Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 32. Kedatangan duo sahabat Sea


__ADS_3

“Seanna Filia!” Kompak dua orang gadis memekik saat melihat sahabatnya kini sedang terbaring di hospital bed dengan infus yang terpasang di salah satu punggung tangannya.


Kemarin… Tessa dan Phila, kedua sahabat Sea akhirnya mengetahui berita mengenai kecelakaan yang menimpa sahabatnya. Rindu, khawatir, juga kesal pada Sea, berkecamuk dalam benak kedua mahasiswi cantik itu.


Seminggu sudah tak bertemu dengan Sea, membuat keduanya merasa rindu dengan kehadiran sahabatnya itu. Apalagi kala keduanya mengingat bagaimana kondisi kesehatan Sea saat terakhir kali mereka bertemu.


Apalagi untuk menghubungi Sea pun mereka rasa sungguh sulit. Ponselnya tak pernah aktif. Saat disambagi ke kediamannya pun, di sana tampak sangat sepi seperti tak berpenghuni.


Akhirnya, kemarin Tessa dan Phila memutuskan jika jalan terakhir untuk menemukan Sea adalah Alfio. Sangat tak mungkin mereka menemui Noah, suami Sea. Selama lebih dari 3 tahun bersahabat, mereka hanya sebatas mengenal Noah. Tak pernah saling menyapa apalagi mengobrol.


Dan masih di hari yang sama, kemarin juga keduanya akhirnya mengetahui kabar yang sangat, sangat mengejutkan mereka.


“Apa?! Sea kecelakaan?” pekik Phila saat kemarin bertemu dengan Alfio. Air mata sudah menggenangi pelupuk matanya dan siap untuk ditumpahkan.


“Kalian kecelakaan?!” Tessa pun ikut memekik sesaat. Lalu keningnya mengernyit, wanita cantik itu memindai tubuh Alfio dari ujung rambut hingga ujung kaki.


“Kau terlihat baik-baik saja. Bagaimana dengan Sea?” tanya Tessa menyelidik.


Wajah tampan Alfio menekuk. Melihat reaksi pria di hadapannya, Tessa yakin jika Seanna… sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.


“Kenapa diam saja? Kecelakaan itu tidak membuatmu amnesia kan, hingga melupakan apa yang terjadi pada Sea!” Sikap bar-bar Tessa tak dapat wanita itu kendalikan lagi.


Alfio menghela napas berat. “Sea masih dirawat di rumah sakit,” ucapnya.


Dari suara Alfio yang bergetar, Tessa bisa menyimpulkan jika pria tampan nan gagah di hadapannya saat itu sedang menahan tangis.


“Dan aku tak tahu bagaimana kondisinya saat ini,” imbuh Alfio lirih.


“Tolong katakan dengan jelas! Kau membuat kami berdua panik,” pinta Tessa sedikit memaksa.


Saat-saat seperti ini, rasanya sulit sekali Tessa mengontrol emosinya. Di hadapannya ia harus menghadapi Alfio yang sedari tadi bicara tak jelas. Di sisinya ada Phila yang sudah berurai air mata, bahkan sebelum mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


“Sekitar 5 hari yang lalu, Sea pingsan saat sedang bekerja,” ucap Alfio saat memulai ceritanya.


“Sea pingasan? Ck… sudah kukatakan untuk beristirahat, tapi anak itu memang keras kepala,” celetuk Tessa menyela ucapan Alfio.


Alfio mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabat dari wanita yang ia cintai. Pria itu membenarkan jika semua berawal dari pingsannya Sea dan juga membenarkan pendapat Tessa, jika Sea memang keras kepala.


“Aku membawanya ke rumah sakit dan rupanya kondisi kesehatan Sea yang menurun saat itu, karena Sea sedang mengandung,” ungkap Alfio.


“Apa? Sea mengandung?” Pekikan Tessa terdengar lebih nyaring kali ini jika dibandingkan dengan saat ia mengetahui jika Sea kecelakaan.


Berbeda dengan Tessa, Phila justru semakin menangis meraung-raung mendengar kabar kehamilan sahabatnya.


