
“Rencana Tuhan tak pernah ada yang tahu, Nak.” Kalimat penghibur dari seorang ayah yang hatinya ikut terluka ketika melihat putra semata wayangnya menangis.
Baru kali ini Ayah Peter melihat Noah menangis hingga berkali-kali. Kehilangan calon bayi yang kehadirannya bahkan belum ia ketahui, benar-benar melukai hati Noah.
“Ayah, aku telah bersalah… bersalah yang begitu besar pada Sea,” aku Noah.
Foto hasil USG milik Sea ikut bergetar seirama dengan getaran tangan Noah. Meski di foto tersebut hanya ada gambar titik kecil berwarna hitam, namun Noah yakin jika itu adalah calon buah hatinya yang kini telah tiada.
Dua pria beda generasi itu kini sedang berada di dalam mobil milik Noah. Harusnya kini mereka sedang menempuh perjalanan untuk kembali ke rumah sakit, hanya saja beberapa menit yang lalu Noah tiba-tiba saja menepikan mobilnya.
Pria itu membuka tas milik istrinya yang baru saja ia ambil di kantor polisi. Noah ingin melihat foto USG yang Sea bicarakan sebelumnya. Noah khawatir jika Sea yang masih kesal padanya tak akan menunjukkan foto hasil USG tersebut. Itulah sebabnya Noah memutuskan untuk melihatnya lebih dulu. Tak lupa Noah memotret ulang foto USG tersebut dengan ponselnya sebelum ia mengembalikan ke tempatnya semula.
...……………...
Ayah Peter membiarkan Noah memiliki waktu untuk merenungi kesalahannya. Pria paruh baya itu dengan tenang duduk di kursi penumpang tepat di samping Noah. Hingga sekitar 10 menit telah berlalu dan hanya helaan napas berat Noah yang terdengar.
“Kamu tahu apa yang dilakukan orang yang memiliki kesalahan?” Celetuk Ayah Peter.
Noah yang semula hanya memfokuskan pandangannya pada jalan besar yang cukup lenggang, kini beralih menatap ayahnya. “Meminta maaf?” jawabnya meski sebenarnya ia ragu.
Ayah Peter menggeleng. “Menghindari kesalahan yang sama agar tak terulang lagi,” ucapnya.
“Kau sudah kehilangan calon buah hati kalian, apa kau juga ingin kehilangan ibunya?” tanya Ayah Peter.
Noah menggeleng. “Tentu saja tidak, Ayah,” jawabnya.
“Lantas mengapa kau tak mencoba untuk memperbaiki hubungan kalian?” tanya Ayah Peter.
“Tak ada gunanya terus menyesali apa yang telah terjadi.” Ayah Peter sangat berharap putranya akan mengakhiri masa sedihnya.
Kehilangan bukan perkara mudah. Tapi, jika terus berlarut seperti ini, bukan tak mungkin jika Noah akan kehilangan semakin banyak hal.
“Waktu tak akan menunggumu pulih dan bangkit, Noah.” Jelas sang ayah.
“Selagi kau diam, menangis, dan menyesali semuanya, waktu terus bergerak maju. Ayah yakin kau akan kehilangan Sea, jika terus seperti ini!” Lanjutnya.
Noah mengusap wajahnya dengan kasar. “Katakan apa yang harus kulakukan, Yah?”
“Aku telah meminta maaf padanya. Kuakui kesalahanku, kutunjukkan ketulusanku dengan segala perhatianku padanya,” ujar Noah.
“Apakah Ayah tahu apa yang diinginkannya setelah semua itu?” Noah menatap ayahnya seolah ingin tahu apakah ayahnya itu bisa atau tidak menebak keinginan Sea.
“Dia ingin pulang!” imbuhnya.
__ADS_1
Kening Ayah Peter mengernyit. “Apa ada yang salah dengan permintaan, Sea?” tanyanya.
“Apa Ayah belum mengerti?” tanya Noah kembali.
“Dia ingin pulang tapi, bukan pulang bersamaku,” ucap Noah menjawab pertanyaannya sendiri.
“Kalau begitu biarkan dia pulang.” Ayah Peter lagi-lagi membuat putra semata wayangnya mendengkus karena ucapannya.
“Sekarang jujur pada Ayah, kau mencintai Sea?” tanya Ayah Peter yang membuat Noah memalingkan wajahnya.
“Jika kau tak ingin kehilangan Sea hanya karena ingin menebus kesalahanmu, maka biarkan dia pergi, “ ucap Ayah Peter.
“Jika tak mencintainya, setidaknya biarkan dia menemukan kebahagiaannya sendiri.” Nasihat Ayah Peter kali ini terdengar konyol di telinga Noah.
“Ayah yakin, banyak orang lain yang bersedia membahagiakan Sea,” imbuhnya lirih.
Noah tak memedulikan ucapan terakhir ayahnya. Tanpa sepatah kata yang terucap dari bibirnya, Noah kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Hatinya tak terima dengan nasihat ayahnya. Ada perasaan tak rela yang jauh lebih besar jika dibandingkan saat dirinya mendapati Alvio menyatakan cinta pada istrinya.
Berbeda dengan putranya yang berhasil ia buat kesal, Ayah Peter tampak tersenyum puas setelah memalingkan wajahnya ke samping. Ayah Peter dibuat kesal. Ia pikir setelah semua yang terjadi, putranya akan memahami bagaimana perasaannya pada istrinya.
