
“Aku gila!” gumam Noah.
Seumur hidupnya, bahkan saat ia masih kecil tak pernah sekali pun Noah mau bermain seperti ini.
Berlarian di tepi pantai tanpa alas kaki. Bajunya yang sebelumnya sudah sempat basah karena peluh saat berolahraga, kini semakin basah saat istrinya yang jahil tak henti-henti memercikkan air ke arahnya.
“Udahan, yuk…” usul Noah.
Sea baru saja hendak berlari setelah berhasil menarik suaminya hingga terjatuh. Namun, gerakan Noah jauh lebih cepat. Sea kini sudah berada dalam pelukannya.
“Udahan? Padahal baru saja mulai seru,” Sea mencebik.
Cup.
Kecupan Noah mendarat lagi di pipi kanan Sea. Akhirnya pria itu menyetujui yang dikatakan banyak orang, jika mengecup pipi atau bibir wanita yang kamu cintai itu adalah candu.
“Kamu tuh harus menjaga kesehatan kamu,” kata Noah.
Kedua tangan Noah menangkup pipi Sea. “Saat nanti kita pulang ke kota, Aku ingin kamu memeriksakan kesehatanmu kembali.”
“Kita?” Sea memalingkan wajahnya.
“Aku belum mau ke mana-mana. Aku masih ingin di sini,” ucap Sea jujur.
“Sea… tatap aku,” pinta Noah dengan lembut.
“Ada apa? Kupikir kita sudah sepakat untuk mulai membangun rumah tangga kita kembali,” ucap Noah.
“Apa aku belum cukup meyakinkanmu? Katakan padaku, apa yang harus kulakukan lagi?”
Sea menggeleng. “Bukan, Mas… aku… a-ku takut kembali ke sana,” akunya.
“Takut?” Kening Noah mengernyit.
“Apa yang kamu takutkan? Ada aku, Sea.”
“Aku kehilangan semua orang yang kusayang di sana. Ayah dan Bunda, lalu calon bayi kita.” Seketika suasana hati Sea berubah sendu mengingat begitu banyak kehilangan yang telah ia alami.
Mendengar kesedihan yang dipendam istrinya, Noah mencoba menenangkan wanita itu dengan pelukannya. “Tapi sekarang kamu gak sendiri lagi, ada aku, mami, dan ayah yang sayang padamu. Berusahalah untuk ikhlaskan semuanya,” ucap Noah.
Sea masih bungkam dalam dekapan Noah. Nyaman dan menenangkan itulah yang Sea rasakan kala tangan suaminya membelai surainya.
Mengikhlaskan, sudah berkali-kali ia mencoba. Namun, praktek tak selalu semudah teori. Dalam relung hati terdalamnya, Sea terkadang merasa jika semuanya tak adil baginya.
Mengapa hanya aku yang harus kehilangan? Apa kesalahanku? Pertanyaan dalam batinnya yang selalu menyiksa.
...……………….....
Saat tadi kembali lebih awal, sosok pertama yang Owen temui adalah Tessa. Wanita cantik dengan gaun tidur super tipis yang mencetak dengan jelas dalaman berwarna merah yang ia kenakan.
“Kak Owen, kenapa tak membangunkan aku. Padahal aku juga sangat ingin jogging.” Tessa mencebikkan bibirnya. Wanita cantik itu cemberut dan sengaja bersikap merajuk yang dibuat semenggemaskan yang ia bisa.
“Aku tak tahu. Kau tak katakan padaku,” balas Owen tak acuh.
Pria itu berjalan melewati Tessa tanpa memandang ke arah wanita yang sengaja tampil s*ksi. Merasa usahanya sia-sia untuk menarik perhatian Owen, Tessa akhirnya menyusul masuk menuju kamarnya dengan kaki yang ia hentak-hentakkan.
Saat Tessa melewati ruang makan, Sandy yang baru saja bangun tidur dan masih mengumpulkan sebagian nyawanya yang terbang entah ke mana, dibuat melotot tak percaya saat melihat sosok bidadari s*ksi di hadapannya.
__ADS_1
Glek.
Susah payah Sandy menelan air yang sudah berada dalam mulutnya agar tak tersembur keluar.
“Makhluk Tuhan yang paling s*ksi,” gumamnya.
Rupanya gumamannya itu terdengar oleh Tessa. Wanita itu menghentikan langkahnya dan menoleh Sandy.
“Apa kau bilang?”
