
Malam sebelumnya....
Memikirkan bahwa dirinya dan Sea baru saja melakukan pillow talk seperti yang biasanya pasangan suami istri lakukan, senyum di wajah Noah seperti tak pernah surut. Walau hanya lampu tidur dari atas nakas yang menjadi penerang, namun pancaran kebahagiaan di wajah tanpan Noah tak bisa disembunyikan.
“Huff....” Noah menarik napas panjang berkali-kali.
Sesekali Noah menurunkan pandangannya dan mengamati wajah damai istrinya yang sedang tidur dengan lelap dalam dekapnya. Ya, Sea tertidur dengan kepala beralaskan salah satu lengannya dan bersandar tepat di dadanya.
“Semoga saja tidurnya tak terusik karena suara detak jantungku.” Noah bermonolog.
Noah benar-benar tak mengira jika Sea akan tertidur di saat keduanya tengah mengobrol. Semua berawal ketika Noah dengan berani membawa Sea ke dalam dekapnya.
Dirinya pikir malam ini hanya akan mengecup kening istrinya lalu Noah akan rela melepaskan Sea. Noah pikir dia akan membiarkan Sea tidur memunggunginya seperti malam-malam yang telah mereka lewati bersama selama ini. Rupanya yang ia pikirkan tak sejalan dengan apa yang dikatakan hatiya.
Kedua tangannya malah semakin erat memeluk Sea. Mendekap tubuh mungil istrinya agar tak ada lagi jarak di antara keduanya. Agar malam ini tak berakhir zonk Noah membahas banyak topik mengenai akan seperti apa mereka membangun rumah tangga bersama nanti, seandainya Sea telah setuju.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Sea menyambut semua ocehannya. Wanita itu tak secara gamblang mengatakan “Ya, aku setuju”, namun sesekali Sea turut mengutarakan bagaimana sebuah keluarga bahagia versi dirinya.
Maafkan Noah yang tak memiliki pengalaman apa pun. Semua yang dia lakukan terhadap istrinya adalah yang pertama kali baginya. Semua yang terjadi melebih ekspektasi Noah. Bahkan ungkapan cinta yang sangat sulit ia ucapkan bahkan saat masih bersama Aneesa, kini begitu mudah terucap dari bibirnya. Saat bersama Aneesa, pria itu selalu berhati-hati dalam berucap apalagi bertindak. Baginya Aneesa adalah sebuah kaca yang retak, salah menyentuhnya dan ia akan pecah.
Noah pria normal. Suasana malam itu begitu menyiksa batinnya. Sampai kapan dia akan bertahan dalam kondisi seperti itu adalah pertanyaan yang terus terputar di otaknya. Hasrat kelelakiannya begitu diuji oleh istrinya.
Dengan mata terpejam, Sea terus saja bergerak dalam dekapnya. Entah apa yang istrinya cari di dada bidang suaminya, yang pasti Sea terus mendusel-dusel di dada Noah tanpa beban sama sekali. Jujur, Noah tersiksa.
“Awalnya hanya jantungku yang terkena efeknya, mengapa sekarang kau ikut-ikutan bertingkah,” gumam Noah.
Pandangannya ia alihkan dari yang semula menatap wajah cantik istrinya, kemudian kini menatap benda berbentuk seperti tongkat yang berangsur-angsur mulai bangkit.
Kekesalannya itu ia tujukan pada benda pusaka miliknya yang benar-benar pusaka. Selama hampir 25 tahun tak pernah tersentuh oleh siapa pun. Noah ingat yang terakhir kali menyentuhnya adalah Mami Joanna dan itu pun saat dirinya masih berusia 5 tahun.
Semerbak aroma wangi dari surai lembut Sea, seakan menjadi candu baginya. Ingin rasanya Noah mengecupi puncak kepala itu terus menerus. Di usianya yang sudah matang, suasana seperti ini sangat mendukung hasrat batin Noah untuk mengulang malam pertama mereka dengan lebih layak. Namun melihat lelapnya tidur sang istri, membuat Noah berpikir dua kali untuk tak bersikap egois.
