
“Gila! Pria itu benar-benar sudah gila!” Sepanjang perjalanan setelah meninggalkan kafe milik Alfio, Noah tak pernah berhenti menggerutu.
Rasanya tak baik jika Noah kembali ke rumah sakit dengan kondisi seperti saat ini. Jelas sekali dari raut wajahnya, jika pria itu kini sedang menahan emosinya.
Tentu saja Noah harus menahan emosinya, sudah cukup dua kali saja Noah bertindak bodoh. Menggunakan kekerasan saat menghadapi Alfio. Bagi Noah, Alfio tak ubahnya seorang pria gila yang terang-terangan mengakui jika dirinya mencintai istri dari pria lain.
“Ada juga orang sepertinya! Mengaku cinta pada istri orang lain,” oceh Noah.
“Apa si gila itu tak sadar siapa aku? Apa dia lupa jika aku suami dari wanita yang katanya ingin dia rebut?!” Kekesalan Noah ia lampiaskan dengan memukul kemudi yang berada dalam genggamannya.
Karena ulahnya, pria itu sampai mendapat cacian dari pengemudi lain. Hal itu karena tiba-tiba saja terdengar bunyi memekikkan dari klakson mobil Noah yang membuat pengemudi lain terkejut.
Terpaksa Noah menepikan mobilnya ketika melihat ada anak kecil bertubuh kurus sedang duduk di trotoar. Beruntung jalan yang ia lewati cukup sepi karena bukan termasuk jalan raya.
Anak laki-laki dengan penampilan acak-acakan. Rambutnya kusam dan kering, dari wajahnya terpancar jelas raut kelelahan yang dirasakan anak laki-laki itu. Pakaian yang dipakainya sangat lusuh dan tampak sobek di beberapa tempat. Hati Noah semakin mengiba manakala melihat alas kaki yang dikenakan anak itu, berbeda antara yang di kaki kiri dan di kaki kanannya.
Beruntung tadi aku memilih melewati jalan ini, batinnya.
Sebelum menghampiri anak laki-laki itu Noah sempat mengambil baju kaos dan jaket tudung miliknya yang selalu ia bawa di dalam mobil.
Menyadari ada seorang pria yang mendekat, anak laki-laki tadi tersenyum sumringah. “Rokok, bang?” tawarnya.
Noah menggeleng. Dilihatnya anak itu menarik kain yang menutupi keranjang di pangkuannya. Noah mengikuti arah pandang anak itu. “Abang tak merokok,” kata Noah.
Anak kecil itu mengangguk lalu hendak menutup lagi keranjang jualannya dengan kain. Meski senyum anak itu tak benar-benar hilang, namun jelas sekali jika ia sedikit kecewa.
“Tapi Abang sedang haus.” Ucapan Noah menghentikan gerakan tangan mungil anak itu.
“Aku juga jual banyak minuman, bang,” serunya.
“Abang mau yang mana? Air putih berbagai macam merek, ada. Segala jenis minuman teh, mulai dari yang berasal dari pucuk hingga teh dengan rasa buah-buahan juga ada.” Anak itu begitu bersemangat menjajakan barang dagangannya.
Noah tersenyum, tingkah anak ini berhasil menghibur hatinya yang sedang kesal. Beruntung sekali dirinya tadi memilih berbelok melewati jalan ini, pikir Noah.
Melihat Noah yang hanya tersenyum, anak tadi tak pantang menyerah. “Atau, Abang mau minuman yang bisa menggelitik di tenggorokan?” tawarnya sekali lagi. Alisnya naik turun menanti jawaban dari Noah.
“Memangnya minuman seperti itu ada?” tanya Noah dengan kening mengernyit.
“Ada dong, Bang…” sahutnya. “Nih….” Di kedua tangan mungilnya, sudah ada dua botol minuman bersoda dengan rasa yang berbeda.
“Oh… jadi yang kamu maksud dengan minuman yang menggelitik di tenggorokan itu adalah soda?” tanya Noah memastikan. Segera dijawab anggukan oleh anak itu.
