Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 8. Drama Rumah Tangga


__ADS_3

“Mas, aku siapkan air hangatnya dulu yah.” Seru Sea dengan bersemangat. Ia mempercepat gerakan tangannya melipat mukena yang baru saja selesai ia gunakan.


“Hemm ....” Balas Noah hanya dengan deheman.


Sea selalu saja bersemangat dalam menjalani perannya sebagai seorang istri. Sangat berbeda dengan Noah yang selalu bersikap dingin dan acuh padanya.


Seperti hari ini, setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslimah, Sea akan bergegas menyiapkan air hangat agar suaminya bisa mandi dengan nyaman. Sambil menunggu bath tub penuh terisi air hangat, lirih Sea melantunkan nada-nada untuk mengusir sepinya. Sepi ... ya Sea merasa kesepian!


“Mandilah Mas, airnya sudah siap. Pakaian Mas akan aku siapkan,” ujar Sea saat melihat suaminya sedang melepas piamanya. Sungguh Sea sangat sulit berucap. Ia harus menelan salivanya berkali-kali. Sudah berkali-kali netranya disuguhkan dengan pemandangan yang menggoda iman. Sayangnya meski tergoda, gadis itu tetap harus menelan kekecewaan sebab yang menggoda tetap tak peka dan acuh padanya.


“Warna apa yah yang cocok untuk Mas Noah hari ini?” monolog Sea. Malangnya gadis itu, meski tahu setelan yang ia pilihkan tak akan dikenakan oleh Noah, namun ia tetap saja antusias melakukannya. Baginya, setiap hal kecil yang dia lakukan untuk Noah adalah bagian dari usaha ya meluluhkan hati suaminya.


Sembari menunggu Noah bersiap, Sea akan membantu Mami Joanna dan Si Mbok di dapur. Meski hanya nasi goreng dengan bumbu instan yang mampu ia buat, gadis itu tetap saja merasa bangga pada usahanya.


Di meja makan telah duduk dengan manis Ayah Peter, menanti dua wanita kesayangannya sedang memasak. “Taraaaaa! Nasi goreng sambal matah yang dibuat dengan penuh cinta sudah jadi ....” Gadis itu berseru dengan riang. Kedua tangannya membawa serta sepiring nasi goreng yang jadi maha karyanya.


“Sea curang, Mi!” celetuk Ayah Peter. “Kok Noah aja yang dibuatkan nasi goreng. Kan Ayah juga mau.” Imbuhnya menggoda Sea.


Mami Joanna yang juga sedang menghidangkan sarapan sengaja memasang wajah cemberutnya hingga Sea menahan tawanya. “Ayah ingat umur dong! Seusia Ayah, sarapannya udah harus yang sehat-sehat. Hindari makanan yang banyak minyak. Ingat kolesterol, Ayah.” Jelas Mami Joanna sengaja menirukan gaya Noah.


Sea tak kuasa menahan tawanya, kedua mertuanya itu memang paling bisa menirukan gaya sang suami jika sedang menasihati soal kesehatan. “Yah ... yang ini spesial untuk Mas Noas, Ayah,” ungkapnya. “Besok yah Ayah, aku janji akan buatin Ayah nasi goreng juga,” lanjutnya.


Interaksi ketiganya, bercanda, bersenda-gurau seperti ini sudah menjadi pemandangan rutin bagi Noah. Pemandangan yang cukup menenangkan hatinya di pagi hari. Dalam hati sebenarnya ia sangat bersyukur jika istri dan kedua orang tuanya akur, sebab ini yang menjadi impiannya sejak dulu. Sayangnya dalam impiannya itu bukan Sea yang menjadi istrinya. Melainkan Aneesa, kekasihnya yang telah tiada.


“Ekheemm!” Deheman Noah mengalihkan perhatian ketiganya. Sea lagi-lagi harus kecewa sebab dugaannya benar, Noah tak mengenakan pakaian yang telah ia siapkan. Air mata rasanya ingin menggenangi pelupuk matanya, namun sekuat tenaga Sea tahan agar pagi ini berjalan lancar.


