
Mendengar embusan napas Sea yang teratur sebagai tanda jika ia telah terlelap dalam tidurnya, membuat Noah akhirnya bisa membuka matanya kembali yang sejak tadi sengaja ia pejamkan.
Pikirannya menerawang, memikirkan kejadian hari ini. Juga bungkamnya Sea atas apa yang sedang ia rencanakan, membuat Noah rasanya sulit sekali untuk terlelap.
Sejujurnya tubuh pria itu sangat lelah hari ini. Antrian pasien yang cukup banyak hingga Noah harus makan siang di waktu sore. Ditambah lagi kejadian tak terduga yang ia temui saat pulang dari rumah sakit.
Noah menghela napas, tiba-tiba saja ia merasa bersalah pada Sea. Noah telah berbohong pada istrinya. Tak ada perkejaan lain di rumah sakit malam ini. Dirinya sengaja pulang lebih lama untuk menenangkan pikirannya. Namun,di perjalanan pulang kejadian tak terduga terjadi.
Malam itu kemacetan parah kembali terjadi. Entah apa penyebabnya, yang pasti banyak dari para pengendara sampai keluar dari mobilnya untuk memastikan kejadian apa yang menjebak mereka di sana.
Noah yang ingin bergegas agar segera tiba di rumah, akhirnya memutar kemudinya dan berbelok ke salah satu jalan alternatif yang ia ketahui. Benar saja, jalanan di sana cukup sepi.
''Sepertinya banyak yang belum tahu jika di ujung jalan ini ada tembusan menuju jalan utama,” gumam Noah.
Melewati jalan ini membuatnya mengingat sosok anak laki-laki kecil yang dahulu ia temui. “Izzan, sudah lama aku tak bertemu dia. Bagaimana kabarnya, ya?” monolog Noah.
Noah teringat akan ucapan Izzan yang mengatakan jika rumahnya berada tak jauh dari jalan itu, tepatnya di bawah jembatan besar. Entah mengapa saat melewati jalan tersebut, Noah tergerak untuk memandang keramaian yang sedang terjadi di sana.
“Apa memang selalu seramai itu?” tanya Noah pada dirinya sendiri.
Seperti ada yang meminta Noah untuk menepikan mobilnya. Setelah mobilnya berhenti sempurna, Noah lantas turun dan mempercepat langkahnya menuju kerumunan yang.
Noah menelan salivanya, ia mulai panik saat melihat beberapa orang wanita paruh baya menangis, meraung-raung di tepi jalan. Banyak pula aparat keamanan yang bergantian menggandeng anak-anak seusia Izzan.
“Bang, ini ada kejadian apa? Ramai banget,” tanya Noah pada seorang pemuda yang sedang berdiri menonton keriuhan yang terjadi.
“Penggusuran, Bang,” jawabnya.
Noah tercengang. “Pe-penggusuran?”
“Iya, Bang. Akan ada perluasan jalan di bawah jembatan. Semua bangunan di sini memang tak memiliki izin, digusur seperti ini pun mau tak mau harus diterima,” jelasnya.
Noah hanya mengangguk, tak bisa berkomentar apa-apa. Sepertinya kemacetan di jalan raya tadi juga sebagian karena penggusuran ini, pikirnya.
__ADS_1
Noah mengamati sekelilingnya. Ia ikut sedih melihat beberapa orang sedang mengumpulkan barang-barang yang mereka anggap berharga hanya dengan selembar sarung.
Antara bersyukur karena dirinya juga keluarganya masih diberikan nikmat yang cukup hingga bisa terhindar dari situasi seperti ini. Di sisi lain ia ikut prihatin melihat semua orang-orang di sana harus mengalami kesulitan seperti saat ini.
Suara tangis seorang anak laki-laki mengejutkan Noah. Sontak pria itu mencari-cari dari mana sumber suara tersebut.
“Izzan,” lirihnya.
Dilihatnya seorang anak laki-laki yang sedang menangis dalam gendongan seorang pria dengan kemeja dan rompi berwarna coklat. “Hei … hei … tunggu sebentar!” Noah menghentikan langkah pria itu.
“Ya, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?” tanya pria itu ramah.
Sementara Noah hanya mengamati wajah anak laki-laki yang berderai air mata di gendongan si pria. Bukan Izzan, syukurlah. Batin Noah.
