Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 51. Hukuman Untuk Alesandra


__ADS_3

“Lepaskan!” Pekik wanita itu.


Wanita itu terus memberontak saat pria di hadapannya dengan sabar ingin menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Untung saja kau cantik dan aku tertarik padamu, jika tidak… kau sudah kubiarkan mati kelaparan!” Ungkap pria itu.


“Aku tak butuh makananmu! Lepaskan aku dan biarkan aku pergi!” Tolak wanita itu dengan kasar.


Cup.


Seakan tuli, tanpa permisi sang pria mengecup bibir wanita yang sejak 5 hari lalu tak pernah terlihat takut padanya.


“Cih… awas kau, ya! Berani-beraninya kau menciumku!” Bagaimana si wanita tak murka jika pria itu seenaknya terus mencium bibirnya.


“Apa? Kamu masih ingin dicium? Baiklah.” Lalu lagi-lagi pria itu mengecup bibir si wanita tanpa izin.


Hal itu terjadi berulang-ulang. Setiap kali wanita itu berbicara dengan kasar, maka pria kekar yang telah menculiknya akan kembali menyatukan kedua bibir mereka.


“Cih… aku benar-benar membencimu. Jika, aku bebas nanti kupastikan akan membalasmu!” Ancam wanita itu.


“Kenapa? Kau masih mau lagi? Kau belum cukup dengan semua ciumanku? Masih mau lagi?” Pria itu kembali menggoda si wanita membuatnya semakin kesal. Kesal karena dia tak dapat melakukan apa pun dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat.


Baru saja si pria hendak mencium bibir yang sedikit membengkak karena ulahnya, ketukan di ambang pintu menghentikannya.


Tok… tok… tok…


“Apa aku mengganggu kalian?” Suara bariton di ambang pintu menarik perhatian keduanya.


“Eh, bos… ti-tidak,” jawabnya terbata. “Bukannya baru besok jadwal Anda kembali ke Tanah Air?”


“Ya, sengaja kupercepat. Aku sudah tak sabar ingin memberi wanita si*lan itu pelajaran!” Ungkapnya.


Sementara dua pria itu sedang berbincang, wanita yang berstatus tawanan keduanya merasa tak asing dengan suara pria yang baru saja tiba. Dari tempatnya ia berusaha mengenali pria itu.


“Alfio? Kau kah itu?” tanyanya.


“Ternyata keadaanmu masih lebih baik dari dugaanku.” Alfio, pria yang baru saja tiba mendekat ke arah ranjang.


“Kau terlalu baik padanya, Roy.” Pria itu kini menoleh pada pria bertubuh kekar di sampingnya.


“Aku menanti instruksi,” jawabnya singkat.


“Berhenti omong kosong, kau sudah gila? Mengapa menculikku?” Celetuk sang wanita.


Tak terima setelah diteriaki oleh wanita itu, dengan kasar Alfio mencengkeram pipinya. “Dasar j*lang! Harusnya kau bersyukur karena masih hidup sampai saat ini!” Bentak Alfio.


Setelahnya dengan kasar ia menghempas wajah wanita itu hingga terlihat meringis. “Jangan sok, Alesandra! Jika tak mati di tanganku, aku bisa membuatmu membusuk di penjara!”


Kedua bola mata Alesandra membola. “Jadi, ini semua benar karena ulahmu?”


“Ada apa denganmu? Bukankah kita punya tujuan yang sama?” Tawanan wanita yang ternyata adalah Alesandra terus mencecar Alfio dengan pertanyaan.


Tak pernah terpikir oleh Alesandra jika Alfio adalah si bos yang selalu dibicarakan oleh pria mes*um yang terus mencuri ciuman darinya.

__ADS_1


“Jangan samakan aku denganmu!” Bentak Alfio.


“Aku tak peduli dengan apa yang kau lakukan pada laki-laki si*lan itu atau calon bayinya! Tapi tidak dengan Sea,” ungkap Alfio.


