
“Aku tak yakin jika kamu baru mengenal Si Tampan pagi ini!” Bisik Tessa pada Sea saat menyadari jika Alfio menyiapkan banyak hal untuk menyambut kehadiran wanita itu.
Meja yang berada di posisi paling depan, berhadapan langsung dengan panggung yang menyajikan hiburan musik akustik. Bahkan nama Sea tertulis pada papan penanda jika meja akan segera di huni oleh seseorang. Belum lagi berbagai macam menu makanan dan minuman yang terhidang sesaat setelah Sea dan dua temannya tiba. Lalu jangan lupakan Si pemilik kafe yang tak pernah beranjak dari kursi di hadapan Sea. Semua hal itu membuat Tessa curiga jika Si Tampan tertarik pada sahabatnya.
Sea mencubit lengan sahabatnya, jangan sampai ucapan Tessa didengar oleh Alfio. Sebenarnya dalam hati Sea merasa kurang nyaman sebab Alfio yang terus menatapnya.
“Kak Al, apa ini kafe pertama, kakak?” Tanya Sea memulai obrolan.
Dari pada terus ditatap, lebih baik Sea mengajak Alfio mengobrol. Pasalnya keadaan mulai canggung saat kedua sahabatnya mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Phila sibuk mencicipi makanan dan minuman yang disediakan oleh Alfio sedangkan Tessa sibuk mengabadikan foto di spot-spot menarik yang sebentar lagi pasti akan memenuhi halaman media sosialnya.
Alfio mengangguk. “Meski sebenarnya ini bukan hobi dan profesiku, namun aku ingin menantang diriku untuk sukses dibidang yang baru lagi,” jawab Alfio dengan percaya dirinya.
“Memangnya hobi Kak Al apa?” Tanya Sea.
“Hobiku dibidang fotografi, sebulan yang lalu aku baru saja menyelesaikan pameran fotografiku di Amerika.” Sengaja Alfio membanggakan hobinya itu. Bagi Alfio, hobinya ini akan ia manfaatkan untuk mendekati Sea.
“Wah ... lalu bagaimana ceritanya sampai Kak Al bisa membuka Kafe Venus?” Sea mulai penasaran dengan cerita Alfio. Sejauh ini menurut Sea, Alfio cukup menyenangkan untuk di ajak mengobrol.
“Sebenarnya memiliki sebuah kafe adalah impian adikku.” Lalu mengalirlah cerita Alfio pada Sea, dengan perasaan campur aduk.
“Lalu adikmu sekarang di mana, Kak?”
Alfio menghela napasnya. “Dia ... telah tiada!”
Sea merasa bersalah, dipikirnya jika dirinya telah membuka luka yang coba dipendam Alfio. Sangat jelas jika air muka Alfio kini berubah menjadi sendu. Suasana yang awalnya cerah ceria, kini berubah menjadi kelabu.
“Ma-maafkan aku, Kak,” sesal Sea.
Alfio menggelengkan kepalanya. “Tak masalah, sebenarnya aku cukup lega telah berbagi denganmu.”
__ADS_1
“Terima kasih, yah.” Lalu entah disengaja atau tidak Alfio menggenggam tangan Sea. Sontak saja Sea segera menarik tangannya, membuat Alfio terkejut dan menjatuhkan buku angenda miliknya yang berada di atas meja.
Kertas-kertas dan beberapa lembar foto kini berserakan di lantai.
Pandangan beberapa pengunjung lain kini menatap pada Sea dan Alfio. Bagai adegan dalam sebuah film, keduanya bergegas merapikan kertas dan foto yang berserakan di lantai, hingga Sea menemukan banyak sekali foto yang menarik perhatiannya. “Wow, cantik sekali!” gumamnya.
Seringai terbit di wajah Alfio, pria itu berpura-pura acuh dan tak menanggapi ucapan Sea. Namun Sea yang sangat mencintai segala hal mengenai laut dan pantai tak bisa membendung kekagumannya pada foto-foto milik Alfio yang seakan telah menyihirnya
“Kak Alfio, apa ini semua ini foto-foto milik kakak?” tanya Sea dengan penasaran. Alfio hanya mengangguk, sengaja ia bersikap acuh agar Sea tak menyadari rencananya. Tak sia-sia pria itu menyiapkan banyak hal hari ini, akhirnya target masuk dalam perangkapnya.
“Wow ... ini sangat luar biasa!” Puji Sea.
“Apa kamu juga suka fotografi?” tanya Alfio.
Sea menggeleng. “Aku menyukai pantai, aku menyukai laut, aku menyukai semua hal tentang keduanya.” Melihat betapa antusiasnya Sea, orang lain dengan mudahnya akan tahu bagaimana kecintaan wanita itu terhadap salah satu ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa.
