Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 26. Kehilangan


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


Derap langkah kaki Noah menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Pria itu berlarian menyusuri lorong demi lorong untuk mencari ruangan di mana kini istrinya berada.


Sulit untuk melukiskan bagaimana perasaannya dan apa yang dipikirkan pria itu. Semua rasa seakan memenuhi rongga dadanya.


Sebagai seorang dokter yang bekerja di rumah sakit Pelita Harapan, seharusnya pria itu yang paling tahu ruangan mana yang kini harus ia tuju. Namun, kekalutan pikirannya membuat ia tak tahu harus ke mana.


Beruntung, ia bertemu dengan Sandy.


“Noah! Apa yang kau lakukan di sini?” Dokter yang juga merupakan sahabat Noah terlihat menggelengkan kepalanya saat melihat sahabatnya tampak kebingungan. Huff, seperti pria yang kehilangan arah. Sungguh malang, batinnya.


“Sea di mana?” Noah menjawab dengan pertanyaan.


“Sea sudah berada di ruangan operasi,” jawab Sandy. “Ponselmu tak bisa dihubungi, keadaan Sea cukup mengkhawatirkan.” Sandy berucap jujur.


“Berterimakasihlah pada Owen. Dia yang mengurus semuanya, hingga Sea mendapatkan penanganan yang lebih cepat,” ungkapnya.


Noah mengangguk dengan cepat. Petunjuk dari Sandy telah memberitahu ke mana seharusnya tujuannya. Dokter yang terkenal dengan wajah tampannya itu, kini berlari menuju ke ruangan operasi.


Kemeja yang sama dengan yang ia pakai sejak kemarin, ditambah dengan peluh yang bercucuran dari dahinya. Tentu saja Noah akan mendapat penolakan saat ingin masuk ke ruang operasi dan melihat langsung kondisi istrinya.


Dengan langkah gontai, Noah terpaksa beralih ke ruang tunggu operasi. Baru saja pintu ia buka, tatapan tajam dari Owen yang menyambutnya. Noah bisa menangkap kekhawatiran yang begitu besar di wajah sahabat dan juga rekan sejawatnya itu.


“Gila, lu!” Kata sambutan yang diberikan Owen utuk sahabatnya. “Dari mana aja? Susah banget lu dihubungin!”


“Ponsel gue kehabisan daya dan saat lu menelepon, gue… ehmm… gue… di makam Aneesa,” jawabnya Noah lirih.


“B*ngke, lu!” Owen memaki Noah.


Owen merasa geram dengan tingkah sahabatnya yang menurutnya sudah keterlaluan. Bagaimana mungkin Noah mengabaikan Sea dan terus mengikat dirinya dengan Aneesa, bahkan setelah wanita itu tiada, pikir Owen.


Owen membayangkan bagaimana terkejutnya ia, saat melihat ambulans datang dengan tiga orang korban kecelakaan. Di mana salah satu korban yang kondisinya paling parah adalah wanita yang sampai kini masih ia cintai, Sea. Wanita yang harus ia relakan untuk sahabatnya yang sangat brengs*k.


Buuuuggghhhh.


Satu pukulan dari Owen, mendarat tepat di rahang sahabatnya. Owen nekat melakukan hal itu saat kembali ia membayangkan bagaimana kepala dan lengan Sea yang berbalut perban dengan banyak bercak darah. Leher yang memakai penyangga, dan yang paling menyakiti hati Owen adalah aliran darah di sepanjang paha hingga kaki wanita itu yang tampak sudah mengering.


Noah yang tak terima, berbalik mencengkeram kerah kemeja sahabatnya. Jika tak mengingat ucapan Sandy jika owen lah yang mengurus semua administrasi hingga istrinya mendapatkan penanganan yang cepat, mungkin Noah tak akan ragu untuk membalas pukulan Owen.


