
“Aku coba menemuimu beberapa kali, namun seorang dokter tak mengizinkanku.” Alfio mulai mengadu pada Sea.
Keduanya duduk berhadapan seperti yang biasa mereka lakukan dulu. Namun entah mengapa kini seperti ada jarak yang dibentang oleh Sea. Wanita dihadapannya terus tersenyum, namun senyuman itu terasa asing baginya.
“Dokter itu adalah suamiku, Kak.” Sea semakin melebarkan senyumnya, saat dengan bangga ia mengakui Noah sebagai imam dalam hidupnya.
“Atas nama suamiku aku mohon maaf jika perbuatannya telah menyinggung, Kak Al.”
Senyum kecut tampak di wajah Alfio. Hubungan Sea dengan Noah benar-benar sudah baik dan bukan lagi sebatas sandiwara, pikirnya.
Sayangnya mengalah atau merelakan tak akan pernah Alfio masukkan dalam kamus hidupnya. Bagi pria itu, mengalah adalah tindakan bodoh yang hanya akan merugikan dirinya. Sama seperti yang sudah dilakukan oleh adik sepupunya, Aneesa
“Tak perlu minta maaf, hal itu bukan masalah. Yang terpenting bagiku hanya tahu jika kamu baik-baik saja,” ujar Alfio.
“Aku bahagia… kamu terlihat lebih baik sekarang,” imbuhnya.
“Aku pun juga sangat bersyukur dengan kehidupanku yang sekarang,” ucap Sea. “Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Kuanggap semua kebaikan yang kuterima sekarang, sebagai hikmah dari semua ujian yang menimpaku.”
Alfio mengangguk, membenarkan semua ucapan Sea. Alfio menutupi keinginannya yang hendak tersenyum. Apakah aku keterlaluan jika kuanggap hadirnya kamu dalam hidupku, sebagai hikmah dari peristiwa yang menimpa Aneesa? Batin Alfio.
“Apakah kamu ingin menjelaskan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu? Kulihat sepertinya kamu dan yang lainnya sedang berbincang mengenai hal yang serius.” Tak ingin risau terlalu lama, Alfio segera bertanya.
“Aku berterima kasih pada teman-teman di sini. Selama aku di sini mereka menerimaku dengan sangat baik.” Sea mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia mengamati apa yang dilakukan oleh rekan-rekannya.
Melihat mereka tersenyum saat mencatat dan mengantarkan pesanan. Sea kembali sibuk dengan memorinya, beberapa waktu lalu dirinya juga pernah ada di posisi itu.
“Lalu….” Alfio menggantungkan ucapannya. Pria itu menatap penuh tanya dan harap ke arah Sea.
“Aku pasti akan merindukan masa-masa aku bekerja di sini,” ucap Sea.
“Maafkan aku, Kak Al. Aku tak bisa bekerja di kafe ini lagi.” Sea menunduk saat mengatakan hal itu.
Tampak senyuman getir menghiasi wajah tampan Alfio. “Apa suamimu yang melarang?” selidiknya.
__ADS_1
Sea menggeleng. “Jadwal kuliahku semakin padat dan aku butuh banyak waktu istirahat selama masa pemulihan kesehatanku,” Sea beralasan. Tak mungkin dirinya berkata jujur, jika dugaan Alfio benar adanya.
“Jika aku keberatan? Jika aku tak mengizinkan?” Pertanyaan ini benar-benar berasal dari lubuk hati Alfio.
“Maafkan aku, Kak. Tapi jika kamu memang peduli padaku maka kamu akan mendukung keputusanku,” ucap Sea.
Alfio memijit keningnya yang sudah mengerut. Sungguh ia tak kan rela jika Sea menjauh darinya.
“Aku menghargai keputusanmu. Apa pun alasanmu, aku hanya tak ingin ja-“ Alfio tak dapat menyelesaikan ucapannya, sebab Sea tiba-tiba menyelanya.
“Sssstttt,” telunjuknya ia letakkan di depan bibirnya.
“Kak Al, kamu sudah tahu jika aku telah kehilangan banyak hal. Terutama orang-orang yang aku sayangi,” ucap Sea.
“Tolong jangan katakan apa pun yang dapat membuat hubungan baik yang telah terjalin selama ini menjadi canggung.” Imbuhnya.
Alfio membeku di tempatnya, tolong sadarkan pria itu. Separuh dari kewarasannya telah menghilang ditelan kenyataan yang baru saja menampar wajahnya.
Dirinya benar-benar bisa gila sekarang, mengapa begitu sulit ia untuk menerima kenyataan. Cintanya telah ditolak bahkan sebelum perasaan itu terungkap.