“Memangnya apa yang sudah kulakukan?” Meski dari raut wajahnya terlihat ketegangan yang luar biasa, Alesandra sebisa mungkin berpura-pura tak mengetahui apa pun.


“Setelah hampir membunuhku juga Sea, dengan tak tau dirinya kau bertanya apa yah sudah kau lakukan?” Dengan punggung tangannya, Alfio menampar pipi kanan Alesandra dengan keras.


Cukup keras hingga menimbulkan luka di sudut bibir dokter cantik itu. Alesandra meringis menahan sakit, ia berusaha menahan genangan air mata yang hendak tumpah.


“A-aku memang tak melakukan apa pun, kau sudah salah menuduhku!” Alfio merasa geram melihat Alesandra yang terus berkilah. Kini rambut panjang wanita itu yang menjadi sasarannya.


“Kau masih tak ingin mengakui perbuatanmu, hah?” Alfio semakin kuat menarik rambut Alesandra.


“Aaahhhh… lepaskan!” jerit Alesandra. Tangis wanita itu akhirnya pecah, karena merasakan sakit yang luar biasa. Seperti kulit kepalanya akan lepas dari tempatnya.


Roy yang sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak lagi bisa tinggal diam saat mendengar jeritan dan isak tangis Alesandra. Tak ingin Alfio menaruh curiga padanya, Roy sengaja melempar sebuah amplop putih tepat di wajah Alesandra.


“Kau jangan mengelak lagi j*lang! Kami punya semua bukti yang bisa memenjarakanmu.” Bentakan dan sikap kasar Roy berhasil menarik perhatian Alfio. Pria itu akhirnya menjauhkan tangannya.


Alfio memberi ruang pada Roy untuk melakukan tugasnya yang semestinya. Melihat keadaan Alesandra yang masih utuh tanpa sedikit pun cacat di tubuhnya, membuat Alfio meragukan kinerja Roy.


Roy memutar video yang ada di ponselnya. Sepasang netra Alesandra membelalak melihat video di mana dirinya sedang mengatur rencana dengan seorang pria untuk mencelakai Sea dan Alfio. “Kau masih berani mengelak?!” Bentak Roy.


Alesandra tak menjawab, hanya saja tangisannya pecah. “Cepat akui jika kau adalah dalang dari kecelakaan yang menimpa Tuan Alfio dan Nyonya Sea!” Perintah Roy.


Alesandra menunduk sesaat lalu nenyeka air mata dengan lengannya. Sesaat setelah itu, Alesandra dengan berani menatap Alfio. Tatapan nyalang penuh dendam, kebencian, dan kemarahan.


ikut saja pergi ke neraka bersama anaknya!” Ucap Alesandra dengan suara serak.


Plak…


Satu tamparan keras mendarat lagi di pipinya. Kini kedua sudut bibirnya sudah terluka dan mengeluarkan darah. Dan yang melakukan hal itu adalah Roy.


“Kalian berdua pria br*ngsek!” Teriak Alesandra memaki kedua pria di hadapannya.


“Bagus!” Alfio menekan tombol power pada kamera yang ia gunakan. Pria itu tertawa seraya bertepuk tangan.


“Karena kau sudah sukarela mengakuinya maka aku akan memberikan keringanan padamu,” ucap Alfio dengan seringai di wajahnya.


“Akan kupikirkan lagi untuk mengirimmu ke penjara! Hukuman itu akan terlalu ringan untuk perbuatan kejimu!” ujar Alfio.


Alfio dan Roy saling bertatapan. Menyekap dan menyiksa seperti ini, bukanlah hal yang baru pertama kali mereka lakukan. Dengan sigap Roy menangkap botol kecil yang berisi beberapa pil. Roy tentunya tahu pil apa yang diberikan Alfio padanya dan apa alasan bosnya itu memberikannya.


Kening Alfio mengerut saat melihat ada keraguan dari sorot mata Roy. “Apa ada masalah, Roy?” tanyanya.


Roy menggeleng. “Tak ada, bos.”