“Maksudmu, Sea hamil? Sea akan menjadi ibu? Memiliki anak? Begitu maksudmu?”

__ADS_1


Alfio meneguk secangkir kopi americano di hadapannya. Setelahnya ia mengangguk. “Kau tak sepenuhnya salah,” ungkapnya.


“Cih… kau semakin tak jelas!” Tessa mengungkapkan kekesalannya pada Alfio.


“Karena ada sesuatu yang kalian tak tahu,” akunya.


“Akan kuberi tahu, asal kalian janji akan membantuku,” tawar Alfio kemudian.


“Membantumu? Apa yang kau inginkan?” Tessa tak langsung menyetujui penawaran Alfio.


Pria- pria seperti Alfio sering ia temui di luar sana, memanfaatkan wanita yang butuh pertolongan untuk memenuhi keinginannya semata.


“Aku hanya ingin bertemu dengan Sea. Aku mencemaskannya… aku merindukannya,” aku Alfio.


Tessa bisa melihat keputusasaan dan rindu yang terpendam dari sorot mata pria di hadapannya. “Kau gila! Hati-hati dengan ucapanmu, Sea sudah menikah,” kata Tessa berharap Alfio menyadari hal itu.


“Cih….” Alfio berdecih, “Aku tahu Sea sudah menikah! Aku juga tahu kalau dia adalah istri dari seorang dokter bernama Noah Myles,” imbuhnya.


“Dan kuakui, aku memang gila! Tergila-gila pada sahabat kalian. Tidak salah bukan?”ungkap Alfio tanpa malu sedikitpun.


Tessa dan Phila sontak saling pandang dengan mulut yang sedikit terbuka. Gila! Benar-benar gila, pikir keduanya. Bagi Tessa dan Phila, pelakor sudah bertebaran di mana-mana. Tapi, untuk pebinor, baru kali ini mereka temui. Pebinor tampan, pujinya dalam hati.


“Jelas salah. Memangnya kau mau disebut sebagai pebinor?” Tessa mengungkap apa yang ada di benaknya tanpa filter.


“Bagaimana jika kuberitahu sebuah rahasia… sahabat kalian tidak bahagia dengan rumah tangganya saat ini,” ungkap Alfio.


“Ayo pergi, Phil! Dia sudah gila,” Tessa menarik salah satu tangan Phila untuk berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu.


Namun Alfio dengan segera memutar sebuah rekaman di ponselnya. Rekaman suara Sea saat wanita itu bercerita mengenai tekanan batinnya selama ini.


Tessa dan Phila berdiri mematung dan saat Alfio menghentikan rekaman suara tersebut, keduanya pun mau tak mau kembali duduk. “Katakan, kau ingin kami melakukan apa?”


“Cukup bantu aku bertemu Sea. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja,” pinta Alfio.


Tessa bungkam cukup lama. “Mengapa tak langsung kau temui saja?”


“Suaminya… dokter itu tak mengizinkan aku bertemu Sea!” ungkapnya. “Bahkan, dokter itu sudah mewanti-wanti para petugas keamanan rumah sakit agar mencegah aku mendekati ruang perwatan Sea,” ucap Alfio kesal.


“Hemm… aku paham.”


“Jika seperti itu, tentunya aku juga akan sulit untuk membantumu bertemu dengannya,” ujar Tessa. “Tapi, jika hanya ingin mengetahui keadaannya… aku punya cara lain.”


Senyuman di wajah cantik Tessa dibalas dengan tatapan penuh tanya dan kening yang mengernyit oleh Alfio. “Cara lain?” tanyanya.


...……………....

__ADS_1


Tak ingin membuang waktu, keesokan harinya berbekal informasi dari Alfio, Tessa dan Phila segera bertandang ke rumah sakit Pelita Harapan. Benar saja, sahabat yang mereka rindukan kini terbaring lemah tak berdaya.


Setelah membuat 4 orang di ruang perawatan Sea terkejut dengan pekikan mautnya, Tessa kini kembali membuat kehebohan dengan tak henti-hentinya mengambil foto dan rekaman untuk ia postingan di sosial medianya.


