
“Sea hamil!” Alesandra yang baru tiba di ruang kerja Alfio terlihat begitu geram.
Satu bulan telah berlalu, kehamilan Sea sudah memasuki usia 10 minggu. Sementara Alesandra makin dibuat geram sebab Alfio seperti tak berniat melakukan apa pun selama itu.
“Aku tahu,” jawab Alfio santai.
“Bagus! Kau sudah tahu dan kau diam saja?”
Alfio saat ini sedang pusing mempersiapkan pameran fotografinya yang akan digelar tak lama lagi di Negeri Tetangga. Pria itu terlihat begitu terganggu dengan kehadiran Alesandra. Hal itu membuat emosinya terpancing. Terlihat dari salah satu telapak tangannya yang kini mengepal erat di atas meja kerjanya.
“Memangnya kau sudah melakukan apa, hah?” Alfio balik bertanya pada Alesandra.
“Kau yakin ingin aku yang bertindak?” Pertanyaan Alesandra kali ini terdengar bagai sebuah ancaman.
Brak.
Alfio memukul meja kerjanya. Beberapa barang di atasnya terlihat bergetar dan sedikit bergeser dari tempatnya.
“Br*ngs*k!” makinya.
“J*l*ng sepertimu berani sekali mengancamku?!” Alfio memaki Alesandra dengan kedua mata yang memicing, begitu memancarkan kemarahannya.
Alesandra menelan salivanya. Sikap kasar Alfio yang seperti ini membuatnya terlonjak. Ingin sekali wanita itu berteriak membalas Alfio. Dirinya menjadi j*l*ng dan pemuas n*fsu seorang pria, semua itu tentunya karena Alfio.
“Siapa yang mengancammu? Aku bertanya karena tak ingin lagi kau salahkan nantinya!” Balas Alesandra.
Meski gugup tapi ia tak ingin Alfio menyadari hal itu. Alfio juga Roy akan semakin menindasnya jika dia terlihat lemah, pikir Alesandra.
“Pergi sana! Jangan menemuiku jika bukan hal penting.”
“Bagaimana jika Sea melihatmu di kantorku? Dasar bodoh!” Alfio memaki Alesandrea lagi.
Dalam hati Alesandra juga balas memaki pria di hadapannya. Ia sungguh menyesal telah menemui Alfio. Harusnya dia tak perlu menemuinya dan diperlakukan dengan kasar seperti saat ini.
Semua ini karena wanita si*l*n itu! Apa istimewanya dia hingga semua orang melindunginya? Alesandra makin membenci Sea.
Merasa maksud dan tujuannya bertemu Alfio tak direspon dengan baik, Alesandra memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Dengan kasar diraihnya tas tangan miliknya yang ia letakkan di atas meja kerja Alfio. Lalu tanpa pamit dan berkata apa-apa lagi, ia pergi dari sana.
Sayangnya, kesi*lan seperti terus mengikutinya semenjak ia berurusan dengan Alfio. Baru saja ia menutup pintu ruang kerja pria itu, salah satu lengannya ditarik oleh seseorang.
“Hei! Lepaskan!” pekik Alesandra.
“Mau apa kamu, hah?!” Meski ia telah mengerahkan seluruh tenaganya, Alesandra mana mampu menandingi kekuatan cengkraman Roy pada lengannya.
__ADS_1
Sedangkan Roy hanya menoleh sekilas seraya menyeringai. “Lama kita tak bersua, apa kau tak merindukan sentuhanku?”
“Br*ngs*k!” maki Alesandra.
Sementara Roy menanggapi makian Alesandra dengan tawa. Pria itu mengamati keadaan sekeliling saat keduanya sudah berada di depan pintu toilet.
Tawanya terhenti, berganti dengan seringaian yang Alesandra sudah sangat kenali dan pahami maksudnya. “Masuk! Lakukan tugasmu atau foto-foto dan rekaman itu aku sebarkan!”
Alesandra menatap penuh kebencian pada Roy. Aku jadi seperti ini juga karena wanita si*lan itu! keluhnya dalam hati.
Kali ini akan kupastikan dia dan janin yang dikandungnya lenyap dari muka bumi. Batin Alesandra bertekad .
...……………….....
“Liatin apaan?”
Sea menoleh ke arah pria yang telah berhasil mengejutkannya.
“Kak Alfio,” seru Sea.
Siang ini Alfio sengaja berkunjung ke kampus Sea untuk menemui wanita itu. Sejak kedatangan Alesandra, entah mengapa batinnya terus merasa tak tenang. Mengingat betapa gila dan nekatnya Alesandra membuat Alfio terus mencemaskan keselamatan Sea.
Pria itu ikut duduk di sisi Sea. Keduanya duduk bersisian di bangku taman kampus. Terasa sangat nyaman duduk di bawah pohon tanjung yang sangat rindang.
“Hemm… itulah mengapa aku lebih nyaman duduk di sini, tak ada asap rokok seperti di sana.” Dengan dagunya, Sea menunjuk ke arah segerombolan mahasiswa yang sedang merokok di sisi lain kampus.
