
“Tidak, Mhiu….”
Keputusan Noah tetap sama. Tidak mengizinkan istrinya untuk kembali melanjutkan kuliahnya dalam waktu dekat. Biarkan istrinya mengambil cuti kuliah dan beristirahat. Fokus untuk pemulihan kesehatannya, pikir Noah.
Sea bertahan dengan wajah cemberut di depan cermin meja riasnya. Semalam dirinya sudah menyusun rencana. Menjadi istri penurut yang menggemaskan, mengikuti bermacam-macam gaya permainan Noah, demi mendapatkan izin untuk kembali kuliah seperti sebelumnya.
“Tapi Phiu sayang, aku sungguh sudah baik-baik saja.” Netra Sea berkedip-kedip, puppy eyes menjadi jurus terakhir baginya untuk mendapat izin.
Sea paham, Noah seperti ini hanya karena mengkhawatirkannya. Noah tak ingin dirinya sakit lagi, tapi kondisi tubuhnya benar-benar jauh lebih baik sekarang.
“Huhh,” Noah mendengkus. “Selain memikirkan banyak hal, rupanya kepala yang kecil itu juga sangat keras kepala.”
Noah memeluk istrinya dari belakang. Mengecup puncak kepala Sea berkali-kali. “Aku tak ingin terjadi sesuatu kepadamu. Kamu bisa mengerti, kan?”
Pandangan Noah dan pandangan istrinya bertemu melalui pantulan cermin. Sea mengangguk, “Aku mengerti dan juga percaya padamu, Phiu. Selain aku yang akan menjaga diriku sendiri, aku yakin kamu juga akan selalu menjagaku, melindungiku,” ucap Sea.
“Tanpa kamu minta, aku akan melakukannya.” Janji itu benar-benar berasal dari lubuk hati Noah.
“Aku percaya padamu, Phiu sayang,” kata Sea.
“Terima kasih,” balas Noah.
“Lalu bagaimana denganku, apa kamu juga percaya padaku?” Tanya Sea.
Dengan yakin Noah mengangguk. “Kamu tak perlu bertanya apa lagi meragukan hal itu.” Sedetik kemudian kening Noah mengernyit saat melihat seringai di wajah cantik istrinya.
“Jadi, bisakah kamu percaya jika aku bisa menjaga diriku?” tanya Sea. Dalam hati Sea bersorak, dengan cerdasnya wanita itu menggiring Noah pada percakapan yang menjebak.
“Mhiu sayang!” Seru Noah dengan gemasnya. Kedua tangannya mencubit pipi istrinya.
“Pertanyaanmu menjebakku, Mhiu sayang!” Noah sampai terkekeh karena kesulitan menemukan jawabannya.
“Jadi….”
“Baiklah, aku menyerah.” Noah mengangkat kedua tangannya ke udara.
“Benarkah?” Tanya Sea tak percaya.
Noah mengangguk. “Dengan satu syarat,” kata Noah.
Kini Noah yang terlihat menahan tawanya. “Apa syaratnya?”
“Hari ini kamu ikut denganku ke rumah sakit. Aku ingin bersamamu.” Noah semakin membungkuk, hingga bisa memeluk tubuh istrinya. Noah hirup aroma bunga sakura dari sekitar ceruk leher istrinya.
Sea sedikit menggeliat saat merasa geli karena perlakuan Noah. “Aku pun juga begitu, ingin bersamamu sepanjang waktu,” kata Sea. “Tapi Phiu sayang, kamu kan harus bekerja.”
“Temani aku, sehari saja. Kamu mau kan?” Tawar Noah. “Kita pun bisa memeriksakan kondisi kesehatanmu, agar aku lebih yakin untuk mengizinkan kamu kuliah lagi,”
Ini kesempatannya, pikir Sea. Tak perlu pikir panjang lagi, Sea tentu saja menyetujui tawaran suaminya.
...……………………....