“Apa-apaan, Lu?!” tanya Noah. Kedua tangannya masih mencengkeram kerah kemeja Owen.


“B*ngs*t seperti lu, memang pantas mendapatkannya!” balas Owen tak tampak gentar.


“Pukulan dari gue tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kenyataan yang sebentar lagi akan lu terima!” lanjutnya.


Perlahan cengkeraman Noah mengendur. Sebelum benar-benar terlepas, Noah sempat menghentakkan tubuh Owen. “Apa maksud, lu? Katakan yang jelas!” perintah Noah.


Owen menggeleng. “Tunggulah sampai dokter selesai dengan pekerjaannya,” jawab Owen datar. Seringai di wajah tampan sahabatnya yang sangat jarang ia lihat, membuat Noah menelan salivanya.


Kenyataan buruk apa yang sebentar lagi akan menghampiriku? batin Noah.


“Ya Tuhan, tolong selamatkanlah istriku,” gumam Noah. “Beri aku kesempatan untuk mendapatkan maaf darinya, beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku,” lirih Noah berdoa untuk keselamatan istrinya pada Sang Ilahi, Sang Pemilik Kehidupan.


........................

__ADS_1


Noah duduk dengan tenang di salah satu kursi besi pada ruangan itu. Jika beberapa saat yang lalu hanya ada Noah dan Owen, saat ini sudah ada beberapa orang yang juga duduk dan menunggu dengan cemas seperti keduanya.


Noah dan Owen pun duduk selayaknya dua pria yang tak pernah saling mengenal. Keduanya sibuk dengan penyesalannya masing-masing.


Dokter Owen, pria yang wajahnya tak kalah tampan dari Noah menyesali pilihannya dulu untuk memendam perasaannya pada seorang gadis yang sering ia temui di rumah sahabatnya. Gadis yatim piatu yang sangat manis, begitulah Owen memandang Sea.


Harusnya tak kubiarkan aku mencintai seorang diri, sesal Owen dalam hati.


Pilihannya untuk memantaskan diri lebih dulu, rupanya kini jadi penyesalan. Dulu, saat mengetahui bagaimana latar belakang Sea, Owen semakin bersemangat meraih cita-citanya sebagai seorang dokter. Owen ingin pantas untuk Sea, seorang pewaris dari sebuah perusahaan besar.


Tak jauh berbeda dengan pria yang duduk dengan jarak yang cukup jauh dari Owen, Noah pun kini diselimuti dengan beribu-ribu penyesalan. Pikirannya menerawang, membawanya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu.


Tepatnya kemarin malam, saat Hanif meminta bertemu dengannya. Semua penyesalan Noah berawal mulai dari saat itu. Saat ia mengetahui sebuah fakta yang akhirnya membuat hatinya merasa bersalah dan lega secara bersamaan.


.......................


Kemarin malam, di taman rumah sakit Pelita Harapan….


Dengan senyum yang membuat Noah makin kesal dengan pria paruh baya di sampingnya, Hanif mulai mengungkap dosa yang beberapa waktu terakhir terus menghantuinya, menyiksanya, bahkan bisa membunuhnya secara perlahan.


“Jangan bertele-tele! Anda tahu saya punya banyak pekerjaan,” ucap Noah.


“Aku mencintainya,” aku Hanif. Meski tahu jika ucapannya sia-sia saja.


“Bagaimana denganmu?” tanya pria paruh baya itu tiba-tiba. Diamnya Noah membuat pandangan Hanif yang awalnya lurus ke depan kini beralih padanya.


Sadar akan tatapan Hanif, Noah hanya mengedikkan bahunya. Pria paruh baya itu lantas tertawa, lalu terlihat menepuk salah satu lengan Noah. “Maaf, aku lupa jika kamu telah menikah.”


Noah sungguh tak ingin membahas perihal istrinya dengan pria tua di sampingnya. Ada rasa tak rela yang tak ingin ia akui, manakala mendengar Hanif membahas Sea.