“Sabarlah… tak masalah kita menundanya. Akan kupastikan sesi siaran ulangmu nanti akan jauh lebih berkesan,” ucapnya lirih pada benda pusakanya yang semakin mengeras juga semakin menegang.
Akhirnya, Noah mencoba memejamkan matanya. Mengusir semua ingatan akan kenikmatan sepihak yang pernah ia rasakan, saat dirinya dengan tak tahu malu meminta haknya sebagai suami pada Sea.
Sayangnya, tak berhasil. Dua benda kembar dan kenyal milik istrinya kini telah bersentuhan dengan bagian perut kotak-kotak Noah.
“Cobaan, ujian, siksaan,” guman Noah lalu mengecup puncak kepala istrinya entah sudah yang keberapa kali.
Hingga Noah berpikir untuk keluar sejenak. Dia butuh udara segar untuk menghilangkan sesak di dada juga sesak di area bawahnya. “Sepertinya aku butuh oksigen,” gumam Noah.
“Dan kamu harus dijinakkan lebih dulu agar tak menyiksaku!”
Perlahan Noah menarik lengannya dan mengganti dengan bantal empuk agar kepala istrinya tetap nyaman. Tangan Sea yang memeluk pinggangnya, dengan tak rela ia pindahkan. Sea sempat bergerak tak nyaman saat Noah berhasil menggantikan posisinya dengan sebuah guling.
__ADS_1
...…………....
Setelah berhasil lolos, Noah berjalan keluar kamar dengan perlahan. Tujuan utamanya adalah dapur, Noah perlu membasahi tenggorokannya. Puas berbagi cerita bersama istrinya, berimbas pada tenggorokannya yang menjadi kering.
Awalnya, Noah hendak memeriksa ponselnya di ruang tengah. Namun netranya yang menangkap ada celah di pintu depan, menuntun Noah melangkahkan kakinya ke sana.
“Owen?” Gumamnya lirih.
Noah kembali ke dapur, membuat dua cangkir kopi instan. Noah bertekad untuk berbincang serius dengan sahabatnya malam ini. Noah ingin persahabatan keduanya kembali seperti dulu. Noah tak ingin Owen terus menyiksa batinnya karena tak berhasil mendapatkan hati gadis pujaannya.
“Kopi?” tawarnya.
Kening Owen mengernyit. “Sejak kapan lu suka kopi?”
Noah tersenyum, sahabatnya yang satu ini memang mengenal baik dirinya. “Memangnya gue pernah bilang gak suka sama kopi?”
Owen mengedikkan bahunya, ditafsirkan Noah sebagai kata, “entahlah”.
“Gue jarang minum kopi, bukan berarti gue gak suka,” jelas Noah.
Owen mengangguk lalu menyeruput sedikit kopi buatan sahabatnya. “Thanks, ya.”
Noah mengangguk, lalu mulai bertanya pada sahabatnya. “Kenapa lu gak mencoba seperti gue?”
Pertanyaan random Noah membuat kening Owen mengernyit. “Sudah gue coba, sedikit. Masih panas,” jawabnya.
“Bukan itu maksud gue!” Noah sedikit kesal karena Owen tak langsung menangkap maksudnya.
“Hah?” Sahabat Noah itu semakin dibuat bingung.
Kepalanya sudah sakit terus memikirkan kejadian saat mereka menikmati indahnya senja. Tanpa bisa ia cegah, tadi telinganya sempat mendengar Noah berkali-kali menyatakan cinta pada wanita yang juga ia cintai.
“Kenapa lu gak coba nyatain perasaan lu?” tanya Noah.
Cukup terkejut dengan pertanyaan Noah, namun Owen berusaha terlihat tenang. “Rasanya tak pantas, wanita itu telah menjadi milik pria lain. Sepertinya cintaku sudah ditakdirkan untuk bertepuk sebelah tangan.”
“Lu tak pernah tahu sebelum mencoba,” ucap Noah.
Kening Owen mengernyit. “Apa gue boleh melakukannya?” Sampai detik ini pria itu tak percaya dengan apa yang ia dengar malam ini.
