Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 24. Ada apa dengan Sea?


__ADS_3

Ponsel milik Sea menggaungkan suara adzan, pertanda kini sudah waktunya wanita yang tengah mengandung itu harus bangun dari tidurnya. Mata sembabnya akhirnya terjaga. Meski hanya tidur selama 2 jam, Sea sudah sangat bersyukur karena masih bisa mengistirahatkan sejenak batin dan fisiknya. Terlebih saat ini, ada kehidupan di dalam rahimnya yang harus ia jaga.


Tak ingin melewatkan waktu subuh yang begitu berharga, Sea bergegas bangun, membersihkan tubuhnya kemudian menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dua rakaat yang menjadi kewajibannya telah ia laksanakan dengan khusyuk. Kini tiba saatnya Sea untuk bersimpuh, memohon ampunan dan kekuatan dari-Nya, Sang Pencipta Yang Maha Kuasa.


Kedua tangannya menengadah. "Rabbi habli min ladunka dzurriyatan thayyiban innaka sami'ud du'a."


"Ya Allah, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."


“Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatiku. Aku sungguh bersyukur atas karunia yang hanya datang dari-Mu, Ya Allah. Hanya kepada-Mu kini aku memohon perlindungan, kepada-Mu aku meminta kekuatan untuk menjaga amanah-Mu.”


Bulir air mata menetes dari pelupuk mata Sea. Bibirnya bergetar dalam setiap kata yang ia ucapkan dalam doanya. Memikirkan kemungkinan terburuk jika Noah akan menolak kehadiran bayi dalam rahimnya, membuat air mata semakin membanjiri wajahnya.


“Meski harus berjuang dan bertahan seorang diri pun, atas izin Sang Ilahi, aku akan sanggup,” gumamnya.


Terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang menggema dari kamar luas yang sayangnya sepi. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Sea. Dari sofa yang menjadi tempat duduk favoritnya, sesekali Sea akan melirik ke arah ranjang yang tak berpenghuni.


“Kau tak pulang lagi, Mas.” Lirih bibir Sea berucap.


Kecewa? tentu saja. Meski ia menyadari betul jika sikap Noah yang terus menjauh, sebagian besar juga disebabkan karena dirinya.


Namun, hati wanita mana yang tak sakit jika, ia dipaksa untuk memenuhi kebutuhan biologis suaminya. Lalu setelahnya, tanpa rasa bersalah suaminya mengatakan jika apa yang telah terjadi adalah suatu kekhilafan.


Meski melayani suaminya adalah suatu kewajiban bagi setiap istri, tapi Sea pikir semua wanita mengharapkan penyatuan yang lembut dan didasari oleh cinta dan kasih sayang. Begitupun dengan dirinya yang memang begitu mencintai Noah.


Fajar menyingsing dan pusing yang Sea rasakan belum juga mereda. Tak kuat menahan pusing, wanita itu hanya merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Belum hilang pusing di kepalanya, tiba-tiba saja ia merasakan mual yang luar biasa. Dengan sisa kekuatannya, Sea memaksakan diri untuk berlari ke kamar mandi. Beruntung Sea bisa bertahan dan semua isi perutnya berhasil ia keluarkan di wastafel.


Sembari membasuh wajahnya, kedua netranya kembali berkaca-kaca. “Malang sekali nasibmu, Seanna.” Monolognya saat menatap pantulan wajah pucatnya di cermin.


Tatapannya lalu beralih ke perutnya yang masih rata. Satu tangannya beralih mengelus lembut di sana, “Kita pasti bisa kan, Nak? Meski hanya Mama dan kamu, kita pasti bisa lewati ini semua ‘kan?” tanya Sea meminta persetujuan dan dukungan pada janin dalam rahimnya.

__ADS_1


Sementara satu tangannya yang lain mengusap kedua matanya yang terus dibanjiri air mata. “Jangan bersedih ya, Nak! Mama menangis bukan karena Mama sedih atau menyesali semuanya. Ini semua hanya karena hormon kehamilan,” ucap Sea.


Ya, aku tidak boleh lemah. Aku yakin aku mampu, selama ada kamu, Anakku. Batin Sea.


...................


Entah berapa kali Sea harus membasuh wajahnya agar sembab di matanya sedikit berkurang. Sengaja Sea merias wajahnya lebih dari biasanya, agar tak ada orang yang menyadari wajahnya yang pucat. Sayangnya meski sudah berusaha, mata jeli Mami Joanna tetap menangkap perubahan menantunya.


