
Tiga bulan yang lalu….
Wanita dengan gaun merah terlihat berjalan tertatih keluar dari lobi sebuah hotel. Wajahnya tampak tak karuan. Ia bahkan tak peduli pada cibiran dari beberapa orang yang berpapasan dengannya.
Beberapa kali ia menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Tangannya bergetar, rasanya sulit sekali untuk menggenggam kemudi. Seperti ia tiba-tiba saja terserang tremor pada kedua pergelangan tangannya.
Jika terus begini, bagaimana aku akan pergi, ungkapnya dalam hati. Putus asa? Ya… dia mulai putus asa.
Tekadnya sudah bulat, tak boleh ada yang tahu kejadian malam ini. Seandainya saja ia mampu, mungkin ia telah menghapus semua memorinya malam ini.
“Tenangkan dirimu, Tessa!” Berkali-kali kalimat itu ia gumamkan untuk menenangkan dirinya.
“One Night Stand itu bukanlah apa-apa. Selama kamu bisa menghindari pria itu, semuanya akan baik-baik saja- saja.” Tangannya menepuk-nepuk kepalanya, mengira hal itu bisa mengeluarkan sebagian ingatannya.
Beberapa saat setelah itu, Tessa akhirnya berhasil menguasai dirinya. Merasa pikirannya sudah cukup tenang, barulah ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan hotel. Harapannya semoga tak ada jejak yang ia tinggalkan di sana agar Alfio, pria yang menghabiskan malam dengannya itu tak mengetahui siapa dirinya.
...………....
Setibanya di rumah, Tessa segera membersihkan tubuhnya. Jejak percintaan antara dirinya dan Alfio tak hilang begitu saja. Meski kulitnya terasa perih karena ia terus mengusapnya dengan keras, tak juga menghentikannya untuk terus melakukannya.
Di dalam kamar mandi ia terus menyakiti dirinya sendiri. Bagian leher juga dadanya menjadi korban. Hal itu ia lakukan agar dirinya memiliki alasan untuk terus menitikkan air mata.
“Perih,” keluhnya di sela-sela tangisannya.
Cukup lama Tessa mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri untuk megurangi rasa dingin. Air matanya ikut luruh bersama dengan air yang mengaliri tubuhnya. Dinginnya air lama kelamaan mulai menusuk hingga ke tulangnya.
Namun semua itu diabaikan oleh Tessa. Pikirannya sibuk berandai-andai, mengenai hal paling buruk yang akan menimpanya di kemudian hari. Sebagai akibat dari apa yang terjadi malam ini.
..................
Tessa berusaha bersikap biasa saja. Seolah-olah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Setelah bersiap, Tessa bergabung bersama kedua orang tuanya untuk sarapan.
“Pagi Pi, pagi Mi.” Ia kecup pipi kedua orang tuanya lalu duduk di bangku yang selalu ia tempati selama ini.
“Kamu gak siap-siap ke kampus?” tanya ibunya.
Tessa menggeleng. “Tidak. Aku lelah, Mi.”
“Lelah?” Kening wanita paruh baya itu mengernyit. “Kamu kebanyakan mainnya,” komentar sang ibu.
“Ya, Mami benar…” jawab Tessa yakin.
__ADS_1
“Dan Kalian juga terlalu banyak pekerjaan. Hingga kita jarang berkumpul seperti ini,” lanjutnya tanpa memandang wajah kedua orang tuanya.
Meski apa yang dikatakannya benar. Namun ucapan Tessa itu, tetap saja melukai hati kedua paruh baya yang sontak saling menatap.
“Sayang, kamu kan tahu… bukannya kami meninggalkanmu dengan sengaja. Kami bekerja, sayang.” Wanita yang dipanggil Tessa dengan sebutan Mami itu merasa hatinya tercubit saat mendengar isi hati putrinya.
“Ya, aku tahu Mami. Aku tak mempermasalahkannya, aku hanya mengatakan kenyataannya saja,” balas Tessa.
Sudah lebih dari 20 tahun keluarga mereka hidup dalam keadaan seperti ini. Segala kesibukan kedua paruh baya ini dalam berbisnis, terkadang membuat Tessa merasa sangat sedih dan kesepian. Hanya saja, baru pagi ini Tessa mengungkap kekecewaannya.
“Ekhem,” dehaman dari Ayah Tessa membuat dua wanita beda usia itu bungkam.
“Tessa sayang, apa yang dikatakan Mami kamu itu benar. Semua yang kami lakukan, semata-mata hanya untukmu,” ungkapnya dengan lembut seraya menatap pada Tessa.
Sedetik kemudian pria paruh baya berkacamata itu menoleh pada istrinya. “Mami, apa yang dikatakan putri kita juga benar. Kita sangat sibuk dengan pekerjaan, sepertinya kita butuh istirahat sejenak.”
Sesaat tampak ia menganggukan kepala pada istrinya. “Berlibur bersama sepertinya akan menyenangkan,” usulnya.
