Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 57. Pasien aneh


__ADS_3

Malang sekali nasib mie ayam yang berada di hadapan Sea. Sudah 5 menit berlalu, namun istri kesayangan dokter Noah Myles itu hanya mengaduk-mengaduk tanpa memasukkan sesendok pun ke mulutnya.


“Tessa dan Phila ke mana sih?” Gerutunya. “Keduanya malah kompak gak bisa dihubungin!” Sea makin kesal dibuatnya.


Meski Sea termasuk salah satu mahasiswi yang populer sebab wajah cantiknya, namun bagi Sea suasana kampus akan terasa sepi tanpa kedua sahabatnya.


Belum cukup dengan Phila yang tiba-tiba saja pergi ke luar Negeri tanpa pamit dan tanpa kabar, sudah dua hari Tessa juga tak menampakkan batang hidungnya, juga mendadak tak ada kabar. Bahkan halaman sosial media milik wanita yang terkenal sebagai selebgram itu sangat sepi dari unggahan, tak seperti biasanya.


“Padahal sebentar lagi udah mulai skripsi, mereka malah malas-malasan ke kampus!” Sea bersungut-sungut seraya menyeruput es teh manis pesanannya.


Status Sea sebagai seorang istri yang beritanya mulai tersebar ke seluruh penjuru kampus, rupanya tak melunturkan pesonanya. Banyak pasang mata para mahasiswa dan juga dosen yang masih terang-terangan memuji kecantikan wanita itu.


“Setelah menjadi milik pria lain, kok aura cantiknya semakin terpancar ya….” Puji seorang mahasiswa dan tiga rekannya yang duduk tak jauh dari tempat Sea.


Ke empatnya bicara dengan gaya yang seakan sedang berbisik, padahal suaranya begitu besar hingga siapa saja bisa mendengarnya. Sea sempat menoleh ke arah empat pria di sana dan memberikan tatapan sinisnya. Sayangnya, ke empat mahasiswa tersebut malah semakin bersorak sebab misinya menarik perhatian Sea berhasil.


Saat-saat seperti ini Sea begitu merindukan kehadiran kedua sahabatnya. Mana mungkin Tessa akan membiarkan hal seperti ini terjadi, sudah pasti wanita itu akan balas memberengut pada ke empat pria tersebut.


“Beraninya jika aku sedang sendiri. Seandainya ada ratu bar-bar, mereka mana mungkin berani!” Sea bersungut-sungut di tempat duduknya. Sea yang sebelumnya mengaduk-aduk mie ayam, kini sudah berganti mengaduk-aduk es teh manisnya.


Wajah cemberut Sea segera dihiasi senyuman yang begitu manis tatkala ponsel di hadapanya berbunyi.


Beep… bunyi notifikasi pada ponsel pintar milik Sea sebagai tanda ada pesan yang masuk terdengar.


Di layar ponsel dengan logo buah apel itu Sea membaca nama pengirim pesan. ‘Phiu Sayang’ tampak sebagai nama kontak si pengirim pesan.


Mhiu sayang, kamu lagi ngapain? Isi pesan Noah yang sedang dibaca oleh sang istri.

__ADS_1


Aku sedang makan siang. Kamu jangan lupa makan siang ya…. Setelah memastikan pesannya terkirim Sea urung untuk melepaskan ponsel dari genggamannya.


Menanti pesan balasan dari sang suami menjadi lebih menarik dibanding dengan makanan dan minuman di hadapannya.


Menit demi menit berlalu, sampai 5 menit berlalu tak ada balasan pesan yang Sea nantikan. Jemarinya mengetuk-ngetuk layar ponselnya hingga tercetus ide di benaknya.


“Makan siang bareng Mas Noah sepertinya menarik,” gumamnya. Suasana hati Sea seketika bersemangat ketika membayangkan jika Noah akan terkejut dengan kehadirannya.


...……….....


Taksi yang Sea tumpangi sudah menepi di depan lobi Rumah Sakit Pelita Harapan. Sejak kembali kuliah, Noah tak lagi mengizinkan istrinya untuk mengemudi. Noah dengan setia dan sabar akan mengantar ke mana pun Sea ingin pergi.


Senyum ramah mengiringi langkah Sea menuju ruangan praktek Dokter Noah Myles. Melihat tak ada lagi antrian pasien di depan ruangan praktek suaminya, Sea semakin antusias. Niatnya untuk makan siang bersama suami akan berjalan lancar, pikirnya.


