
Salahkan Noah yang lupa mengaktifkan nada dering pada pengaturan ponsel pintarnya. Ketika makan siang bersama istrinya, dokter tampan itu sengaja mengubah pengaturan ponselnya menjadi silent mode , jadi ponsel itu hanya akan menimbulkan getaran jika ada panggilan atau pesan masuk.
Hal itu ia lakukan karena tak ingin waktu kebersamaannya bersama sang istri terganggu. Lebih tepatnya lagi, ia tak ingin saat-saat bermesraan bersama istrinya terganggu.
Sayangnya, ketika akan kembali ke rumah sakit, ia lupa untuk menonaktifkan silent mode tersebut. Itu pun terjadi karena permintaan Sea yang ingin diberi izin bertemu dengan kedua sahabatnya di sebuah kafe, telah berhasil mengalihkan perhatiannya.
Meski kafe yang dimaksud berlokasi tak jauh dari Rumah Sakit Pelita Harapan, namun Noah tetap saja merasa berat karena harus meninggalkan istrinya seorang diri. Jika seperti ini, ia kembali dilema.
Beberapa saat yang lalu, sepertinya belum cukup dua jam berselang, pertanyaan muncul dalam benaknya. Apakah ia harus berbahagia karena Dokter Frisha telah mengatakan, jika kandungan Sea saat ini sudah dalam kondisi baik dan ibu hamil itu sudah dibolehkan untuk kembali beraktivitas yang ringan-ringan saja.
Sebab tadi … saat masih di rumah, Noah mana kuat jika dihadapkan pada tatapan puppy eyes istrinya yang begitu menggemaskan. “Seminggu di rumah, menghabiskan detik demi detik di atas tempat tidur itu sungguh melelahkan. Tolong izinkan aku ya, Phiu sayang.” Begitulah cara Sea merayu suaminya untuk mendapat izin.
Jangan lupakan jemari lentik istrinya yang menyentuh dadanya dengan sangat provokatif. “Baiklah, kamu boleh pergi.” Akhirnya izin darinya pun ia berikan.
“Tapi ingat kata Frisha. Kamu hanya boleh melakukan aktivitas yang ringan-ringan saja. Jangan sampai kelelahan, ingat kamu baru saja sembuh, sayang.” Peringat Noah pada Sea.
“Siap bos!” Pekik istrinya seraya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Namun sebelum itu, Sea sempat mengatakan pada suaminya, jika Noah memang harus bergegas untuk kembali ke rumah sakit maka ia tak masalah jika harus diantar oleh sopir pribadi keluarga Myles.
Noah hanya menggeleng mendengar hal itu. Mana mungkin ia membiarkan Sea pergi seorang diri. Andai saja ia tak memiliki kewajiban di rumah sakit, lebih baik ia menemani istrinya bertemu dengan kedua sahabatnya.
Noah akan rela menghabiskan waktu untuk setia menemani istrinya. Bahkan jika harus menjadi obat nyamuk ketika ketiga sahabat itu bertemu. Ia akan rela selama ia bisa memastikan istrinya selalu aman dan baik-baik saja.
Sembari menanti istrinya yang sedang bersiap, Noah memeriksa ponselnya. Ia berdecak sebal kemudian menggeleng saat membaca satu lagi pesan masuk dari rekan sejawatnya, Alesandra.
Akhir-akhir ini, dokter tercantik di Rumah Sakit Pelita Harapan itu, tak henti-henti mengirimkan pesan singkat padanya. Pesan singkat yang selalu ia hapus segera setelah ia baca. Pesan singkat yang berisi perhatian-perhatian kecil dari Alesandra.
Sekali Noah sudah pernah memperingati Alesandra untuk tak mengirimkannya pesan singkat atau menghubunginya via telepon, jika hal yang ingin dibicarakan wanita itu tidak menyangkut soal pekerjaan. Bahkan Noah jujur dengan alasannya jika ia tak ingin Sea sampai curiga bahkan salah paham. Ketenangan batin istrinya harus ekstra ia jaga selama masa awal kehamilannya.
“Loh … Mas!” Dengan handuk putih dan pendek yang melilit tubunya, Sea tampak terkejut dengan keberadaan suaminya yang masih duduk bersandar di atas sofa seraya memainkan gawainya.
“Mas belum berangkat lagi?” tanyanya.
Noah menggeleng. “Aku yang akan mengantarmu ke kafe itu. Dan segera setelah selesai bertemu Tessa dan Phila, hubungi aku!”
“ Lalu aku akan segera datang untuk menjemputmu,” imbuhnya.
“Tapi, aku bahkan belum bersiap. Kamu akan terlambat, sayang,” balas Sea. Ia jadi merasa bersalah pada suaminya.
__ADS_1
“Maka bersiaplah dari sekarang. Gunakan waktumu, aku akan menunggu,” ucap Noah dengan senyum manisnya.
...…………....
Setelah mengantar istrinya ke kafe, hanya butuh beberapa menit untuk Noah tiba di rumah sakit. Saat ini pria itu sudah berada di ruangannya, mulai membaca status rekam medis para pasiennya.
“Dokter Noah, apa Anda tak ingin menerima panggilan telepon Anda dulu?” tanya perawat yang akan mendampingi Noah melakukan kunjungan ke ruang rawat para pasiennya.
“Telepon?” Kedua alisnya naik lalu kepalanya menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari benda pipih tersebut.
Layar ponsel yang ia letakkan di atas salah satu meja di ruang kerjanya itu, dari kejauhan tampak berkedip-kedip. “Sebentar, aku akan terima panggilan telepon dulu,” ucapnya.
