
Noah tampak berbeda pagi ini. Setelah menunaikan ibadah Shalat Subuh, suami Sea itu tampak tengah sibuk bersiap-siap. Kemeja hitam lengan pendek dengan celana denim berwarna biru dipilih Noah sebagai outfitnya hari ini.
“Aku akan pergi membeli sarapan untukmu,” ucap Noah. “Apa ada hal lain yang kamu inginkan?” tanyanya dengan intonasi suara datar.
Sea segera menggeleng untuk menjawab pertanyaan suaminya lalu berbaring memunggungi Noah. Bukannya ia berperilaku tak sopan. Namun Noah bertanya padanya, di saat kemeja pria itu belum terkancing dengan sempurna. Dada bidang yang dulu pernah menjadi salah satu tempat impian Sea untuk bersandar dan berkeluh kesah, kini terpampang nyata di hadapannya.
Apa Mas Noah sengaja melakukan hal itu? Dalam hati Sea menggerutu seraya berpura-pura memejamkan kedua netranya.
Di sekitar area pipinya tiba-tiba saja kini terasa lebih hangat. Sea sangat yakin jika kini pipinya itu pasti semerah tomat.
Melihat tingkah Sea yang tampak malu-malu karena ulahnya, sebenarnya Noah ingin sekali lanjut untuk menggodanya. Sayang, masih ada kekesalan yang tersimpan di hati Noah pada istrinya, setelah semalam pria itu berselancar di dunia maya.
Berawal dari foto Sea yang diunggah oleh Tessa di sosial media, pagi ini Noah terpaksa bersiap-siap untuk pergi lebih awal. Pria itu juga harus rela meninggalkan Sea lebih lama karena akan menuntaskan suatu hal yang mengganjal hatinya.
Tak lama berselang Noah sudah selesai bersiap dengan penampilan yang semakin menambah level ketampanan dan pesona seorang Noah. Sebelum pergi, Noah masih sempat berdiri mematung memandangi punggung istrinya.
Biasanya… sebelum pergi membeli sarapan kesukaan istrinya, Noah akan berpamitan lebih dulu. Keberuntungan baginya jika saat itu Sea masih tertidur, sebab Noah bisa mencuri satu kecupan di kening istrinya. Namun, jika Sea sudah terjaga saat Noah akan pergi, maka pria itu hanya akan berpamitan seraya membelai lembut puncak kepala istrinya.
Berbeda dengan pagi ini, Noah sengaja tak melakukan keduanya. “Aku pergi dulu,” pamitnya dengan ucapan singkat kemudian berlalu meninggalkan ruang perawatan Sea.
Ceklek.
Sea membuka kedua netranya ketika mendengar bunyi pintu yang ditutup oleh Noah dari luar. Tanpa mengubah posisinya berbaringnya, Sea berusaha menoleh dan menatap ke sekeliling. Benar saja, sosok suaminya tak ia temukan lagi di sana.
“Ada apa dengannya? Mengapa sikapnya berubah-ubah?” gumam Sea bertanya pada dirinya sendiri.
“Lagian hanya membeli bubur di seberang jalan rumah sakit ini, Mas Noah tak biasanya berpakaian se-rapi itu!” Lanjut Sea masih menggerutu.
Menurut Sea, jarum jam bergerak lebih lambat pagi ini. Menanti Noah kembali dengan membawa bubur ayam kesukaannya, tak pernah jadi se-menegangkan seperti saat ini.
Perubahan sikap Noah yang tiba-tiba sukses mengusiknya, apa yang salah? tanya Sea dalam hati.
Hingga berselang 20 menit kemudian, Noah akhirnya kembali bersamaan dengan Sea yang baru saja selesai membasuh wajahnya di kamar mandi.
Tanpa menyapa Sea, Noah malah menyibukkan dirinya dengan bubur ayam yang ia bawa. Memindahkannya ke mangkuk agar lebih mudah disantap oleh Sea.
“Mau sarapan sekarang?” tanya Noah pada Sea.
Dengan ekspresi datarnya, Sea mengangguk. “Aku akan makan sendiri saja,” ucapnya.
Noah membantu Sea untuk kembali naik ke atas hospital bed. “Nanti… setelah tangan kananmu bebas dari infus, kamu boleh makan sendiri,” balas Noah.
