Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 40. Apakah ini nyata?


__ADS_3

“Akh… berisik sekali!” Sea menggerutu dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun tidur. Satu tangannya meraba ke atas nakas yang berada tepat di sisi tempat tidurnya.


Saat benda pipih yang dicarinya berhasil ia raih, masih dengan kedua netra yang terpejam Sea menekan tombol kecil di sisi gawainya.


“Berhasil! Yes!” Hanya dengan sekali tekan akhirnya bunyi memekik dari benda itu terhenti.


Sesaat keadaan di kamar yang didominasi dengan warna light blue kembali hening. Si empunya kamar kembali memejamkan netranya rapat-rapat. Entah mengapa pagi ini rasa nyaman mendera batinnya hingga wanita itu enggan untuk beranjak bangun.


“Mas Noah, buktikan cintamu padaku!” Dalam tidurnya Sea bergumam dan sedetik kemudian wanita itu terlonjak bangun dan langsung terduduk.


“Mas Noah!” Pekiknya.


Ia edarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar yang menjadi saksi betapa beratnya perjalanan hidup seorang Seanna Filia. Kamar yang menyimpan banyak tangisan wanita itu.


“Apa itu cuma mimpi? Namun, kenapa terasa sangat nyata.” Dalam tidurnya Sea seperti bisa mendengar Noah berkali-kali menyatakan cinta padanya.


Sea bahkan memegangi keningnya saat mengingat-ingat, jika Noah juga sempat mengecup di tempat itu. Entah itu mimpi atau nyata, yang pasti hati Sea menghangat karena perlakuan manis dan pengakuan cinta dari suaminya.


Sayang seribu sayang, saat ia terjaga dari tidur yang nyaman itu, tak ada sosok Noah di sisinya. Sea semakin yakin jika dia sangat merindukan Noah hingga bermimpi jika pria itu berada di dekatnya.


Ada kekhawatiran dalam benaknya jika rindu untuk suaminya semakin menguasai hati dan pikirannya. “Lama-lama aku benar-benar bisa gila karena rindu!” gumam Sea.


Bunyi memekik kembali terdengar dari gawainya. Rupanya bunyi yang sejak tadi mengganggu tidur nyenyaknya adalah bunyi alarm dari ponsel yang sengaja disetel untuk membangunkan pemiliknya.


Sea tercengang saat melihat waktu yang ditunjukkan oleh ponselnya. “Astaga! Aku telat,” Sea memekik sebelum akhirnya beranjak turun dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Karena terburu-buru mengejar waktu Shalat Subuh, Sea tak menyadari beberapa perubahan yang terjadi di dalam kamar mandinya. Yang terpikirkan olehnya hanya segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Maka, setelah selesai dengan ritual mandinya, Sea segera berwudhu lalu menunaikan kewajibannya. Beberapa saat kemudian, dua rakaat Shalat Subuh telah selesai ia tunaikan dengan khusyuk. Kini wanita itu duduk bersimpuh, menengadahkan tangannya, lalu mulai berdoa pada Sang Pencipta.


“Ya Allah, tuntun aku untuk menghilangkan semua ragu dalam hatiku.”


“Engkau Maha Mengetahui isi hati ini yang sesungguhnya. Aku mohon, dekatkanlah aku pada apa yang menjadi pilihan terbaik untukku,” pinta Sea dalam doanya pada Sang Pemilik Kehidupan.

__ADS_1


Ada ketenangan dalam batinnya tiap kali ia selesai berkeluh kesah dalam doa. Ditatapnya langit yang tak lagi gelap. “Ayo, Sea… semangat!” ujarnya.


Setelah ini, seperti biasa Sea akan bersiap untuk berolahraga. Jalan kaki berkeliling di area sekitar rumahnya tak akan pernah terasa membosankan. Panorama indahnya pantai dengan pasir putih akan terus memanjakan matanya.


Saat Sea menyimpan mukenanya di tempat semula, ia dibuat terkejut saat melihat ada sarung yang sangat ia kenali. Sarung yang biasa digunakan Noah saat ia Shalat.


“Apa aku tak bermimpi? Apa kehadiran Mas Noah benar-benar nyata? Apa semua kebersamaan kami nyata? Termasuk pernyataan cinta itu?” Sea mencecar dirinya sendiri dengan banyak pertanyaan.


Sea sempat terduduk di tepian ranjang. Ia amati kamarnya kembali dan berhasil ia temukan beberapa jejak kehadiran Noah di sana. Senyum di wajahnya mengembang. “Jadi, Mas Noah benar-benar ada di sini,” ucapnya senang.