Kening Noah semakin mengernyit saat melihat nama Tessa, sahabat istrinya yang menghubunginya. Terbesit perasaan khawatir seandainya sesuatu yang buruk kembali menimpa istrinya. Namun ia segera mengenyahkan pikiran tersebut.
Ia mencoba berpikir positif. Bisa saja ponsel istrinya kehabisan daya. Kemudian istrinya itu sudah ingin dijemput dan meminjam ponsel Tessa untuk menghubunginya. Pikirnya dalam hati.
“Halo,” sapa Noah.
“Se-Sea!” Pekik Tessa dengan tergagap di seberang telepon.
“Sea, di serang oleh orang tidak dikenal. Ia ditik*m dengan pisau!” Tak lagi memekik, suara Tessa kini terdengar berteriak.
“Ma-maksudmu, Sea ki-ni … Sea … istriku ….” Noah tergagap, rasanya lidahnya keluh tak bisa berucap apa pun. Kekhawatirannya benar-benar terjadi.
“Iya! Sea sekarang tak sadarkan diri setelah diserang dan ditik*m oleh pria yang tak dikenali,” jelas Tessa dengan cepat.
“Aku menghubungimu sejak tadi, tapi tak ada jawaban.” Keluh Tessa.
“Tenanglah, aku dan Sea sudah dalam perjalanan dengan ambulans menuju ke sana, bersiaplah!”
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Noah bergegas keluar dari ruangannya. Ia hendak menanti kedatangan ambulans yang membawa istri tercintanya di depan pintu UGD.
Perawat yang tadi sempat mendengar percakapan Noah juga tak bertanya apa pun, ia sudah bisa menyimpulkan jika dokter tampan itu kembali diterpa musibah.
Ya Tuhan, tolong lindungi istriku dan bayi kami dalam kandungannya. Noah berdoa tanpa henti sepanjang perjalanan menuju pintu UGD.
Di tengah-tengah perjalanannya, dari kejauhan terlihat Owen yang berlari menghampirinya. “Noah! Gue baru aja nerima telepon dari cal-“ pria itu sontak menggantungkan ucapannya.
“Hem, maksud gue dari Tessa,” sambungnya.
__ADS_1
“Dia dan Sea sedang menuju ke mari dengan ambulans. Sea di-“ belum selesai ucapannya, Noah menyelanya.
“Gue tau! Tessa juga baru saja menghubungi gue,” ucap Noah tanpa menghentikan langkahnya.
Owen berusaha mempercepat langkahnya untuk menyamakan dengan Noah. “Gue akan menunggu ambulans itu tiba,” ujar Noah.
“Tolong bantu gue untuk siapin segalanya,” pinta Noah.
Fisaratnya mengatakan jika istrinya butuh penanganan lebih serius kali ini. “Tolong siapkan juga ruang operasi, untuk jaga-jaga.”
“Juga hubungi dokter Frisha, minta dia segera ke UGD. Sebentar lagi istri gue tiba,” lanjut Noah dengan suara yang bergetar.
Owen mengangguk paham. Ia tepuk lengan sahabatnya, “Lu kuat, gue lercaya itu. Istri lu juga orang yang kuat,” ucapnya menyemangati sahabatnya.
“Thanks, bro.” Ucap Noah kemudian melanjutkan langkahnya yang semakin ia percepat.
...………...
Noah, seorang dokter jaga, dan dua orang perawat sudah menanti kedatangan ambulans di depan pintu ruang UGD. Tak ada yang bisa terpikirkan oleh pria itu saat ini. Nyawanya seperti akan terbang melayang saat mendengar jika istrinya baru saja diserang oleh seseorang yang tak dikenali.
Apa kesalahan istrinya hingga harus begitu menderita, pikir Noah. Ataukah mungkin ini ganjaran untuknya, sebab dulu ia sempat menyia-nyiakan istri dan juga calon buah hati mereka?
Tapi mengapa harus Sea yang begitu menderita? Mengapa harus istrinya yang mengalami ini semua? Mengapa bukan dirinya saja yang menanggung semua dosa atas kesalahannya? tanyanya dalam hati.
Wiu … wiu … wiu …
Bunyi sirine pada ambulans begitu memekikkan telinga. Menyadarkan Noah dari lamunannya. “Inilah saatnya, aku harus kuat!” Tekadnya.
Noah mengusap kasar wajahnya dengan kedua tanganya. Ambulans sudah berhenti sempurna di hadapannya. Sopir dan petugas ambulan segera membuka pintu dan mendorong turun brankar yang diatasnya berbaring seorang pasien wanita.
Noah melihat Tessa turun lebih dulu. Baju kuning wanita itu kini penuh dengan cipratan warna merah dari darah. Yang membuat degup jantung Noah meningkat pesat, saat netranya mendapati tangan Tessa yang berlumuran darah.
“Oh Tuhan, separah apa kondisi istriku,” gumamnya.
Beberapa detik Noah berdiri mematung di tempatnya. Wanita cantik yang terbaring tak sadarkan diri di atas brankar itu benar adalah istrinya, Seanna Filia.
Wajah istrinya kini kembali memucat, seperti beberapa hari yang lalu. Matanya terpejam, istrinya tak sadarkan diri. Infus telah terpasang di salah satu pergelangan tangan istrinya. Alat bantu pernapasan juga terlihat menutupi hidung dan mulutnya.
Namun satu hal yang membuat tubuh Noah melemah dan hampir saja tumbang, yaitu perban dengan bercak darah di perut istrinya.
__ADS_1
Tuhan, selamatkan dia. Ambil nyawaku jika memang perlu, jerit Noah dalam hati.
...--------------------...