
“Menjauhlah, Noah!” ujar dokter Frisha dengan tegas dan sedikit membentak rekannya.
“Kau hanya akan mengacau! Percayakan aku, Owen, dan yang lainnya untuk menyelamatkan Sea,” lanjut Frisha masih dengan nada suara tegasnya.
“Ta-pi … ta-pi … a-aku … is-triku.” Sungguh Noah begitu lemah saat ini. Untuk berbicara saja ia tergagap, bibirnya begitu keluh untuk berucap.
Semua orang di ruangan itu tahu dan mengerti dengan kondisi Noah saat ini. Kepiawaian Noah sebagai seorang dokter juga tak perlu mereka ragukan. Namun, dokter itu juga manusia biasa. Dan semua rekannya memahami itu.
Noah kini sungguh terguncang atas kejadian yang menimpa istrinya. Belum cukup satu tahun ia dan istrinya harus merelakan calon buah hati mereka. Mengapa kini saat rumah tangga keduanya terasa nyaris sempurna, cobaan itu kembali menerpa.
Mengapa, Tuhan? Mengapa? Tanya Noah tak henti dalam hati.
Sekuat tenaga ia telah mencoba untuk tegar. Ia mencoba untuk kuat menghadapi apa yang terjadi saat ini. Namun bayangan akan kemungkinan, jika ia bisa saja kehilangan dua orang yang paling ia cintai, tetap saja melemahkannya.
Noah tahu, apa alasan Frisha dan teman lainnya tak mengizinkan dirinya ikut serta saat memberi pertolongan pada istrinya. Namun, ia sungguh ingin melakukan itu. Ia ingin segera tahu apa yang terjadi di dalam sana. Menunggu di luar ruangan seperti ini, tanpa tahu kondisi terkini Sea, sepertinya bisa membunuhnya perlahan-lahan.
...…………….....
Di depan ruangan, di sebuah kursi tunggu yang berada di pojok koridor area tunggu UGD, duduklah kedua sahabat Sea, Tessa dan Phila. Keduanya saling menggenggam tangan, saling menguatkan seraya terus memanjatkan doa pada Sang Khalik untuk keselamatan sahabat yang mereka sayangi.
Tessa telah berganti pakaian dengan yang baru. Tak ada yang tahu jika kaos yang dikenakannya saat ini adalah milik salah satu dokter di sana yang tak lain adalah calon suaminya.
Rasa bersalah memenuhi pikiran dan hati Tessa. Seandainya bukan karena Sea ingin menemuinya, seandainya bukan karena ia yang ingin mengabarkan soal rencana pernikahannya, tak akan mungkin Sea ke kafe itu dan mendapatkan serangan dari pria yang kini masih berstatus buronan.
Phila mengusap punggung Tessa lembut. Wanita itu terus menangis, air matanya terus membanjiri wajahnya. “Sudah … sudah … ayo kita berdoa untuk keselamatan Sea,” bujuk Phila.
__ADS_1
“Sea tak akan senang jika tahu lu terus menangis seperti ini,” lanjutnya. “Kita harus kuat untuk Sea, oke?” Meski tak menjawab namun Tessa tampak mengangguk.
Sandy menghampiri dua gadis cantik yang saling menguatkan tersebut. Ingin sekali Sandy memeluk Tessa, wanita yang ia puja-puja. Bukan karena ingin mengambil kesempatan. Ia hanya berpikir jika Tessa memerlukan bahu seorang pria untuk menenangkannya.
Sayangnya, kehadiran Phila yang terus berada di sisi Tessa, seakan tak mendukung niatnya. Seperti tak ada kesempatan untuknya mendekati Tessa. Akhirnya, pria itu putuskan untuk memberikan air mineral pada kedua wanita itu sebagai bentuk perhatiannya.
“Ini untuk kalian, minumlah!” ujar Sandy.
Tessa bergeming, ia masih saja terisak. Phila yang akhirnya menerima dua botol air mineral pemberian Sandy juga mengucapkan terima kasih kepada pria itu.
Hanya beberapa menit berselang, terdengar suara derap langkah kaki bersahut-sahutan. Noah mengalihkan pandangan ke arah sumber suara tersebut. Benar dugaannya, jika derap langkah itu milik kedua orang tuanya.
Ayah Peter memeluk putranya, menepuk lembut punggungnya dengan maksud meminta pria itu untuk kuat dan tegar menghadapi musibah kali ini. Setelah itu ia melerai pelukannya dan segera digantikan oleh sang istri.
