Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 36. Aku mencintainya!


__ADS_3

“Akhirnya…” seru Noah ketika mendengar suara Adzan Subuh berkumandang.


Pria itu tak perlu menyetel alarm untuk membuatnya terjaga, sebab memang sejak semalam dirinya belum tertidur meski hanya sedetik.


Terlalu banyak kenangan di kamar itu yang membuatnya semakin merindukan Sea. Ranjang tempat ia merebahkan tubuhnya saat ini adalah ranjang yang sama yang telah menjadi saksi bisu saat ia menyerang Sea dengan penuh n*fsu malam itu.


Di dalam kamar mandi, saat hendak berwudhu, Noah menatap pantulan bayangan dirinya pada cermin.


“Kesalahan apa yang kau maksud, Noah?” tanyanya pada dirinya sendiri.


Lebih tepatnya Noah sedang mencibir dirinya sendiri. Pria itu mengingat kejadian pada suatu pagi. Tepat setelah malam sebelumnya, ia dengan gagah perkasa menggagahi istrinya secara paksa.


Pagi itu, niat hati Noah ingin meminta maaf pada Sea. Namun egonya tersentil saat melihat tatapan tak bersahabat dari istrinya kala itu. Alhasil, pagi itu yang terucap dari bibirnya sukses memporak-porandakan hati Sea. Bagai sebuah belati yang sangat tajam, Noah menyadari jika ucapannya telah menyayat-nyayat hati Sea.


Tangan Noah yang mengepal erat telah meninju cermin besar di hadapannya hingga retak. Noah tak kuasa menahan ledakan emosinya kala mengingat betapa hinanya perbuatannya dulu.


“Kau sungguh menjijikkan, Noah!” Pria itu bahkan memaki dirinya sendiri, tak peduli dengan darah segar yang sudah mengalir melewati buku-buku jarinya.


Tak perlu khawatir dengan rasa perih di punggung tangan Noah, sebab hatinya jauh lebih sakit sekarang. Hatinya seperti kosong, walau baru ditinggal oleh Sea beberapa jam saja. Semakin lama semakin banyak kesalahannya pada istrinya yang baru ia sadari.


Beruntung lokasi masjid tak jauh dari kediaman keluarga Myles. Jadi saat Iqamah berkumandang, Noah bisa mendengarnya dengan jelas. Pria itu tersentak, ditatapnya kekacauan yang ia timbulkan. Sementara dirinya hanya bisa menghela napas berat setelahnya.


Profesinya sebagai dokter cukup membantu Noah untuk memberikan pengobatan pada luka di punggung tangan kirinya. Luka yang timbul karena ulahnya sendiri.


Setelah selesai membalut lukanya, barulah Noah beranjak untuk menyucikan diri kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Seperti seminggj terakhir, dalam doanya kali ini, Noah kembali menyebut nama Seanna Filia… istrinya.


“Di mana pun dirinya berada kini, kumohon Tuhan… jaga dia untukku. Bukakanlah pintu hatinya agar mau menerima dan memberi maafnya padaku.” Noah berdoa dengan khusyuk.


Bayangan wajah teduh dengan senyuman menenangkan istrinya terbayang di pelupuk matanya.


“Izinkan kami berdua kembali bertemu, jika itu adalah kehendakMu. Mudahkanlah jalan kami untuk kembali bersama, jika itu adalah keputusan terbaik dariMu,” pinta Noah. Doanya ini benar-benar berasal dari dasar hatinya.


Noah melipat sarung dan sajadah yang telah ia gunakan. Saat meletakkannya di pinggiran sofa, Noah mendapati mukenah yang sehari-hari Sea gunakan. Rasa rindu akan kehadiran Sea kembali menyeruak hingga ke relung terdalam hatinya.


“Huf… kamar ini menyimpan terlalu banyak kenangan akan sosok dirinya,” keluh Noah.


Noah khawatir jika terus belama-lama di dalam kamar, maka dirinya tak akan kuasa menahan sesak dalam dadanya. Ia putuskan untuk duduk di halaman belakang rumahnya.


“Menikmati keindahan langit saat terbit sang fajar, sepertinya pilihan yang cukup baik,” gumamnya.


Awalnya, saat ia tiba di sana warna langit masih gelap. Hanya dengan pencahayaan dari lampu taman, Noah duduk dengan nyaman dan sabar menanti datangnya sang fajar. Dinginnya udara saat itu, tak berhasil mengusiknya. Hati Noah jauh lebih dingin dari suhu pagi itu.