“Aku selalu mengagumi saat-saat matahari terbenam, hal itu terjadi hanya sesaat namun tetap saja keindahannya memanjakan mata dan batin setiap orang yang menatapnya,” ungkap Alfio.
“Dan pantai adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati keindahan senja, itulah mengapa aku memiliki banyak foto-foto seperti ini.” Imbuh Alfio dengan pandangan memuja pada foto-foto miliknya. Sesekali pandangan yang sama juga ia berikan pada sosok gadis cantik di hadapannya.
Alfio ingat dari informasi yang diberikan Roy, sebelum Sea kuliah di Kota, wanita ini memang berdomisili di sekitar pesisir pantai.
“Kalau suka, kamu boleh memilikinya.” Celetuk Alfio.
“Maksud Kak Al, aku boleh memiliki foto-foto ini?” tanya Sea bersemangat dan dijawab anggukan oleh Alfio.
“Benarkah? Tapi-“ Sea ragu sebab mereka baru saja saling mengenal dan Alfio begitu baik padanya. Bukan ingin berburuk sangka, tapi Sea hanya ingin menjaga dirinya saja.
Alfio menyadari keraguan Sea, diambilnya semua foto itu lalu ia letakkan di atas tangan Sea. “Jika tak ingin menerimanya secara percuma, kamu bisa membantuku mempromosikan kafe ini pada teman-temanmu sebagai bayaran untuk foto-fotoku,” tawar Alfio.
“Bagaimana?” Belum juga Sea menjawab Alfio lebih dulu menyela.
__ADS_1
“Jika kamu mau, aku bisa mengajakmu ke galeri fotoku. Di sana lebih banyak foto pantai dari berbagai tempat di dunia ini yang telah kukunjungi,” imbuh Alfio.
Senyum Sea semakin menambah kecantikannya dan sukses membius banyak lelaki yang sejak tadi mencuri-curi pandang padanya. Begitu juga dengan Alfio, muncul keraguan di benaknya apakah mungkin dirinya bisa bertahan jika menghabiskan lebih banyak waktu bersama Sea.
“Terima kasih Kak Al, aku pasti akan membantu promosi kafe ini. Tapi untuk mengunjungi galeri, aku masih harus meminta izin lebih dulu pada keluargaku,” jawab Sea.
“Tak masalah. Kapan pun kamu ingin ke sana, katakan padaku." Ucap Alfio. “Aku akan selalu siap jika itu untukmu,” imbuhnya.
Wanita mana yang tak tersipu jika pria setampan dan sekompeten Alfio bersikap manis seperti itu. Hal yang sama berlaku pada Sea. Segera gadis itu palingkan wajahnya agar Alfio tak bisa melihat semburat merah muda di wajahnya.
Sementara itu, dua sisi hati Alfio sedang berperang. Satu sisi terus saja memuji betapa menariknya Sea, sedangkan satu sisi yang lainnya terus mengingkari hal itu.
Apakah mungkin jika takdir mempertemukan kita dengan orang yang tepat di waktu yang tidak tepat? Batin Alfio.
......................
Tanpa sengaja semua momen-momen kebersamaan Sea dan Noah terekam dalam lensa Tessa. Profesinya sebagai selebriti sosial media atau yang lebih dikenal dengan sebutan selebgram mengharuskan Tessa aktif membagikan kegiatannya di sosial media.
Setiap hal yang diunggahnya selalu menarik perhatian para pengikutnya.
Begitupun kali ini, rupanya unggah Tessa baru saja membuat heboh para pengikutnya di sosial media. Banyak yang bertanya mengenai lokasi kafe yang sedang Tessa kunjungi, dan juga tak sedikit yang bertanya mengenai pria tampan yang sesekali ikut masuk dalam rekaman Tessa.
Tak hanya terjadi di kolom komentar sosial media milik Tessa, namun kehebohan juga turut terjadi di ruang IGD Rumah Sakit Pelita Harapan. “Noah, sini deh!” Celetuk Owen Nikolas. Salah satu sahabat Noah yang juga berprofesi sebagai dokter.
“Ada apa? Lu dokter tapi kok gak tau aturan jika di Rumah Sakit tak boleh berisik!” Oceh Noah.
“Jika saja ini bukan hal penting, mana mungkin gue teriak-teriak gini.” Balas Owen.
“Nih lihat, bukankah ini Sea?” layar ponselnya sengaja ia tunjukkan pada Noah. Owen ingin agar sahabatnya itu memastikan apakah wanita cantik yang duduk bersama seorang pria tampan adalah wanita yang berstatus istri sahabatnya itu.
Kening Noah mengernyit, tanpa harus mengamati lekat-lekat pria itu tahu jika wanita dalam rekaman itu adalah istrinya. Namun pria itu ... bukankah dia pria yang pagi tadi mengobrol bersama istrinya.
__ADS_1
Siapa dia? Apa hubungannya dengan Sea? Jangan-jangan dia kekasih Sea?
...----------------...