Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 31. Gantung


__ADS_3

“Mas, sampai kapan aku harus dirawat di sini?” tanya Sea ketika baru saja ia terjaga pagi ini.


“Sampai kesehatanmu benar-benar pulih,” jawab Noah.


Pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama dari Sea dan Noah kembali menjadi pembuka hari ini. Sea yang sudah menjalani perawatan selama 5 hari di rumah sakit, mulai dilanda rasa bosan. Berbeda dengan Noah yang mulai menikmati kebersamaan mereka.


Meski Sea lebih sering mengacuhkannya, Noah tak peduli. Dokter tampan itu bahkan rela izin berhari-hari untuk tidak bekerja selama istrinya masih harus dirawat di rumah sakit.


Sementara Sea merasa berdiam diri seperti sekarang hanya membuatnya semakin sesak. Sea berpikir untuk melakukan sesuatu agar bisa melupakan sejenak kesedihannya karena kehilangan calon buah hatinya.


“Berbaring seperti ini tak akan membuatku lebih baik,” ujar Sea.


“Tapi berbaring seperti ini adalah pilihan yang terbaik untukmu saat ini, Sea.” Dengan sabar Noah terus memberikan pengertian pada istrinya.


Sama seperti pagi di hari sebelumnya, pria itu sudah siap dengan semangkuk bubur ayam yang dipesan khusus oleh istrinya. Hanya bubur, suwiran ayam, tanpa bawang goreng, dan jangan lupakan kerupuk yang banyak, menjadi pilihan menu sarapan Sea selama beberapa hari terakhir. Noah sampai menghafal menu sarapan kesukaan istrinya itu.


Noah membantu Sea untuk duduk dan bersandar di hospital bed yang telah ia tegakkan, “Sebenarnya kita bisa melakukan banyak hal,” kata Noah.


“Kamu tak harus terus-terusan tidur sepanjang hari. Kita bisa mengobrol atau jika kamu mau, kita bisa bermain permainan papan? Aku bisa membawanya untukmu,” tawar Noah dengan bersemangat.


Suapan pertamanya untuk Sea hari ini, diterima wanita itu dengan senyuman. Kegiatannya rutinnya setiap pagi seperti ini menjadi penyemangat Noah.


Sea menggeleng. “Aku ingin ke pantai,” gumam Sea lirih seraya memalingkan wajahnya menatap ke jendela. Dari jendela kamarnya Sea menatap ke arah langit yang sedang meneteskan air hujan.


“Ke pantai?” Noah mengernyitkan keningnya.


Noah yang awalnya duduk di kursi yang telah menjadi singgasananya selama 5 hari terakhir, kini mulai berani untuk mengikis jarak di antara keduanya dengan ikut duduk di hospital bed. Dari jarak yang dekat seperti ini, Noah lebih leluasa untuk mengagumi kecantikan istrinya. Wajah yang tetap tampak cantik meski tanpa polesan dan dengan bibir yang masih pucat.


“Tentu, kita akan ke pantai.” Noah berjanji.


“Tapi tidak sekarang. Nanti setelah dokter mengizinkan kamu pulang,” ucap Noah. Tangannya tak berhenti untuk menyuapi sang istri sesendok demi sesendok bubur ayam.


Meski jarak keduanya cukup dekat, Sea tetap saja memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela. Sea tampak sangat fokus memerhatikan buliran air hujan yang jatuh membasahi bumi.


“Aku… aku akan ke pantai. Pantai yang sangat kurindukan,” gumamnya.

__ADS_1


Hati Noah mencelos saat mendengar Sea Mengganti kata kita menjadi aku. Otaknya bekerja keras mengartikan ucapan Sea, pantai yang sangat ia rindukan? Apa dia masih berniat untuk pulang ke rumahnya? batin Noah.


“Aku akan menemanimu. Ke mana pun inginmu, kita akan pergi bersama ke sana,” ucap Noah menegaskan jika dirinya tak akan meninggalkan Sea seorang diri.


“Jangan terlalu berusaha, Mas. Kamu tahu, ada titik di mana kita lebih baik merelakan dan berhenti memaksakan.” Sea berujar tanpa memandang ke arah suaminya. Akan sulit untuk menahan air mata yang hendak tumpah jika ia terus memandang wajah tampan Noah.


Sea menyadari jika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Sea sudah berusaha untuk memaafkan Noah. Jika dulu kehadiran Noah di sisinya menjadi hal yang paling ia nanti, entah mengapa saat ini hal itu begitu sulit ia terima.


Andai saja Noah tak pernah mengatakan jika yang terjadi di antara mereka dulu adalah sebuah kesalahan… mungkin saja semua hal ini tak kan terjadi, pikirnya.


Tidak… tidak! Andai saja Noah bisa mengendalikan emosinya malam itu, maka hal seperti ini mungkin tak akan pernah terjadi. Begitulah akhirnya pikiran Sea yang membuatnya bersikap dingin pada Noah.


