
“As you wish, babe…”
Mendengar jawaban pria yang baru ia ketahui bernama Roy, seolah membakar hasrat di dalam dirinya. Sepenuhnya Alesandra sadar, jika yang ia lakukan kini sangatlah menjijikkan. Maka tak salah jika Alfio ataupun Roy menyebutnya sebagai ******.
“Hhhmmmpphhh…”
“Hhhmmmpphhh…”
Alesandra begitu berhasrat saat menautkan bibirnya dengan bibir Roy. Alesandra tampak begitu terburu-buru dan menuntut hal lebih dari pria yang ia tahan tengkuknya. Sedangkan Roy sepertinya terlihat tak terlalu tertarik dengan apa yang dilakukan Alesandra.
Haruskah aku berterima kasih pada bos? Batin Roy.
Seolah mendapatkan bonus dari sang bos. Alesandra… wanita angkuh yang selalu memaki saat dirinya mencuri ciumannya kini malah berbalik 360 derajat. Wanita yang selalu menolak cumbuan serta sentuhannya selama 5 hari terakhir ini, kini berbalik meminta untuk dijamah.
Roy memaksa melepaskan tautan bibir keduanya. Mendorong tubuh Alesandra hingga wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang. Pelukan tangan Alesandra di pinggangnya akhirnya terlepas.
“Hei!” Pekik Alesandra.
“Tunggu sebentar, aku harus menyelesaikan pekerjaanku ini,” kata Roy dengan sengaja. Pria itu lantas kembali berbalik membelakangi Alesandra. Roy bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa dan semakin sibuk dengan kameranya.
“What? Kau memintaku menunggu?!” Napas Alesandra semakin memburu. Sebelumnya napasnya sudah memburu karena hasrat dan g*irah. Lalu sekarang sikap tak acuh Roy padanya membuatnya geram dan merasa dipermalukan.
Namun apa dayanya, karena dua butir pil si*lan itu dirinya kini harus memohon pelepasan pada pria yang telah menculiknya. Pria yang masuk dalam list teratas orang yang ingin ia lenyapkan dari muka bumi.
“Ini semua juga karena ulahmu! Kenapa tak melukaiku saja. Pukul aku seperti sebelumnya! Atau bunuh saja aku sekalian!” Alesandra terus membentak di belakang punggung kekar Roy sedang pria itu tak peduli.
Semakin Alesandra marah, maka Roy semakin bahagia. Pasalnya marahnya Alesandra akan sama besar dengan semakin besar keinginan wanita itu untuk menyatu bersamanya.
Tak hilang akal… setelah tadi ia melucuti pakaian bagian atasnya, hingga dua benda kembar di bagian dadanya hanya tertutupi br*. Kini Alesandra meneruskan aksinya dengan menanggalkan celana yang menyembunyikan kaki jenjangnya.
Seolah lupa dengan sesuatu yang disebut malu, Alesandra melangkah dan berdiri tepat di hadapan Roy. Mengambil pose bagai seorang model majalah dewasa, agar pria kekar nan tampan itu memerhatikannya dan berhenti dengan kameranya.
Terkutuklah obat si*lan itu! Gerutu Alesandra dalam hati.
“Babe, ayo lah! Bukannya ini yang kau inginkan, huh?” bujuk Alesandra dengan gaya manjanya.
Entah sadar atau tidak, Alesandra terus saja bergerak gelisah di hadapan Roy, membuat pria itu terus menelan salivanya berkali-kali. Namun tugas tetaplah yang utama, sengaja Roy mengabadikan dengan kameranya setiap detail tingkah j*lang Alesandra.
Inilah cara Alfio dan Roy mengikat kontrak bersama para lawannya, termasuk Alesandra. Beruntunglah Alesandra, sebab dalam kasus ini Roy sendiri yang langsung turun tangan melakukannya
__ADS_1
Jika wanitanya bukan Alesandra, maka Roy dengan suka rela meminta para bawahannya. Dirinya kebagian sebagai juru rekam saja, tak menjadi masalah. Namun kali ini, Roy seakan enggan berbagi. Alesandra hanya boleh mengikat kontrak hanya dengannya.
“Jangan hanya diam, babe… katakan sesuatu yang membuatku menghampirimu,” ucap Roy. Pria itu tersenyum bangga saat melihat kilatan hasrat di sorot mata Alesandra.
“Babe… kau sungguh tega membuatku menunggu lama,” ucap Alesandra dengan suara serak.
“Tidakkah kau menginginkan ini?” Alesandra dengan kasar menarik penutup benda kembar di dadanya hingga terlepas dan menampakkan dua benda berharga dari tubuhnya.
Katakan jika aku sudah gila! Tapi benar-benar kewarasanku sudah ditendang menjauh oleh dua pil per*ngsang si*lan pemberian Alfio, batin Alesandra.
Tangan Roy yang memegang kamera bergetar. Sesuatu di balik celananya meronta-ronta. Roy bahkan sempat lupa caranya berkedip. Napasnya seakan tertahan. Wanita ini sungguh luar biasa, pujinya.
Roy mengerahkan seluruh keahliannya dengan kamera. Dalam hati ia bertekad untuk menciptakan suatu maha karya yang akan mengikat Alesandra terus padanya. Tentunya maha karya itu tak akan ia tujukkan pada siapapun, sekali pun bosnya… Alfio.
Setelah menyiapkan tiga kamera di tiga tempat berbeda, Alfio melucuti semua pakaian yang menutupi tubuhnya. Lalu dengan tubuh polosnya, ia beranjak dan duduk bersandar di atas ranjang.
