
“Kapan dia akan sadar?” Raut wajah khawatir Mami Joanna tak bisa lagi ia tutupi sata menanyakan keadaan menantu kesayangannya pada putranya.
“Sea baik-baik saja, Mam….” Jawab Noah menenangkan sang Ibu.
Hanya helaan napas sang Ibu, yang bisa didengar Noah sebagai jawaban. Meski dalam hatinya ia pun turut khawatir dengan kondisi kesehatan istrinya.
Pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut, terus meyakinkan dirinya jika Sea akan baik-baik saja. Dalam benaknya, Noah terus saja mengatakan pada dirinya jika para rekan sejawatnya telah melakukan yang terbaik.
Dari sudut ruangan tempatnya kini berdiri, tatapan Noah melekat pada Sea yang terbaring tak sadarkan diri. Aku sudah menduga kamu akan kecewa, tapi tak kuduga kamu akan histeris seperti itu, Sea.
Rasanya air mata Noah akan kembali tumpah saat mengingat bagaimana istrinya yang histeris, menjerit dengan air mata yang membanjiri wajahnya saat tahu jika janin yang baru tumbuh beberapa minggu di dalam rahimnya kini telah tiada.
Noah merasa tubuhnya lemas, sepertinya otot-otot telah meninggalkan tulangnya saat mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Terbayang bagaimana Sea yang meronta, menjerit dalam pelukannya.
.......
“Anakku? Mana anakku, Mas?” Teriakan Sea saat berada dalam pelukan Noah.
“Jawab, Mas!”
“Jawab!!” Jeritnya sekali lagi.
Entah kemana semua kekuatan Noah saat itu, yang pasti ia merasa cukup kesulitan saat istrinya meronta dalam pelukannya. “Tenang Sea, kumohon tenanglah….”
“Aku akan tenang, Mas,” balas Sea.
“Tapi, setelah Mas katakan jika anakku baik-baik saja kan di dalam sini?” Kala itu, Noah bisa melihat Sea yang berusaha meraba perut datarnya yang berbalut perban.
Noah masih mengingat dengan jelas, bagaimana tubuh Sea yang berada dalam pelukannya tiba-tiba menegang. Lalu hanya dalam hitungan detik, tangan dan bahu istrinya bergetar hebat.
“Ma-mas… jadi benar jika Tuhan lebih menyayangi anakku?” tanya Sea dengan suara yang bergetar.
Hanya butuh beberapa detik dan tangisan wanita yang gagal menjadi seorang Ibu itu akhirnya pecah. Noah pada saat itu tak tahu harus menjawab apa. Lidahnya keluh dan untuk sesaat dirinya merasa telah menjadi pria paling bodoh yang tak bisa berkata apa pun untuk menenangkan istrinya.
Hanya mengangguk dan mengeratkan pelukannya yang bisa pria itu lakukan. Dan untuk pertama kalinya, kecupan ia daratkan di puncak kepala Sea. Bukan sekali, namun berkali-kali kecupan itu mendarat di sana. Seakan Noah ingin menebus setiap momen yang ia sia-siakan.
“Ma-mas… kamu benar,” ucap Sea di sela-sela tangisannya yang mulai mereda.
“Tuhan lebih menyayangi anakku,” imbuhnya.
Noah segera mengangguk tanpa melepaskan pelukannya. Satu tangannya sudah bergerak perlahan untuk membelai surai istrinya tak peduli jika surai yang biasanya lembut kini berubah kusut.
“Tak apa, Sea… ikhlaskan,” ucap Noah kala itu.
Sea mengangguk, sudut bibir Noah pun mulai tertarik ke samping. Untuk sesaat Noah pikir jika suasana menegangkan yang menyesakkan hatinya telah berakhir, nyatanya dugaannya salah.
“Kamu benar, Mas,” ucap Sea. Suaranya kembali bergetar pertanda wanita itu kembali menangis.
“Aku memang seorang pembunuh!” akunya.
“Apa yang kau katakan, Sea?” tanya Noah.