“Ya, ide itu sangat bagus Pi,” sahut Ibu Tessa dengan riang. Berharap putrinya akan kembali ceria seperti biasanya saat mereka bertemu.
“Bagaimana menurutmu, sayang?” wanita paruh baya itu menangkap gelagat aneh dari putrinya.
“Kita akan pergi berlibur kapan pun kamu ingin,” timpal sang ibu.
Tessa merasa tak enak hati pada kedua orang tuanya. Pasalnya, wanita itu malah melampiaskan kekesalannya pada mereka.
Sepertinya aku sudah menyakiti hati Papi dan Mami, batinnya.
Senyuman manis berusaha Tessa berikan pada kedua orang tuanya. Ia ingin menebus kesalahannya. “Ya, pasti akan menyenangkan berlibur bersama. Terima kasih Papi, Mami.”
Meski begitu, senyuman manisnya tak bertahan lama saat bayangan kejadian semalam kembali terlintas dalam benaknya. Mereka akan semakin kecewa padaku jika tahu apa yang telah terjadi semalam, batin Tessa merasa sedih.
Tessa kembali menunduk, sulit sekali menatap netra kedua orang tuanya. Ia merasa bersalah, terlebih jika mengingat kesalahannya kali ini tak akan sirna begitu saja. Hal ini akan terus melekat padanya.
Bagaimana aku akan menghadapi Alfio, Sea, dan yang lainnya? Harusnya aku tak perlu menolong pebinor si*lan itu agar aku tak perlu mengalami ini semua, sesalnya.
“Tessa… apa kamu baik saja, Nak?” raut wajah khawatir terlihat jelas saat sang ibu bertanya padanya.
Tessa mengangguk, “Aku baik-baik saja, Mam. Aku hanya memikirkan bagaimana serunya liburan keluarga kita nanti,” kilahnya.
Liburan? Hemm… mungkin aku memang memerlukan hal ini, pikirnya tiba-tiba.
__ADS_1
“Pi… Mi… bolehkah jika aku meminta kita berlibur dalam waktu dekat?” tanyanya ragu.
Kening ayahnya mengernyit meski senyum tetap terpatri di bibirnya. “Boleh saja, Papi akan mengusahakan yang terbaik.”
“Apa kita bisa berangkat ha-hari ini?” pintanya ragu.
“Hari ini?” sang ayah tampak terkejut dengan permintaan putrinya.
Sementara ibunya merasa kian curiga jika sesuatu telah terjadi pada putrinya. “Kamu baik-baik saja kan, Nak? Apa ada masalah?” tanya ibunya dengan lembut.
Tessa menggeleng, “Tak ada. Tak terjadi apa pun. Aku hanya merindukan kalian.”
“Kamu ingin kita berlibur ke mana?” gantian sang Ayah yang kini bertanya.
“Ke mana saja tak masalah. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama Papi dan Mami,” jawab Tessa.
...…………….....
Sesuai permintaan Tessa, selama 10 hari keluarganya berlibur di luar negeri. Wanita itu menjalankan perannya dengan sangat baik. Ia tampak sangat menikmati liburannya, hingga kedua orang tuanya berpikir jika yang telah membuat putrinya bersedih memang adalah mereka.
Jika sesuai jadwal, Tessa harusnya kembali saat liburan usai. Sedangkan orang tuanya harus bertandang ke negara lain lagi untuk sebuah pertemuan bisnis. Namun wanita itu bersikeras untuk ikut serta bersama kedua orang tuanya.
Sepuluh hari berlibur, Tessa tak pernah melewatkan satu malam pun tanpa memikirkan malam yang ia lewatkan bersama Alfio. Hingga ia memutuskan untuk pergi menjauh lebih lama. Menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya adalah pilihannya, mengingat jika kebersamaan mereka juga terbilang hal yang langka.
Hingga dua bulan berselang, akhirnya Tessa kembali. Hati dan pikirannya sudah lebih baik. Kerinduan pada kedua sahabatnya tak terbendung lagi. Hal itu menjadi penyemangatnya untuk segera pergi ke kampus sehari setelah hari kepulangannya.
Namun semua usahanya sia-sia, saat yang ia temui pertama kali adalah pria itu. Pria yang coba ia lupakan selama dua bulan terakhir.
“Kita harus bicara!” ucapnya.
Tessa menggeleng seraya berdecak. Dalam hati ia memaki tingkah angkuh pria di hadapannya.
“Tak ada yang harus dibicarakan,” balasnya juga tak ramah.
Namun bukan Alfio jika tak pemaksa. Si*lnya, setelah pertemuan keduanya kala itu… bukannya Tessa bisa merasa lega. Yang terjadi wanita itu semakin dilema akan pilihannya.
Apakah ia telah memilih yang terbaik atau pilihannya akan membuatnya menyesal nanti.
Si*l!!! Aku membencinya! Jerit Tessa dalam hati.
...———————-...
__ADS_1