
“Auuucchh…” Tessa meringis, rasanya sungguh menyakitkan saat kepalanya mulai berdenyut-denyut.
Entah sudah berapa lama ia tertidur, yang pasti kini punggungnya terasa remuk. Si*lan! Badanku sakit semua! Tessa menggerutu dalam hati.
Kedua netra Tessa akhirnya membuka. Dari jendela kamar di lantai 15 sebuah hotel mewah, Tessa mengagumi gemerlap kota yang seakan tak ada waktu untuk tidur.
Tessa menahan tawanya, “Tessa… Tessa… kau melakukan kebodohan lagi!” gumamnya merutuki dirinya sendiri.
Tak ada wajah ceria milik Tessa yang seperti biasanya. Netra berwarna coklat miliknya kini tampak telah tergenangi air mata saat ia melihat kondisi tubuhnya yang polos. Tak ada sehelai benang pun yang melekat di sana.
Samar-samar terdengar suara dengkuran halus dari pria yang terlelap di sisinya. Kondisi pria itu tak jauh beda dengannya.
Meski tersembunyi di balik selimut tebal dan lembut, Tessa tahu jika pria itu juga dalam keadaan polos. Bahkan Tessa masih ingat bagaimana bentukan dada bidang juga pahatan kotak-kotak di perut pria itu. Semua karena saat kesalahan itu terjadi, hanya dirinya yang dalam kondisi sadar.
Hal itu pula yang membuatnya semakin membenci dirinya, ia merasa telah melakukan suatu perbuatan hina. “Seharusnya tak kubiarkan hal itu terjadi,” sesalnya.
“Fakta jika aku menikmati pergumulan itu, sama seperti aku yang menunjukkan betapa rendahnya harga diriku!” Imbuhnya lirih.
Perlahan Tessa beranjak dari posisi berbaringnya. Wanita itu bangun dengan sangat perlahan. Tak ingin ada pergerakan atau suara sekecil apa pun yang akhirnya akan mengusik tidur lelap si pria.
Meski sulit, namun akhirnya Tessa berhasil lolos dari dekapan posesif pria yang telah menggagahinya beberapa jam yang lalu. Tanpa berpikir untuk lebih dulu membersihkan tubuhnya ke kamar mandi, wanita itu terlihat sibuk mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
Tessa bergidik ngeri saat melihat pakaian dalamnya yang telah habis terkoyak. “Seganas apa permainan kami semalam?” Gumamnya lirih seraya kepalanya menggeleng.
Tessa segera mengenakan gaun mini berwarna merah miliknya. “Si*l, sungguh tak nyaman memakai gaun ini tanpa dalaman sama sekali,” gerutunya tanpa henti.
Air matanya terus membanjiri wajah cantik Tessa. Sengaja ia terus menggerutu, menyalahkan hal lain agar pikirannya tak terus mengingat bagaimana ia menyambut saat pria itu dalam keadaan mabuk mulai mencumbunya.
“Arrgghh!” Ingin rasanya Tessa berteriak memaki saat dirinya melihat begitu banyak jejak percintaan memenuhi leher jenjangnya. Lehernya terasa sedikit perih, sebab dengan kasar Tessa mengusapnya dengan jarinya. Berharap jejak merah itu bisa hilang, sayangnya yang terjadi malah sebaliknya.
Bagaimana bisa aku menikmati saat ia mencumbuku? Lihat hasilnya sekarang, kau tak ayal seorang wanita murahan! Tessa memaki dirinya dalam hati seraya melihat penampilannya di cermin.
Pukul 4 subuh, di saat semua orang masih terlelap dalam tidurnya. Bahkan saat pria yang telah menjamah setiap inci tubuhnya, masih terlena dengan mimpi indahnya. Tessa memilih pergi diam-diam meninggalkan hotel.
