Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 61. Trauma


__ADS_3

Butiran peluh memenuhi dahinya. Bibirnya sedikit membengkak dan tampak memerah meski ia belum menggunakan pewarna bibir.


Sesekali Sea menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. “Huuh… haah… aku tersiksa,” lirih Sea mengeluh.


“Tapi… rasanya sangat nikmat. Aku tak bisa berhenti.”


Entah bagaimana nasib perutnya setelah ini. Tadinya, keinginan untuk menikmati lontong sayur sangatlah besar. Di perjalanan, Sea melewati rumah makan yang sedang viral di sosial media karena menjual seblak dengan tingkat kepedasan mulai dari 1-10.


Rasa penasaran yang tiba-tiba saja muncul, membuat Sea seperti melupakan keinginannya akan lontong sayur. Tiba-tiba saja ia menginginkan makanan yang pedas.


Sea bahkan rela memarkirkan mobilnya cukup jauh sebab tak ada lagi tempat parkir yang tersedia. Rumah makan dengan konsep estetik namun tetap tampak catchy dan kekinian ini sangat ramai pengunjung. Sebagian besar dari kalangan muda-mudi seusia Sea.


Di sanalah Sea saat ini. Ia tampak sedang berjuang untuk menghabiskan semangkuk seblak level 7. Semangkuk seblak yang baru habis setengahnya itu, rupanya telah mampu membuat Sea menghabiskan 2 gelas es teh manis.


Sea sudah bisa membayangkan ocehan Noah jika nanti perutnya bermasalah karena ini. Semoga saja perutku tak akan sakit setelah ini, batin Sea.


...………………...


Di dalam tasnya, ponsel Sea terus berdering. Alunan musik dari pengeras suara menggema ke seluruh penjuru rumah makan. Suara para pengunjung yang mengobrol atau tertawa juga tak kalah berisiknya, membuat Sea tak menyadari hal itu.


Hingga setelah hampir 1 jam, ia akhirnya berhasil menandaskan seporsi seblak. Setelah menyelesaikan pembayaran, Sea bergegas kembali ke mobilnya.


“Sepertinya aku harus kembali ke rumah dan mandi lagi. Tubuhku sangat lengket.” Sembari berjalan ke mobilnya, sesekali Sea terlihat mengusap peluh di sekitar dahinya.


Sebelum melajukan mobilnya, Sea memeriksa ponselnya. Keningnya mengernyit saat melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya. “Astaga, aku bahkan tak menyadari jika ada telepon dari Mas Noah.” Gumam Sea.


Segera Sea menghubungi Noah kembali, namun sayangnya kali ini giliran Noah yang tak menjawab panggilan dari istrinya. “Mungkin saja Mas Noah sedang meriksa pasien.”


Tak ingin mengganggu Noah yang sedang bekerja, Sea tak mencoba untuk mengulang panggilannya lagi. Sea tahu, jika pekerjaan suaminya membutuhkan konsentrasi.


Lebih baik jika Sea membaca lebih dulu pesan yang dikirim oleh suaminya. Jika sesuatu yang penting barulah dia akan menghubungi kembali atau mungkin akan langsung menemui Noah di rumah sakit. Bukan ide yang buruk, pikirnya.


Ada dua pesan yang dikirim Noah. Awalnya kening Sea mengernyit. “Sebegitu perhatiannya Mas Noah hingga menanyakan siklus bulananku,” gumam Sea seraya tersenyum. Ada-ada saja, pikirnya.


Sejenak Sea mengabaikan pesan kedua yang juga dikirimkan oleh suaminya. Ia membuka aplikasi di ponsel pintar miliknya. Aplikasi yang memungkinkan Sea mencatat kapan tanggal dimulai dan berakhirnya siklus bulanannya.


Napasnya serasa tercekat, degup jantungnya tiba-tiba saja berdetak dua kali lebih cepat. Entah bagaimana, kedua netranya mulai berkaca-kaca. Bahkan tangannya kini bergetar.


Semua hal itu terjadi bukan lagi karena rasa pedas dari seblak level 7 yang beberapa saat lalu ia santap. Melainkan karena selama dua bulan terakhir, tak ada catatan untuk tanggal siklus bulanannya.


“Apa aku melupakan hal ini? Apa aku telah ceroboh dan melewatkan catatannya?” Sea tak ingin berharap terlalu besar.


Pertanyaan di benaknya seolah memberikan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Wanita itu pernah merasakan kecewa, wajarlah jika kini ia lebih berhati-hati.

__ADS_1


Sea kembali membuka pesan lain dari suaminya. Kali ini ia tak lagi menahan senyumnya. Bahkan ia tertawa seorang diri di dalam mobilnya.


“Apa karena mual dan pusing yang dirasakannya, hingga Mas Noah mengklaim jika dirinya tengah ngidam?” Sea tertawa, namun tanpa diperintah satu tangannya refleks mengusap perut datarnya.


Netranya tak lagi berkaca-kaca. Air mata itu telah berlinang dengan sendirinya. Semakin lama tangis itu semakin keras, Sea bahkan terisak-isak.


“Ya Allah, benarkah Engkau mempercayakan padaku lagi untuk mengandung buah cinta kami?” Antara ingin percaya dan takut untuk berharap, hingga tak ada kata lain yang dapat ia ungkapkan.


“Haruskah aku mengetesnya?” Jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi di hadapannya. Otaknya ia paksa untuk berpikir dan segera memutuskan apa yang terjadi.


Sea tiba-tiba merasa dirinya menjadi bodoh. Semua karena ia takut untuk berharap. Takut jika nanti ia akan kehilangan kembali.


“Bagaimana ini?” gumamnya. Sea melirik ke sekitar, tiba-tiba saja ia menjadi cemas.


