Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 71. Pilihan Tessa (2)


__ADS_3

Merasa masih mengantuk, Tessa memilih untuk melanjutkan tidurnya. Di pikirannya, berjalan masuk ke dalam hutan yang belum pernah ia datangi, tentu membutuhkan tenaga ekstra. “Aku harus mempersiapkan diriku!” gumamnya, bertekad.


Setela beberapa saat berlalu, wanita yang sedang mengandung itu harus terjaga dari tidur siangnya. Ketika ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Seraya mengumpulkan kesadarannya, dengan langkah gontai Tessa meraih pegangan pada pintu dan membukanya.


Tessa mengucek-ngucek salah satu matanya. Setelahnya ia bisa melihat sosok Bu Ida berdiri di hadapannya sembari tersenyum.


“Eh, Bu Ida. Ada apa, Bu?” tanya Tessa masih dengan suara seraknya.


“Wah ... Neng, maaf ya.” Bu Ida merasa bersalah telah mengganggu tidur nyenyak gadis yang menjadi penghuni baru di rumahnya.


“Ibu jadi gak enak, udah gangguin tidur Neng Tessa,” imbuhnya.


“Gak apa-apa, Bu.” Dalam hati Tessa merutuki pemilik rumah tersebut.


“Tapi ada apa ya, Bu?”


“Ini ... Ibu mau ngajak makan siang,” jawab Bu Ida.


Tessa menunduk melirik penampilannya saat ini. “Baik Bu. Nanti aku nyusulin Ibu, ya.”


Hanya tank top merah juga celana pendek di atas lutut yang ia kenakan. Rasanya sangat tidak sopan jika harus makan siang di meja makan dengan pakaian seperti itu, pikir Tessa.


Sementara itu, tanpa Tessa sadari Ibu Ida turut mengikuti ke mana arah pandangan gadis cantik di hadapannya. Netranya membelalak saat melihat perut Tessa yang sedikit membuncit.


Apa benar dugaanku? Gadis ini ke mari untuk ….


“Bu Ida … Bu Ida ….” Seru Tessa.


Bu Ida segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengenyahkan segala pikiran buruknya pada gadis cantik di hadapannya. “Maaf Neng, Ibu malah ngelamun,” ucapnya.


“Ya udah, jangan lama-lama ya. Ibu tunggu di meja makan. Nanti kamu jalan lurus aja di lorong itu. Ruangan makannya ada di ruangan sebelah kanan.” Ibu Ida menunjukkan ke arah mana nanti Tessa pergi.


Tak ingin membuat Ibu Ida menunggu terlalu lama. Juga dorongan dari cacing-cacing di perutnya, yang sudah meronta-ronta minta diberi makanan. Akhirnya Tessa mengurungkan niatnya untum mandi. Alhasil, ia hanya membasuh wajahnya, menyikat gigi lalu mengganti pakaiannya.


Tak lupa Tessa menyemprotkan parfum yang beraroma sangat manis. Aroma yang berasal dari paduan buah berry dan bunga mawar untuk menjadi pelengkap penampilannya siang itu.


Setelah merasa penampilannya sudah oke, Tessa kemudian keluar dari kamarnya. Perlahan, langkahnya mulai menyusuri lorong sesuai instruksi Bu Ida. Hingga ia menemukan pintu di sebelah kanan, langkah itu terhenti.


Bagi Tessa, ruangan tersebut lebih cocok disebut dapur. Sebab terdapat banyak sekali perlatan memasak. Adanya meja makan yang dikelilingi banyak kursi, mungkin menjadikannya sebagai ruang makan pula.


Tapi kursi-kursi itu untuk siapa? Tanya Tessa dalam hati.


Ibu Ida yang sedang menyiapkan kudapan, menoleh ke arah Tessa. “Duduk dan makanlah. Yang lainnya tak menunggumu. Mereka sudah makan lebih dulu karena harus kembali ke Balai Desa.”


“Yang lain?” Kening Tessa mengerut. Sepertinya bukan hanya dirinya yang menyewa kamar di rumah Bu Ida, begitu pikirnya.


“Iya, ada 4 orang lainnya yang menyewa kamar di sini. Semuanya berasal dari kota. Bedanya, mereka semua tenaga kesehatan. Sedangkan kamu, hemm ….” Ibu Ida tampak berpikir, mengingat-ingat profesi Tessa.