“Kurasa cukup basa-basinya, katakan apa mau Anda!” tegas Noah sekali lagi.


Tawa Hanif yang masih tersisa kini benar-benar hilang. Pria paruh baya itu menunduk lesu. Noah pikir waktunya terbuang sia-sia meladeni drama Hanif yang tak berkesudahan.


Noah sudah berdiri dan bersiap melangkah pergi, sedangkan Hanif masih setia di tempatnya.


“Malam itu aku menemuinya.” Lirih suara Hanif namun berhasil menghentikan langkah Noah.


Noah menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Aneesa?” tanya Noah yang dijawab anggukan oleh Hanif.


Di malam sunyi kala itu, helaan napas Noah terdengar sangat jelas. Noah kembali duduk di tempatnya. “Kapan? Dan apa yang penting dari pertemuan Anda dengannya?”


Jujur saja, hati Noah seakan tercubit mendengar pengakuan Hanif. Namun, ingin marah atau kecewa rasanya percuma. Faktanya, Aneesa telah tiada.


“Sehari sebelum dia ditemukan tak bernyawa,” aku Hanif dengan suara bergetar.


Apakah dia menangis? Batin Noah mendengar suara Hanif yang bergetar.


“Sore itu, setelah sekian lama, aku akhirnya kembali bertemu dengannya.” Sungguh sulit bagi Hanif menyelesaikan satu kalimat itu. Pria paruh baya dengan infus di tangannya terlihat mengusap wajahnya.


“Kupikir takdir yang mempertemukan kami ingin membuka jalan agar kami bisa kembali bersama.” Hanif kembali bungkam cukup lama, namun kali ini Noah lebih sabar menunggu pria itu kembali bicara.


“Harusnya aku tak memaksa untuk mengantarnya pulang,” sesal Hanif. Kini tangisnya benar-benar pecah.


“Di apartemennya kami sempat bertengkar sebelum Aneesa kembali memintaku untuk bersama. Katanya kekasihnya akan segera menikah,” ungkap Hanif.


Hanif bisa melihat kedua tangan Noah yang ia letakkan di atas pangkuannya kini mengepal. Beruntung Noah berusaha kembali pada akal sehatnya. Hidupnya sudah cukup berantakan akhir-akhir ini. Jangan sampai emosinya semakin menghancurkan segalanya.


“Maafkan aku, bung. Aku masih mencintainya hingga malam itu kujanjikan lagi padanya untuk kami kembali bersama,” ucap Hanif jujur.

__ADS_1


Noah tampak memalingkan wajahnya. Sekarang dia benar-benar kecewa! Masa bodoh jika aku dianggap aneh karena kecewa pada orang telah tiada, batin Noah.


“Sekali lagi maafkan aku… kumohon maafkan pula Aneesa. Malam itu kami kembali melakukan dosa.” Hanif kembali menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar, isakannya terdengar semakin jelas


“Aku sadar perbuatan kami pastinya akan membawa petaka, yang tak kuduga jika petaka itu datang begitu cepat,” lanjutnya.


“Di tengah pergumulan kami malam itu, istriku memergorki apa yang sedang kami lakukan,” ucap Hanif.


Pria paruh baya yang biasanya tampak tegas dan berwibawa itu, malam ini menurunkan semua harga dirinya dan jujur akan dosa besar yang telah ia lakukan.


“Kasihan sekali Aneesa… istriku memperlakukannya dengan buruk, Aneesa dimaki olehnya. Sementara aku… aku tak berkutik,” ungkap Hanif.


“Anda benar-benar b*jing*n!” maki Noah.


“Ya… aku memang b*jing*n! Jika ada yang lebih buruk dari itu, maka akulah orangnya,” balas Hanif.


“Kau tahu, malam itu lagi-lagi aku kembali tak berdaya. Kutinggalkan Aneesa kembali seorang diri. Kuingkari janjiku padanya hanya dalam hitungan jam,” aku Hanif menyesali semuanya.


