Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 20. Perubahan Sea


__ADS_3

Tak ada kata yang dapat menggambarkan bagaimana perasaan Sea saat ini.


Merasa tak diinginkan? Ya.


Merasa tak berguna? Ya.


Merasa tak ada harapan, semua usahanya sia-sia? Ya.


"Aku, keberadaanku, hidupku, semua hal tentangku, adalah kesalahan bagimu. Lantas apa yang kuharap lagi padamu?"


Setelah pembicaraannya bersama Noah saat itu, sikap Sea berubah. Sea lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan alasan sakit.


Hari pertama, tepat setelah pembicaraan keduanya usai, dengan meringis menahan sakit di bagian intinya, Sea kembali ke tempat tidur, melanjutkan tidurnya masih dengan mukena yang menutupi seluruh tubuhnya. Melihat itu semua terbersit rasa bersalah di hati Noah. Sebagai seorang dokter, tentunya dia tahu bagaimana sakit yang dirasakan Sea akibat perbuatannya semalam. Maka pagi itu dia biarkan Sea beristirahat.


“Di mana Sea?” Tanya Mami Joanna.


Tak biasanya Noah akan sarapan seorang diri. Sea, menantu kesayangannya itu akan selalu mendampingi suaminya, pikir Mami Joanna.


“Sea masih tidur, Mi,” jawab Noah singkat.


Kening Mami Joanna mengernyit. Semenjak pertama kali membawa Sea ke rumahnya, sangat jarang baginya melihat Sea bangun kesiangan. Terkecuali jika wanita itu sedang sakit.


“Apa kau sudah memeriksa keadaan istrimu?”


“Apa Sea sakit?”


“Kamu seorang dokter Noah, jika istrimu sedang sakit harusnya kamu bisa lebih perhatian lagi,” ujar Mami Joanna menasihati putranya.


Noah menghela napasnya, “Mi, kata siapa Sea sakit? Sepertinya dia hanya kelelahan!” Noah meletakkan sendok dan garpu dengan kasar ke atas meja.


“Biarkan dia istirahat. Mami jangan menggangunya!”


“Aku sudah selesai sarapan, aku akan berangkat sekarang. Permisi Ayah, Mami.” Tak lupa Noah berpamitan pada kedua orang tuanya dengan mencium punggung tangan keduanya secara bergantian.


Mami Joanna yang merasa ragu juga khawatir dengan keadaan Sea, bergegas naik ke kamar putranya setelah memastikan mobil Noah telah menjauh.


Tok


Tok


Tok


“Sea... Seanna sayang!”


“Sea... sayang, boleh Mami masuk?”


Tak ada jawaban apa pun dari dalam kamar. Mami yang khawatir, terpaksa membuka pintunya setelah sebelumnya ia meminta izin.

__ADS_1


“ Sea, Mami masuk ya, sayang,” pekiknya dari balik pintu.


Ceklek.


Pintu telah berhasil ia buka, dan pandangan pertama yang ia lihat adalah kondisi kamar yang berantakan. Mendapati pakaian Sea yang teronggok tak berdaya di lantai kamar juga bercak merah pada seprei, menimbulkan senyum di wajah cantik paruh baya itu. Tentunya ia paham apa yang putra dan menantunya telah lakukan hingga kekacauan ini bisa terjadi.


“Sea... Mami akan meminta Mbok membawa sarapanmu ke kamar,” ucap Mami Joanna. “Sarapan lah dulu, setelah itu istirahatlah lagi.”


Tanpa berkata apa-apa lagi, Mami Joanna bergegas meninggalkan kamar Sea. Dalam hati ia bersorak gembira hingga langkahnya menuju ruang makan ia percepat, tak sabar menyampaikan berita bahagia ini pada suaminya.


“Bersiaplah jadi kakek,” bisiknya di telinga Ayah Peter.


Tak ada yang tahu, di balik kebahagiaan pasangan paruh baya yang berharap sebentar lagi akan menimang cucu, di dalam kamar Sea terus saja menitikkan air mata. Ingin rasanya Sea berhambur memeluk Mami Joanna, membagi sedikit rasa sakitnya dengan bercerita. Sayangnya, hal itu tak mungkin ia lakukan.


.................................


Tiga hari telah berlalu, dan semua masih sama. Sea lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Hal itu membuat Ayah Peter dan Mami Joanna merasa khawatir.