Sea mendengkus seraya melirik tangan kanannya. Benar kata Noah, dirinya pasti akan kesulitan jika memaksa untuk makan dengan tangan kirinya. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, perdebatan akan kembali menghiasi pagi hari Sea dan Noah.
...……………...
“Mas, kamu marah?” tanya Sea setelah menelan suapan pertama bubur ayam dari suaminya.
Noah menggeleng. “Tidak,” jawabnya singkat.
“Lalu, apa kamu ada masalah?” tanya Sea lagi.
Noah kembali menggeleng. “Tidak,” masih dengan jawaban yang sama.
“Lalu… hemm… akh, sudahlah. Lupakan saja!” Sea tak tahu bagaimana lagi cara bertanya yang tepat pada Noah.
__ADS_1
Setelah itu hanya keheningan yang menemani keduanya. Hingga bubur ayam di mangkuk telah habis tak bersisa, barulah Noah mulai buka suara.
“Jika kamu bingung dengan sikapku, aku pun sama denganmu,” ungkapnya.
Manik mata Sea mengikuti kemana langkah kaki Noah. “Kupikir ini bukan kali pertama. Jujur saja aku tak suka melihat kamu dekat dengan pria lain!” Aku Noah.
“Pria lain?” gumam Sea.
Wanita itu mencoba mengingat siapa saja pria yang berada di dekatnya beberapa hari terakhir.
“Apakah Owen? Sandy?” Sea tampak menjeda ucapannya. “Atau Ayah Peter?” tanyanya diiringi tawa.
Noah berdecak, pikirnya Sea menganggap apa yang ia katakan adalah lelucon. “Aku serius, Sea.”
“Aku juga serius, Mas!” ucap Sea.
“Pria yang kamu balas komentarnya pada unggahan di akun sosial media milik Tessa,” jelas Noah tanpa ingin menatap Sea.
“Kak Alfio?” pekik Sea.
Tak perlu waktu lama bagi Sea untuk menebak siapa pria yang dimaksud oleh Noah. Sebab, memang hanya pria itu yang ia balas komentarnya. Itu pun ia lakukan karena permintaan dari Tessa.
“Hemm….” Jawaban Noah hanya berupa dehaman saja.
“Apa yang salah dengan hal itu?” tanya Sea.
“Oh ya, selagi kita membahas hal ini. Mengapa Mas Noah tak mengizinkan Kak Alfio untuk membesuk aku?” lanjutnya.
Noah sontak berbalik badan. “Dia mengadu padamu?”
“Sudah jelas, itu karena dia adalah salah satu penyebab dari semua hal yang kini menimpamu,” jawab Noah.
“Mas… kamu telah menuduh Kak Alfio tanpa bukti!” Balas Sea tak mau kalah, “Dan menuduh tanpa bukti itu sama saja fitnah, Mas!” ucapnya menggebu.
“Sudah, Sea… aku tak ingin membahas ini lagi. Aku tak ingin kita berdebat.” Noah menyesal telah memulai pembahasan ini dengan istrinya.
“Tapi kita memang selalu berdebat, Mas. Pemikiran kita tak pernah sama. Kesalahanku dulu, karena kupikir kita berdua bisa saling mengerti seiring waktu.” Ucap Sea.
“Rupanya aku salah,” lirihnya.
“Baik, jika kamu memang benar-benar ingin berdebat pagi ini.” Emosi yang sudah coba Noah redam sejak tadi, mulai naik satu level.
“Pikirkan hal ini baik-baik, Sea. Jika apa yang terjadi sesuai dengan yang kamu ceritakan, maka... mengapa Alfio membawamu ke rumah sakit yang jaraknya cukup jauh? Bukan ke rumah sakit ini yang jaraknya lebih dekat dari kafe miliknya,” ujar Noah mengemukakan pemikirannya.
“Menurutmu kenapa?” tanya Noah pada Sea.
“Itu karena dia tak ingin aku tahu mengenai kondisimu,” lanjut Noah menjawab pertanyaannya sendiri.
“Itu kan hanya asumsimu saja, Mas,” elak Sea. “Dan sebenarnya, aku yang meminta Kak Alfio untuk merahasiakan semua yang terjadi,” lanjut Sea.
