
Malam yang dingin telah berganti pagi yang hangat. Bunyi jangkrik pun tak terdengar lagi setelah kicauan burung terdengar lebih nyaring ditelinga.
Masih sama seperti pagi kemarin di dalam sebuah kamar, sepasang suami istri, Sea dan Noah sedang bersiap untuk melakukan aktivitasnya masing-masing.
Dua minggu telah berlalu sejak malam itu. Malam saat keduanya berjanji untuk membicarakan semua tanya yang menghantui benak masing-masing. Hanya berjanji tanpa pernah menepati, sebab baik Sea maupun Noah akhirnya hanya meletakkan harapannya pada sang waktu yang akan mengaburkan segalanya.
Alhasil tak ada yang berubah. Sea tetap bersikukuh dengan kesimpulan yang ia buat jika dia akan berusaha mendukung kebahagiaan Noah, meski harus menyakitinya dirinya sendiri.
Sedangkan Noah merasa tak perlu menjelaskan apa pun pada Sea. Toh Sea tampak tak peduli, sepertinya gadis itu tak tahu kekacauan yang dibuat oleh Alesandra, pikirnya.
Juga selama dua Minggu terakhir ini, Noah dan Alesandra mendapatkan surat teguran dan hukuman dari pihak Rumah Sakit karena dianggap telah membuat berita yang bisa saja mencemarkan nama baik para dokter di Rumah Sakit Pelita Harapan. Unggahan Alesandra di sosial medianya mengenai hubungannya bersama Noah, dinilai tak pantas sebab status Noah yang merupakan pria beristri.
Sehari setelah kepulangannya dari kota S, Noah dan Alesandra diminta untuk menemui pihak manajemen rumah sakit. Noah yang sebelumnya sudah diperingatkan oleh kedua sahabatnya bisa menduga jika pertemuan ini ada sangkut pautnya dengan rumor palsu yang menggegerkan hampir ke seluruh penjuru rumah sakit.
“Kalian berdua bisa tolong jelaskan mengenai rumor yang beredar di antara perawat dan pekerja di rumah sakit ini?” tanya Dokter Stevan selaku direktur rumah sakit.
Belum sempat bagi Noah maupun Alesandra menjawab, salah seorang dari komite etik dan hukum ikut menimpali pertanyaan Dokter Stevan. “Jika rumor ini sampai kepada hal layak ramai, nama baik para dokter di Rumah Sakit ini menjadi taruhannya,” ujarnya. “Pasalnya kalian melakukan perselingkuhan saat sedang menjalankan tugas dari rumah sakit.”
Noah yang tadinya menyikapi dengan tenang akhirnya terpancing emosi juga. “Maaf, tapi yang barusan Anda katakan itu adalah fitnah!”
“Saya tegaskan di sini, saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Dokter Alesandra atau pun wanita lain selain istri saya!” Noah mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu orang yang hadir pada pertemuan kala itu.
Lalu tatapan Noah berhenti tepat ketika netranya bertemu langsung dengan netra Dokter Stevan, Direktur rumah sakit.
“Sebenarnya ada yang perlu saya perjelas di sini. Entah terjadi karena disengaja atau tidak, namun sebenarnya apa tujuan pihak Rumah Sakit menugaskan saya untuk menghadiri seminar di Kota S?" tanyanya.
"Informasi yang saya terima dari panitia seminar, jika saya tak pernah dijadwalkan untuk menghadiri seminar tersebut," jelas Noah.
Bisa Noah lihat jika Dokter Stevan seketika tampak gugup, dokter yang menjadi panutannya itu segera mengalihkan pandangannya seperti menghindari tatapan Noah.
“Hal seperti itu bisa saja terjadi, Dok.” Celetuk sekretaris Dokter Stevan yang turut hadir mendampingi bosnya. “Hanya kesalahan administratif, bukan sesuatu yang penting,” imbuhnya.
“Tapi kesalahan yang tak penting itu menjadi awal masalah ini!” Noah semakin yakin jika perjalanannya ke kota S saat itu memang diatur untuk menguntungkan seseorang.
“Jika saja kesalahan yang tak penting ini tidak terjadi, maka saya tak mungkin terlibat dalam lelucon tak lucu yang dibuat oleh Dokter Alesandra,” ucap Noah. Tatapan tajamnya beralih menatap rekan sejawatnya itu dengan penuh kilatan emosi.
“Lelucon?!” Salah seorang dari manajemen Rumah Sakit yang sejak tadi hanya diam, ikut berkomentar. “Anda menganggap hal sepenting ini lelucon? Apa Anda tak memikirkan bagaimana pandangan masyarakat jika berita salah satu dokter di rumah sakit ini terlibat affair dengan dokter lainnya?”