Hal yang sama juga turut dirasakan oleh Noah. Diamnya Sea kali ini entah mengapa sangat mengganggunya. Penyesalan, rasa bersalah, juga kehilangan ia rasakan bersamaan.


Seperti hari ini, karena kelelahan Noah bangun lebih lama dari biasanya. “Astaga... aku telat Shalat Subuh,” gumam Noah seraya kedua tangannya mengusap kasar wajahnya.


Saat berpaling ke arah sisi ranjang di sampingnya, di sana bisa ia melihat Sea yang berbaring memunggunginya. Mukena milik Sea yang tergeletak di atas sofa, menandakan jika istri Noah itu telah melaksanakan kewajibannya. Satu hal yang baru disadari Noah, Sea tak lagi membangunkanku dan mengajakku untuk Shalat berjamaah seperti biasanya.


Tak hanya itu, tak ada lagi pakaian yang disiapkan Sea untuk ia tolak, tak ada Sea yang memaksa untuk membawakan tas kerjanya atau Sea yang akan bergelayut di lengannya saat di hadapan Ayah dan Mami.


Masih sama seperti hari kemarin, sudah tiga hari berturut-turut, kembali Mami Joanna yang akan menyiapkan makanan di piring Noah. Mengapa aku jadi tak bersemangat untuk makan di rumah, ya? Rasa makanannya berbeda saat Sea yang menyiapkan semuanya, batin Noah.


“Baik-baik saja, kok.” Noah menjawab tanpa berani menatap netra kedua orang tuanya.


“Mengapa tak periksakan saja ke dokter? Akh... Mami jadi khawatir, sebenarnya Sea sakit apa. Dia selalu mengatakan jika hanya kelelahan dan ingin istirahat, tapi aku yakin bukan hanya itu.” Komentar ibunya membuat Noah tersedak makanannya.


"Apa kamu lupa siapa putra kita, Mi? Noah tentunya lebih tahu apa yang terbaik untuk istrinya," ucap Ayah Peter ikut berkomentar.


Pantaskah aku bersyukur sebab Sea tak mengadu pada Mami dan Ayah? Perang batin kembali bergejolak di hati Noah.


Pria itu masih ragu, di satu sisi ia merasa jika yang terjadi antara dirinya dan Sea bukanlah masalah besar sebab keduanya halal untuk melakukannya. Namun, di sisi lain ia merasa bersalah pada Aneesa jika nanti ia dan Sea akan semakin terikat dan sulit untuk berpisah. Sebab hingga kini, bagi Noah, wanita yang telah menjadi istrinya itu lah yang menyebabkan kematian Aneesa.


............................


Malam ini, tepat seminggu setelah malam paling kelam dalam hidup Sea. Berbeda dari beberapa hari terakhir, malam ini Sea tak lagi bersembunyi di balik selimut tebal seraya mengisi nasibnya.


Pagi tadi setelah mengunjungi makam kedua orang tuaya, Sea merasa bersalah telah menyia-nyiakan seminggu hidupnya. Bukankah aku masih memiliki satu tugas dari ayah dan bunda? Batinnya.


Sea cukup lama menghabiskan waktu untuk berendam. Jika biasanya ia akan memilih aroma lavender atau lemon, malam ini aroma camomile menjadi pilihannya untuk membantu merelaksasikan pikirannya. Seminggu waktu yang ia habiskan hanya dengan berbaring, membuat otot-ototnya terasa kaku dan aroma camomile cukup membantu mengurangi rasa tak nyaman pada tubuhnya.


Seperti terlahir menjadi orang yang baru, malam ini Sea sungguh berbeda. Memutuskan untuk tampil berbeda malam ini, pilihan Sea jatuh pada mini dress warna hijau mint tanpa lengan. Polesan wajahnya juga berbeda, Sea tak ragu lagi saat memoleskan perona pipi dan bibir yang warnanya lebih berani dari yang biasanya ia pakai. Tak ada tujuan apa pun, semua murni ia lakukan mengikuti nalurinya.

__ADS_1


Ayah Peter dan Mami Joanna sangat bahagia ketika menyambut Sea saat makan malam. “Kami sungguh bersyukur kamu sudah baik-baik saja, Nak.”


“Maafkan Sea karena telah membuat Ayah dan Mami khawatir,” ucapnya penuh sesal.