Tanpa bisa dicegah, pikirannya kembali membawa ingatan akan Sea. Lagi dan lagi, Sea menghantui benaknya. Senyum Noah mengembang saat mengingat, jika di waktu-waktu seperti saat inilah ia terkadang berhasil mencuri satu kecupan di kening istrinya.


Biasanya kecupan itu akan mengusik tidur Sea. Dan biasanya setelah itu Noah akan berpura-pura sibuk bersiap sebelum pergi membeli sarapan untuk sang istri.


Puas mengingat moment bersama istrinya, Noah kembali menarik napas panjang. Mengumpulkan oksigen yang banyak, berharap sesak di dadanya akan segera berakhir.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, warna langit perlahan berubah. “Sungguh mempesona,” puji Noah.


“Apakah keindahan seperti ini yang selalu ingin kamu lihat dari jendela saat di rumah sakit?” tanya Noah.


Sebenarnya pertanyaan itu ia tujukan pada istrinya. Sebab seingat Noah… saat di rumah sakit, Sea selalu memintanya membuka tirai jendela di jam-jam seperti sekarang.


Noah menengadah menatap langit yang berwarna merah sedikit kekuningan dengan gradasi warna yang sangat indah. Cahaya matahari yang tidak terlalu terang tak sampai mengganggu penglihatannya, hingga pagi itu Noah bebas menatapi juga mengagumi keindahan langit saat fajar.


...…………...


Cukup lama Noah duduk seorang diri di bangku taman pada halaman belakang rumahnya. Duduk di tempat itu membawanya untum kembali mengenang bagaimana pertemuan pertamanya dengan Sea bertahun-tahun silam.


Seingatnya, saat itu kedua orang tuanya mengatakan akan pergi ke luar kota dalam kurun waktu yang cukup lama untuk urusan pekerjaan. Sialnya, baru sehari ditinggal Noah mendapatkan masalah yang begitu besar. Karena kelalaiannya, seorang bayi laki-laki harus kehilangan nyawa. Bayi itu adalah putra Aneesa.


Selama berbulan-bulan Noah terus berada di sisi Aneesa. Menemani wanita itu melawan depresi yang melanda karena kehilangan putranya. Semuanya ia lakukan sebagai wujud tanggung jawabnya. Lalu disaat ia sedang menjalankan perannya sebagai sosok yang selalu ada untuk Aneesa, saat itulah kedua orang tuanya kembali setelah pergi cukup lama.


Namun orang tuanya tidak kembali sendiri, melainkan bersama seorang gadis cantik yang diperkenalkan sebagai putri dari pemilik perusahaan tempat kedua orang tua Noah bekerja. Meski sempat mengagumi paras cantik gadis itu, kesibukan Noah bersama Aneesa membuatnya sempat melupakan kehadiran gadis cantik itu di dekatnya.


Pada suatu malam, saat itu sedang terjadi fenomena gerhana bulan. Noah sudah mengetahui hal itu dari berita-berita yang tersebar di sosial media.


Sebenarnya ia tidak tertarik sama sekali dengan hal semacam itu. Namun entah mengapa, meski lelah malam itu Noah ingin mengabadikan momen langka gerhana bulan tersebut.


Noah melangkah menuju halaman belakang rumahnya, dia sudah siap dengan ponsel di tangannya hendak merekam indahnya bulan malam itu. Namun baru beberapa langkah, Noah dikejutkan oleh sosok wanita berambut panjang dengan gaun warna putih yang berdiri tepat di bawah sinar bulan yang berwarna kemerah-merahan.


“Ekhem…” Noah berdeham meski lututnya bergetar karena takut.


Mendengar ada suara lain, wanita itu berbalik seraya menyerukan namanya. “Mas Noah!”


“Mas Noah, ini aku…” sahutnya.


“Aku Sea… Seanna….”


Tatapan Noah tertuju pada kaki jenjang wanita di hadapannya. Akhirnya, Noah bisa tenang saat melihat kedua kaki wanita itu menapak dengan sempurna ke tanah.


Akh… benar juga, dia kan gadis yang dibawa oleh Ayah dan Mami. Batin Noah kala itu.


“Maaf… aku tak tahu jika kamu juga ada di sini. Ini sudah sangat larut, mahasiswa tahun pertama sepertimu seharusnya jangan sering begadang.” Celoteh Noah yang terdengar seperti ibu-ibu mengundang tawa gadis yang ternyata semakin cantik di bawah sinar rembulan.