“S*ksi… s*ksi…,” Tessa mendelik sebal ke arah Sandy.
Suasana hatinya sedang buruk dan akhirnya kini ia mendapat tempat pelampiasan. “Awas, ya. Matamu kusumpahi bintitan setahun, biar tahu rasa!”
“Astajim, s*ksi… eh maksudku Tessa. Lu tega banget nyumpahin gue gitu,” balas Sandy.
“Kualat sama orang tua, gue sumpahin lu jatuh cinta sama gue, jadi bucin sekalian biar lu tahu rasa.” Sandy tak mau kalah dengan wanita catik yang sayangnya jika bicara selalu saja sepedas ayam geprek level 10.
“Dasar dokter gila!” Celetuk Tessa kemudian berlari kembali masuk ke kamarnya.
Pemandangan itu tak mungkin disia-siakan oleh Sandy. “Gue juga gila karena lu! Siapa suruh pagi-pagi gini sudah menguji kewarasan gue!” gumam Sandy berjalan menuju halaman depan.
Di sana tampak Mbok Sum yang sedang menyiapkan meja untuk menata sarapan yang telah ia masak.
“Pagi Mbok Sum,” sapanya riang.
“Pagi Mas Sandy,” balas si Mbok. “Roman-romannya, Mas Sandy lagi bahagia nih. Semangat banget, Mas.”
“Akh, Mbok Sum bisa nebak. Hebat udah seperti cenayang,” ucap Sandy menanggapi gurauan Mbok Sum.
Sandy membantu Mbok Sum menyiapkan meja untuk sarapan seraya menunggu sahabatnya yang lain bersiap.
Melihat banyak makanan di atas meja, kedua manik mata Phila tampak berbinar. “Wow, semua ini siapa yang masak?”
Sandy terlihat membusungkan dadanya. Dengan gaya angkuh yang ia buat-buat, salah satu tangannya menepuk-nepuk dadanya.
Sandy tak pernah berpikir jika Phila akan percaya. Rupanya pria itu salah, dengan wajah ceria Phila memekik kegirangan bahkan ia bertepuk tangan.
“Waw… Kak Sandy sungguh multi talent, ya!” Ucapnya bangga.
Sandy yang sebenarnya sudah menyiapkan serangan balasan andai saja Phila tak percaya dan mengejeknya, hanya bisa menghela napasnya.
Sandy tak bisa mengalihkan tatapannya dari Phila yang sesekali tertawa saat bermain dengan gawainya. Gadis ini sebenarnya cantik. Menarik dan sepertinya akan mudah untuk kutaklukkan. Tapi, sayangnya sosok Tessa lebih menantang. Batin Sandy.
Tak lama kemudian, benar dugaan Sandy. Sosok Tessa ikut bergabung bersama Sandy dan Phila. Dalam hati Sandy lagi-lagi memuji Tessa yang kembali berpakaian cukup terbuka dan benar-benar menguji nyalinya.
Menyadari dirinya ditatap lapar oleh Sandy, Tessa menatap pria itu dengan tatapan tak suka meski yang ia dapatkan adalah Sandy yang mengerling nakal sebagai balasan.
Seperti biasa, Owen ikut bergabung tanpa sepatah kata apa pun. Dokter muda itu tak peduli dengan Tessa yang terus bersikap berlebihan padanya. Mencari perhatian dengan menyiapkan secangkir kopi juga mengoles roti dengan selai spesial untuk Owen.
Noah dan Sea baru saja tiba di rumah bersamaan dengan Sandy yang hendak bertanya mengenai keberadaan pasangan suami istri tersebut. Keduanya pulang ke rumah dengan penampilan yang sangat berantakan.
Berjalan dengan Noah yang merangkul posesif pinggang Sea, keduanya sukses membuat ketiga sahabatnya menggeleng. Pasangan suami istri itu bertingkah selayaknya sepasang remaja yang sedang berbunga-bunga.
Ketiganya menyoraki Sea dan Noah, termasuk Mbok Sum yang terus tersenyum malu-malu melihat keromantisan pasangan itu. Kecuali, Owen… dokter muda itu lebih banyak terdiam. Bahkan, tatapannya pun hanya terfokus ke ponselnya.
Meski wajahnya terlihat tegas, namun kesedihan juga kekecewaan terpancar jelas dari sorot matanya. Dan semua hal itu bisa dibaca oleh Tessa. Wanita itu sejak awal sudah menduga. Namun pagi ini semua kecurigaannya akhirnya memiliki alasan yang kuat.