Rupanya Noah kembali seperti dulu lagi. Sama seperti saat ia memutuskan untuk bersama Aneesa. Noah kembali menutupi perasaannya sendiri di balik rasa bersalahnya.
...………………...
Ayah Peter yang berjalan di belakang putranya sampai menggeleng, saat tak sengaja mendengar bisik-bisik beberapa orang perawat yang mengatakan iri pada wanita yang menjadi istri Noah. Pasalnya Dokter Noah yang terkenal dingin dan tegas itu, kini terlihat begitu rapuh.
“Ck… orang lain saja bisa melihat cintamu pada istrimu. Sedangkan kau masih tak ingin mengakuinya,” lirih Ayah Peter berucap sesaat sebelum ia berjalan mendahului putranya masuk ke ruang perawatan Sea. Noah hanya bisa menggeleng melihat tingkah sang ayah.
Mami Joanna menyambut kedatangan suami dan putranya dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir. Sea baru saja tertidur, setelah keduanya mengobrol banyak hal.
“Bagaimana keadaan Sea, Mi?” tanya Noah.
“Kamu begitu mencemaskan istrimu, ya? Memangnya apa yang bisa terjadi padanya, kau saja pergi tak lebih dari 3 jam,” jawab Mami Joanna.
“Mi… aku serius,” balas Noah.
“Sea jauh lebih baik. Kami mengobrol banyak hal,” ujar Mami Joanna.
Bukan jawaban seperti ini yang diharapkan Noah. Di dalam hati Noah, ada kekecewaan yang tak bisa ia utarakan. Sepertinya Sea lebih menerima kehadiran orang lain dibanding dengan kehadiranku.
“Syukurlah… apa Sea tak mengeluhkan sesuatu?”
__ADS_1
“Apa Sea mengatakan apa yang dia inginkan?”
“Apa Sea …”
Sebenarnya Noah masih ingin bertanya banyak hal pada ibunya mengenai Sea. Namun tatapan tajam sang Ibu menghentikan niatnya.
“Apa kalian tak saling bicara? Mengapa tak kamu tanyakan langsung saja padanya?” pertanyaan Mami Joanna berhasil membungkam Noah.
Pria itu tak menghiraukan pertanyaan sang Ibu. Noah lebih memilih untuk mendekat pada istrinya. Tampak senyum di wajahnya ketika ia melihat wajah teduh istrinya yang tertidur dengan lelapnya.
Saat melihat kedua orang tuanya asyik mengobrol, segera Noah mencuri-curi kesempatan untuk mengecup kening istrinya. Tak ada lagi kecanggungan yang ia rasa saat melakukan hal itu. Bahkan rasanya Noah ingin mengulanginya terus menerus.
“Tidurlah, Sea. Aku sudah kembali,” ucapnya berbisik.
...……………….....
Masih di tempat yang sama, di lantai 16 rumah sakit Pelita Harapan tampak seorang dokter wanita berjalan seorang diri setelah memeriksa kondisi salah satu pasiennya.
Alesandra, dokter cantik itu berjalan seorang diri di lorong rumah sakit yang cukup sepi. Entah mengapa malam itu tiba-tiba saja turun hujan. Suara petir sesekali bergemuruh dan berhasil mengejutkan Alesandra.
Angin yang berembus cukup kencang sepertinya mampu menembus dinding kokoh rumah sakit itu. Sesekali Alesandra dibuat meremang saking dinginnya.
Entah mengapa malam itu, koridor yang ia lewati sangat sepi. Tak ada perawat atau pasien yang berlalu lalang seperti malam-malam sebelumnya.
Alesandra sengaja semakin menekan langkahnya agar suara hak sepatu miliknya yang beradu dengan lantai bisa memecah keheningan malam itu. Sayangnya, keputusannya itu bukanlah hal yang tepat. Bulu kuduknya kembali meremang saat samar-samar ia mendengar ada suara tapak kaki yang lain selain miliknya.
Bahkan saat Alesandra sengaja menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, derap langkah itu semakin terdengar jelas.
“Siapa itu?” teriaknya dari tempatnya berdiri tanpa ingin menoleh kebelakang.
“Siapa di sana? Berhenti menakutiku! Awas saja sampai kutahu kau siapa!” Gerutunya.
Masih tak ada sahutan, hanya derap langkah saja yang ia rasa semakin jelas terdengar. Dengan segenap keberanian yang ia miliki, dokter cantik itu berbalik badan. Bersamaan dengan kilatan cahaya yang disusul suara gemuruh yang sangat nyaring.
“Aaaaaarrrggggghhhh….” Teriaknya. Segera Alesandra mengambil langkah seribu saat ia melihat bayangan di balik pilar besar yang tergambar jelas saat terkena kilatan cahaya tadi.
Wanita itu berlari sekuat tenaga ke arah lift tanpa ada niat untuk menoleh sekali lagi. Sementara dari kejauhan sesosok tubuh pria akhirnya muncul dari balik pilar. Pundak kekar pria itu terlihat bergetar karena menahan tawanya saat melihat tingkah konyol wanita yang sedang ia awasi.
“Lucu juga wanita itu,” gumamnya.
“Apa mungkin wanita menggemaskan seperti itu bisa melakukan hal yang kejam?” tanyanya pada diri sendiri sebelum kakinya mulai melangkah pergi.
“Dari pada melenyapkannya, bolehkah jika kuminta dia saja untuk menjadi mainanku pada bos?”
__ADS_1
...—————————————...