Noah tertawa, “Mengapa?” tanya Noah penasaran.
“Aku sudah pernah mencobanya, Bang. Dan saat kuminum, rasanya tenggorokanku seperti ditusuk-tusuk. Tapi bukannya sakit, aku malah merasa tenggorokanku seperti sedang digelitik.” Panjang lebar anak itu menceritakan pengalamannya saat pertama mali mencicipi minum bersoda pada Noah.
Noah ikut terkekeh. “Tapi, jangan kau ulang lagi, ya…” sahut Noah.
“Soda tak baik untuk dikonsumsi oleh anak seusiamu,” imbuhnya.
__ADS_1
“Apa Abang seorang guru?” tanyanya seraya menatap Noah dengan menelisik.
Noah menggeleng. “Bukan. Mengapa kau mengira Abang seorang guru?” tanyanya penasaran.
“Karena biasanya guru lah yang memberi tahu, mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Mana yang benar dan juga mana yang salah,” jawabnya percaya diri.
Begitu polos anak ini, begitu pikir Noah. “Kau sangat pandai. Orang tuamu pasti sangat bangga memiliki anak yang cerdas sepertimu,” imbuhnya.
Raut wajah ceria anak itu berubah sendu. “Aku tak memiliki orang tua,” jawabnya.
“Maaf, Abang tak bermaksud membuatmu sedih,” sesal Noah.
“Begini saja, sebagai permohonan maaf Abang karena telah membuatmu bersedih dan merindukan kedua orang tuamu, bagaimana jika Abang membeli semua barang daganganmu?” tawar Noah.
Anak itu tertawa. “Astaga, Bang… jangan baper gitu, aku tak sedih.”
“Aku tak bersedih karena rindu, Bang. Aku bahkan tak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua,” imbuhnya.
Hati Noah ikut sakit saat mendengar penuturan polos dari anak laki-laki malang di hadapannya. Dirinya sebenarnya sama dengan anak itu. Dirinya harus sabar dan rela karena kesempatan untuk menjadi orang tua harus tertunda.
“Tak masalah, tetap saja Abang akan membeli semua barang daganganmu. Kecuali rokok dan soda,” ujar Noah.
“Benarkah?” anak itu tampak tak percaya.
“Tentu saja, anggap saja sebagai salam perkenalan kita. Siapa namamu? Berapa usiamu?” tanya Noah.
“Nama yang bagus,” sahut Noah seraya membalas genggaman tangan anak itu.
“Benarkah?” Anak itu lantas tertawa.
“Apanya yang lucu?” tanya Noah.
“Sebenarnya, anak-anak yang tinggal di bawah jembatan itu memanggilku Maman.” Tangannya menunjuk ke arah jembatan besar di ujung jalan yang tak jauh dari tempat mereka berdua duduk.
“Nama Izzan Qadr itu kudapatkan dari sebuah selebaran yang dibagikan di lampu merah,” jelasnya.
“Terdengar bagus saat kusebutkan. Jadilah mulai saat itu aku ingin mengganti namaku dari Maman menjadi Izzan Qadr,” imbuhnya.
“Abang adalah orang pertama yang kuberitahu nama baruku semenjak aku menggantinya 3 bulan yang lalu.” Maman atau Izzan… begitulah anak laki-laki itu memperkenalkan dirinya, rupanya telah berhasil mencuri perhatian Noah.
Noah bahkan sempat berbincang cukup lama dengan Izzan, seperti itu ia ingin dipanggil. Izzan menceritakan bagaimana kehidupan anak-anak di bawah jembatan yang menggugah hati kecil Noah.
Suara adzan dari ponsel Noah sebagai pengingat waktu Shalat, juga turut menyadarkan Noah jika ia sudah terlalu lama meninggalkan Sea.
Akh, aku sudah merindukan Sea, batin Noah.
Noah memberi beberapa lembar uang seratus ribuan pada Izzan setelah anak itu membantu Noah membawa semua botol minuman yang ia beli ke dalam mobil. Awalnya Izzan menolak, sebab menurutnya uang yang diberikan Noah sangat banyak.