Tak ada yang berbeda dari sarapan pagi ini. Keluarga Myles adalah salah satu keluarga yang terbiasa menghidangkan menu makanan lengkap saat sarapan. Kedua manik mata Sea berbinar, melihat berbagai macam lauk yang telah terhidang di atas meja.


Kening Mami Joanna mengernyit tatkala Sea meminta dibuatkan segelas susu, padahal biasanya wanita itu tak pernah melewatkan segelas jus buah di pagi hari.


Bukan hanya itu, Sea yang merasakan mual hingga muntah saat menyantap menu ayam goreng kesukaannya pun membuat Mami Joanna bertanya-tanya. Sebagai seorang wanita yang sudah memiliki banyak pengalaman, menurutnya gelagat Sea menunjukkan tanda-tanda kehamilan.


“Jika malam ini Noah tak kunjung pulang, biar Mami dan Ayah saja yang mengantarmu ke dokter,” putus Mami Joanna.


“Kami tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu, Nak,” imbuh Mami Joanna membuat Sea segan untuk menolak.


Ingin menolak, tapi Sea sadar jika ia melakukan hal itu maka Mami Joanna akan semakin curiga. Maka, sejak saat itu yang dilakukan Sea adalah memikirkan cara agar rencana Mami Joanna batal.


Setelah menghabiskan segelas susu hangat, Sea segera pamit untuk berangkat ke kampus. Beruntung selama di kampus, pusing di kepalanya sudah mereda. Akan tetapi, tubuhnya yang lemas tak dapat ia sembunyikan membuat Tessa dan Phila ikut khawatir melihatnya.


“Kamu yakin baik-baik saja, Sea?” Tanya Tessa memastikan.


Sea mengangguk dan tersenyum untuk mengurangi kekhawatiran sahabatnya.


“Apa lebih baik kamu pulang aja, Sea,” usul Phila. “Aku kok gak yakin kamu masih bisa bekerja di kafe dalam kondisi seperti ini,” imbuhnya.


Sea menggeleng. “Aku baik-baik aja, kalian tak perlu khawatir.” Senyumnya ia buat seceria mungkin agar kedua sahabatnya berhenti mengkhawatirkannya.


“Tapi Sea ....” seru Tesaa dan Phila bersamaan.

__ADS_1


“Ssssttttt ....” Jari telunjuknya ia letakkan di depan bibirnya. “Kalian harus percaya padaku. Aku harus kuat!” Ucap Sea bertekad.


Dengan berat hati, Tessa dan Phila akhirnya merelakan Sea yang memaksa untuk tetap pergi bekerja ke Kafe Venus milik Alfio. Namun, bukan Tessa jika tak punya rencana cadangan. Segera ia raih ponselnya dan menghubungi seorang pria di sana.


“Jika kita berdua tak dapat mencegahnya, semoga dia mampu.” Gumamnya.


Tuut ... Tuut ... Tuut ...


Tak perlu waktu lama hingga panggilan terhubung, “Halo, Kak Alfio ....”


...............................


Alfio tak peduli dengan segala umpatan dari pengguna jalan lain yang ditujukan padanya. Yang Alfio inginkan adalah segera sampai di kafe miliknya.


Setelah menerima kabar dari Tessa yang mengatakan jika Sea sedang sakit namun, tetap memaksakan diri untuk bekerja. Tanpa pikir panjang, Alfio segera melajukan mobilnya untuk memastikan keadaan wanita yang akhir-akhir ini berhasil membuat hatinya resah.


Semoga saja Tessa tidak melebih-lebihkan! Semoga Sea baik-baik saja. Batin Alfio.


Tak butuh waktu lama pria itu akhirnya tiba di kafe miliknya. Saat membuka pintu, senyumnya terbit ketika melihat Sea duduk di balik meja kasir.


Syukurlah, Sea baik-baik saja. Batinnya merasa lega setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Sea baik-baik saja. Apalagi saat Sea menyadari kehadirannya, wanita itu tersenyum dan senyumnya tetap saja berhasil membuat jantung Alfio berdegup dua kali kelib cepat.


Sayangnya, kelegaan Alfio tak bertahan lama.


“Kak Al, aku izin ke toilet sebentar, ya.” Sea lantas bangun dari duduknya dan samar-samar terdengar ia meringis.


Alfio hanya mengangguk, dengan netra yang terus memerhatikan langkah Sea.


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan... brruukkkkk! Sea jatuh ke lantai, ia tak sadarkan diri.


“Sea!” Pekik Alfio.

__ADS_1


...---------------...


__ADS_2