Jika biasanya Sea akan disambut oleh perawat yang berjaga, kali ini tak ada seorang pun perawat yang bertugas.


Sea terlihat melipat kedua tangannya di depan dada. Sepertinya dia tak bisa lagi bersabar untuk menunggu, inginnya adalah segera bertemu suaminya. Maka Sea memberanikan diri untuk membuka pintu, bahkan ia lupa untuk mengetuk lebih dulu.


“Ma-mas?!” Kening Sea mengernyit, kedua netranya membola saat melihat Noah dan seorang wanita.


Noah dibuat terkejut dengan kehadiran istrinya tiba-tiba. Senyumnya seketika mengembang, Noah pun merindukan istrinya meski mereka baru berpisah beberapa jam saja. Namun saat menyadari ke mana arah padangan Sea, senyum di wajahnya seketika menghilang.


Si*l, kenapa tangan pasien wanita ini bisa ada di atas tanganku?! gerutu Noah dalam hati.


Tak ingin istrinya salah paham juga tak ingin membuat pasiennya merasa tak nyaman, Noah segera menarik tangannya. Pasien wanita bernama Lia itu sampai terlonjak karena Noah dengan kasar menghempas tangannya.


“Mhiu sayang, kamu sudah datang…” ucap Noah. Dokter muda itu bahkan berdiri dari tempatnya dan menghampiri istrinya yang berdiri mematung di depan pintu.

__ADS_1


Segera ia rangkul pinggang sang istri, dan menuntunnya kembali ke tempatnya. Jelas sekali Noah bisa melihat wajah cemberut Sea. Dokter muda idola para perawat itu juga mendapati hal yang sama di wajah Lia.


Lia seorang wanita berstatus janda. Memiliki seorang putra berusia 8 tahun bernama Jerry. Awalnya Jerry yang menjadi pasien Noah, sekitar dua minggu yang lalu. Namun entah mengapa, Ibu dari pasiennya ini yang kini rutin memeriksakan kesehatan padanya.


Dua kali pertemuan sebelumnya, Lia sudah terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Noah. Namun tak pernah ditanggapi oleh dokter tampan itu. Si*lnya hari ini, Lia kembali datang dan dengan santainya mengutarakan keinginannya agar Noah menjadi ayah sambung bagi Jerry.


Bagai jatuh tertimpa tangga pula, ungkapan yang cocok untuk Noah saat ini. Kepalanya hampir pecah, saat mulutnya ia rasa sebentar lagi akan berbusa ketika ia terus saja menjelaskan hal yang sama pada Ibu Lia. Berharap Ibu Lia pahami jika dirinya tak ingin dan tak akan mungkin menjadi ayah sambung Jerry.


Beruntung Sea datang, sorak Noah dalam hati.


Tak salah jika Noah kini bimbang, apakah Sea datang di saat yang tepat atau tidak. Melihat kekesalan dari air muka istrinya, Noah yakin jika istrinya tentu saja marah padanya. Semoga Sea bisa mengerti setelah kujelaskan, batin Noah.


Namun saat melihat hal yang sama di wajah Bu Lia, Noah tersenyum bahagia. “Bu Lia… perkenalkan istri saya, Seanna.” Kebanggaan dan kelegaan benar-benar Noah rasakan.


Tak ada senyum lagi di wajah janda cantik, Nyonya Lia. “Itulah mengapa saya tak bisa menerima permintaan Ibu Lia untuk makan siang bersama,” ujar Noah.


“Saya telah memiliki janji untuk menemani istri saya makan siang,” lanjutnya. Tangan kanannya bahkan menyentuh lembut perut rata istrinya, seolah-olah ada kehidupan lain yang ia jaga di dalam sana.


“Baiklah! Kalau begitu saya permisi.” Ibu Lia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Noah dengan perasaan kesal.


Sepeninggal Bu Lia, Noah tampak menghela napasnya lega. “Akhirnya dia pergi juga,” gumamnya lirih.


Namun saat berbalik, Noah terlonjak saat mendapati tatapan tajam istrinya. Kedua netra istrinya memicing, tangannya bersedekap di dada. Noah sampai menelan salivanya berkali-kali.


“Siapa wanita itu, Mas?”


“Apa hubunganmu dengannya?”

__ADS_1


...——————————...


__ADS_2