__ADS_1
Jika boleh jujur, saat itu Noah seperti merasa Sea telah menampar wajahnya hanya dengan ucapannya saja. Rasakan itu Noah, kebodohanmu dulu telah menjadi boomerang untukmu! Bahkan batinnya sendiri seakan mengejek pemiliknya.
“Kau yang paling tahu apa maksud ucapanku, Mas!” Sea menjawab dengan menekan setiap kata yang terucap dari bibirnya.
“Sekarang akan kuterima semua yang kau tuduhkan, Mas!” Sea kembali meronta. Noah mengingat bagaimana sulitnya ia menahan Sea yang ingin lepas dari dekapannya kala itu.
“Aku tak bisa menjaga bayi yang masih dalam kandunganku, Mas!” ungkap Sea yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Noah.
Mami Joanna dan Ayah Peter yang tadinya sengaja memberi ruang pada sepasang suami istri itu, sontak berdiri dan mendekat pada Noah yang masih betah memeluk tubuh Sea yang kembali meronta.
“Sayang, jangan berkata seperti itu… ini semua adalah takdir Tuhan,” ucap Mami Joanna lembut.
Sea kembali menggeleng. “Mas Noah benar, aku memang pembunuh. Aku tak pantas menjadi seorang ibu,” ucap Sea.
“Jadi… tinggalkan aku, Mas!” imbuhnya lirih.
Noah melerai pelukannya. Kedua tangannya kini berada di kedua lengan istrinya. “Tidak. Aku tak akan pernah meninggalkanmu!” tolak Noah dengan tegas.
“Tapi aku juga yang telah menyebabkan kekasihmu bunuh diri,” ucap Sea berbohong.
Noah menggeleng. “Tidak… jangan menyalahkan dirimu. Aku tahu bukan kamu, Sea. Maafkan aku.”
“Kepergian anak kita, juga wanita itu… semua bukan salahmu!” ulang Noah sekali lagi.
“Lepas, Mas!” Sea kembali memberontak.
“Tinggalkan aku sendiri!” Noah cukup terkejut saat itu sebab Sea membentaknya.
“Kamu… ataupun aku… kita tak akan ke mana-mana!” ulang Noah.
Namun sayang, Sea yang tak ingin berada dalam dekapan Noah terus saja memberontak. Ayah Peter yang saat itu sangat khawatir dengan kondisi menantu yang ia sayangi, akhirnya pergi untuk mencari dokter.
Tak lama, Ayah Peter kembali dengan dua orang dokter dan dua orang perawat. Salah seorang dari kedua dokter yang datang adalah Sandy, sahabat Noah.
Melihat kondisi emosional Sea yang tak stabil, seorang diantaranya terpaksa menyuntikkan obat penenang setelah mendapat anggukan tanda setuju dari Noah. Hanya berselang beberapa saat, kemudian Noah bisa merasakan gerakan tubuh Sea yang mulai melemah. Suara tangisannya lama kelamaan tak terdengar lagi.
Perlahan Noah mulai membaringkan tubuh Sea. Dua pasang netra milik Sea dan Noah masih sempat bertatapan, sesaat sebelum kedua netra Sea akhirnya benar-benar terpejam.
...................
Rasa takut kini menguasai Noah setelah ia mengingat kembali bagaimana rentetan kejadian beberapa saat yang lalu. Ayah Peter yang sejak tadi hanya duduk di sofa, menghampiri Noah. Pria paruh baya itu menepuk pundak putranya beberapa kali.
Menyadari kehadiran Ayahnya, Noah menoleh lalu berbalik badan menghadap ke jendela besar yang menampakkan pemandangan Ibu Kota di malam hari.
“Bagaimana jika Sea serius dengan ucapannya tadi, Yah?” tanyanya.
“Jika kau ingin mengulang kesalahan yang sama, maka biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan,” jawab Ayah Peter.
Noah menggeleng, tak menyangka jika ayahnya sangat santai mengatakan hal itu. Senyum yang terbit di wajah Ayahnya makin membuat Noah tak habis pikir dengan jalan pikiran pria yang sangat ia hormati itu.
