Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 83. Fakta Mengejutkan


__ADS_3

Siang ini, Rumah Sakit Pelita Harapan dibuat geger dengan proses penangkapan salah satu dokter wanita yang menjadi kebanggannya. Dokter Alesandra, putri salah satu petinggi pada rumah sakit tersebut, terlibat dalam kasus kecelakaan dan penyerangan pada istri salah satu rekan sejawatnya. Begitulah berita yang menjadi buah bibir hampir di seluruh penjuru rumah sakit.


Noah yang segera diberitahu oleh tim kuasa hukum yang menangani kasus istrinya, dibuat terkejut dengan fakta baru yang ia terima. Noah sampai harus menghirup napas panjang untuk menormalkan pernapasannya.


“Jadi, apa lagi berikutnya?” tanyanya saat masih tersambung melalui panggilan telepon dengan salah seorang pengacaranya.


“Aku tak peduli terhadap apa pun,” ungkapnya. “Yang aku inginkan adalah keadilan untuk istriku,” imbuh Noah dengan tegas.


Noah bungkam sejenak, fokus untuk mendengar arahan sang pengacara. Saat mendengar bunyi pintu kamar yang terbuka, Noah tersenyum sangat manis kepada istrinya yang muncul dari balik pintu.


Dalam hati pria itu berharap jika Sea tak mendengar apa yang sedang ia bicarakan. Tak ingin Sea semakin tertekan dengan berita ini, Noah akan berusaha memberitahunya perlahan-lahan.


Melihat Sea yang langsung menuju ke kamar mandi, kesempatan ini dimanfaatkan Noah untuk menghindar. Pria itu memilih balkon kamar untuk menjadi tempatnya melanjutkan pembicaraan di telepon.


“Lalu bagaimana dengan Alfio? Apa dia akan bebas? Seperti kata Anda, bukti baru itu berasal darinya, bukan?” cecar Noah.


“Mengenai Tuan Alfio, tentu dia akan bebas dari tuduhan atas keterlibatannya dalam kasus penyerangan Nyonya Seanna,” jelas si pengacara.


“Namun, sepertinya beliau tak akan bebas begitu saja. Tuan Alfio masih harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena telah menyembunyikan dan berusaha menghilangkan barang bukti,” lanjutnya.


Terdengar helaan napas Noah. Keadaan menjadi semakin rumit, pikirnya. “Saya percayakan kasus ini pada Anda dan Tim, tolong jangan kecewakan saya.”


“Yang penting bagiku adalah keadilan untuk istriku,” tegas Noah.


Baru saja Noah mengakhiri sambungan teleponnya, ia dikejutkan dengan kehadiran istrinya yang berdiri di ambang pintu. “Phiu, ada masalah apa lagi?”


Noah menjawab dengan gelengan kepala. “Tak ada. Tak ada yang serius, sayang.”


Sea bisa melihat keraguan dari gelagat suaminya. Ia maju beberapa langkah, melingkarkan tangannya di pinggang Noah. Kepalanya ia sandarkan pada dada bidang suaminya.


Berkali-kali pun Sea tak akan pernah bosan untuk mengakui jika bunyi detak jantung suaminya sangat mampu menenangkannya. “Serumit apa pun masalahnya, aku pasti bisa melewatinya. Selama kamu berjanji tak akan pernah meninggalkan aku sendiri,” ucap Sea.


Sea mendongak hingga tatapannya bertemu dengan tatapan sang suami. “Kita akan terus bersama, kan?”


“Apa aku masih harus menjawabnya?” sebuah kecupan Noah daratkan di kening istrinya.


Keduanya saling melempar senyuman kemudian tertawa bersama. Keduanya sudah sepakat untuk mengukir kenangan indah di tiap detik yang akan mereka lewati bersama. Menjadikan semua musibah yang menimpa mereka sebagai pembelajaran hidup. Ya, Noah dan Sea harus belajar menerim takdir yang telah ditentukan Yang Maha Kuasa untuk keduanya.


“Salah seorang pengacara kita menghubungiku,” ucap Noah.


Kedua tangan Sea masih betah melingkar di pinggang suaminya. Hanya saja, kini tatapannya terkunci pada raut wajah suaminya yang mendadak berubah menjadi serius.


“Hemm, lalu? Apa ada sesuatu yang penting?”


Noah membelai lembut surai istrinya. “Tak ada. Hanya saja, ada bukti baru yang ditemu-“ ucapan Noah terjeda manakala ponsel di saku celananya terasa bergetar.


“Sandy,” seru Noah menunjukkan layar ponselnya pada Sea.


“Terima saja dulu, bisa saja ada hal yang urgent.”


Noah mengubah posisi keduanya. Kini ia merangkul pundak istrinya, sementara Sea tetap memeluk pinggangnya dari samping. Noah berjalan perlahan beriringan dengan Sea, masuk ke dalam kamar.


“Hai,” seru Noah menyapa sahabatnya saat menerima panggilan Sandy.


“Lu di mana?” dari nada bicaranya, sepertinya Sandy sedang panik, pikir Noah.

__ADS_1


“Di rumah, mau di mana lagi.”


“Lu sudah mendengar kabar terbaru dari rumah sakit?” pekik Sandy dari seberang telepon.


Sea yang samar-samar mendengar suara Sandy yang begitu melengking, beralih menatap Noah dengan tatapan bingung.


“Bisa biasa aja gak, lu ngomongnya!” Noah memberi jarak ponsel dengan telinganya. Pekikan Sandy bisa saja mengganggu kesehatan telinganya.


“Soal Alesandra?” jawab Noah singkat.