“Kenapa anak ini menangis? Dan Anda mau bawa kemana anak ini?” tanya Noah.
“Setelah dilakukan pendataan, rupanya anak ini tak memiliki sanak saudara. Kami dari dinas sosial akan mengambil alih untuk penanganannya,” jelas pria yang rupanya seorang petugas dari Dinas Sosial.
Noah menganggukkan kepalanya. Lalu sedetik kemudian pandangannya kembali ia edarkan ke sekeliling. Noah mencari Izzan. Pembicaraan mereka saat pertama dan terakhir kali, Noah bisa menyimpulkan jika anak itu bernasib sama seperti anak tadi.
“Permisi, apa Anda mengenal Izzan? Anak laki-laki yang biasanya menjual minuman dingin dan rokok.” Tak putus asa, Noah terus bertanya pada siapa pun yang ia temui.
“Ekhem ….” Pria yang mengenakan baju tanpa lengan hingga otot-otot bisepnya bisa terlihat berdeham.
Kening pria berotot itu mengernyit seraya menelisik tampilan Noah. Mulai ujung kepala hingga ke ujung kaki, ia pandangi Noah berulang kali. “Eh, Lu!” tunjuknya pada Noah.
“Lu gak bakalan nemuin orang yang kenal dengan Izzan,” celetuknya.
“Kecuali Abang?” tanya Noah dengan sarkas.
Pria berotot tadi menggeleng. “Gue juga gak kenal dengan anak yang namanya izzan,” jawabnya.
Noah sudah hendak pergi dari sana, andai saja pria berotot tadi tidak mencegahnya. “Tapi jika anak yang lu cari adalah Si Maman, lu udah terlambat.”
__ADS_1
“Terlambat? Abang kenal dengan Izzan? Eh, maksudku Maman?”
“Maman yang biasanya dagangin rokok gue. Anak itu sudah dibawa oleh bapak-bapak petugas, katanya biar bisa tinggal di tempat yang lebih layak.”
“Cih!” Pria itu berdecih seraya menyampaikan ketidak setujuannya melalui Noah.
Noah hanya mengangguk, tak tahu harus berkomentar apa. Jujur saja, Noah pun dilema dibuatnya. Ia pikir kehidupan Izzan memang akan lebih baik jika dalam penanganan Dinas Sosial. Sisi lain, ia yakin anak seusia Izzan akan mengalami kesulitan untuk membiasakan diri dengan hal dan kebiasaan baru.
Malam itu sebelum pergi, Noah sempat menanyakan pada petugas ke mana anak-anak tersebut akan dibawa. Ia berencana untuk menemui Izzan nantinya.
...……………….....
Hari yang dinanti Sea telah tiba. Hingga tiga hari berlalu, Sea masih memilih merahasiakan semuanya. Pilihannya tetap sama. Ia akan melakukan tes kesuburan seorang diri.
Janjinya bersama Dokter Frisha pagi ini adalah pukul 10. Namun Sea sudah berada di sana sejak pukul 9 pagi. Tak seperti sebelumnya yang mengendap-endap, hari ini ia bisa cukup santai.
Pagi tadi Noah mengabarinya jika ia akan sulit dihubungi karena jadwal operasi yang akan memakan waktu cukup lama. Setidaknya Sea memiliki waktu satu jam lagi sebelum Noah selesai dengan kegiatan operasinya.
“Dokter Frisha,” seru Sea menyapa.
“Hai, Sea. Wajahmu tampak bersemangant hari ini,” balas Dokter Frisha.
“Duduklah dahulu. Sebelum memulai tes kesuburan untukmu, aku akan membacakan hasil tes laboratorium-mu,” lanjutnya.
Sea menarik napas panjang. Bukankah tiga hari terakhir ia sudah siapkan mentalnya untuk hari ini, pikir Sea. Harusnya dia bisa menerima dengan berbesar hati apa pun yang terjadi hari ini.
“Dari hasil tes darahmu, secara keseluruhan hasilnya baik.” Jelas Dokter Frisha.
“Aku sarankan un-“ ucapan Dokter Frisha terpaksa berhenti saat pintu ruangannya dibuka dari luar.
“Sayang! Kumohon berhenti,” ucap Noah yang berdiri di ambang pintu.
“Phiu, Sayang?!” pekik Sea.
__ADS_1
“Stop! Kumohon,” pinta Noah sekali lagi.
...—————-...