“Aku seorang mahasiswi, Bu.”


“Ya … benar itu. Aku lupa,” Bu Ida menertawakan dirinya sendiri. “Sekarang makanlah, kamu pasti sudah sangat lapar.”


Tessa mengangguk dan duduk di salah satu kursi. Makanan yang terhidang tampak sangat sederhana, namun terasa begitu lezat.


Mungkin karena dirinya sangat lapar, hingga makanan apa pun itu terasa sangat lezat, pikirnya. Bu Ida sampai menggelengkan kepala melihat betapa lahapnya Tessa makan.

__ADS_1


Lama-kelamaan pemandangan itu membuat Bu Ida gusar, mengapa ia seperti sedang melihat seorang wanita hamil yang begitu kelaparan. Wanita paruh baya itu semakin gelisah. Apalagi setelah Tessa menyelesaikan makannya, gadis itu berpamitan untuk berjalan-jalan mengelilingi desa.


“Katanya dia ingin mengelilingi desa. Namun mengapa ia berjalan masuk ke hutan?” gumam Bu Ida saat mengamati Tessa dari jendela dapur.


Tak ingin berburuk sangka, seketika wanita paruh baya itu menghentikan aktivitasnya di dapur. Perlahan ia berjalan mengikuti langkah Tessa.


Sedangkan Tessa yang merasa diikuti sesekali menoleh ke belakang, membuat Bu Ida terpaksa bersembunyi lalu mengendap-endap mengikuti ke mana gadis itu melangkah.


...……………...


Tessa merasa dirinya telah berjalan cukup jauh. Kakinya mulai terasa pegal, namun sepanjang ia berjalan tak ada satu pun rumah yang ia temui. Terkecuali satu rumah yang tampak sangat sepi dari luar.


Tok


Tok


Tok


Suara derit pintu kayu terdengar, Tessa menelan salivanya karena mulai merasa gugup.


Setelah pintu terbuka, seorang wanita yang ditaksir oleh Tessa berusia awal 40-an tahun bertanya padanya. “Mau cari siapa?”


“A-aku mencari Mbok Atun,” jawab Tessa terbata.


“Ada apa kau mencariku? Dan ... kau tahu dari mana tempat tinggalku?”


Tessa menghela napas lega. Syukurlah Mbok Atun tak semenyeramkan dari yang ada di bayangannya.


“Dari seorang teman yang pernah Mbok bantu dulu,” jawab Tessa.


“Kuperkirakan sekitar 2 bulan,” jawab Tessa.


“Kau sudah tahu soal biayanya?”


Tessa mengangguk. “Aku tak ada masalah dengan itu.”


“Kembalilah kemari pukul 9, malam nanti. Aku tak ingin mengambil resiko jika melakukannya saat hari masih terang,” ujar Mbok Atun sebelum menutup pintu rumahnya dengan kasar.


Tessa sampai tersentak mendengar suara debuman pintu yang ditutup oleh Mbok Atun. Wanita itu lantas berbalik badan dan berjalan kembali ke rumah Ibu Ida.


Setiap langkah kakinya terasa sangat berat. Peperangan dalam batinnya tak pernah henti. Tessa dibuat bimbang dan terus dihantui rasa bersalah. Air matanya terus luruh sepanjang perjalanannya kembali menuju rumah Bu Ida.


“Wanita macam apa aku?” gumamnya lirih di sela-sela isak tangisnya.


Sepanjang jalan tangannya terus berada di perutnya hingga Tessa kembali ke dalam kamarnya di rumah Bu Ida. Ia harus bersiap, terutama menyiapkan mentalnya untuk apa yang akan ia lakukan nanti malam, pikirnya.


Sementara tanpa ada yang tahu, sepasang netra Bu Ida tak pernah lepas mengamati gerak-gerik Tessa. Bu Ida awalnya sudah berniat melaporkan apa yang ia lihat ke Kepala Desa. Namun saat melihat air mata, punggung bergetar, juga langkah gontai Tessa, seketika hatinya menjadi iba.


“Tapi aku harus bagaimana untuk mencegahnya?” Bu Ida mulai dilanda kepanikan.


“Bagaimana jika aku gagal menghentikan anak itu?” Bu Ida mondar-mandir di dapurnya.