“Alesandra? Gue gak peduli sama dokter yang sakit jiwa macam wanita itu,” jawab Sandy.


“Ini soal Owen!” imbuhnya.


“Owen?” Noah memutar kembali ingatannya.


Owen, ada apa dengannya? Sudah cukup lama aku tak bertemu atau mendengar kabarnya, batin Noah.


“Ada apa dengannya?” tanya Noah.


“Owen mengajukan pengunduran diri!” seru Sandy yang berhasil membuat Noah menghentikan langkahnya.


“Bisa lu jelasin?” Noah seolah menolak untuk memahami maksud dari perkataan Sandy.


“Owen berhenti bekerja. Dia akan kembali ke kota P,” jelas Sandy.


Ponsel Sea yang berada di atas nakas pun berdering. Sementara Noah, masih bergeming di tempatnya Sea bergegas meraih ponselnya. Nama Phila tampak di layar ponselnya.


Sea duduk di tepian tempat tidur. “Halo, Phil ….”


“Tessa … Tessa ….” Sea semakin panik saat Phila menyebut nama sahabatnya.


Astaga, aku melupakan Tessa! Bukankah terakhir kali dia ingin bertemu karena ada suatu hal yang penting? Batin Sea.


“Jangan membuatku takut, Phil. Katakan, ada apa dengan Tessa?”


“Tessa akan pindah ke Kota P,” jawab Phila.


“Kota P,” seru Sea.


Seruan istrinya menjadi perhatian Noah, “Kota P?”


Sea membalas menatap Noah dengan raut wajah yang tak kalah bingungnya.


“Ada apa dengan Kota P,” gumam Noah.


Karena memikirkan alasan Owen yang tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke Kota P, Noah sampai melupakan kehadiran Sandy yang masih terhubung dengannya lewat sambungan telepon.


“Iya, Kota P. Jangan bilang lu budek?” sarkas Sandy yang menyadari jika Noah sempat mengabaikannya.


“Datanglah ke restoran steak yang biasa. Owen ingin menemui kita di sana,” ucap Sandy.


“Restoran Steak,” ucap Noah dan Sea bersamaan. Keduanya saling tukar pandangan.


“Siap, gue akan datang bersama Mas Noah,” ucap Sea

__ADS_1


“Oke, gue bakal datang bareng Sea,” ucap Noah.


Lagi-lagi Noah dan Sea berucap bersamaan. Kening keduanya pun akhirnya mengernyit bersamaan.


Setelah sambungan telepon berakhir, Sea dan Noah saling tatap. “Mhiu sayang, apa ada sesuatu antara Owen dan Tessa yang tak kita ketahui?”


Sea meremat ponsel pintar berlogo buah apel miliknya. “Emm … aku tak yakin. Tapi semoga saja keduanya baik-baik saja,” jawab Sea.


“Apa kamu tak bisa memberitahu suamimu, hal apa yang membuatmu tak yakin?”


Sea menggeleng. “Bukan hak-ku dan aku tak memiliki kewenangan untuk membicarakannya,” jawab Sea.


“Sebaiknya kamu bersiap, kita harus segera menemui keduanya. Setuju?”


Noah mengecup kening istrinya sekali. “Setuju. Tapi lakukan semuanya secara perlahan, sayang. Jangan paksakan dirimu,” peringat Noah.


...…………………....


Pasangan suami-istri, Sea dan Noah tiba restoran steak tempat mereka janjian bersamaan dengan Sandy yang juga baru tiba. Ketiganya berjalan beriringan menuju pintu restoran.


“Sea, kau sudah lebih baik?” sapa Sandy.


“Ya … semua karena suamiku,” pujinya.


Sandy menggeleng, “Kumohon berhentilah memamerkan kemesraan kalian. Alesandra baru saja ditang-“ ucapan Sandy disela oleh suara melengking seorang wanita. Hal ini membuat Noah menghela napasnya lega.


“Sea!”


Ketiganya berbalik secara bersamaan. Dilihatnya Phila berlari ke arah mereka. Wanita itu berlari tanpa takut terjatuh meski menggunakan high heels.


“Bisakah lu gak lari? Akan berbahaya bagimu, jika kakimu terkilir,” seru Sandy.


“Huuhh, apa pedulimu!” Balas Phila.


Kini keempat orang itu beriringan masuk ke dalam resto. Bersamaan mereka mengedarkan pandangan, mencari di mana orang yang ingin mereka temui.


“Mengapa ada Owen di sana?” tunjuk Phila ke salah satu meja yang berada di salah satu sudut restoran.


Sea menelan salivanya. Benarkah dugaanku? tanyanya dalam hati.


“Hai, kalian sudah datang.” Seperti biasa, Tessa yang periang menyambut kedatangan sahabat-sahabatnya.


“Maaf, jika kami meminta kalian datang dengan tiba-tiba.” Meski tampak pucat, senyuman Tessa tetap terlihat sangat cantik.


“Kami?” Sandy cukup terkejut dengan kata ‘kami’ yang diucapkan oleh Tessa.


“Sejak kapan lu dan dokter Owen menjadi kami?” tanya Phila dengan kening yang telah mengerut.


Sementara Sea dan Noah hanya bungkam, keduanya seperti sudah bisa mengetahui tujuan Tessa dan Owen mengumpulkan mereka di sini.


Tanpa diduga, Owen merangkul pundak Tessa. “Sejak Tessa mengandung anak gue,” ucapnya santai tanpa beban.


“Apa?!” Pekik Phila dan Sandy bersamaan.


...—————————...

__ADS_1


__ADS_2