Sea tersenyum lebar, sandiwara keduanya pun harus segera mereka mulai. “Mas, duduk sini!” Satu tangan Sea menepuk kursi yang berada tepat di sampingnya. Tas kerja yang Noah jinjing pun sudah Sea letakkan di kursi lain agar tak mengganggu saat suaminya hendak sarapan.


“Ini nasi goreng buatan aku Mas, cobain deh.”


“Sebenarnya pagi ini aku sedang ingin makan ayam goreng buatan Mami,” tolak Noah dengan halus. Ya, Noah harus pandai-pandai bersandiwara di hadapan kedua orang tuanya. Seandainya saja tak ada mereka, jangankan untuk mencicipi sarapan buatan Sea, untuk duduk semeja bersama Sea pun rasanya Noah enggan.


Melihat kekecewaan di wajah menantunya membuat Ayah Peter merasa iba. “Baguslah, akhirnya aku bisa makan nasi goreng buatan menantu kesayanganku.”

__ADS_1


Segera Ayah Peter menarik sepiring nasi goreng dari hadapan Noah. Lalu setelah mengucapkan Basmalah, sesuap nasi goreng telah berhasil lolos masuk ke dalam mulutnya.


“Maaf yah, Mas.” Sesal Sea. “Mas Noah mau lauk apa? Biar aku ambilkan.” Tak menjawab, Noah hanya mengangguk saja. Hal ini justru membuat Sea semakin bingung, gadis itu takut jika apa yang dipilihnya tak disukai oleh Noah.


Di sela-sela sarapan, Sea dan Noah tersedak bersamaan saat mendengar ucapan Mami Joanna. “Mami sudah membuat janji temu untuk kalian berdua dengan Dokter Ivone.”


Janji temu dengan seorang dokter memanglah bukan hal yang begitu mengejutkan. Namun jika janji temu dengan Dokter Ivone, salah satu dokter kandungan terbaik di Rumah Sakit Pelita Harapan merupakan hal yang tak biasa bagi Noah dan Sea. Sungguh berbeda dengan kebanyakan pasangan suami istri baru lainnya.


“Do-dokter, Mi?” Tanya Sea.


“Iya sayang. Dokter Ivone, salah satu dokter kandungan terbaik. Kamu kenal, kan?” Pertanyaan Mami Joanna kini tertuju pada Noah yang tampak tak tertarik untuk membahas lebih lanjut rencana sang Mami.


“Iya,” jawab Noah singkat.


“Kalau kenal harusnya sudah dari sebelum nikah kalian konsultasi dengannya. Jadi kalian bisa lebih cepat mengikuti program kehamilannya,” ujar Mami Joanna.


“Hamil?” gumam Sea. Tanpa sadar tangannya terulur memegang perut rampingnya yang datar tanpa lemak.


Melihat itu Noah menjadi kesal. Pria itu tak ingin setelah mendengar ucapan Mami-nya, Sea jadi menuntut hal yang tidak-tidak padanya. Dengan kasar ia letakkan sendok dan garpu yang sejak tadi ia genggam erat saat menahan kekesalannya.


Wajah Sea tampak pias, meski bukan ia yang memulai pembahasan soal kehamilan namun entah mengapa tatapan tajam Noah justru terarah padanya. “Mas, aku-“ ucapan Sea terjeda saat Noah kembali menyela.


“Aku ada janji temu dengan pasien pagi ini, aku izin berangkat lebih dulu,” pamit Noah pada kedua orang tuanya. Lalu memberi salam dengan takzim pada kedua orang tuanya sebelum berjalan meninggalkan meja makan menuju mobilnya.