Setelah mengalami kecelakaan, Sea sempat trauma dan takut untuk mengemudikan mobil sendiri. Namun seiring berjalannya waktu serta dukungan dari suami dan orang terdekatnya, Sea berhasil mengalahkan trauma itu.


Namun saat ini rasa trauma itu kembali lagi. Sea terus menoleh ke kanan dan ke kiri, waspada jika ada mobil dari arah lain yang tiba-tiba menabraknya.


Seperti tahu kegelisahan hati istrinya, di saat yang bersamaan ponsel Sea berdering. Nama Noah tampak di layar ponselnya.


“Mas, syukurlah kamu menelepon.” Helaan napas lega istrinya menyambut Noah.


“Iya Mhiu sayang, aku mencoba menghubungimu sejak tadi,” jawab Noah.


“Sebentar, ada apa dengan suaramu? Kamu menangis?” selidiknya. “Katakan kamu di mana? Aku segera ke sana,” putus Noah. Ia sangat khawatir, hingga lupa dengan apa yang ingin ia bicarakan pada Sea mengenai dugaannya.


“Aku.. aku… baru saja akan kembali ke rumah rumah,” ungkap Sea.


“Pas sekali, Mhiu sayang.” Kini Noah kembali bersemangat. “Apa kamu sudah membaca pesanku?”


Sea mengangguk, ia lupa jika suaminya tak bisa melihat gerakan kepalanya.


Tak ada jawaban dari istrinya, Noah kembali bertamya. “Mhiu sayang, kamu mendengarku?”


“Ya… ya… aku mendengarmu, Phiu,” jawabnya. “Dan aku juga sudah membaca pesanmu.”


“Bagaimana menurutmu?” tanya Noah namun Sea kembali bungkam. Noah kini tahu apa alasan suara istrinya terdengar berbeda, seperti seseorang yang sedang terisak.


“Katakan kamu di mana, aku akan menemuimu di sana.” Noah sungguh khawatir dengan kondisi istrinya. Salahnya juga yang tak sabar, harusnya Noah bisa membicarakan hal ini secara langsung. Noah tahu, kecelakaan hingga keguguran yang dialaminya meninggalkan trauma yang mendalam bagi istrinya.


Noah bisa mendengar istrinya yang sedang mengatur napasnya. “Tak perlu… aku tak jauh dari rumah sakit. Aku saja yang akan menemuimu,” ucap Sea setelah bungkam beberapa saat.


“Percayalah, aku tak apa-apa. Aku bisa,” lanjutnya meyakinkan.

__ADS_1


“Ya… aku percaya kamu, sayang. Aku akan menunggumu, kita akan memastikannya. Apa pun hasilnya, kamu tahu kita akan hadapi ini bersama,” ucap Noah sebelum panggilan telepon keduanya terputus.


……………


Di tempat berbeda, tepatnya di salah satu Mall terbesar, tampak Tessa yang baru saja turun dari mobilnya. Wajah berbinar dari wanita itu mengundang senyum seorang pria yang sejak tadi mengikuti dirinya.


Bahkan sejak mentari baru saja menampakkan dirinya di ufuk timur, pria itu sudah siap di dalam mobilnya. Mengawasi sebuah rumah mewah yang menjadi tempat tinggal wanita yang ingin ia temui.


Langkah lebar Tessa yang terkesan terburu-buru, tak menjadi masalah bagi si pria untuk terus mengikuti ke mana wanita itu melangkah. Sementara Tessa, rasanya ingin segera berlari andai saja ia tak mengenakan sepatu dengan ham cukup tinggi.


Tempat yang Tessa tuju adalah sebuah butik mewah dengan brand yang terkenal ke seluruh penjuru dunia. Sebelum masuk, wanita itu menunjukkan selembar undangan pada salah satu staf toko.


“Silakan masuk, Nona Tessa.” Sapa salah satu staf itu dengan ramah.


Setelah Tessa masuk ke dalam butik, pria yang mengikutinya tampak mengalami kesulitan. Sebab tak sembarang orang bisa masuk ke sana, ada acara khusus yang sedang digelar. Dan hanya yang memiliki undangan yang diperbolehkan untuk masuk.


Setelah berpikir cukup keras, beruntung dia mengenal manajer butik tersebut hingga dengan mudah ia mendapatkan izin masuk. “Di mana dia?” gumamnya.


Perlahan ia mulai melangkah, mengitari ruangan yang cukup luas dengan konsep mewah di setiap sudutnya. Hingga ia akhirnya menemukan sosok yang dicarinya.


Tessa, wanita itu terlihat berjalan bersisian dengan seorang staf butik. Mereka terpisah saat Tessa masuk ke dalam fitting room, sedangkan staf butik pergi setelah memberikan beberapa gaun pada Tessa.


“Ini kesempatanku,” monolognya.


Beresiko memang, pria itu paham akan hal itu. Tapi saat ini, bertemu Tessa adalah hal yang paling penting.


Tok


Tok


Tok


“Ya,” teriakan Tessa dari balik pintu sengaja ia abaikan. Pria itu mengetuk sekali lagi.


Tok


Tok


Tok


Tak lama terdengar bunyi kunci pintu yang di putar. Pria itu bersiap di posisi terbaiknya untuk bersembunyi. Dan ketika ada sedikit celah, dengan segera pria itu mendorong pintu membuat Tessa yang berada di baliknya terpaksa harus mundur beberapa langkah.


Sebelum Tessa membuat keributan atau sebelum wanita itu kembali menutup pintunya, pria itu bergerak lebih cepat menerobos masuk ke dalam fitting room.

__ADS_1


“Hei kamu, keluar sekarang juga!” Pekik Tessa.


...————————-...


__ADS_2