“Tidak!” balas Noah tak kalah tegasnya kala itu.
“Sedikit pun saya tak pernah berniat memikirkannya, karena hal itu tak akan mungkin saya lakukan.”
Enak saja ingin memojokkan dirinya dengan berita palsu yang beredar, pikir Noah kala itu.
“Dan pertanyaan Anda, akan lebih tepat jika anda ajukan pada Dokter Alesandra!” ungkapnya.
“Tanyakan, apa maksudnya mengambil foto kami tanpa sepengetahuanku. Mengunggahnya tanpa persetujuanku dan membuat seolah-olah kami terlibat dalam sebuah hubungan,” lanjut Noah.
Alesandra pikir Noah hanya akan diam dan menerima hukuman yang akan diberikan pada mereka. Rupanya di luar dugaan dokter cantik itu, Noah membela diri. Siasatnya untuk menyebarkan rumor hubungan dengan dokter Noah tak ia duga akan menjadi seserius seperti saat ini.
__ADS_1
Maka dengan tak tahu malunya, Alesandra hanya bisa memohon maaf dan mengakui jika semua itu benar hanya lelucon yang ia buat tanpa sepengetahuan Noah.
“Maafkan atas tindakan bodoh yang telah saya lakukan,” ucapnya memelas. Wajahnya penuh penyesalan membuat tim dari Rumah Sakit merasa iba. Entah benar-benar iba atau karena yang sedang memelas saat ini adalah putri dari pemegang saham terbesar rumah sakit.
Tak ingin mendapat sorotan buruk, maka tim manajemen dan direksi dari rumah sakit akhirnya memutuskan untuk memberikan hukuman skorsing selama seminggu pada Dokter Alesandra. Sedangkan Dokter Noah mendapat jam jaga tambahan di IGD pada malam hari selama seminggu.
Karena keputusan itu pula jarak yang terbentang antara pasangan suami istri, Sea dan Noah semakin lebar. Keduanya hanya bertemu di pagi hari, saling menyapa seadanya.
Sea masih tetap menjalankan tugasnya dengan sangat baik sebagai istri jika Noah berada di rumah. Sedangkan malam harinya ketika Noah pulang bekerja, istrinya telah tidur dengan lelapnya.
......................
Berbeda dengan Noah yang harus menjalani masa hukuman atas kesalahan yang tak ia perbuat, Sea berhasil menjalani hari-harinya lebih baik dari sebelumnya. Lebih banyak tawa juga lebih banyak beban pikiran yang perlahan-lahan beranjak pergi dengan sendirinya.
Dua minggu sudah Sea bekerja di Kafe Venus. Kekecewaan atas sikap acuh Noah padanya seperti sirna ketika Sea mendapatkan perhatian lebih dari Alfio.
Meski terus mendapat penolakan dari Sea, meski Sea terus memberi jarak di antara mereka, namun Alfio punya seribu cara untuk bisa selangkah lebih dekat dengan gadis pujaannya itu.
Seperti yang terjadi di sore ini. Suasana kafe yang cukup sepi membuat Sea dan karyawan lainnya memiliki kesempatan untuk bercengkerama di tengah-tengah jam kerja. Tak lama seorang kurir pengantar paket tiba membawa paket yang ditujukan kepada Sea.
Dari bentuknya Sea bisa menduga jika paket yang baru ia terima adalah sebuah bingkai. Namun, untuk memastikannya Sea segera membuka paket yang baru ia terima.
Matanya terbelalak ketika melihat foto penampakan senja yang begitu indah dengan siluet seorang wanita di sana. Sebuah catatan kecil yang menempel pada bingkai segera di raih Sea, senyumnya terbit ketika ia selesai membaca apa yang tertulis di sana.
Dari foto ini akhirnya aku menyadari jika ada keindahan lain selain senja yang kutemukan kala itu. Keindahan itu adalah kamu. -A-
Bahkan ia tak menyadari jika seorang pria telah berdiri tepat di belakangnya.
“Apakah kamu menyukainya?” bisik pria itu membuat Sea terlonjak.
“Astaga, Al!” pekiknya. “Kamu mengejutkanku!” ucapnya dengan wajah cemberut.
Alfio tergelak, pria itu tak mampu menahan tawanya melihat Sea yang terkejut karena ulahnya. Karyawan lain yang juga berada di sana terpaksa menahan tawanya melihat si bos yang usil pada salah satu rekan mereka.
“Puas kamu menertawaiku, huh?” Sea merajuk.