Bergegas Sea menyusul langkah suaminya dengan membawa tas kerja Noah. Sekali lagi pagi ini Sea harus menelan kekecewaan saat gadis itu mengulurkan tangannya hendak menyalami Noah yang akan berangkat bekerja. Bukannya sambutan hangat yang ia dapat melainkan kata-kata pedas yang menyayat hatinya.


“Jangan berharap kau bisa mengandung bayiku. Seorang pembunuh tak pantas untuk menjadi ibu dari putra putriku!”


......................


Seharian ini di kampus, Sea terus saja uring-uringan. “Kamu kenapa lagi, Sea?” tanya Tessa yang dijawab helaan napas berat oleh Sea.


“Jangan-jangan kamu hamil, Sea!” Celetuk Phila. "Ibu hamil kan biasanya jadi lebih moody," imbuhnya.

__ADS_1


Hamil? Mengapa hari ini semua orang yang berada di dekatku terus saja membahas soal kehamilan? Gerutu Sea dalam hati.


Sea tak menggubris pertanyaan Phila, gadis itu lebih memilih untuk menyandarkan kepalanya di bahu Tessa. “Aku hanya sedang kelelahan,” ucapnya. Meski tahu jawaban Sea hanya sebuah alasan, namun kedua sahabatnya tak ingin mencari tahu lebih jauh lagi. Mereka yakin jika Sea suatu saat akan jujur mengenai hal apa yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.


Ponsel Sea berdering untuk ke sekian kalinya. Jika tadi hanya sebuah pesan, kali ini nama ibu mertuanya tertera pada layar ponselnya. Dengan berat hati Sea menerima panggilan tersebut. Setelah beberapa saat mengobrol di telepon dengan Mami Joanna, gadis itu akhirnya bangkit dari duduknya dengan tak bersemangat.


“Aku pulang duluan yah,” pamitnya.


“Mau jalan bareng mami mertua yah?” tanya Phila.


Sea menggeleng. “Aku harus ke rumah sakit menemui Mas Noah,” jawabnya jujur.


“Yang semangat dong cantik, mau ketemu suami kok wajahnya ditekuk.” Celetuk Tessa yang dijawab Sea dengan sebuah senyum yang dipaksakan.


......................


Cukup lama terjebak dengan kemacetan yang cukup melelahkan, akhirnya Sea tiba juga di rumah sakit tempat suaminya bekerja. Setelah memarkirkan mobilnya, dengan anggun Sea berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit yang mengarah ke ruangan praktik Noah.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Tiga kali Sea mengetuk pintu namun tak ada sahutan dari Si empunya ruangan. Dengan memberanikan diri Sea membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan Noah. “Pantas saja tak ada sahutan, Mas Noah ke mana yah?” monolognya.


Ia gunakan ponselnya untuk menghubungi sang suami, namun seperti biasa panggilannya lagi-lagi mendapatkan jawaban. “Sebaiknya aku menunggu di kantin saja,” tangannya melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. Sea baru menyadari jika dirinya belum mengisi perutnya lagi setelah sarapan tadi pagi.


Sesampainya di kantin rumah sakit, tubuh Sea sontak menegang. Rasanya ada godam yang menghantam tepat ke dadanya. Sakit sekali, rasanya hatinya tersayat-sayat ribuan belati saat melihat Noah. Suaminya sedang disuapi oleh seorang wanita yang Sea duga juga berprofesi sebagai dokter.


Segera Sea bersembunyi di balik pilar besar yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri. Air mata sudah tak tertahankan, lolos dengan sendirinya dari pelupuk mata Sea. Beruntunglah Sea, hari sudah cukup sore hingga pengunjung kantin tak seramai saat jam makan siang. Sea membebaskan air matanya berlinang agar dadanya tak terlalu sesak.


“Sea?” Tegur seorang pria mengejutkan Sea.

__ADS_1


“Kamu menangis? Ada apa? Siapa yang membuatmu menangis? ” Tanya pria itu .


...----------------...


__ADS_2