Sesuai dengan rencana, Sea sudah selesai menjalani beberapa tes untuk memeriksakan kesehatannya. Pasangan suami istri itu sungguh membuat iri banyak kaum adam dan hawa di sekitar mereka.
__ADS_1
Noah senantiasa berada di sisi istrinya selama wanita itu menjalani pemeriksaan. Tak lupa Noah memberikan pujian dan dukungan dengan mengecup kening istrinya tiap kali pemeriksaan selesai. Hal sesederhana itu membuat hati Sea sungguh menghangat, lewat kecupan kening itu, Noah seakan berkata jika semua akan baik saja.
Kini tiba saatnya Sea dan Noah menemui dokter spesialis kandungan. Noah bisa melihat keengganan Sea dari raut wajahnya. “Mhiu sayang, semuanya akan baik-baik saja. Kamu percaya pada aku kan?”
“Ya, aku percaya.” Jika sebelumnya Sea dan Noah saling menggenggam, kini keduanya sudah saling menautkan jemarinya. Keduanya sama-sama saling menguatkan.
“Hai, Fris… boleh kami masuk?” Sapa Noah setelah mengetuk dan membuka pintu ruangan seorang dokter cantik bernama Frisha.
“Dokter Noah, masuklah! Aku sudah menunggu kedatangan kalian,” ucapnya ramah.
“Perkenalkan, ini adalah istriku, Seanna.” Ujar Noah.
“Senang berkenalan dengan Anda Nyonya,” sapa Dokter Frisha mengulurkan tangan untuk berjabat.
Saat membuat janji temu dengan dokter Frisha, Noah sudah menjelaskan mengenai kondisi istrinya. Tujuan keduanya kemari adalah ingin memeriksa kondisi rahim Sea.
“Sebenarnya tak ada yang salah dengan keinginan untuk kembali hamil setelah mengalami keguguran. Bahkan ada beberapa kasus wanita yang kembali mengandung bahkan sebelum periode m*nstruasinya kembali normal,” jelas Dokter Frisha.
Mendengar hal baik yang dikatakan oleh Dokter Frisha, sontak saja membuat Sea dan Noah saling pandang. Beberapa hari ini, Sea terus memikirkan kondisi tubuhnya setelah ia dan suaminya rutin melakukan penyatuan.
Apakah dia sudah siap untuk kembali hamil?
Apakah mentalnya sudah mampu?
Apakah tak akan menimbulkan masalah pada tubuh atau risiko komplikasi jika ia kembali mengandung dalam waktu dekat?
Mendengar penjelasan dari Dokter Frisha, membuat Sea cukup lega. Keinginan dan harapan untuk mewujudkan mimpi Noah yaitu memiliki anak semakin besar.
Dokter Frisha bisa mendengar embusan napas lega dari sepasang suami istri di hadapannya ini. “ Hal itu karena tubuh sudah bisa berovulasi sebelum menstruasi selanjutnya datang. Ovulasi dapat terjadi dalam dua minggu, Anda juga diperkirakan dapat memasuki masa subur satu bulan setelah keguguran.”
“Apa ada keluhan yang Anda rasakan, Nyonya?” Tanyanya.
Sea menggeleng. Selain kewalahan sebab suaminya yang begitu bersemangat mencoba berbagai gaya yang ia pelajari, tak ada lagi keluhan yang Sea rasakan.
“Syukurlah, itu artinya kalian berdua sudah siap untuk mulai menyiapkan program kehamilan kedua untuk Nyonya Sea. Tak perlu khawatir, penelitian pun telah menunjukkan bahwa semakin cepat, semakin baik untuk mencoba hamil lagi pasca mengalami keguguran,” imbuh Dokter Frisha, tak kalah bersemangatnya dengan pasutri yang menjadi pasiennya kini.
“Ayo, kita periksa kondisi rahim Nyonya terlebih dulu!” Ajak Dokter Frisha, menyilahkan Sea untuk berbaring di sebuah hospital bed.