Setelah pertimbangan cukup banyak, Tessa memilih pergi. Cukup dia saja yang malu di hadapan cermin saat menatap wajahnya. Tessa tak ingin malu di hadapan pria itu.
Terbersit di benak Tessa untuk berpura-pura menjadi korban dan menyalahkan pria itu atas semua yang terjadi. Lantas bagaimana jika pria itu mengingat saat Tessa menjadi pemimpin permainan? Bagaimana jika pria itu mengingat saat Tessa bergerak naik turun di atas tubuhnya dengan begitu semangat demi sebuah pelepasan yang luar biasa nikmat.
__ADS_1
Tessa tak ingin bertindak konyol. Kabur dan berpura-pura tak terjadi apa-apa, menjadi pilihan yang terbaik. Otak Tessa seakan buntu, tertutupi oleh rasa malu dan kecewa pada dirinya sendiri.
Wanita itu bahkan tak memikirkan akibat dari perbuatannya. Wanita itu lupa jika pria yang ia tinggalkan dalam keadaan tidur nyenyak di dalam kamar hotel, telah meninggalkan berjuta-juta benih yang sedang berjuang untuk membuahi sel telurnya.
Tanpa peduli berbagai macam tatapan dari orang- orang yang berpapasan dengannya, Tessa berjalan menuju mobilnya. Di dalam mobil tangisnya kembali pecah, wanita itu meraung-raung memaki dirinya. Tessa yakin kebanyakan dari orang yang memandangnya tadi, telah meremehkan atau bahkan jijik padanya.
Mobil SUV miliknya kini kembali membelah jalanan yang cukup lengang. Sebelum mobilnya melewati gerbang tinggi rumahnya, dalam hati Tessa sudah berniat untuk melupakan kejadian malam ini. Lebih tepatnya berpura-pura lupa.
...……………...
Ribuan detik telah berlalu, mentari kini mulai memancarkan sinar hangatnya. Dari jendela yang tirainya terbuka lebar, pancaran sinar mentari menerobos masuk dengan leluasa.
Seorang pria terlihat menggeliat dengan tubuh polosnya. Meski suhu ruangan tak sedingin saat malam hari, namun tonjolan besar dari bawah selimut menandakan jika pria ini kembali siap bertempur.
“Bertempur?” Gumamnya lirih dengan suara seraknya.
Sontak pria itu bangun terduduk. Mengusap wajahnya kasar setelah menunduk dan mendapati tubuhnya benar-benar dalam keadaan polos tanpa busana. Senjata miliknya yang mengacung dengan gagah, seperti mengingatkan dirinya mengenai yang terjadi semalam.
“Ayo… otak cerdasku! Kumohon bekerjasamalah denganku!”
Pria yang sedang melakukan itu semua adalah Alfio. Pria patah hati yang telah melewati malamnya dengan mendaki puncak nirwana. Alfio terlonjak saat menyadari hal itu.
Sontak ia menoleh pada sisi lain ranjang yang berukuran king size, “Ke mana dia?” gumam Alfio saat melihat tak ada siapa-siapa di sana.
Alfio beranjak dari ranjang, ia tak peduli dan tak terlihat risih dengan tubuh polos dan senjatanya yang mengacung dengan kokoh. Menghabiskan malam dengan seorang wanita, dalam keadaan sadar atau mabuk seperti semalam, bukanlah hal yang baru baginya. Yang membuat berbeda adalah pagi ini ia terbangun dan wanita itu tak ada di sisinya.
Pria itu tak yakin jika ia baru saja ditinggalkan oleh seorang wanita yang telah mengerang bersamanya melewati malam. Dengan tubuh polosnya, Alfio memeriksa setiap ruangan di dalam kamar yang ia duga sebagai kamar tipe president suite sebuah hotel mewah.
“Tak ada siapa-siapa,” gumamnya.