Namun, apa gunanya Sea berandai-andai sebab semua tak akan bisa terulang kembali. Berapa kali pun Sea berandai, tak akan bisa menghapus fakta jika dirinya telah lalai menjaga titipan yang telah diberikan Tuhan padanya.


Sea masih enggan menatap Noah, meski kini kedua tangannya telah digenggam erat oleh Noah. “Stop, Sea. Kumohon beri aku satu kesempatan lagi.”


“Kesempatan untuk apa, Mas?” Balas Sea. Kedua netranya sudah tampak berkaca-kaca.


“Kesempatan untuk membangun rumah tangga yang lebih baik,” jawab Noah.


Dan … Noah akan kembali membisu.


Seperti telah mengetahui apa yang akan terjadi sesaat setelahnya, Sea sontak menggeser tubuhnya. Memberi jarak antara dirinya dan Noah. Gerakan spontan tubuh Sea menyiratkan jika ia menolak apa yang akan dilakukan oleh Noah sesaat kemudian.


Namun Noah seakan tak peduli. Semakin Sea membuat jarak, semakin Noah mengikisnya. Dibawanya Sea ke dalam peluknya.


“Berikan aku satu kesempatan itu, Sea….” Pinta Noah dengan memelas.


Sayangnya, Sea lelah!


Obrolan keduanya selalu saja berakhir seperti ini, gantung. Wanita itu biarkan saja tubuhnya dalam dekapan Noah. Diam, tak memberikan jawaban atas permintaan suaminya.


Hingga pintu ruang perawatan Sea terbuka dan masuklah dua orang pengunjung yang tak diharapkan kehadirannya. “Wow, maaf mengganggu…” ucap Sandy tanpa beban.


Walaupun enggan, Noah terpaksa melepas pelukannya seraya berdecak dan menatap sinis pada kedua sahabatnya. “Apa kalian berdua lupa cara mengetuk pintu, hem?” tanya Noah sarkas.

__ADS_1


Sandy menyengir, “Lagian di depan pintu tak ada peringatan jangan mengganggu.” Balas Sandy tak ingin kalah dari Noah.


Noah hanya menggeleng dan membiarkan dirinya kalah dalam perdebatan dengan sahabatnya. Lebih baik mengalah daripada ia harus membuang tenaganya berdebat dengan Sandy, pikir Noah.


“Sea, syukurlah… kamu kini terlihat jauh lebih baik,” ucap Owen yang mengambil alih posisi duduk di singgasana milik Noah.


“Ya, begitulah… dan terima kasih, Kak. Aku sudah mendengar cerita dari Mas Noah. Sekali lagi terima kasih karena sudah membantuku saat itu,” ucap Sea tulus yang dijawab anggukan oleh Owen.


Melihat Owen yang duduk begitu dekat dengan istrinya, perasaan tak rela itu pun lagi-lagi dirasakan Noah. Tak ingin membuang waktu, Noah biarkan saja mangkuk bekas bubur ayam Sea tergeletak di atas meja. Pria itu kembali duduk di sisi Sea dan merangkul pundak istrinya.


“Apa kalian tak ada pekerjaan sampai kemari sangat pagi?” tanya Noah.


“Kami berdua baru saja lepas jaga di IGD,” jawab Sandy dengan mulut yang dipenuhi dengan buah apel.


“Bagaimana denganmu? Kapan lu kembali bekerja?” sahut Owen bertanya pada Noah.


“Segera setelah Sea pulih,” jawab Noah singkat. Ia masih kesal dengan sahabatnya yang satu ini.


Sebenarnya Noah sudah teramat rindu dengan stetoskop dan alat kedokteran lain miliknya. Rindu mendengarkan keluhan dan cerita dari para pasiennya. Dokter muda itu juga rindu dengan hiruk pikuk ruang IGD saat ia harus bertugas di sana. Tapi, untuk saat ini tak ada yang lebih penting dari Sea.


“Pasienmu sudah banyak yang mencarimu,” celetuk Sandy.


“Kesehatan istriku yang terpenting saat ini,” kata Noah seraya semakin mengeratkan rangkulannya pada Sea.


Sea memaksakan senyumnya. Meski hatinya tersentuh dengan perkataan suaminya barusan, namun Sea tak ingin berharap banyak. Bukan sekali, dua kali mereka bersandiwara sebagai pasangan suami istri yang harmonis. Sea tak ingin salah mengartikan sikap Noah.


Bukankah sandiwara seperti ini sudah sering mereka lakon kan? Hal itu yang Sea katakan pada hatinya.


Semua perubahan sikap Noah, hanya karena rasa bersalahnya. Tak lebih dari itu! Begitu yang Sea tanamkan dalam benaknya.


Di tengah-tengah perbincangan tiga orang dokter muda tersebut, pintu ruang perawatan Sea kembali terbuka. Melihat siapa yang datang, senyum mengembang di wajah cantik Sea.


“Kalian akhirnya datang juga! Aku merindukan kalian,” seru Sea.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2