Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 50. Menjadi tawanan


__ADS_3

“Ke mana dokter centil itu?” Meski terdengar berbeda, namun pertanyaan Sea sebenarnya sama.


Yang berbeda hanya cara Sea menyebutkan subjeknya. Sebelumnya, Sea masih menyebut dengan nama dan lengkap dengan gelar wanita itu sebagai dokter. Karena tak mendapat jawaban yang ia cari, Sea mencebik lalu mengulang lagi pertanyaannya.


“Phiu! Kamu tak mendengarku?” Kedua tangannya berkacak di pinggang, bibirnya mengerucut, tatapannya penuh curiga.


“Jangan membahas hal-hal yang bisa menimbulkan perdebatan,” jawab Noah.


“Aku ingin tahu saja, hanya itu.” Sea kembali duduk di sofa. Menanti Noah yang sedang sibuk memeriksa sesuatu di laptopnya.


“Tak ada kabar. Hanya itu yang aku tahu dari perawat,” celetuk Noah.


“Maksudnya si centil itu menghilang tanpa ada kabar?” Tanya Sea memastikan dan dijawab Noah dengan anggukan.


“Mungkin saja dia sedang berlibur,” komentar Sea asal.


Noah mengedikkan bahunya. “Bisa jadi, tapi aku tak tahu pastinya. Dia tak pernah meminta izin padaku atau mengajakku berlibur bersamanya.” Noah lantas tertawa, bagi pria itu ucapannya tak lebih hanya sebuah lelucon.


Berbeda dengan wanita yang kini menatapnya dengan tatapan setajam mata elang. “Apa kamu berharap diajak liburan oleh si centil itu? Apa si centil itu selalu meminta izinmu saat hendak bepergian?”


“Hah?” Noah tercengang. “Mhiu sayang, aku hanya bergurau,” jawabnya jujur.


“Tapi wajahmu tak tampak seperti sedang bergurau. Apa kamu memang menginginkan pergi berlibur bersamanya?” Netra Sea sudah mulai berkaca-kaca.


“Kubilang juga apa, Mhiu sayang. Tak perlu membahas orang lain. Apalagi yang tak penting seperti wanita itu,” ucap Noah.


“Maafkan jawabanku tadi. Sungguh aku bersumpah, ucapanku tadi hanya gurauan saja.”


Sea mengangguk namun kembali menunduk. “Tetap saja, faktanya kamu bertanya mengenai keberadaannya pada perawat, itu berarti kamu peduli padanya.”


Hilang sudah semangat Sea, “Apa kamu merindukannya? Ingin bertemu dengannya?”


“Huuuhhh, Seanna Filia!” Noah menghela napasnya.


“Aku tak pernah bertanya tentangnya dan aku tak peduli di mana pun dia berada,” jelas Noah.


Suami Sea itu terlihat melepaskan snelli dan menggantinya dengan jas. “Sebaiknya kita pulang saja, Mhiu sayang!”


“Daripada harus berdebat hal yang tidak penting, lebih baik kita pulang dan kembali bekerja keras untuk menghasilkan penerus bangsa,” ajak Noah.


Kini gantian Sea yang menatap tak percaya pada Noah. “Phiu, tapi ini masih siang.”


“Tak ada aturan waktu untuk yang satu itu,” jawab Noah.

__ADS_1


“Tapi a-“ ucapan Sea segera disela oleh Noah.


“Besok kamu ingin kembali kuliah,kan?” Tanya Noah. “Maka lakukan siang ini lalu malamnya kita bisa beristirahat. Besok kamu tak akan kelelahan saat di kampus,” usulnya.


Sea mengangguk. “Benarkah? Aku pegang janjimu, Phiu. Malam ini kamu harus biarkan aku tidur dengan nyenyak? Deal?”


Setelah sepakat, pasangan suami istri itu segera meninggalkan rumah sakit dengan tujuan yang sangat mulia, yaitu bekerja keras untuk menghasilkan penerus bangsa.


...……………....


Sementara di tempat lain, berlokasi di salah satu perumahan elite. Di dalam kamar sebuah rumah mewah, tampak seorang wanita cantik sedang bersandar dengan di kepala ranjang.


“Hhhmmmmppp… hhmmmppphh….”


Sepertinya wanita itu ingin mengatakan sesuatu, namun ucapannya tak jelas sebab mulutnya dibekap dengan kain. Kedua tangan dan kakinya juga turut diikat, hingga pergerakan wanita itu menjadi terbatas. Ia hanya bisa menggeliat seadanya tanpa ada hasil apa pun.


Klik…


Bunyi dari kunci pintu yang dibuka dari luar menghentikan usaha wanita itu untuk membuka ikatan tali di tangannya.


Sosok seorang pria tampan dengan badan kekar, muncul dari balik pintu. “Selamat pagi, cantikku…” sapanya.


Pria itu langsung saja melepaskan ikatan tali yang membekap mulut wanita yang sudah 5 hari ini bersamanya.


