
“Phiu sayang, apa tak sebaiknya kamu istirahat saja di rumah?” Sea mengelus lembut puncak kepala Noah.
Noah duduk di tepi tempat tidur seraya memeluk erat Sea yang berdiri di hadapannya. Rasanya sangat nyaman saat dirinya bisa mendekap erat tubuh istrinya, menyandarkan kepalanya di dada sang istri.
Berkali-kali Noah menarik napas dalam. Baru pertama kali dalam hidupnya ia dibangunkan oleh rasa mual yang luar biasa. Saat itu terjadi, Noah berusaha bersikap tenang. Tak ingin istrinya ikut mencemaskan dirinya.
Namun setelah sarapan, mengapa rasa mual itu kembali menyerangnya? Pikir Noah.
“Padahal baru dua suap aku menikmati sarapan bubur kanji rumbi buatan Mami. Sayang sekali aku memuntahkannya,” keluh Noah.
Sea mengecup kening Noah. “Apa kamu ingin dibuatkan sarapan lagi?” tanya Sea dengan lembut.
Noah menggeleng. “Tak perlu, Mhiu sayang. Biarkan rasa mualku mereda dulu, setelah itu barulah aku akan sarapan.”
“Jadi, apa kamu akan tetap bekerja?” Sea mengulangi pertanyaannya.
Bagaimana bisa suaminya memeriksa pasien, jika dirinya saja terlihat begitu lemas, Pikir Sea.
Noah mengangguk. Tak hanya bersandar, Noah malah semakin membenamkan wajahnya di dada istrinya. “Biarkan seperti ini dulu. Rasanya sangat nyaman. Bahkan mualnya seperti berkurang,” pinta Noah.
Sea yang merasakan geli di dadanya, hanya bisa terkekeh. “Apa kamu benar-benar sakit?” tanya Sea di sela-sela tawanya.
“Aku curiga kamu hanya modus,” canda Sea diiringi gelak tawanya.
Noah pun ikut tertawa lalu semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan tangan nakal Noah sesekali menepuk b*k*ng bulat berisi milik sang istri.
Bersenda gurau di pagi hari seperti yang saat ini mereka lakukan, sepertinya akan menjadi aktivitas kegemaran Noah mulai hari ini. Sebab hal itu berhasil menambah semangat Noah. Walaupun rasa pusing dan mual yang menyerangnya belum juga pergi.
...…………………………...
Berbeda dengan Noah, setelah suaminya berangkat ke rumah sakit untuk bekerja, Sea kembali ke meja makan. Namun sayang, sudah tak ada lagi orang di sana.
“Sepertinya Ayah Peter sudah berangkat ke kantor juga,” gumam Sea.
”Tapi, Mami di mana ya?” Sea mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tetap tidak menemukan sosok yang ia cari.
Di atas meja makan, Sea melihat masih ada dua mangkuk bubur kanji rumbi yang tersisa dan masih sangat banyak. Bubur khas yang berasal dari Kota Aceh itu adalah bubur nasi yang dimasak dengan santan, kaldu daging, dan berbagai bumbu rempah khas Nusantara. Rasanya gurih dan sangat pas di makan saat sarapan, karena cukup mengenyangkan.
Sea menghela napas perlahan. Bubur yang sudah ia idam-idamkan kini telah dingin. Tak rela jika bubur itu harus dibuang, maka Sea mulai menyendokkan ke mulutnya.
“Memang paling enak jika dimakan pada saat buburnya masih hangat,” gumam Sea.
Namun saat tengah menikmati buburnya, entah bagaimana ia malah membayangkan lezatnya makanan lainnya.
“Kok tiba-tiba aku jadi pengen makan lontong sayur, ya?” imbuhnya. Segera wanita itu berselancar di sosial media, mencari informasi di mana ia bisa membeli lontong sayur yang enak.
Meski telah menghabiskan satu mangkuk bubur kanji rumbi, keinginannya untuk menikmati lontong sayur masih sangat besar. Oleh karena itu. Sea bergegas kembali ke kamarnya. Wanita cantik itu sudah tak sabar ingin mencicipi lontong sayur yang begitu terkenal di banyak sosial media.
__ADS_1
...……………………...
Berbeda dengan istrinya, Noah tetap melaksanakan kewajibannya untuk bekerja. Meski tubuhnya terasa lemas, kepalanya pusing, dan sesekali masih merasakan mual.
Saat Noah tiba di ruangan prakteknya, indra penciumannya disambut oleh perpaduan aroma vanilla dan oud wood yang biasanya menjadi aroma favoritnya. Namun entah mengapa hari ini aroma itu terasa berbeda.
Noah merasakan perutnya kembali mual. Bergegas Ia menuju ke kamar mandi yang juga berada di dalam ruangannya untuk memuntahkan isi perutnya. Muntah untuk yang ketiga kalinya.
“Anda baik-baik saja, Dok?” tanya perawat yang bertugas membantu Noah pagi ini.
“Aku baik-baik saja,” jawab Noah setelah ia meneguk habis segelas air putih hangat.
“Apa ada yang mengganti pengharum ruangannya?” tanya Noah seraya menunjuk ke arah alat pengharum ruangan dengan dagunya.
“Setahuku tak ada, Dok,” jawab si perawat. “Biasanya pengharum ruangannya akan diganti sekali dalam kurun waktu 2 minggu, Dok,” jelasnya.