“Mana mungkin aku melewatkan momen ini, Mas,” balasnya.


“Followersku akan kecewa, Mas… jika aku tak mengunggah momen langka ini,” lanjutnya sambil cekikikan.


Alhasil, malam itu adalah malam pertama Sea dan Noah mengobrol setelah hampir 2 bulan mereka tinggal di bawah atap yang sama. Sea yang cantik dan ceria sangat menyenangkan untuk menjadi teman mengobrol Noah kala ia lelah dengan pekerjaan juga dengan tingkah manja Aneesa.


Beberapa bulan setelah malam gerhana bulan itu, Noah selalu saja mencari alasan untuk bisa pulang lebih awal hanya untuk mengobrol bersama Sea. Sayangnya semua kesenangan itu harus Noah relakan saat Aneesa, wanita yang menjadi kekasihnya mengeluh jika Noah berubah.


“Waktumu untukku sekarang berkurang, sayang.” Keluh Aneesa kala itu.

__ADS_1


“Apa kamu tidak mencintaiku lagi? Apa kamu akan meninggalkanku? Lebih baik aku mati saja jika aku juga harus kehilanganmu!” Begitulah keluhan Aneesa yang akhirnya membuat Noah sulit bertemu dengan Sea meski mereka tinggal di rumah yang sama.


Seolah takdir tak merestui perasaannya pada Sea untuk berkembang, Owen sahabatnya pun turut meminta bantuan pada Noah untuk mendekati Sea. Ada penyesalan di hati kecil Noah kala itu. Harusnya ia tak pernah mengenalkan Sea pada kedua sahabatnya sebagai adik sepupunya.


Namun saat melihat Owen yang berubah menjadi semangat untuk meniti karir sebagai seorang dokter karena Sea, membuat Noah semakin yakin untuk mengubur perasaannya pada Sea yang sempat tumbuh di dalam hatinya.


...………….....


Ingatan akan pertemuan pertamanya dengan Sea, semakin meyakinkan Noah jika perasaan yang selama ini ia ragukan adalah cinta yang telah lama bersarang di hatinya.


Bodohnya Noah tak menyadari hal itu sejak dulu. Bodohnya Noah karena dulu merelakan perasaan suci itu alih-alih memperjuangkannya. Dan sekarang, kebodohannya kembali terulang saat dia menyia-nyiakan cinta yang diberikan oleh istrinya.


“Mami pulang….” Suara nyaring Mami Joanna membawa Noah kembali dari lamunannya.


Tak ingin kembali menjadi pria bodoh, Noah segera menghampiri sang ibu yang sedang melepas rindu pada ayahnya.


“Mami!” Pekik Noah.


Pasangan yang tak lagi muda itu terpaksa melerai pelukannya. “Ada apa? Kenapa teriak-teriak!” Jawab Mami Joanna ketus.


Ia masih kesal pada putranya. Baginya, Noah lah yang menjadi penyebab menantu kesayangannya memutuskan untuk pergi.


“Di mana istriku?”


“Andai saja orang lain yang membawanya pergi, kupastikan akan menuntut orang itu karena telah membawa kabur istriku,” oceh Noah melampiaskan kekesalannya.


“Siapa yang sudah membawa kabus istrimu? Yang benar itu, Sea sudah memutuskan untuk pulang ke rumahnya,” jawab Mami Joanna jujur.


“Terserah apa kata Mami. Berikan saja alamatnya padaku, Mi. Aku akan menjemput istriku,” pinta Noah.


“No… no…!” Tolak Mami Joanna. Telunjuknya bergerak ke kiri lalu ke kanan tepat di depan wajah Noah.


“Jangan ganggu Sea lagi. Hidupnya jauh lebih tenang di sana. Biarkan dia bahagia. Dia berhak bahagia,” ujar Mami Joanna.


“Jadi, Mami tak akan memberitahuku di mana istriku?” tanya Noah.


“Apa Mami tega membuat hidupku tak tenang?”


“Apa Mami tega membuat hidupku tak bahagia?”


“Apa Mami tega merampas hakku untuk hidup bahagia?”


Noah mengeluh seperti anak kecil yang dirampas mainan kegemarannya.


Mami Joanna dan Ayah Peter saling pandang, lalu keduanya menatap Noah. “Apa maksudmu?” Tanya keduanya bersamaan.


“Aku mencintai Sea, Mi… Yah….” akunya.

__ADS_1


“Aku mencintai istriku!”


...———————...


__ADS_2