Hal itu ia lakukan seraya menatap Alesandra. Setiap gerakan Roy berhasil memprovokasi Alesandra. Hingga hanya dengan sekali anggukan saja, wanita itu segera berhambur naik ke pangkuan Roy.
Malam itu… tak ada sekelebat bayangan akan Noah dalam benak Alesandra. Wanita itu terlampau menikmati penyiksaan yang sungguh nikmat dari pria yang telah menculik dan menjadikannya tawanan selama 5 hari. Alesandra tak tahu saja, jika malam ini adalah malam pertama baginya resmi menjadi j*lang dari pria bernama Roy.
...………....
“Kamu sungguh luar biasa, Mhiu….”
“Aku sungguh beruntung memilikimu.”
“Semakin hari kamu semakin pandai memanjakan adik besarmu, Mhiu sayang.”
Berbagai macam pujian terus terlontar dari bibir Noah. Pujian untuk sang istri seakan tak ada habisnya, tiap kali keduanya melakukan penyatuan penuh cinta.
Meski akan kelelahan pada akhirnya, namun tak ada setitik pun penyesalan atau keluhan dari dua insan yang dimabuk asmara tersebut. Penyatuan tanpa paksaan, berlandaskan cinta, dan memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk saling membahagiakan dan melengkapi rumah tangga mereka dengan kehadiran sosok malaikat kecil.
Selama beberapa jam perjalanan mendaki nikmatnya surga dunia, Noah telah berhasil mengantarkan istrinya pada puncak kenikmatan berkali-kali. Ada kebanggan tersendiri saat mengetahui dirinya berhasil melakukan hal itu. Kemudian pada akhirnya dirinya juga merasakan jika dia pun akan segera sampai pada puncaknya.
Cukup lama Noah berdiam pada posisinya terakhir kali. Keduanya saling menatap dengan pandangan penuh cinta. Tanpa ada sepatah kata pun, keduanya sudah tahu apa isi kepala masing-masing.
Setelah keduanya menormalkan deru napas yang saling memburu, Noah bergeser dari atas tubuh istrinya. Ia berbaring di sisi Sea, istrinya. Memeluk tubuh polos istrinya dengan sangat erat hingga keduanya bisa merasakan detak jantung masing-masing.
“Apa kamu kelelahan, Mhiu sayang?” tanya Noah.
__ADS_1
Sea menatap wajah suaminya lalu menggeleng. “Tidak,” jawabnya singkat kemudian kembali memejamkan matanya.
“Kamu mengantuk?” tanya Noah sekali lagi. Sejujurnya, kedua netra miliknya belum ingin terpejam.
Sea akhirnya kembali membuka matanya. Kepalanya menggeleng sebagai jawaban, kemudian tangannya terulur untuk membelai rahang kokoh suaminya, terus turun ke leher dan terus turun ke dada suaminya. Jemari lentiknya bermain di sana, menggambar pola abstrak yang membuat Noah memejamkan matanya menahan hasrat.
“Mhiu sayang, hentikan…” pintanya dengan suara serak dan berat.
“Mengapa? Kupikir kamu masih ingin melakukannya lagi,” ujar Sea.
“Hemmm, tak perlu kamu tanyakan hal itu. Saat bersamamu, tak ada satu detik pun yang bisa kulewati tanpa keinginanku untuk terus melakukannya bersamamu,” aku Noah jujur.
“Tapi kutahu jika itu tak mungkin. Kamu dan aku butuh istirahat,” imbuhnya.
Sea mengangguk, setuju dengan pendapat suaminya mengenai mereka butuh istirahat. Tapi untuk pernyataan Noah yang ingin terus melakukannya, Sea harus berpikir berkali-kali jika suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya. Sea merasa dirinya akan kesulitan saat memilih antara dosa menolak keinginan suami juga kesanggupan dirinya mewujudkan keinginan suaminya itu.
“Mhiu sayang,” panggil Noah yang akhirnya menarik Sea kembali dari lamunannya.
“Ya.”
“Semoga dia baik-baik saja, ya…” ucap Noah.
“Dia… siapa?” tanya Sea.
“Itu…” Noah menjeda ucapannya. Dengan matanya ia menunjuk pada adik besarnya yang tertutupi selimut.
“Hah?” Meski mengikuti arah pandangan Noah, Sea masih gagal paham dengan maksud suaminya.
“Itu loh… pasukan minion yang ditembakkan adik besarmu,” ungkap Noah.
Lama Sea terdiam, mencermati ucapan suaminya. Hingga ia memekik karena akhirnya ia paham siapa pasukan minion yang dimaksud sang suami.
“Ooohhh, pasukan minion yang itu-“ Sea menggantungkan ucapannya dan beralih menatap suaminya. “Memangnya ada apa dengannya? Dia tidak dalam masalah, bukan?”
Noah menggeleng. “Mari kita sama-sama berdoa semoga satu dan ribuan pasukan minion itu ada yang berhasil sampai ke istanamu,” ujar Noah.
Sea menyetujui ucapan suaminya, keduanya bersamaan memejamkan mata sesaat, dan berdoa dalam hati. Semoga usaha mereka malam ini tidak sia-sia dan berbuah Sea atau Noah junior secepatnya.
Keduanya kembali saling bertukar pandang, lalu tertawa secara bersamaan. Lagi dan lagi, Sea dan Noah melewati satu malam dengan penuh kehangatan dan cinta, dan berharap esok malam akan mereka lewati lebih baik dari dari malam ini.
__ADS_1
...————————————...