__ADS_1
Jadi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Malang sekali dokter tampan ini. Batin Tessa.
Wanita itu dengan berani duduk di samping Owen. Semakin mendekat ke arah pria itu, membuat Owen merasa risih.
“Lu mau apa?” Tanya Owen waspada.
“Tunjukkan telapak tanganmu!” Pinta Tessa.
“Hah? Untuk apa? Gue gak percaya dengan ramal meramal,” ucap Owen mengira Tessa berniat meramal garis tangannya.
“Ck…” Tessa berdecak dan menarik paksa kedua tangan owen. “Susah banget sih, dibilanginnya!”
Tessa lalu menepuk kedua telapak tangan owen secara bersamaan. “Kalau sama aku, cintamu tak akan bertepuk sebelah tangan.” Ucap Tessa berbisik.
“Dasar gila!” Ucap Owen dengan wajah yang berubah horor. Sementara Tessa semakin tergelak melihat respon Owen yang menurutnya sungguh lucu.
...………………...
Sementara itu, di dalam kamar Sea dan Noah keduanya kini tengah asik bercumbu. Semuanya berawal saat Sea baru saja selesai mandi dan hanya memakai bathrobe yang menutupi tubuh indahnya. Rambutnya yang basah ia biarkan tergerai.
Sea duduk di depan meja riasnya, mengambil hair dryer dan segera mengeringkan rambutnya. Noah yang sudah siap lebih dulu, hanya memandangi apa yang dilakukan istrinya. Dia jadi teringat dengan salah satu adegam film yang pernah ia tonton.
“Sea, biar aku bantu mengeringkan rambutmu,” tawarnya.
“Tak usah, Mas. Aku bisa sendiri,” tolak Sea.
Awalnya Noah mengangguk setuju meski kecewa. Namun, rasa penasarannya untuk mengulang adegan di film bersama istrinya membuat Noah akhirnya sedikit memaksa.
“Biarkan aku melakukannya. Selama ini kamu selalu melayaniku dengan baik sebagai seorang istri. Kini saatnya aku yang akan melayanimu,” ucapnya.
Sea terharu dan akhirnya mengangguk setuju. Meski terasa aneh dan sedikit kaku, akhirnya Noah berhasil mengeringkan rambut istrinya.
“Nah, selesai.” Ucapnya girang.
Sea merasa harus berterima kasih atas jerih payah suaminya. Sontak saja ia berdiri kemudian berjinjit untuk mengecup pipi kanan suaminya.
Sea tak sadar, jika tali bathrobenya terlepas hingga kini tubuh bagian depannya menjadi suguhan istimewa untuk sang suami.
Noah menelan salivanya. Dalam hati ia mengutuk dirinya. Mengapa dia harus berdiri mematung seperti ini. Apa yang seharusnya pria lakukan di saat seperti ini pun ia tak tahu.
Sea yang malu kini sedang berusaha menutupi tubuhnya. Namun saat tangannya hendak menyimpulkan kembali tali bathrobenya, Noah lebih dulu menarik tangannya.
Noah menyerahkan semuanya pada instingnya. Pria itu kembali menjamah bibir merah muda istrinya. Sea bisa merasakan jika ciuman Noah kali ini lebih berg*irah hingga dirinya pun ikut terbawa suasana.
Cukup lama keduanya bercumbu dalam posisi masih berdiri, Noah pun akhirnya menuntun istrinya untuk berbaring di ranjang. Pria itu sudah tak mau pusing dengan sinar mentari yang menyorot masuk dari sela-sela horden kamarnya. Noah hanya akan mengikuti instingnya saja. Titik.
Sepasang suami istri itu sudah siap untuk terbang ke langit ke tujuh, sayangnya tiba-tiba suara ketukan di pintu menjatuhkannya.
“Non Sea… Mas Noah… ayo sarapan dulu!” Teriak Mbok Sum dari balik pintu.
Sea dan Noah menampakkan wajah kecewa.
“Non Sea… Mas Noah… sarapannya sudah siap.” Teriak Mbok Sum sekali lagi.
“Iya Mbok, sebentar lagi kami keluar.” Sea akhirnya menjawab, sebab jika tidak wanita paruh baya itu tak akan pergi dari sana.
“Sea, pulang yuk! Di sini banyak gangguan,” ucap Noah masih dalam posisi menindih tubuh istrinya.
__ADS_1
...———————————...