Dalam hati Noah ingin sekali menegur perbuatan Tessa, pria itu kurang nyaman dengan segala hal yang berhubungan dengan sosial media. Masih jelas di ingatannya bagaimana dirinya pernah tertimpa masalah karena unggahan Alesandra.


Namun niat untuk menegur salah satu sahabat istrinya itu ia urungkan manakala melihat senyum manis di wajah cantik istrinya. Bodohnya aku! Tanpa kuminta, dulu kamu selalu memberiku senyuman itu. Senyuman yang dengan bodohnya telah kusia-siakan. Batin Noah.


...……………...


“Boleh dong, abang follow akun sosial media eneng…” godaan itu datang dari salah satu sahabat Noah, Sandy.


Tessa yang tak merasa namanya disebut tetap saja tak peduli pada pria yang terus-menerus menggodanya sejak tadi.


“Yaelah, neng… abang ganteng kok dicuekin sih!” Sandy mencebik tepat di belakang Tessa, hingga wajahnya pun berhasil tersorot dan terkam kamera milik gadis itu.


Phila dan Sea tertawa terbahak-bahak saat melihat Tessa yang cemberut. Kulit wajahnya yang biasanya putih tanpa noda menjadi semerah tomat karena menahan kekesalannya pada Sandy.


Suasana hati Tessa menjadi buruk, ia akhirnya berhenti untuk mengabadikan momen-momen pertemuannya dengan sang sahabat. Hal ini tentu disyukuri oleh Noah.


Jika kini motto hidup Sandy telah berubah menjadi, pantang menyerah sebelum berhasil mendapatkan perhatian gadis cantik bernama Tessa. Berbeda dengan gadis itu. Rupanya sejak pertama kali melangkah masuk ke dalam ruang perawatan Sea, perhatiannya telah teralihkan oleh sosok pria yang jauh lebih pendiam dibandingkan dengan Noah, suami Sea.


Owen… pria dingin dengan sejuta pesona itu seakan memiliki dunianya sendiri dengan gawainya yang tak pernah lepas dari pandangannya. Karena sikap tak acuhnya inilah yang membuat Tessa, bahkan Phila tertarik pada pria itu.


...………….....


Malam pun tiba, ruangan VVIP tempat Sea dirawat akhirnya sepi dari pembesuk. Setelah Tessa dan Phila, Tuan dan Nyonya Noah Myles kedatangan rekan-rekan Noah dari rumah sakit Pelita Harapan dan beberapa petinggi dari perusahaan Seas Industries.


Melihat Sea yang tertidur pulas, Noah segera melakukan hal yang telah menjadi rutinitasnya saat istrinya tertidur. Yaitu mencuri kecupan di kening wanitanya, “Selamat tidur, Sea,” ucapnya seraya membenarkan posisi selimut Sea.


Noah merebahkan tubuhnya di sofa, kedua netranya masih enggan untuk terpejam. Pria itu akhirnya berselancar di dunia maya, ia ingin melihat unggahan Tessa.


“Cantik,” puji Noah saat menatap wajah sang istri di salah satu foto unggahan Tessa.


Pujian Noah juga tak jauh berbeda dengan beberapa pria yang ikut mengomentari foto tersebut. Rasa penasaran membuat Noah betah membaca satu persatu dari ribuan komentar yang ada. Hingga, satu komentar membuatnya geram.


Komentar dari seorang pria yang paling ingin ia jauhkan dari istrinya, Alfio.


Kekesalan Noah semakin bertambah saat Sea juga membalas komentar tersebut. Satu-satunya komentar dari sekian banyak komentar yang dibalas oleh Sea!


Aksi saling balas membalas komentar antara Sea dan Alfio mengundang kemarahan dalam hati Noah.


“Si*lan!” Gerutunya. “Harus dengan cara apa lagi aku menjauhkan pria ini!”


Alhasil malam itu Noah tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Sepanjang malam ia terus memikirkan bagaimana menghentikan Alfio, pria yang ia anggap licik untuk mendekati istrinya.

__ADS_1


...———————-...


__ADS_2