“Bagaimana ya, Sea... kamu itu sangat lucu sekaligus menggemaskan saat terkejut seperti tadi,” balas Alfio.
Jawaban Alfio membuat Sea semakin kesal hingga memalingkan wajahnya. “Oke... oke... maafkan aku,” ucap Alfio akhirnya mengalah.
“Sebagai permintaan maafku, malam nanti maukah kamu menemaniku makan malam?” tawar Alfio.
Sea menggeleng. “Al, kamu tahu kan saat itu masih jam kerjaku,” tolak Sea.
Tak ingin Sea menolak ajakannya yang ke sekian kalinya, sebuah ide akhirnya muncul. “Malam ini kamu kuberi tugas untuk mencicipi hidangan terbaru kafe kita,” ujar Al.
“Bagaimana? Apa kamu masih bisa menolak?” tanyanya. “Ayolah Sea... ini bukan makan malam seperti yang kamu pikirkan, anggap saja bekerja di waktu makan malam.”
Sea yang tak lagi bisa menolak hanya bisa menghela napasnya.
__ADS_1
Di rumah aku harus menghadapi Noah, si pria acuh. Sekarang saat bekerja aku juga harus menghadapi Alfio, si pemaksa. Huhhh....
......................
Sementara di kediaman Myles, beberapa pelayan dibuat terkejut tatkala melihat tuan muda di keluarga itu telah berada di rumah padahal matahari masih bersinar. Walaupun tak ingin mengakuinya, namun langkah kakinya yang dengan cepat mengarah ke kamarnya sudah menunjukkan siapa yang dokter tampan itu hendak temui.
Ceklek
Pintu kamar Noah buka berharap menemukan sosok istrinya yang duduk bersantai di sofa. Biasanya Sea akan menonton TV dengan semangkuk camilan di pangkuannya. Biasanya saat mendengar suara derit pintu yang dibuka olehnya, maka gadis itu akan menoleh padanya dan tersenyum menyambutnya. Tak peduli meski lebih sering ia diabaikan.
Namun, sore ini berbeda. Tak ada sosok yang sejak tadi berada dalam bayangan Noah. “Ke mana dia?” gumamnya.
Noah melangkahkan kakinya lebih jauh ke dalam kamarnya. Ia ragu untuk memeriksa ke dalam walk-in closet, takut-takut jika Sea bisa saja sedang berganti pakaian di dalam sana.
“Sea, apa kamu di dalam?” serunya dari depan pintu geser walk-in closet.
“Sea?” Tak hanya intonasi suaranya yang ia naikkan, namun tangannya juga sudah mengetuk pintu itu.
Masih tak ada sahutan, maka Noah akhirnya berani menggeser pintu. Malangnya yang ia temukan hanya sebuah ruangan kosong.
Meski telah menduga jika hasilnya akan sama, namun Noah tetap mengulangi apa yang sudah ia lakukan tadi di depan pintu kamar mandi. Menyerukan nama Sea berkali-kali lalu mengetuk pintu, hasilnya tetap sama. Sea juga tak ada di sana.
Bergegas Noah meninggalkan kamarnya, menuju halaman belakang rumah di mana sang ibunda kini sedang sibuk merawat tanaman anggreknya.
“Sore Mi,” sapanya.
“Noah? Kamu sudah pulang,” ucap Mami Joanna tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Mendapat tatapan seperti itu, Noah menggelengkan kepalanya. “Please, Mi... apa yang aneh dengan aku yang pulang lebih awal ke rumah,” ucap Noah.
“Aku tak melihat Sea, di mana dia?” tanyanya.
“Kamu memang aneh!” ujar Mami Joanna.
“Mengapa menanyakan keberadaan istrimu pada Mami?” kening wanita paruh baya itu sudah mengerut.
Mami Joanna menggeleng. “Jangan bilang jika kamu tak tahu jika akhir-akhir ini Sea sangat sibuk?” tudingnya.
“Sepertinya kuliahnya sedang padat-padatnya hingga akhir-akhir ini dia sering kali pulang malam,” ungkap Mami Joanna.
“Malangnya Sea memiliki suami sepertimu yang tak peduli pada istrinya.” Mami Joanna berdecak lalu menggeleng.
Tanpa peduli dengan respons Noah, ia kembali menyibukkan dirinya dengan tanaman anggrek kesayangannya.
Sementara Noah berdiri mematung mendengar ucapan ibunya. Seburuk itukah aku sebagai seorang suami? batinnya.
Terlintas ide di benaknya, bagaimana jika aku menjemput Sea ke kampusnya? Pikir Noah.
...----------------...
__ADS_1