Noah mengangguk.
“Lu yakin?” Owen masih ragu. “Lu gak akan menyesal, kan?”
Noah masih menjawab dengan gelengan kepala.
__ADS_1
“Gila ya, lu!” Owen mulai kesal pada sahabatnya. Keduanya sama-sama tahu siapa wanita yang menjadi bahan perdebatan mereka malam ini.
Owen tak habis pikir dengan jalan pikiran Noah. Baru saja sore tadi pria itu menyatakan cinta pada istrinya. Lalu dengan santainya, saat ini sahabatnya itu mengizinkan dirinya untuk melakukan hal yang sama.
“Gak waras lu!” Serunya mulai terpancing emosi. Sementara lawan bicaranya terlihat sedang menahan senyumnya.
“Ngapain juga lu minta kita semua nemenin lu jauh-jauh ke sini untuk menjemput Sea, kalau pada akhirnya lu dengan gampangnya nyerahin dia ke pria lain!” Owen tak lagi duduk dengan nyaman seperti beberapa saat yang lalu.
Pria itu berdiri berkacak pinggang di hadapan Noah. Tangannya sudah mengepal kuat, sudah siap mendaratkan satu bogeman di wajah tampan sahabatnya, jika memang diperlukan.
“Gue gak pernah bilang nyerahin Sea ke pria lain. Enak saja, lu!” Balas Noah santai.
“Gue sudah pensiun jadi pria bodoh. Gue sudah menyadari bagaimana perasaan cinta yang gue punya untuk Sea,” ucap Noah.
“Sepertinya cinta gue bersambut. Gue melihat masa depan cerah bersama dengan istri gue,” ungkapnya.
“Gue gak ingin bahagia sendirian, biar bagaimana lu adalah sahabat gue. Gue berharap lu tak lagi tersiksa dengan mencintai wanita yang gak akan pernah bisa lu milikin.”
“Sepertinya lu yakin banget kau gue gak akan bisa milikin dia,” tantang Owen.
Kening Noah mengernyit, apa Owen sedang menantangnya? Menyatakan perang padanya? Batin Noah.
“Buktiin aja!” Jawab Noah tanpa ragu.
Owen kembali berbalik badan, menatap ke dalam netra Noah lekat-lekat. “Lu yakin? Lu gak bercanda kan?” Sementara Noah menjawab dengan anggukan pasti dan tak tampak keraguan dari sorot matanya.
“Lu tahu gue pasti akan melakukanya! Lu sendiri yang memberi izin, jangan menyesal!” Owen masih sangat percaya diri.
“Ya, gue gak akan menyesal,” jawab Noah. Keyakinannya tampak lebih besar dari kepercayaan diri Owen, “Gue percaya pada cinta Sea untuk gue.”
“Nyatakan perasaan yang sudah lu pendam bertahun-tahun,” ucap Noah. “Setelah mendapatkan jawabannya gue harap lu bisa tahu bagaimana lu akan menata hati lu.”
“Jujur, impian gue sekarang adalah membangun rumah tangga yang hanya ada kata bahagia di dalamnya,” ungkap Noah. “Meski pun tak mungkin, tapi tak ada salahnya gue dan Sea mencoba.”
“Gue sudah ungkapin semuanya pada Sea, sekarang giliran lu!” Noah ikut berdiri menghampiri.
“Selagi ada kesempatan, biarkan istri gue tahu perasaan lu.” Owen melihat Noah mengakhiri ucapannya dengan senyum.
“Good luck ya, Bro!” ucap Noah seraya menepuk pundak sahabatnya.
Setelahnya, Owen hanya bisa menatap punggung Noah yang berjalan menjauh.
“Thanks, Bro!” gumam Owen lirih. Meski tampak percaya diri, dalam hati Owen sungguh malu pada sahabatnya.
Owen sangat paham jika yang dilakukan sahabatnya bukan karena ia tidak mencintai Sea. Tetapi itu adalah cara Noah untuk mengatakan, “Tolong, berhenti mencintai istri gue!”
__ADS_1
...————————...