Pria berbadan kekar itu tak tampak terpengaruh atau terusik. Tanpa aba-aba pria itu menyatukan bibir keduanya. Menggigit bibir bawah wanita itu, memaksa agar dia membuka sedikit mulutnya. Pria itu tak akan pu*s jika hanya mengecupnya saja.


Cukup lama dia bermain dengan bibir wanitanya. Jika saja wanita itu tak tampak kekurangan oksigen, mungkin ia tak akan menghentikan cumbuannya secepat itu.


“Si*lan! Aku akan membalasmu setelah bebas dari sini!” Maki wanita itu.


“Ya, aku menantikannya. Itupun jika kau akan bebas, cantikku.” Balas pria itu dengan tenang.


“Aku pasti akan bebas! Kau dan bosmu akan menerima ganjaran atas apa yang sudah kalian lakukan padaku!” Wanita itu tak tampak gentar. Dia terus memaki pria di hadapannya dengan penuh amarah.


Pria itu sebenarnya cukup menarik dan menggoda iman. Wanita itu menduga jika pria yang sudah menculiknya, baru saja selesai berolahraga. Sebab ada peluh di sekitar dahinya. Lengan kekarnya yang berhias otot-otot bisep bisa dilihat jelas olehnya, sebab kini pria tampan itu mengenakan kaos tanpa lengan.


“Dari pada memakiku, lebih baik kau gunakan bibir menggodamu ini untuk berdoa. Mintalah pada Tuhan agar bosku mau mengampunimu. Kau telah mengusik orang yang salah, cantik!” Pria itu kembali mencium bibir tawanannya dengan kasar.


Tak peduli jika bibir wanita itu berdarah karena gigitannya. Siapa suruh menolak ciumanku, pikirnya.


Tangannya juga tak tinggal diam, dengan kasar pria itu terus bermain dengan bongkahan kembar yang selalu menggodanya.


Setelah puas bermain dengan tubuh wanita yang menjadi tawanannya, pria tadi kembali membekap mulut wanita itu dengan kain seperti semula. Wanita itu kembali memberontak, bahkan hampir saja berhasil menggigit tangan si pria.

__ADS_1


“Kau begitu agresif, cantikku… tapi aku suka,” ucapnya.


“Sabarlah… jika bos sudah memberiku kewenangan atas dirimu, aku pastikan kamu mendapatkan pelayanan yang jauh lebih nikmat dari sebelumnya,” imbuhnya dengan seringai licik di wajahnya.


“Hhmmmmpphh... Hhhmmmmppphh….”


Kau benar-benar gigih, cantik. Batin si pria kekar.


Bahkan setelah mulutnya kembali di bekap, tetap saja dia terus bergumam. Si pria tahu jika kini wanita itu sedang memakinya habis-habisan.


Drrttt…. Drrrttt….


Getaran ponselnya di atas nakas mengalihkan perhatiannya dari wajah cantik tawanannya.


“Halo, Bos…” ucapnya.


“…………………”


“Baiklah Bos, aku akan menyiapkan semua bukti-bukti yang sudah kutemukan. Anda bisa langsung melihatnya,” ucap pria itu.


“………………..”


“Tenang saja, Bos. Wanita itu masih aman. Aku hanya mencicipi beberapa bagian saja. Aku akan menunggu kebaikan hati Anda.” Pria itu terkekeh karena apa yang ia katakan.


Panggilan telepon terputus, pria itu kembali duduk di tepi ranjang. Dibelainya wajah wanita yang telah ia tawan berhari-hari.


“Wajah cantikmu sangat tidak cocok untuk seseorang yang telah berbuat jahat. Mengapa kamu melakukannya?” Tanyanya.


“Hhhmmmmpphh… hmmpppphh,” wanita itu kembali bergumam tak jelas.


“Ya… ya… apa saja alasanmu, terserah. Anggap saja ini takdir untuk kita berdua. Kita dipertemukan di situasi seperti ini,” ungkapnya.


Pria itu tak bisa berbohong jika wanita yang telah ia culik, juga sedikit demi sedikit mulai mencuri hatinya.


“Semoga saja bosku masih memiliki kemurahan hati untuk membiarkan kau tetap hidup,” ucapnya tak bersemangat.


“Jika tidak, maafkan aku cantik… sebab aku selalu profesional dalam bekerja.” Pria itu lantas berdiri, mengecup kening wanita itu sekali dan berlalu meninggalkan wanita itu sendirian di sana.


Tak ia pedulian wanita itu yang terus meronta di atas ranjang. Aku tak akan tinggal diam, aku harus bebas dan pergi dari tempat ini. Batinnya.


Siapa bos yang dibicarakan pria itu? Apa yang dia inginkan dariku? Kesalahan apa yang sudah kubuat? Apakah hidupku akan berakhir di sini? Batinnya.


...———————...

__ADS_1


__ADS_2