Tangisan Hanif semakin menjadi-jadi. “Bahkan saat Aneesa mengancam akan bunuh diri, aku tertawa dan mengatakan jika ancamannya sungguh kekanakan.”


Kedua netra Noah membulat sempurna. “Si*l! Jadi… kau-“ Noah tak sanggup melanjutkan ucapannya. Tangannya yang mengepal terpaksa ia ayukan meninju udara. Noah masih waras untuk tidak melakukan kekerasan pada seorang pasien.


Namun aku sudah tidak waras karena telah menuduh istriku. Melampiaskan semua rasa kehilanganku pada wanita malang itu. Batin Noah.


Hanif mengangguk, ia akan menyetujui apapun ucapan Noah yang masih menggantung. “Aku mengakui semuanya, aku yang salah sejak awal. Akulah pendosa di sini,” ucap Hanif. Napasnya mulai tersengal karena terus menangis.


“Cukup! Anda tak seharusnya mengakui semua perbuatan Anda padaku. Aku bukanlah siapa-siapa,” ucap Noah.


“Jika Anda mengakui kesalahan Anda, maka jagalah kesehatan Anda. Berusahalah untuk hidup lebih lama, agar Anda bisa lebih lama tersiksa oleh derita karena penyesalan dan rasa bersalah di sepanjang sisa usia Anda!” Noah lantas angkat kaki dari tempat itu setelah mengucapkan kalimat yang menohok hati Hanif.


Setelah meninggalkan Hanif di taman, Noah kembali ke ruangannya. Di ruangan gelap karena sengaja ia matikan lampunya, Noah berperang dengan rasa sesalnya.


“Aku telah membenci orang yang salah, aku telah meyakiti orang yang salah,” gumamnya tanpa henti. Ingatan akan sikap buruknya pada Sea, terbayang dengan jelas di pelupuk matanya.


Hingga malam telah berganti pagi, Noah memutuskan untuk segera pergi dari rumah sakit sebelum para dokter dan perawat mulai berdatangan.


“Aku harus memperbaiki hubunganku dengan Sea,” gumamnya bertekad. Namun sebelum menemui Sea, dokter tampan itu kembali melajukan mobilnya menuju tempat pemakaman umum di mana Aneesa di makamkan.


Cukup lama Noah di sana, melepaskan semua rasa sesal dan rasa bersalah yang ia pikul di pundaknya. Meminta maaf dan memaafkan sekali lagi. Mengikhlaskan, juga menerima jalan yang telah dipilih oleh mendiang kekasihnya.


Semua hal itu terjadi hanya beberapa jam sebelum akhirnya Noah menerima panggilan dari kepolisian mengenai kecelakaan yang menimpa Sea, istrinya.


.......................


Noah kembali tersadar dari lamunannya akan kejadian semalam, saat samar-samar ia mendengar seseorang menyebut namanya.


“Dokter Noah… Dokter Noah…” seru seorang perawat.


“Emmh… ya. Maaf, aku melamun.”


Dokter, rekan sejawat Noah yang baru saja menyelesaikan operasi Sea terlihat mengelus lengan Noah dan berakhir menepuk pundak pria itu.


“Ada apa?” tanya Noah. “Istriku baik-baik saja kan?”


Owen yang tadi berdiri cukup jauh, berjalan mendekat. “Bagaimana keadaannya?” tanyanya.


“Operasinya berjalan lancar. Nyonya Seanna kini sudah melewati masa kritisnya,” ucap sang dokter.


Kening Noah mengernyit. “Katakan sejujurnya! Apa ada yang perlu kukhawatirkan?”

__ADS_1


Sang dokter menghela napas berat. “Maafkan kami dokter Noah, kami sudah berusaha yang terbaik. Namun ….”


...-----------...


__ADS_2