Kedua tangan Noah mengepal erat, perasaannya sangat buruk sebab Sea terkesan membela Alfio. “Mengapa?” tanyanya.
“Karena kupikir kamu tak akan mau menerima kehadiran anakku, Mas!” Jawab Sea dengan lantang.
“Pemikiranmu berlebihan, Sea. Mana mungkin aku menolak kehadiran anak kita,” ujar Noah.
__ADS_1
“Tapi kenyataannya sikapmu dulu padaku seperti itu, Mas! Kamu selalu menolak kehadiranku, bukan?” Intonasi Sea saat berbicara kini mulai naik. Seiring dengan sakit hati yang kembali menyayat-nyayat hatinya. Kala Sea kembali mengingat saat-saat paling menyedihkan dalam hidupnya.
“Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika, semua yang terjadi di antara kita adalah suatu kesalahan.” Sea mengingatkan kembali ucapan menyakitkan Noah sewaktu dulu.
Noah segera menolehkan wajahnya, menatap pada Sea. Suara istrinya yang terdengar bergetar, seakan menghempas segala kekesalan yang tadinya menguasai benaknya.
“Aku minta maaf, Sea. Aku telah bersalah padamu,” ucap Noah memohon pada Sea.
“Tapi kumohon, sekali ini saja… biarkan aku melakukan hal yang seharusnya kulakukan sejak dulu,” lanjutnya.
“Memangnya apa yang akan kamu lakukan, Mas?” tanya Sea.
“Meminta pria itu untuk berhenti mendekatimu!” jawab Noah yakin.
Seringai terbit di wajah Sea. “Kenapa, Mas? Mengapa Mas bersusah payah menemui orang itu hanya untuk memintanya berhenti mendekatiku?”
“Apa kamu mencintaiku, Mas?” pertanyaan yang sama kembali terlontar dari bibir Sea.
Namun, selalu saja seperti ini. Noah akan bungkam cukup lama sebelum pria itu mengambil ponsel miliknya di atas meja.
“Aku sudah menghubungi Mami, sebentar lagi beliau akan datang untuk menemanimu,” ucap Noah.
Sea mendengkus lalu kembali merebahkan tubuhnya, menatap ke arah langit-langit ruang VVIP tempatnya di rawat.
“Kamu tak menjawab lagi, Mas.” LirihSea bergumam, air mata berlinang tanpa ia minta.
“Terus saja kamu bertahan dengan diammu, Mas!” Hingga Noah benar-benar tak terlihat lagi di ruangan itu, air mata Sea akhirnya tumpah.
“Mengapa sangat sulit untuk mengakui perasaanmu, Mas?” Gumam Sea di sela isak tangisnya.
...………………...
Sesuai pesan Noah, hanya berselang 15 menit, Mami Joanna tiba di ruang perawatan Sea.
“Morning kesayangan Ma-“ ucapan Mami Joanna terjeda saat melihat wajah Sea yang telah banjir dengan air mata.
“Seanna… ada apa, Nak?” tanyanya. “Apa ada yang sakit? Atau... apa ini karena ulah Noah, lagi?”
Dan Seanna mengangguk sebagai jawaban.
“Oh, sayangku….” Mami Joanna membawa Sea ke dalam pelukan hangatnya. Hatinya ikut terasa sesak melihat wanita cantik itu menangis tersedu-sedu.
“Mami… tolong aku,” ucap Sea di sela-sela isak tangisnya.
“Kupikir ini adalah saatnya,” imbuhnya lagi.
“Ta- tapi…” Keraguan tampak jelas di wajah Mami Joanna.
“Aku mohon, Mi…” pinta Sea dengan memelas.
“Baiklah, jika memang itu yang kamu inginkan.” Mami Joanna dan Sea saling memandang. Lewat tatapannya, Sea meyakinkan Mami Joanna jika ia sudah sangat yakin dengan keputusannya.
Sementara Mami Joanna membalas tatapan Sea seolah ingin mengatakan jika, apa pun yang terjadi nantinya, dirinya akan selalu mendukung keinginan menantunya. “Sea, kamu juga harus bahagia, Nak.”
...--------------...
__ADS_1