“Santai, Bung!” ujar Ayah Peter. “Ucapan Ayah belum selesai,” akunya.
__ADS_1
“Tapi, jika kau tak ingin menyesal karena telah melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang, maka cegah dia. Jangan biarkan dia melakukan apa yang dia ucapkan tadi. Meski hanya setitik, tutup celah yang bisa saja membuatnya benar-benar pergi meninggalkanmu!” ucap Ayah Peter menasihati putra semata wayangnya.
Ya, Ayah benar. Tentu aku tak ingin menyesal. Aku tak akan lagi melakukan kesalahan yang selama ini kulakukan padamu Sea, aku tak akan menyia-nyiakanmu lagi! Batin Noah bertekad.
...……............
Pukul 03.00 dini hari, kedua netra Sea yang terus terpejam, perlahan-lahan mulai membuka. Sorotan pertama yang wanita malang itu temui adalah sosok suaminya yang tertidur dengan tangan yang menopang dagunya.
Pertama-tama Sea menormalkan dulu suasana hatinya yang kembali bergemuruh. Ia raba kembali perlahan perut datarnya, hingga tangannya menyentuh ada perban di sana.
“Rupanya ini semua nyata. Bukan mimpi,” keluhnya dengan suara seperti berbisik.
Suara Sea yang samar-samar terdengar oleh Noah, juga gerakan tubuh wanita itu akhirnya berhasil membangunkan suaminya. “Sea, kau sudah bangun?”
“Hemm.” Hanya itu jawaban Sea diiringi dengan anggukan kepalanya.
“Apa ada yang terasa sakit?” tanya Noah dan dijawab Sea dengan gelengan kepala.
“Lalu, apa ada yang kau inginkan?” lanjut Noah.
“Aku lapar. Aku ingin makan,” jawab Sea.
Segera Noah mengambil makanan di atas nakas yang sengaja ditinggalkan Mami Joanna untuk dirinya.
“Meski makanan ini tak hangat lagi, tapi makanlah dulu. Setidaknya perutmu terisi dulu,” ucap Noah.
Noah tak tampak kaku saat menyuapi Sea. Apalagi istrinya tak tampak menolak saat Noah mulai menyuapinya.
“Apa ada hal lain yang kamu inginkan? Aku akan meminta Mami membawanya nanti,” ucap Noah yang ingin memecah keheningan malam itu.
Lama tak ada jawaban dari Sea. Hingga suapan terakhir pun akhirnya usai, istri Noah itu masih bertahan dalam diamnya.
Namun tepat saat Noah beranjak untuk menuangkan air guna mengisi gelas Sea yang telah kosong, ucapan lirih istrinya akhirnya terdengar.
“Aku ingin pulang.” Begitulah yang didengar Noah.
Tanpa menoleh pada Sea dan tanpa menghentikan tangannya yang menuang air dari teko kaca ke gelas Noah berkata, “Tentu saja kita akan pulang, tapi setelah kesehatanmu benar-benar pulih.”
Helaan napas berat Sea menggema di ruangan yang sunyi. “Bukan kita, tapi aku.”
Noah tak menanggapi ucapan istrinya. Pria itu berusaha menahan getaran di tangannya. Jangan sampai aku menumpahkan air ini, pikir Noah.
“Aku ingin pulang ke rumahku!” ucap Sea.
Deg.
Yang ia takutkan benar-benar terjadi. Noah terpaku cukup lama di tempatnya. Gelas yang ia isi dengan air, entah sejak kapan telah penuh. Air meluap dari gelas dan Noah belum menyadarinya. Hingga ada air yang menetes ke lantai dan mengenai tepat di kakinya.
“Kita tak akan ke mana-mana. Kamu atau aku, tak akan ke mana-mana, Sea!” ucap Noah sebelum berlalu untuk mencari apa pun yang bisa ia gunakan untuk menyeka tumpahan air tadi.
...---------...
__ADS_1