Alfio megangguk. “Aku baik-baik saja,” jawab Alfio segera. Namun suaranya yang bergetar, tak dapat menyembunyikan fakta jika pria itu benar-benar tersakiti.
Ingin ia memaksakan perasaan cintanya pada Sea, sesuai prinsipnya yang tak menerima penolakan. Tapi mengapa tiap kali keduanya bertatap muka, Alfio seakan kehilangan kekuatannya. Pria itu melemah saat bersama Sea. Kekuatan cintanya benar-benar nyata, benar-benar menguasai seorang Alfio.
Sejak detik itu… sejak cintanya ditolak bahkan sebelum sempat terucap, Alfio seakan kehilangan fokusnya. Bahkan saat Sea si sumber kegalauan Alfio telah pergi dan menghilang di balik pintu. Alfio hanya menjawab dengan senyuman pada setiap orang yang mengobrol dengannya.
...……………...
Siang telah berganti malam, namun rasa sakit dan sesak di hati Alfio belum juga sirna. Mengunci diri, menyendiri di dalam ruang kerjanya, sepertinya tak berdampak apa-apa untuknya.
Alfio benar-benar merasa terpuruk. Jika kesunyian tak mampu mengusir sakit itu, maka biarkan kebisingan melakukannya. Alfio segera beranjak
pergi dari ruangannya, menuju ke sebuah klub malam.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Alfio kini sudah duduk di meja depan bartender. Lengkap dengan segelas minuman beralkohol di dalam genggamannya.
Gelas kecil tak bersalah itu, kini digenggam erat oleh Alfio. “Aku tak akan diam saja, bukan?” monolognya.
“Aku tak mungkin sehancur ini hanya karena cintaku ditolak!” Gumam Alfio.
Patahnya hati Alfio, membuat pria itu semakin membenci Noah. Pria itu menjadikan Noah tersangka utama atas rasa sakit di hatinya. Noah dijadikan alasan mengapa Sea tak menyambut cintanya.
Alfio tak bisa memikirkan apa pun saat ini, tak ada yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan sesak di dadanya. Hanya gelas demi gelas alkohol yang ia tenggak yang menjadi harapan terakhirnya. Hanya untuk malam ini saja, Alfio ingin kehilangan kesadarannya.
...…………...
Semua gerak-gerik Alfio rupanya menarik perhatian Tessa yang sudah lebih dulu berada di klub tersebut. Saat melihat pria itu membuat keributan dengan seorang pria lainnya, bergegas ia menghampiri kerumunan tersebut.
“Hei… hei… berhenti!” Pekiknya. “Ada apa ini?”
“Minggir lu! Cowok lu itu sudah kurang ajar dengan cewek gue!” Bentak seorang pria yang tadi hendak menghajar Alfio.
“Lu gak lihat dia mabuk?!” Bukan Tessa jika dengan mudah akan terintimidasi hanya karena dibentak.
Tak berselang lama, tim keamanan klub akhirnya tiba. Beruntung Tessa adalah anggota VVIP klub mewah tersebut, hingga keributan yang dibuat Alfio tak berbuntut panjang.
Tessa merutuki dirinya yang memilih ikut campur dalam masalah yang dibuat pria calon pebinor, Alfio. Bingung harus membawa pria yang mabuk itu ke mana, Tessa memutuskan membawa pria setengah sadar itu ke sebuah hotel bintang lima.
Gadis itu kini mondar-mandir di samping tempat tidur setelah lebih dulu merebahkan tubuh Alfio di atas sana. Tessa sedang menimbang-nimbang, apakah ia harus meninggalkan Alfio seorang diri di sana atau tetap tinggal. Berhubung kepalanya juga mulai terasa berat karena pengaruh beberapa gelas alkohol.
Terlalu sibuk dengan pikirannya, Tessa tak menyadari pergerakan Alfio. Bahkan pria yang ia cap sebagai calon pebinor itu telah melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping miliknya.
“Br*ngs*k! Lepaskan!” Tessa memekik.
Wanita itu berusaha memberontak, namun Alfio semakin mengeratkan pelukannya. Pria itu benar-benar kehilangan kesadarannya.
Entah mengapa melihat sosok wanita dengan penampilan s*ksi berada tak jauh dari pandangannya, hasrat Alfio terpancing.
__ADS_1
Dengan lihai Alfio memaksa mengecup tengkuk si wanita, “Hemm… aku suka aroma tubuhmu.” Gumamnya tanpa peduli dengan respon si wanita yang terus memberontak.
...———————...