“Sea… bisakah Anda memanggilku begitu?” Pinta Sea. Dokter Frisha akan menjadi dokter kandungannya. Keduanya akan sering bertemu, terlebih jika suatu saat dirinya hamil. Sea ingin lebih akrab, agar dirinya pun ikut merasa nyaman.
Dokter Frisha mengangguk. “Tentu saja, Sea.”
“Aku dan suamimu cukup berteman baik saat masih kuliah. Jadi, tentu saja kita berdua juga adalah teman baik,” lanjutnya.
Setelah Sea berbaring dengan nyaman, Dokter Frisha mengoleskan gel ke perut Sea. Jangan lupakan Noah yang selalu siap sedia di sisi istrinya. Tanganya terus mengusap punggung tangan dan buku-buku jari istrinya. Memberitahu Sea jika dirinya akan selalu ada di sisinya.
Dokter Frisha mulai menjelaskan setiap detil dari kondisi rahim Sea. Tak ada satu kata pun yang Noah lewatkan.
“Kesimpulannya, kondisi rahim Sea sudah siap untuk kembali mengandung. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah menguatkan kembali lapisan endometrium dalam rahim, agar di kehamilan yang selanjutnya risiko keguguran semakin kecil.” Dokter Frisha mengakhiri pemeriksaannya dengan bantuan alat USG. Setelah itu ia membantu menyeka perut Sea dari sisa-sisa gel yang sebelumnya ia oleskan.
Dokter Frisha sengaja melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan perawat. Dihubungi oleh Noah secara langsung, membuat Frisha tak ingin mengecewakan Noah. Dokter cantik itu ingin memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi pasangan suami istri itu.
“Aku akan meresepkan vitamin kesuburan untuk meningkatkan peluang kehamilan berikutnya.” Tangan Dokter Frisha terlihat lincah menulis di atas selembar kertas.
__ADS_1
“Selebihnya sama, makan makanan yang bergizi, rutin berolahraga. Tiga kali seminggu selama satu jam sudah cukup. Bersepeda, berenang, jalan kaki, bahkan jogging bisa menjadi pilihan olahraga yang baik dan mudah untuk dilakukan,” imbuh Dokter Frisha.
Sebelum keduanya pergi, sekali lagi Dokter Frisha memberi saran medis pada Sea dan Noah. “Yang paling utama, tolong hindari stres. Wajar jika kejadian sebelumnya menimbulkan dampak traumatis. Selain Sea, Noah pun sebisa mungkin memberi afirmasi positif pada diri sendiri.”
“Habiskan lebih banyak waktu berdua, jalan-jalan, atau apa pun yang bisa melegakan pikiran. Menenangkan dan menjauhkan pikiran calon ibu dari stres.” Pesan dari Dokter Frisha sebelum Sea dan Noah mengakhiri sesi konsultasinya pagi ini.
...………….....
Sea pikir setelah memeriksakan kesehatannya yang syukurnya memberi hasil sangat baik, dirinya akan diizinkan Noah untuk pulang lebih dulu. Sayangnya itu hanya keinginan Sea saja.
Sebelum mereka tiba di rumah sakit, rupanya Noah sudah menghubungi pihak rumah sakit. Noah meminta izin untuk tidak bekerja hari ini. Dirinya ke rumah sakit khusus hanya untuk menemani istrinya saja.
Kini keduanya sedang berada di ruangan Noah. Sejak pertama kali tiba di tempat itu, Noah langsung saja menyerang istrinya dengan ciuman yang membara. Pria itu terlampau bahagia setelah pemeriksaan kondisi rahim Sea yang baik-baik saja dan sudah siap untuk kembali mengandung calon buah hatinya.
Tak hanya menyerang Sea dengan ciuman, pria itu kini duduk di sofa dengan Sea yang duduk di pangkuannya. Semua atas keinginan Noah.