“Ya, itu tak baik untuk kehamilanmu.” Komentar Alfio tanpa menatap Sea.
Semakin hari, Alfio semakin tak mengerti dengan perasaannya. Terkadang ia merutuki dirinya yang tak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
Jika saja wanita Noah bukan dirimu, mungkin saja perasaan ini tak akan pernah ada. Aku akan tetap teguh pada dendamku dan tak harus ragu dalam setiap langkahku. Alfio membatin saat menatap wajah cantik Sea.
Sea mendapati Alfio termangu menatap padanya. “Kak… Kak Alfio,” serunya. Tangannya melambai-lambai tepat di depan wajah pria itu. Sayangnya usahanya gagal, Alfio masih termangu menatapnya.
“Sea!” Suara seorang wanita yang baru saja tiba yang akhirnya berhasil menarik Alfio kembali dari lamunannya.
“Hai Tess, Phil….” Sea menyambut kehadiran dua sahabatnya.
“Eh… Kak Alfio juga ada di sini,” ucap Phila menyapa Alfio.
“Hai Phila,” balas Alfio ramah.
Namun saat sepasang netranya bertemu dengan sepasang netra milik Tessa, Alfio tak dapat mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Kehadiran Tessa yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya, masuk dengan cara yang tak biasa, membuat pria itu sulit untuk bisa mengenyahkannya begitu saja.
__ADS_1
Tessa tampak gugup saat Alfio tak henti menatapnya. Tak ingin Sea atau Phila menyadari hal itu, segera ia mendudukkan dirinya di samping Sea kemudian menyibukkan diri dengan ponselnya. Sedangkan Phila tanpa permisi mendudukkan dirinya di antara Sea dan Alfio.
“Kak Alfio, lu kemari nemuin Sea atau Tessa?” tanya Phila dengan polosnya. Pasalnya beberapa kali Alfio juga menanyakan keberadaan Tessa padanya.
Sontak saja Tessa membelalakkan matanya pada Phila. Sedangkan Sea mengernyit, menatap Alfio lalu Tessa secara bergantian. Setahunya, saat ia dirawat di rumah sakit, Tessa dan Alfio memang cukup sering berkomunikasi.
Namun saat mereka berada di kampung halaman Sea beberapa bulan lalu, Tessa sempat memperingatkan dirinya agar mulai menjaga jarak dari Alfio.
Tessa sempat berkata, ia curiga jika Alfio memiliki perasaan lebih pada Sea. Dan sejak saat itu, setahunya Tessa juga turut menghindari Alfio.
Sea mulai menerka-nerka. Namun entah mengapa, dirinya malah menghubungkan Alfio dengan apa yang kemungkinan sedang dialami oleh sahabatnya.
Mungkinkah? ucapnya dalam hati.
Saat dirinya sedang bergelut dengan pikirannya, samar-samar ia mendengar seruan dari suaminya. “Sayang… Mhiu sayang!”
Benar saja, suaminya sudah berdiri tepat di hadapannya. Tak ada keramahan yang terpancar dari raut wajah prianya. Tak ada senyum, yang tampak hanya kedua alisnya mengerut ketika pria itu melihat sosok Alfio.
“Apa kuliahmu sudah selesai?” Noah bertanya dengan lembut pada istrinya. Tangannya terulur dan segera disambut oleh Sea.
“Ya, semuanya sudah selesai. Aku hanya menunggumu menjemputku,” jawab Sea.
Tanpa diminta ia menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan di sana. Meski bukan padanya, dinginnya sikap Noah di siang yang terik itu, sudah cukup menggambarkan bagaimana buruknya suasana hati suaminya.
Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya dan juga pada Alfio, dengan menggandeng lengan suaminya, sepasang suami istri itu pergi meninggalkan kampus.
Di luar dugaan… saat mobil Noah melaju melewati gerbang kampus, Sea melihat sosok pria kekar yang tak asing baginya. Pria itu sedang berjalan masuk ke area kampusnya.
“Dia!” seru Sea seraya menunjuk ke arah pria itu.
Pandangan Noah mengikuti ke mana arah telunjuk istrinya. “Dia, siapa? Pria itu?”
“Iya, pria itu… pria kekar yang seringkali bersama Alesandra,” jelasnya.
Mendengar pernyataan istrinya, Noah memelankan laju kendaraanya. Ia akhirnya turut mengamati pria itu dari pantulan kaca spion mobilnya.
“Mau apa dia di sini? Aku yakin dia bukan seorang mahasiswa,” gumam Sea.
“Jangan dipikirkan. Siapa dia, apa hubungannya dengan Alesandra, atau apa pun itu. Semua hal itu bukan urusan kita,” ujar Noah. Pria itu tak ingin istrinya memikirkan banyak hal selagi mengandung.
Sementara Sea hanya mengangguk saja tanda ia setuju. Meski hal itu sebenarnya tak sejalan dengan apa yang ada di hatinya.
...————————...
__ADS_1