
Tujuh bulan berlalu ….
Sebenarnya pagi ini tak jauh berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di kediaman keluarga Myles. Sea … yang kini lebih akrab dipanggil Mami oleh seisi rumah, setiap pagi akan disibukkan dengan kegiatannya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Seminggu yang lalu, proses persidangan untuk mengadopsi Izzan sebagai anak angkat Sea dan Noah telah mendapatkan putusan yang sesuai dengan harapan semua orang. Izzan pun sudah tinggal di kediaman keluarga Myles dan tak harus kembali lagi ke panti asuhan.
Setelah memastikan suaminya sudah siap dengan pakaian dan tas kerjanya, Sea lalu bergegas menuju ke kamar putranya. Ya, benar … putranya. Tiap kali memikirkan hal itu, membuat Sea tak pernah henti merasakan syukur dan bahagia.
Pintu kamar Izzan tak tertutup rapat. Dari celah pintu, Sea bisa melihat putranya itu masih duduk melamun di meja belajarnya.
Hari ini adalah hari pertama Izzan akan bersekolah di salah satu sekolah swasta unggulan pilihan Noah dan Sea.
Tok … tok … tok ….
“Boleh Mami masuk?” tanya Sea dari depan pintu.
Izzan menoleh ke arah pintu. Dilihatnya sang ibunda berdiri di sana. Malaikat tak bersayap yang datang ke dalam hidupnya.
“Tentu saja, Mi.”
Sea masuk dan duduk di tepi tempat tidur yang menyerupai bentuk mobil. “Ke mari, Nak.”
Izzan pun beranjak dari tempatnya. Ia duduk tepat di sisi Sea. Dengan lembut Sea membelai puncak kepala putranya.
“Ada apa? Anak Mami, kenapa tak ceria seperti biasanya?” tanya Sea.
Senyum mengembang di wajah Izzan. “A-apa tak masalah aku bersekolah di sana?” jawab Izzan dengan pertanyaan pula.
“Tentu saja tak ada masalah,” jawab Sea dengan senyum.
“Memangnya apa akan ada masalah jika putra kesayangan mami bersekolah di sana?” lanjut Sea bertanya hal apa yang membuat putranya gusar.
Izzan menggeleng. “Hanya saja, apa aku boleh bersekolah di sana? A-aku kan hanya-“
Belum selesai ucapan Izzan, Sea sudah meletakkan telunjuknya di depan bibir anak itu. Meminta Izzan untuk berhenti bicara.
“Izzan adalah anak Mami dan Papi yang paling hebat. Izzan anak kesayangan Mami, Papi, Oma, dan Opa,” ucap Sea.
“Ingatlah, semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Ini yang utama,” lanjutnya.
__ADS_1
“Apa yang membedakan?” tanya Sea lagi.
“Ketakwaan kita kepada Sang Pencipta,” ucap Izzan dan Sea bersamaan. Kemudian Ibu dan anak itu saling melempar senyum.
“Jadi, apa anak Mami sudah siap untuk hari pertama sekolah?” tanya Sea setelah berdiri.
Izzan mengangguk. “Ya, Mami. Aku siap!”
“Bagus! Ini baru anak Mami dan Papi.”
“Ayo, kita harus turun sekarang. Papi dan Opa pasti sudah kelaparan menunggu kita,” ajak Sea pada putra angkatnya itu.
...……………....
Satu bulan sejak Izzan, secara hukum telah ditetapkan sebagai putra angkat pasangan Sea dan Noah. Izzan mulai terbiasa dengan kehidupannya yang baru.
Memiliki Noah dan Sea sebagai orang tua yang penuh kasih sayang dan perhatian. Memiliki Opa Peter dan Oma Joanna yang begitu memanjakannya. Ada Bibi Phila dan Paman Sandy yang selalu mengajaknya bermain. Rasanya kehidupan Izzan yang sekarang begitu sempurna.
Pagi ini kediaman keluarga Myles sangat sibuk. Mereka semua akan berangkat ke kota X siang ini. Dari yang Izzan dengar, sahabat Mami dan Papi-nya akan menikah dua hari lagi.
Ueeekk ….
Ueeekk ….
“Mami … Mami!” Serunya. “Mami di mana?”
Tak ada jawaban yang ia dapatkan, Izzan mulai dilanda kekhawatiran.
Ueeekk ….
Ueeekk ….
Suara aneh itu lagi yang terdengar olehnya.
Perlahan Izzan mengikuti dari mana datangnya suara itu. Benar saja, semakin ia dekat dari kamar mandi suara itu semakin terdengar jelas. Betapa terkejutnya Izzan saat ia melihat Mami-nya sedang muntah di wastafel kamar mandi.
Segera Izzan berlari keluar kamar untuk memaggil Noah. “Papi … Papi!” Teriaknya.
“Izzan … ada apa, Nak?” tanya Noah yang sedang menikmati secangkir kopi bersama sang ayah.
__ADS_1
“Ma-mami sakit!” jawabnya dengan memekik.
“Hah?!” Sontak semua orang menjadi panik.
Semuanya berlari menuju kamar Sea dan Noah. Saat mereka tiba, Sea sudah duduk bersandar di sofa kamar.
Noah, Ayah Peter, Mami Joanna, bahkan Izzan semakin panik saat melihat wajah Sea yang penuh linangan air mata.
“Sayang, ada apa?”
“Bilang sama aku, mana yang sakit?” cecar Noah pada istrinya.
Sea menggeleng, namun tangisnya tak kunjung henti.
“Lalu, mengapa kamu menangis?” tanya Noah.
“I-i-ini, Mas” Sea meletakkan benda pipih berwarna merah muda dan putih di atas telapak tangan Noah.
Saat melihat dua garis merah pada benda pipih tersebut, kedua netra Noah juga turut berkaca-kaca.
“Sa-sayang, ini … ini … artinya kamu-“ Rasanya Noah tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia terlalu bahagia.
“Ya, Mas!” Sea berusaha menjawab di sela-sela isak tangisnya.
“Aku hamil, Mas!” pekik Sea menyela ucapan sang suami.
“Alhamdulillah,” seru Ayah Peter dan Mami Joanna bersamaan. Mereka begitu bersemangat dan juga sangat bahagia.
Izzan pun tak kalah bahagianya. Anak itu segera berhambur memeluk Sea. “Selamat, Mami. Mulai sekarang aku janji akan lebih menjaga Mami dan adik bayi.”
Noah begitu terharu melihat pemandangan di hadapannya. Ia lantas membawa keduanya dalam pelukannya.
“Ya … Papi juga berjanji, akan menjaga kalian, akan melindungi kalian.”
“Papi sangat mencintai dan menyayangi kalian,” ucap Noah sebelum mengecup kening istrinya, kening putranya, dan terakhir perut istrinya yang masih rata.
“Terima kasih sudah melengkapi hidup Papi. Kalian adalah harta paling berharga yang Papi miliki,” ungkap Noah dan semakin mempererat pelukannya.
...END....
__ADS_1