Mami Joanna beranjak dari tempat duduknya, menghampiri menantu yang ia sayangi bagai putri kandungnya sendiri. Wanita paruh baya itu memeluk Sea, dan Sea pun turut merasakan kehangatan juga ketulusan Mami Joanna padanya. “Jangan sakit lagi, jaga kesehatanmu sayang. Tapi jika kamu sakit lagi, ingatlah suamimu dokter yang siap merawatmu,” ucap Mami Joanna.


Sea hanya mengangguk, meski dalam hati ia kembali meringis saat mengingat malam itu. Apa lagi saat menyadari kehadiran pria yang sedang mereka bicarakan.


Pria berstatus suaminya yang katanya akan siap merawat dirnya, tak lain adalah pria tak bertanggung jawab yang bersembunyi di balik kata khilaf.


Sementara Noah yang baru saja pulang bekerja, harus terus menelan salivanya saat berdekatan dengan Sea. Pria itu merutuki dirinya sendiri, mengapa ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya saat melihat tampilan istrinya yang sungguh berbeda. Bahkan aroma parfumnya saja sudah mampu membangkitkan sesuatu yang tertidur.


Apa Sea melupakan kesepakatan untuk sandiwara di depan Ayah dan Mami? Mengapa dia mengacuhkanku? tanya Noah dalam hatinya.


Tak sanggup lebih lama berada dalam situasi ada namun dianggap tak ada oleh Sea, akhirnya Noah pamit untuk ke kamar lebih dulu.


Cukup sudah, Mas. Aku menyerah!


.........................


Waktu terus berlalu, renggangnya hubungan suami istri Sea dan Noah tak lagi bisa disembunyikan. Semakin hari Sea semakin menyiksa batin Noah. Pria itu merasa tak sanggup berdekatan lebih lama degan Sea.


Entah mengapa, setiap berada di dekat Sea, Noah rasanya ingin membawa wanita itu dalam dekapnya. Jika boleh, ia ingin mengungkung wanita itu lagi, membuatnya kembali tak berdaya dalam kuasanya. Menyadari hal itu tak mungkin, Noah akhirnya memilih untuk menjauh.


Sementara Sea, wanita itu kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Kuliah pagi hari dan bekerja di sore hingga malam hari. Beruntung ia mendapatkan izin dari kedua mertuanya.


Sea bersyukur sebab Alfio juga mau menerima maafnya. Bahkan Sea tak menduga jika selama seminggu ia menghilang, pria itu sangat mengkhawatirkannya. Sea merasa lebih lega setelah jujur pada Alfio mengenai statusnya dan siapa Noah. Ia bersyukur karena sekarang selain Tessa dan Phila, ada Alfio yang menjadi tempatnya berbagai keluh dan kesah.


Seperti hari ini, wajah Sea yang pucat dan tubuhnya yang lemas mengundang kekhawatiran Alfio. “Apa kamu sakit, Sea?” tanyanya.


Sea menggeleng. “Tidak, aku baik-baik saja. Jangan khawatir,” jawab Sea.


“Tapi wajahmu tampak sangat pucat, suhu tubuhmu pun sangat panas. Kamu demam, Sea!” Tangan Alfio dengan lincah sudah berada di dahinya tanpa bisa dicegah oleh Sea.


Bahkan seakan tak peduli dengan tatapan karyawan lainnya, Alfio menuntun Sea menuju ruangannya. Membaringkan dengan perlahan tubuh lemah wanita itu di sofa bed miliknya.


“Jangan ke mana-mana dan jangan lakukan apa pun! Hari ini kamu harus istirahat,” ucap tegas Alfio.


Sea berdecak diiringi tawanya yang lemah. “ Kau berlebihan, Kak Al.”


“Aku hanya masuk angin biasa, kok,” tutur Sea.


“Kepalaku pusing dan a-a-“ belum selesai ucapannya wanita itu tiba-tiba berlari ke kamar mandi yang ada dalam ruangan Alfio. Sea memuntahkan semua isi perutnya.


Alfio mematung di tempatnya, apa mungkin ... batinnya.


Setelah membantu Sea kembali berbaring, segera Alfio meninggalkan wanita itu dengan alasan agar Sea bisa beristirahat. Dalam benaknya hanya satu yang harus segera ia lakukan.

__ADS_1


Setelah keluar dari ruagannya, Alfio segera mencari nama seseorang di ponselnya. “Aku harus segera menghubunginya. Jika dugaanku benar, aku membutuhkannya untuk membantu ku.”


...-----------...


__ADS_2