Sesungguhnya ia pun bingung pada dirinya sendiri. Desas-desus mengenai perbuatan keji Mbok Atun, sebenarnya sudah dicurigai banyak warga. Hanya saja tak ada bukti kuat untuk melaporkan kejahatan Mbok Atun.


Biasanya Bu Ida akan bersikap masa bodoh. Ia tak mau ambil pusing dengan hal yang bukan urusannya. Namun mengapa pada Tessa, wanita yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu, ia merasa peduli.

__ADS_1


Waktu terus berlalu, waktu Shalat Isya pun sudah berlalu. Bagai sebuah setrikaan, Bu Ida bolak-balik dari kamarnya menuju ke depan kamar Tessa dan begitu sebaliknya. Tangannya sudah terulur untuk mengetuk pintu kamar Tessa, namun ia urungkan dan memilih kembali ke kamarnya.


Hingga tak terasa sudah pukul 9 malam. Ini adalah waktu Tessa dan Mbok Atun janjian. Bu Ida sudah membulatkan tekadnya untuk menghentikan Tessa, “Apa pun resikonya akan kuterima.”


Aku akan merasa bersalah seumur hidup jika tak mencegah Neng Tessa melakukan perbuatan keji itu, batin Bu Ida.


Bergegas wanita itu keluar dari kamarnya menuju kamar Tessa. Sayangnya ia terlambat, sudah tak ada seorang pun di dalam kamar.


Bu Ida berlari keluar dari kamar Tessa. Bergegas ia mencari senter yang ia simpan di dalam laci kamarnya.


Di depan pintu, Bu Ida berpapasan dengan penyewa kamar yang lain. Keempatnya baru saja kembali dari Balai Desa.


“Bu Ida, mau ke mana?” tegur salah satu dari keempat tenaga medis tersebut.


“A-aku mau ke-“ Bu Ida menggantungkan ucapannya. Di tatapnya pria yang ia panggil dengan sebutan Mas Dokter.


“Mas Dokter, ayo ikut Ibu!” Tanpa penjelasan apa pun, Bu Ida menarik tangan pria itu.


Menyadari jika langkah mereka menuju hutan, pria itu mulai curiga. “Bu Ida, sebenarnya kita mau ke mana?” Tanya pria yang dipanggil Mas Dokter oleh Bu Ida.


“Kita harus menyelamatkan nyawa Neng Tessa!” jawab Bu Ida.


“Nyawa Tessa?” tanyanya sekali lagi.


Sayangnya Bu Ida tak menjawab. Wanita itu semakin mempercepat langkahnya.


“Di sana, Tessa ada di sana!” Tunjuk Bu Ida pada sebuah rumah.


“Untuk apa Tessa ke sana?” tanya pria itu.


“Untuk apa lagi?! Pasti dia ingin menggugurkan kandungannya!”


“Bu Ida, jangan asal menuduh! Tessa tak mungkin-“


Bu Ida menepuk lengan pria itu, “Mana berani aku menuduh! Aku yakin dengan ucapanku. Aku mendengarnya sendi-“ belum selesai ucapan Bu Ida, lawan bicaranya itu sudah berlari menuju rumah Mbok Atun.


Brak!!!!


Pintu rumah Mbok Atun yang terbuat dari kayu itu ia dobrak, tak ada siapa pun di ruang tamu.


Sedetik kemudian, Mbok Atun muncul dari dalam sebuah kamar. “Hei! Siapa kamu?! Kenapa kau masuk ke rumahku tanpa izin?!” Antara gugup dan marah, Mbok Atun berucap.


“Di mana Tessa?!” balas pria itu dengan berteriak.


“Tessa si-siapa? Orang yang kau cari tak ada di sini.”


Tak ingin membuang waktu dengan berdebat bersama Mbok Atun, pria itu memaksa masuk ke dalam kamar. “Awas. Minggir!” Dengan kasar ia mendorong tubuh gempal Mbok Atun agar tak menghalangi langkahnya.


Sontak saja sepasang netra pria itu terbelalak melihat pemandangan apa yang ada di hadapannya saat ini. Tessa sudah berbaring di ranjang dan hanya menggunakan sarung untuk membungkus tubuhnya.


“TESSA!!” Teriaknya.


“O-Owen?!” balas Tessa ikut memekik.


...——————————...

__ADS_1


__ADS_2