Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 85. Diam-diam


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Enam bulan telah berselang. Tanpa sepengetahuan Noah, hari ini Sea membuat janji temu dengan dokter Frisha.


“Ada apa sebenarnya?” tanya dokter Frisha saat melihat Sea yang datang menemuinya dengan memakai hoodie hitam lengkap dengan masker di wajahnya.


Sea mengatur napasnya lebih dulu. Mengendap-ngendap seperti saat ini cukup membuatnya merasa kelelahan. Akhirnya ia berhasil tiba di ruangan Dokter Frisha tanpa sepengetahuan Noah, suaminya.


“Mengenai yang pernah kutanyakan padamu, apakah bisa kulakukan sekarang?” tanya Sea.


Frisha menggeleng. Keraguan jelas sekali tampak di wajah wanita cantik yang tak lain adalah istri dari rekannya.


“Sea, tes kesuburan dilakukan untuk menambah keyakinan pada dirimu sendiri. Bukannya untuk semakin membuatmu ragu,” jelas dokter Frisha.


“Tentu saja. Justru karena aku ingin lebih percaya diri, Dokter.” Keluh Sea.


“Maka lakukanlah bersama suamimu,” balas Dokter Frisha.


“Pertama-tama bicarakan lebih dulu dengan Noah jika ingin menjalani tes kesuburan. Dan sebaiknya kalian lakukan hal ini berdua,” jelas Dokter Frisha.


Dokter Frisha bisa melihat Sea menghela napasnya. “Tak ada masalah dengan Noah,” ungkapnya.


“Aku pernah hamil anak Noah. Dua kali,” imbuhnya.


“Namun setelah keguguran itu, mengapa hingga sekarang aku belum hamil lagi?”


“Dokter, tolong aku. Aku berpikir kesuburanku tak seperti dulu lagi setelah keguguran. Aku tak ingin mengecewakan Mas Noah,” desak Sea.


“Sea, setelah wanita mengalami keguguran, kebanyakan dari mereka memang mengalami kesulitan untuk kembali mengandung. Banyak faktor, terutama kesiapan mental baik dari sisi wanita maupun pria-nya.”


Sea memalingkan wajahnya. Dirinya pun tak mengerti mengapa satu bulan terakhir ia menjadi lebih sensitif. Sejujurnya, ia sependapat dengan saran dari Dokter Frisha. Tapi setitik ego dalam hatinya menentang itu semua.


Aku hanya ingin memastikan aku pantas untuk pria sesempurna Mas Noah, gejolak dalam batin Sea.


Melihat kesedihan juga keputusasaan di raut wajah Sea, Dokter Frisha pun mencoba menenangkannya.


“Baiklah,” Dokter Frisha turut menghela napasnya. “Kita akan lakukan tes darah untukmu,” imbuhnya.


“Tes darah? Ta-tapi a-“ ucapan Sea belum selesai namun seger disela oleh Dokter Frisha.


“Kita lakukan tes darah untuk mengukur kadar hormon dan menentukan waktu ovulasi,” jelasnya.


“Sembari menunggu hasilnya, aku berharap kau bisa bicarakan dengan Noah mengenai hal ini.”


Sea bergeming, dari raut wajahnya jelas sekali jika wanita ini sedang memperhitungkan banyak hal. “Bagaimana? Setelah ada hasilnya, kita bertiga bisa berdiskusi mengenai tes kesuburan seperti apa yang kalian perlukan.”

__ADS_1


Cukup lama Sea bertahan dalam diamnya sebelum akhirnya mengangguk tanda ia setuju. Dokter Frisha lalu menuliskan catatan pada selembar kertas sebagai pengantar Sea ke bagian laboratorium rumah sakit.


“Suster … tolong bantu nyonya Sea ke bagian laboratorium, ya.” Pinta Dokter Frisha pada perawat yang bertugas mendampinginya pagi itu.


...…………………….....


Entah karena catatan yang dituliskan oleh Dokter Frisha atau memang karena tak ada pasien lain yang mengantri di bagian laboratorium, pemeriksaan darah yang dilakukan Sea berjalan lancar dan cepat.


“Anda bisa mendapatkan hasilnya setelah 3 hari dari hari ini.” Petugas laboratorium itu berucap sangat ramah pada Sea.


Sea mengangguk, ia mengamati gerakan sang perawat. Saat perawat wanita itu menuliskan namanya pada label tabung vacutainer, dalam hati Sea berdoa semoga hasilnya baik.


“Saat kembali ke mari, langsung saja temui Dokter Frisha. Kami akan mengirimkan hasilnya ke beliau.”


Sea mengangguk sekali lagi sebelum beranjak dari tempat itu. Saat meninggalkan rumah sakit, kembali Sea harus mengendap-ngendap agar tak bertemu Noah.


Meski sudah berusaha yang terbaik, Sea tak mengetahui jika suaminya mengamati gerakannya. Awalnya Noah tak tahu jika Sea datang menemui Dokter Frisha.


Namun sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk tak menjadi rahasia, maka akan mencari jalannya untuk terungkap. Tanpa sengaja Noah berpapasan dengan perawat yang ditugaskan oleh Dokter Frisha untuk mengatar Sea ke laboratorium.