“Lalu, di mana dia sekarang?”


Sea tetap bersiap, mengenakan pakaian olah raga miliknya. Saat keluar dari kamarnya, Sea sempat menatap pada kamar tamu yang masih tertutup rapat. “Sepertinya yang lain masih tidur.”


Sebelum benar-benar pergi berolahraga, Sea menyempatkan berkeliling rumahnya untuk mencari keberadaan suaminya. Mulai dari dapur hingga ke ruang keluarga, tak ia temukan sosok Noah. Bisa didengar helaan napas Sea karena kecewa.


Tak tahu saja wanita itu, jika kejutan menantinya di balik pintu depan rumahnya. Ketika Sea membuka pintu, pemandangan seorang pria tampan yang tampak semakin gagah dengan setelan olahraga sudah menantinya di sana.


“Aku mencarimu ke mana-mana!” Pekiknya dengan senyum yang tak bisa dicegah.


“Kamu mencariku?” tanya Noah memancing lawan bicaranya untuk mengakui perasaannya.


Sea mengangguk seperti anak kecil. Tampak sangat menggemaskan di mata Noah.


“Benarkah?” tanya Noah semakin melancarkan aksinya agar Sea mau berkata jujur akan perasaannya.


Wanita cantik dengan rambut yang dikuncir satu itu mengangguk sekali lagi. “Tentu saja aku mencarimu. Saat aku bangun, kamu tak ada di mana-mana. Aku bahkan sempat mengira jika semua itu hanya mimpi.” Sea mencebik setelah mengakhiri ucapannya.


Noah tak tahan! Sea sungguh menggemaskan, pikirnya. Hanya dengan satu langkah lebar dari kedua kaki jenjangnya, pria itu sudah mengikis jarak di antara mereka.


Noah mengagumi kecantikan alami yang dimiliki istrinya. Bibir wanita itu yang mencebik seakan menantang Noah untuk bertindak lebih jauh. Akh, apa maunya bibir itu? Batin Noah. Tatapannya masih terkunci pada bibir merah muda Sea.


Namun Noah masih tak berani melakukan hal lebih jauh lagi. Nyalinya masih sebatas mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas lalu berakhir mengecup keningnya.

__ADS_1


Cup.


“Aku senang karena kamu mencariku,” ucap Noah.


“Jangan khawatir, mulai sekarang aku akan terus berada di sisimu,” imbuhnya.


Rona merah mudah menghiasi kedua pipi Sea. Akh, semakin cantik dan semakin menggemaskan.


Menaikkan satu tingkat keberaniannya, Noah mengecup kembali kening istrinya. Lalu kecupan itu turun ke kedua pipi Sea secara bergantian. Tangannya pun melingkari pinggang ramping wanitanya.


Noah menelan salivanya sekali sebelum wajahnya perlahan mendekat ke wajah istrinya. Targetnya kini bibir merah muda yang sejak tadi seolah menantang dirinya.


“Ekhem….” Belum sempat kedua bibir saling menyapa, dehaman seorang pria mengacaukan segalanya.


Noah dan Sea segera mengambil jarak dan tampak salah tingkah juga malu-malu.


“Kalian akan berolahraga?” tanya Owen. Pria yang sudah mengganggu suasana romantis sepasang suami istri itu.


“Tahu dari mana jika kami akan berolahraga?” tanya Noah mengundang tawa Owen.


“Hanya menebak. Kupikir kalian tak mungkin akan berenang ke pantai dengan pakaian seperti itu,” jawab Owen.


Sea menggeleng menyadari satu lagi keajaiban tingkah Noah pagi ini. “Mau ikut bersama kami?” tanya Sea menatap Owen yang juga sudah berpakaian olahraga.


“Boleh. Dengan senang hati,” ujar Owen. Pria itu lalu berjalan lebih dulu mendahului pasangan suami istri Sea dan Noah.


Sea menyusul di belakang Owen, meninggalkan suaminya yang tiba-tiba saja berdiri mematung di tempatnya.


Senyuman tipis di wajah Noah terlihat saat pria itu mengingat obrolannya bersama sahabatnya semalam. “Apa aku telah salah mengambil keputusan?” gumamnya lirih seraya menatap bergantian punggung Owen dan Sea yang berjalan menjauh.


“Tenanglah Noah… percaya pada Sea. Istrimu tak seperti wanita lain yang mudah jatuh cinta. Jangan khawatir dan percaya saja jika dirimu bisa membuka hati Sea sekali lagi,” monolognya.


...------------------...

__ADS_1


__ADS_2