“Mulai sekarang kau harus mengikuti segala perintahku! Kau tak boleh bertindak apa pun tanpa persetujuanku,” titah Alfio untuk Alesandra


Tak ada komentar apa pun dari Alesandra. Wanita itu hanya menatap Alfio dan Roy bergantian.


“Aku tak meminta persetujuanmu,” kata Alfio.

__ADS_1


“Sekarang lakukan tugasmu, Roy!” Lanjutnya tanpa menatap Roy.


Tak ingin berlama-lama di ruangan itu, Alfio segera angkat kaki dari sana. Di ambang pintu, Alfio menghentikan langkahnya. “Lakukan dengan benar! Jangan membuatku kecewa,” ucapnya tanpa berbalik.


...…………....


Roy berdiri bersandar di dinding. Melipat tangannya di depan dada, tatapannya hanya tertuju pada sosok wanita yang tetap angkuh walau dalam keadaan tak berdaya.


“Apa yang harus kulakukan sekarang?” gumamnya.


“Memangnya kau diperintahkan apa sama bos si*lanmu itu?” tanya Alesandra.


“Itu pertanyaan yang buruk,” jawab Roy. Untuk sesaat Roy terdiam, menatap ke dalam manik mata Alesandra.


“Kau benar-benar ingin tahu?” Pertanyaan Roy semakin menimbulkan tanya di benak Alesandra.


“Sudahlah, aku tak peduli. Silakan jika kalian ingin membunuhku.” Ungkapnya.


“Tapi hal ini jauh lebih kejam dari sekedar membunuhmu,” jelas Roy.


Kening Alesandra mengernyit. “Jelaskan rencana jahat apa lagi yang akan kalian lakukan padaku, hah?”


Roy kembali dalam mode diam. Cukup lama pria itu terlihat menimbang-nimbang mengenai keputusan terbaik yang harus ia ambil. Baru kali ini dia dibuat dilema karena pekerjaannya.


Helaan napas berat Roy mengejutkan Alesandra. “Baik, khusus untukmu akan kulakukan sendiri!” Ucapnya.


Pria itu lalu menghampiri Alesandra. Memaksa wanita itu menelan 2 pil yang diberikan oleh Alfio. Setelah memastikan pintu kamar terkunci barulah Roy melepaskan ikatan di tangan dan kaki wanita itu.


Setelah ikatannya terlepas, Alesandra terlihat gelisah. Tubuhnya beberapa kali menggeliat. Ia merasakan hawa panas yang luar biasa, seperti ada sesuatu dari dalam dirinya yang meronta-ronta ingin dikeluarkan.


“Obat apa yang kau berikan padaku?” tanya Alesandra.


Di saat wanita itu kesulitan menahan hasrat yang semakin membuncah, Roy sengaja menyibukkan dirinya dengan kamera dan mengabaikan pertanyaan Alesandra.


Alesandra tak kuat lagi melawan dorongan dari dalam dirinya. Tanpa bisa ia cegah, langkah kakinya membawa dirinya semakin dekat dengan Roy.


“Pil itu… pasti obat per*ngsang, kan?” Tuding Alesandra.


Roy menghela napasnya, haruskah ia jujur mengenai apa yang sebentar lagi mungkin akan terjadi.


Saat Roy berbalik, pria itu dibuat terpukau oleh penampilan Alesandra. “Ka-ka-kau, apa yang kau lakukan?” Tegur Roy.


“Kau bertanya aku kenapa?” Tanya Alesandra seraya berdecih.


“Lebih baik kau lakukan saja tugasmu!” Celetuk Alesandra.


Kemudian tanpa aba-aba, Alesandra mengikis jarak di antara mereka. Ia berjinjit, satu tangannya menarik tengkuk Roy hingga akhirnya bibir keduanya menyatu.


“Jangan kecewakan bosmu,” bisik Alesandra sengaja memancing hasrat Roy.


“As you wish, babe….” Balas Roy dengan senyum penuh kemenangan.


...———————-...

__ADS_1


__ADS_2