Noah memijat keningnya, berharap pusing yang ia rasakan bisa sedikit berkurang. “Sus… apa kau bisa membantuku mengganti aroma pengharum ruangan itu?” Pinta Noah.
“Sepertinya aku akan kesulitan jika aromanya tak diganti,” imbuhnya.
Perawat wanita itu mengangguk seraya menahan tawanya. Ia merasakan dejavu dengan situasi seperti ini.
“Anda ingin saya menggantinya dengan aroma apa, Dok?”
“Aku ingin aroma yang lebih segar.” Noah tampak berpikir sesaat, “Hemm… sepertinya aroma lemon atau pepermint akan cocok.”
“Dan juga yang sabar ya, Dok. Dahulu ngidam yang dialami suami saya jauh lebih parah jika dibandingkan dengan Anda,” ungkap si perawat sebelum ia benar-benar berlalu meninggalkan ruangan Noah.
“Ngidam?” gumam Noah.
Noah mencoba mencerna dengan baik ucapan perawat tadi. “Apa maksudnya yang kualami saat ini adalah ngidam?” ucapnya.
“Apa itu artinya saat ini Sea tengah mengandung?”
“Lalu apakah yang kualami kualami saat ini terjadi karena hal itu?”
Noah terus bermonolog. Jika membiarkan lebih banyak pertanyaan bersarang di benaknya, maka ia yakin rasa pusing yang ia derita bukannya berkurang malah semakin bertambah.
Tak ingin hal itu terjadi, bergegas ia meraih ponselnya. Menekan angka 1 yang tertera pada layar hingga menampilkan nama dan wajah cantik istrinya.
Panggilan telepon mulai terhubung ke nomor ponsel istrinya. Sayangnya setelah tiga kali ia mengulang, panggilan teleponnya tetap tak mendapatkan jawaban.
Sebentar lagi ia akan memulai jam prakteknya, Noah akhirnya memilih untuk mengirimkan pesan singkat pada istrinya.
Mhiu sayang, kapan terakhir kali kamu kedatangan tamu bulananmu? Pesan pertama telah berhasil terkirim.
Satu menit berlalu.
__ADS_1
Dua menit.
Hingga tiga menit, masih tak ada balasan.
Noah yang tak sabar kembali mengetikkan pesan di ponselnya.
Mhiu sayang, kupikir aku sedang ngidam! Mungkinkah?
Dan pesan kedua akhrinya terkirim. Noah berharap istrinya segera membaca pesan yang ia kirimkan.
Jika dugaanku memang benar, aku sungguh tak keberatan jika harus mengalami semua ngidam dan semua drama kehamilan lainnya. Batin Noah.
...……………...
Sementara itu… di ruangan kerja pribadinya, Alfio yang baru saja tiba langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
“Si*l!” makinya entah pada siapa. Pasalnya di ruangan itu hanya ada dirinya seorang.
Padahal masih pagi, namun wajah tampan Alfio tampak sangat kusut. Lingkaran hitam di bawah matanya, jelas sekali menunjukkan jika pria itu butuh istirahat lebih.
Tiga bulan telah berlalu, hubungannya dengan Sea sudah lebih baik. Tak ada lagi kecanggungan meski wanita itu seolah terus saja membangun dinding pembatas yang menghalangi Alfio untuk masuk ke dalam kehidupannya.
Anehnya hal itu tidak terlalu mengusik Alfio. Selama tiga bulan terakhir ada hal lain yang jauh lebih mengganggu ketenangan hidupnya.
Selama itu, tak pernah sekalipun Alfio melewati malam dengan tenang. Tidurnya selalu terusik oleh bayangan peristiwa saat ia menghabiskan suatu malam bersama seorang wanita.
Suatu malam yang akhirnya membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Sebab setelah malam itu Alfio selalu teringat dengan setiap detik kenikmatan yang ia rasakan. Bayangan peristiwa malam itu membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Ia ingin merasakannya lagi.
Berbagai cara telah ia lakukan untuk mengatasinya, bahkan ia sudah beberapa kali menyewa wanita penghibur untuk menemaninya melewati malam. Sayangnya tak ada satupun yang dapat memenuhi harapannya. Alfio hanya menginginkan wanita itu untuk kembali menghangatkan malamnya. Hanya dia!
“Si*l” kembali Alfio memaki setelah membaca selembar kertas perjanjian antara dirinya dengan seorang wanita.
“Kenapa juga dulu gue buat perjanjian ini!” gerutunya.
Setelah menimbang-nimbang banyak hal, Alfio akhirnya memutuskan untuk mengesampingkan gengsinya.
Segera ia meraih ponselnya, mencari nama wanita itu dalam daftar kontaknya. Setelah ia temukan, segera ia menghubungi wanita yang tiga bulan ini sukses membuat malamnya tak tenang.
Panggilan akhirnya dijawab setelah terdengar tiga kali bunyi nada tunggu.
“Mau apa lagi, lu?” Sambutan yang tak ramah terdengar dari seberang telepon.
“Gue mau bicara. Penting, jadi lu harus mau nemuin gue dan jangan menghindar!” Pinta Alfio yang terkesan memaksa.
Tut tut tut tut.
Panggilan berakhir, wanita itu yang memutuskan panggilan lebih dulu.
__ADS_1
...———————-...