Semburat rona merah muda di pipi Sea tak pernah beranjak dari sana. Noah terus saja menggoda istrinya dengan kata-kata penuh Cinta. “Jadi, jangan pikirkan apa-apa lagi,” pinta Noah.
Sea mengangguk. Memangnya masih ada yang harus menjadi beban pikirannya, di saat ia menerima begitu banyak cinta dari Noah? Batin Sea.
Padahal baru sedetik yang lalu ia peringatkan. Namun kini istrinya itu sudah terlihat melamun entah apa yang ada di pikirannya. Dibuat gemas dengan tingkah istrinya itu, Noah refleks menarik pinggang Sea agar lebih mendekat padanya.
Jarak antara Sea dan Noah semakin menipis. Dengan Sea yang berada di pangkuannya membuat Noah lebih leluasa lagi untuk menjalankan aksinya. Tak perlu waktu lama bagi Noah untuk menyatukan kedua bibir mereka. Menahan tengkuk istrinya agar ciuman keduanya semakin dalam.
Meski ada perasaan was-was, sebab bisa saja perawat atau orang lain memergoki apa yang dilakukan keduanya. Namun, godaan h*srat yang timbul terlalu kuat dan sulit untuk diabaikan.
Kewarasan Noah sudah semakin berkurang, yang ada dipikirannya kini hanya bayangan kenikmatan saat ia melakukan penyatuan bersama istrinya. Tanpa mengingat lagi di mana mereka berada saat ini, Noah segera melancarkan aksinya. Perlahan tapi pasti mulai menurunkan ritsleting dress istrinya.
Baru setengahnya saja, Noah sudah bisa melihat dua bongkahan indah yang memanjakan kedua netranya. Tangannya sudah bersiap memberikan sentuhan memabukkan di sana, saat pintu ruangan Noah tiba-tiba saja terbuka.
“Permi-“ Perawat wanita itu tak bisa melanjutkan kata-katanya. Sontak ia membalikkan tubuhnya membelakangi sepasang suami istri yang telah ia ganggu.
“Maaf Dokter Noah, kupikir tak ada orang di sini,” ucapnya dengan takut-takut.
Noah mendengkus juga mendelik. Sementara Sea semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya. Malu sekali, pikirnya.
“Hemm, pergilah! Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk,” peringat Noah.
Setelah mendapat teguran dari dokter tampan idola di rumah sakit itu, perawat wanita itu segera menutup pintu kembali dan menjauh dari sana. Wajah Sea sudah merah seperti kepiting rebus sebab menahan malu. Sudah cukup dulu para perawat di sana men-cap dirinya sebagai pelakor. Sea tak ingin ada lagi pembicaraan buruk mengenai dirinya.
Namun kata pelakor mengingatkan Sea pada sosok wanita cantik yang harus ia waspadai, sebab berpotensi menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Alesandra, di mana dokter centil itu? Sudah lama aku tak melihatnya, Batin Sea.
Setelah pintu kembali tertutup, tampak Noah tergesa-gesa menurunkan Sea dari pangkuannya. “Ayo Mhiu sayang!” Ajak Noah.
“Kita harus segera pulang dan melanjutkan yang tadi,” ungkap Noah jujur.
Sea hanya mengangguk, jujur saja kini pikirannya sedang bercabang. Melihat istrinya yang lagi-lagi melamun, Noah akhirnya mencuri kesempatan untuk mengecup bibir Sea.
“Melamun lagi!” Serunya.
“Maaf Phiu sayang, aku hanya memikirkan sesuatu,” kata Sea jujur.
“Apa lagi, Mhiu sayang?” Tanya Noah tak sabar. Kepala atas dan bawahnya kini sedang pusing karena h*srat yang tertunda.
__ADS_1
“Ke mana Dokter Alesandra?” tanya Sea. “Aku tak melihatnya sejak tadi,” imbuhnya.
...————————-...