memiliki waktu istirahat yang banyak. Dia gak akan
kelelahan,” ucap Sandy.
“Bahkan untuk bicara saja, lu yang wakilin.” Dokter yang gemar bercanda itu terbahak setelah berhasil membuat sahabatnya kesal.
Kekesalan Noah semakin bertambah saat Sea turut menertawakannya. Jika tahu akan bertemu mereka, lebih baik aku mengajak Sea makan di restoran saja, Ucap Noah dalam hati.
...…………………....
Sementara itu di ruangan Alesandra, wanita itu sedang menahan amarah pada Roy. Ia tak menyangka jika pria licik yang telah menculiknya akan datang menemuinya di tempat ia bekerja.
“Mau apa kau?” tanya Alesandra dengan ketus.
Tawa Roy menggema, perawat yang berada di luar ruangan saling pandang saat mendengar tawa itu. “Apa begitu caramu menyapa pria yang sudah membuatmu menjerit merasakan nikmat, huh?”
“Bisakah kau mengecilkan suaramu? Atau kau memang mau semua orang tahu!” Kilatan amarah jelas terpancar dari kedua netra Alesandra saat menatap Roy.
Roy menggeleng. Pria itu berjalan dengan santai melewati Alesandra. Meski belum dipersilakan, ia mendudukan dirinya dengan nyaman di atas sofa empuk yang ada di ruangan Alesandra.
Alesandra mengawasi setiap gerak-gerik Roy. Mendapat tatapan seperti itu tidak membuat Roy merasa risih. Pria itu malah semakin bersemangat untuk menggoda wanitanya.
__ADS_1
Alesandra berdecak. Seandainya bisa, dia ingin sekali menendang Roy keluar dari ruangannya. Sayangnya, tak semua yang kita inginkan bisa menjadi kenyataan. Apalagi kini Roy memiliki video yang menampilkan adegan panas yang keduanya lakukan malam itu.
“Kemari! Aku merindukan wangi aroma tubuhmu.” Roy menepuk-nepuk paha kanannya, meminta Alesandra duduk di pangkuannya.
Seperti yang terjadi saat ini, Alesandra terpaksa melakukan apa yang diperintahkan pria licik bernama Roy. Dengan enggan, ia duduk di pangkuan pria itu. Bahkan kedua tangannya telah mengalung di leher Roy.
“Kenapa kau menemuiku? Aku tidak lagi punya urusan denganmu.” Tanya Alesandra seraya memalingkan wajahnya. Ia tak ingin menatap pria yang sangat ia benci.
“Aku ingin memberimu tugas,” jawab Roy dengan berbisik.
Embusan napas Roy yang hangat dan gerakan lembut tangan pria itu saat mengusap punggungnya, membuat tubuh Alesandra meremang. “Aku tak suka diperintah!” Balas Alesandra berusaha bersikap tenang.
“Sebaiknya kau jangan membantah, sayang. Kau tahu apa yang bisa kulakukan padamu.” Roy mengancam Alesandra, namun tangannya terus memberikan sentuhan-sentuhan yang memabukkan wanita itu.
Alesandra memejamkan kedua netranya. Seketika wanita itu dihinggapi perasaan nikmat dan takut secara bersamaan. Sentuhan Roy sangat sulit untuk ia tolak.
Namun ia juga takut jika Roy benar-benar melakukan ancamannya, maka bukan hanya dirinya yang akan hancur. Nama besar keluarganya juga akan ikut hancur bersamanya.
“Apa yang harus kulakukan?” Tanya Alesandra di sela-sela usahanya menahan agar tak ada d*saha*n yang lolos dari bibirnya.
“Mudah saja,” tangan Roy kini sudah menyentuh gundukan kembar di dada Alesandra. “Kau cukup dekati dokter Noah. Kau harus bisa menjadi duri dalam rumah tangga dokter itu.”
“Cari tahu semua hal yang bisa menghancurkan rumah tangga mereka. Kau bisa?” tanya Roy.
Alesandra memalingkan wajahnya. “Bisa atau tak bisa, aku tetap harus melakukannya, bukan?”
“Wanita pintar!” Puji Roy.
“Yang ke dua, kau-“ ucapan Roy terjeda saat Alesandra menyela.
“Yang ke dua?” Kening Alesandra mengernyit.
“Ada berapa banyak yang kau ingin aku lakukan?!” Alesandra hendak beranjak dari pangkuan Roy, namun gerakan pria itu lebih cepat saat memeluk pinggang Alesandra. Menahan wanita itu agar tetap di tempatnya.
Roy tertawa saat Alesandra membentaknya. “Yang ke dua ini, aku yakin kau akan menyukainya,”
“Malam ini aku ingin kau menemaniku di apartemen. Kau mau kan?”
“Apa aku bisa menolak?” Jawab Alesandra semakin ketus.
Roy menggeleng sebelum ia mendekatkan wajahnya pada wajah Alesandra.
Cup.
Kecupan mendarat di bibir Alesandra. “Kau tak boleh menolak, karena malam ini aku akan mengajakmu terbang ke langit ke tujuh,” jawab Roy.
“Bersiap ya, sayang….” Imbuh Roy seraya mengedipkan salah satu matanya untuk menggoda Alesandra.
__ADS_1
...——————-...