Alfio merogoh dompet miliknya yang berada dalam saku celananya yang teronggok di lantai. Keningnya mengernyit, saat tak ada selembar pun uang yang berkurang. Semua kartu, mulai dari identitas, kartu kredit dan atm miliknya tetap berada di tempat yang sama.
“Apa yang kurasakan semalam hanya mimpi?” monolognya.
Alfio menuju kamar mandi hotel, lalu mulai berendam di sana. Bayangan percintaan semalam dengan wanita yang tak dapat ia ingat wajahnya kembali terbersit membuat senjatanya kembali bangun.
Alfio berhenti berendam saat itu juga. Pria itu mulai tersiksa dengan rasa penasarannya. Alfio berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa jejak merah kebiruan di leher dan dada bidangnya, semakin meyakinkan Alfio jika semalam ada seorang wanita yang telah memberikan kenikmatan dan kepuasan padanya. “Tapi siapa?!” Alfio menggeram, tangannya memukul dinding tak bersalah.
“Sial*n… Siapa wanita itu!” Yang Alfio ingat hanyalah jeritan wanita itu saat Alfio menghentak senjata miliknya dengan keras ke dalam inti wanita yang ia tak ingat siapa.
Bayangan akan gerakan lincah wanita itu saat berada di atas tubuhnya, kembali berhasil memancing hasrat Alfio yang telah mereda. “Kenapa aku tak bisa mengingat wajahnya,” sesal Alfio untuk kesekian kalinya.
Saat memunguti kembali pakaiannya yang berserakan di lantai, Alfio juga menemukan kain berbentuk segitiga yang telah koyak. Entah mengapa ia tersenyum saat mengingat bagaimana semalam ia sungguh tak sabar hingga kain tipis berenda itu menjadi korbannya.
Alfio memasukkan kain berenda itu ke dalam saku celananya setelah mengeluarkan ponselnya lebih dulu. Pria itu menghubungi seseorang yang ia tahu mampu membantunya.
Setelah tiga kali mengulang, barulah panggilannya dijawab oleh seorang pria. “Eh-ha-loh…” jawab pria di seberang telepon dengan terengah.
“Roy!” Seru Alfio.
“Yah… bo-bos, adah apah?” Jawab Roy. Dari suaranya, Alfio bisa menebak apa yang sedang dilakukan Roy.
“B*ngs*t! Ini sudah pagi dan kau masih bercinta?” tanya Alfio pada Roy.
Tawa Roy terdengar. “Saya sedang bekerja bos. Bukankah perintahmu untuk mengawasi wanita ini,” balas Roy.
Alfio menyeringai, kini ia sudah tahu dengan siapa orang kepercayaannya itu bergumul. “Hemm, saya menghubungimu di saat yang salah,” kata Alfio.
Tak ada jawaban dari Roy, hanya suara napas yang memburu yang bisa Alfio dengar. Bahkan samar-samar Alfio mendengar jeritan seorang wanita yang meminta Roy untuk menghentaknya lebih keras dan cepat.
Alfio sampai menggelengkan kepalanya sebelum ia memutuskan sambungan telepon. Tawanya memecah keheningan di dalam kamar hotel yang sunyi.
“Semalam aku juga sama seperti Roy. Menghentak keras dan cepat sesuai dengan permintaan si wanita,” gumamnya.
Alfio kembali berdecak saat senjata miliknya kembali terbangun. Kali ini ia menyalahkan dirinya yang dengan mudah terpancing hasratnya hanya karena mengingat pergulatannya semalam.
Alfio memilih untuk mengirimkan pesan singkat pada Roy.
‘Jika telah selesai dengan permainanmu, segera temui saya. Saya ingin kau menemukan seorang wanita.’
Setelah menekan tombol kirim, Alfio segera beranjak pergi meninggalkan kamar mewah hotel itu. Pergi dengan membawa sejuta tanda tanya dan ingatan mengenai malam panas yang telah ia lewati dengan seorang wanita misterius.
...————————...
__ADS_1