“Ini sangat banyak, Bang,” tolaknya.
__ADS_1
“Ambil saja, Abang ikhlas memberinya untukmu.”
“Tapi aku tak bisa menerima uang ini begitu saja, bagaimana jika abang juga membawa rokok dan minuman soda itu?” tawarnya.
Noah menggeleng. “Terima kasih, tapi sungguh Abang tak bisa membawanya.”
“Setelah dari sini, Abang harus merawat istri Abang yang sedang sakit di rumah sakit. Kau tahu, rokok dan minuman bersoda tak diperbolehkan berada di sana,” tutur Noah.
Izzan terdiam, anak itu tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ucapan Noah mengenai rokok, minuman bersoda, dan rumah sakit tak ia pahami.
Lalu Izzan tiba-tiba saja terlonjak saat mengingat jika tadi dirinya sempat mengambil sekotak jajanan dari warung Mbok Romlah untuk ia jajakan di sekolah-sekolah. “Sebentar, Bang. Tunggu di sini dulu, ya…”
Izzan terlihat berlari ke trotoar tempat mereka duduk tadi dan kembali dengan membawa kotak di tangannya. “Ini, Bang... ambillah!”
“Jika Abang mau menerima ini, aku juga akan menerima semua uang pemberian Abang. Bagaimana?” Anak itu mencoba membuat kesepakatan dan hal itu membuat Noah makin kagum dengannya.
Noah mengangguk, “Baiklah, terima kasih. Sampai bertemu lagi, Izzan.” Sebelum Noah melajukan mobilnya menuju rumah sakit, ia sempat membuka tutup kotak yang diberikan Izzan.
Ada banyak jajanan anak sekolahan di sana. Seperti sosis yang digoreng dengan baluran telur, ada juga sosis yang terbungkus mie, dan masih banyak lainnya.
“Luar biasa sekali anak itu,” pujinya. “Jika aku di posisinya, entah apa aku bisa bertahan atau tidak.”
...………….....
Sebelum menuju ruang perawatan istrinya, Noah menyempatkan diri untuk mampir di IGD dan membagikan minuman juga jajanan yang ia bawa. Tak lupa ia menyisakan sedikit untuk ia berikan pada Sea.
Tak sabar rasanya, Noah ingin menceritakan mengenai perjumpaannya dengan anak kecil bernama Izzan Qadr pada istrinya itu.
Langkah kakinya sengaja ia lebarkan berharap bisa lebih cepat tiba di ruangan Sea. Saat melewati meja para perawat, sebenarnya Noah merasa tatapan beberapa perawat berbeda saat melihatnya.
Noah tak peduli, yang ia pedulikan hanya ingin segera bertemu Sea. Di lubuk hatinya, pria itu menyesali kejadian pagi tadi. Di mana dirinya sempat berdebat dengan istrinya sebelum ia pergi menemui Alfio.
Ceklek.
Pintu ruang perawatan Sea dibuka oleh Noah. Pria itu melangkahkan kakinya masuk. Terhitung baru beberapa langkah, Noah tiba-tiba saja berhenti.
Tubuhnya seketika mematung saat melihat tak ada sosok Sea yang berbaring di hospital bed seperti sesaat sebelum ia pergi pagi tadi. Tiang infus juga sudah tak terlihat lagi di sana. Semua barang di atas nakas pun juga tak ada.
Rupanya seorang perawat yang tadi melihat kedatangan Noah turut mengikuti sang dokter. Dilihatnya dokter yang sering ia puji ketampanannya, berdiri bagai patung.
“Maaf dokter, Nyonya Sea sudah pulang dua jam yang lalu.”
Brak.
Kedua tangan Noah bergetar dan akhirnya menjatuhkan kotak pemberian Izzan. Semua jajanan yang ia bawa kini berserakan di lantai.
“Kamu… benar-benar pulang,” gumam Noah.
...————-...
__ADS_1