Tepatnya lima menit lalu, sesaat setelah Noah baru saja kembali dari UGD.


“Dokter Noah,” sapa si perawat saat dokter tampan itu turut memasuki lift.


“Anda ingin ke ruangan Dokter Frisha, ya?” tanyanya.


“Tapi istri Anda sudah tak berada di sana. Beliau baru saja kuantarkan ke laboratorium untuk cek darah,” ungkap si perawat tanpa menunggu jawaban Noah.


“Istriku? Di ruangan Dokter Frisha?” Noah menanyakan ulang guna menepis keraguannya.


“Tadinya, Dok. Tapi saya baru saja mengantarkan Nyonya Sea ke ruang pemeriksaan laboratorium,” jelas Si Perawat.


Mendengar hal itu segera Noah menekan tombol-tombol di lift agar pintunya terbuka terbuka, pikirnya. Benar saja, lift akhirnya berhenti dan Noah bergegas keluar dari sana. Beruntung baginya, ia hanya perlu turun 1 lantai dengan menggunakan tangga untuk mencapai ruangan yang ia tuju.


Saat tiba di bagian laboratorium, Noah bisa melihat di sana istrinya sedang duduk dengan tenang untuk diambil sampel darahnya.


“Ada ada sebenarnya? Apa yang sedang ia periksa dan untuk apa hubungannya dengan Frisha?” gumam Noah.


Sebenarnya bisa saja Noah menghampiri Sea, menanyakan langsung padanya namun ia urungkan. “Sea pasti memiliki alasan mengapa merahasiakan hal ini dariku. Aku harus mencari tahu apa alasannya,” gumam Noah yang memilih bersembunyi di balik pintu ruangan lainnya.


Setelah memastikan Sea pergi, Noah segera menemui petugas laboratorium. Betapa terkejutnya Noah melihat catatan yang dituliskan oleh Dokter Frisha.


“Untuk tes kesuburan? Apa dia memutuskan hal sepenting ini seorang diri?” Lirih Noah.

__ADS_1


...……………....


Berbeda dari malam-malam sebelumnya, Noah tiba di rumah jauh setelah jam makan malam. Pria itu sempat mengirim pesan pada istrinya jika malam ini dia akan pulang lebih lama.


Sudah dua kali Sea menghubungi Noah, namun jawaban pria itu tetap sama. “Masih ada yang harus kukerjakan, aku akan pulang segera setelah pekerjaanku selesai.” Begitu katanya.


Sudah dua kali pula Sea menyiapkan bathtub yang berisi air hangat. Harapannya … saat Noah pulang, lsuaminya itu bisa langsung berendam air hangat untuk menyegarkan tubuhnya. Sayangnya hingga suhu air berubah menjadi dingin, Noah tak kunjung kembali.


Noah akhirnya tiba di rumah ketika Sea telah tertidur di sofa karena menanti kepulangannya. Dikecupnya kening istrinya, dan ia belai surai lembut milik Sea. Sama seperti yang selalu ia lakukan pada hari-hari sebelumnya.


Apa yang dilakukan Noah, rupanya mengusik tidur Sea. “Phiu, sayang … kamu baru pulang?” tanyanya.


“Hemm,” Noah berdeham. “Ayo, kubantu kamu ke tempat tidur.” Dirangkulnya pundak istrinya, Noah hendak menuntun Sea namun wanita itu menggeleng.


“Aku siapkan air hangat untukmu lagi,” ucap Sea.


Lagi? batin Noah kini diliputi banyak rasa bersalah.


“Tak perlu, Mhiu Sayang.” Tolak Noah dengan lembut.


“Aku sangat merindukanmu. Aku hanya akan membersihkan tubuhku sebentar,” ungkapnya.


Setelah membantu Sea berbaring di tempat tidur, Noah mengecup kening istrinya sekali lagi. “Tunggu sebentar. Secepatnya aku akan kembali untuk memelukmu,” ucap Noah yang direspon anggukan oleh Sea.


Dan benar saja, tak butuh waktu lama untuk Noah bergabung bersama istrinya di tempat tidur. Pria itu telah mengenakan piyama berwarna navy, sangat serasi dengan piyama yang dikenakan Sea.


Pasangan suami istri itu kini berbaring dalam posisi saling berpelukan. Kepala Sea telah bersandar pada tempat ternyamannya, yaitu dada bidang suaminya. Sementara Noah tak pernah bosan mengecup puncak kepala istrinya.


“Pekerjaanmu sangat banyak hari ini, apa kamu kelelahan?” tanya Sea.


“Ya, aku lelah. Tapi aku turut bahagia saat melihat pasienku kembali sehat,” jawab Noah.


“Apa hari ini ada pasien yang berusaha menggodamu lagi?”


Noah menggeleng. “Kalaupun ada, aku tak akan tergoda,” jawabnya yakin.


Sea tergelak dengan jawaban percaya diri dari suaminya. “Benarkah?”


“Ya. Percaya padaku,” lanjutnya.


Sea mengangguk. “Tentu aku percaya.”


“Jika percaya, apa ada yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya Noah tiba-tiba membuat Sea seketika menegang.

__ADS_1


“Ada?” desak Noah sekali lagi.


...————————————...


__ADS_2