“Kumohon doakan yang terbaik untuk istriku,” ucap Noah dengan suara bergetar.
“Doakan dia, juga calon buah hati kami agar baik-baik saja,” imbuhnya.
“Aku percaya akan kekuatan doa seorang ibu. Mami mau kan mendoakan mereka?”
“Ya … ya … tentu saja anakku. Doa mami tak akan putus untuk mereka. Kita serahkan semuanya pada Sang Maha Pencipta, yakinlah segala yang terjadi ada hikmah di baliknya. Tuhan selalu memiliki rencana yang lebih baik. Kamu harus percaya itu,” ucap Mami Joanna menasihati juga menguatkan putranya.
Noah mengangguk. “Mami benar, Tuhan memiliki rencana terbaik untuk kami. Aku percaya itu, aku percaya Owen, Frisha, dan yang lainnya akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan istri dan anakku,” ungkap Noah.
Sandy menepuk punggung sahabatnya. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan. Melihat kejadian seperti saat ini, sudah sangat sering ia alami sebagai dokter. Melihat keluarga pasien yang berharap keselamatan atas orang yang mereka cintai sudah sering ia jumpai. Melihat kesedihan mendalam keluarga pasien saat kehilangan orang terkasih juga sudah sering ia jumpai.
__ADS_1
Hanya saja ia belum pernah mengalaminya sendiri. Hingga tak ada kata yang mampu ia katakan. Hanya kehadirannya di sana yang ia harapkan bisa memberi dukungan kepada sahabatnya itu.
.....................
Pintu ruangan tempat Sea mendapatkan perawatan terbuka, disusul dokter Frisha muncul dari baliknya.
“Dokter Noah, aku tahu ini akan sangat berat untukmu. Istri Anda, Nyonya Seanna mengalami tusukan yang cukup dalam di bagian perutnya. Kondisinya semakin buruk sebab tusukan itu mengenai organ dalamnya. Pasien sudah tak sadarkan diri saat di tempat kejadian. Begitupun saat tiba di rumah sakit, pasien masih tak sadarkan diri.” Dokter Frisha menarik nafasnya panjang.
Noah merasa sulit untuk bernapas. Dadanya sesak saat mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Dokter Frisha. Semua yang diucapkan rekan sejawatnya itu terdengar tak asing. Bahkan dirinya sendiri pernah mengucapkannya. Noah sadar betul, ke mana arah pembicaraan Dokter Frisha. Dirinya akan berusaha sebaik mungkin untuk menerima apa pun yang ditakdirkan untuknya.
Setelah menjeda beberapa saat ucapannya dan melihat Noah jauh lebih tenang, Dokter Frisha melanjutkan lagi ucapannya. “Kami, telah melakukan usaha semaksimal mungkin. Tapi nyawa janin dalam kandungan Seanna, tak terselamatkan.”
Terdengar isak tangis dari Mami Joanna, Tessa, juga Phila secara bersamaan. Sekujur tubuh Mami Joanna sontak terasa lemas tak bertenaga. Ibu mertua Sea itu hanya bisa bersandar pada dada bidang suaminya, seraya menangisi malangnya nasib keluarga putranya.
Sementara Tessa dan Phila turut melakukan hal yang sama. Keduanya saling memeluk juga saling menguatkan. Semua orang yang menunggui Sea saat itu, merasa begitu terpukul dengan berita duka yang disampaikan Dokter Frisha.
Terutama Noah, pria itu bahkan sempat merasa dunianya berhenti berputar beberapa detik. Untuk kedua kalinya, ia harus kehilangan calon buah hatinya. Seandainya bisa ia memohon satu permintaan, maka Noah akan rela memohon untuk memberi nyawanya pada calon buah hatinya. Seandainya bisa, batinnya.
“Kami akan mengambil tindakan operasi segera untuk menghentikan pendarahan juga mengangkat janin dalam kandungan Sea. Sejauh ini baru itu saja yang bisa kusampaikan padamu. Kami butuh persetujuanmu untuk melakukan operasi sesegera mungkin,” sambung Dokter Frisha.
Noah mengangguk setuju. Sebagai dokter, ia paham jika tindakan operasi adalah pilihan yang paling tepat untuk menyelamatkan nyawa istrinya.
“Lakukan Fris! Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa istriku,” pinta Noah.
...——————————-...
__ADS_1