Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 45. Adik Besar


__ADS_3

Baik Sea ataupun Noah masih terlihat mengatur napasnya. Dadanya naik turun, degupan jantung yang tak memiliki irama lagi karena sibuk saling memburu. Jangan tanyakan lagi soal peluh, sebab kedua insan yang dimabuk asmara ini sudah membanjiri seluruh tubuh mereka.


Setelah pelepasan pertama yang begitu luar biasa, tangan Noah yang sedikit bergetar terulur mengusap buliran peluh di kening istri cantiknya. Ya, istrinya memang sangat cantik dan mulai sekarang Noah tak akan pernah bosan untuk memujinya. “Kamu lelah?” tanyanya.


Sea hanya menggeleng. Kedua netranya masih memejam. Antara malu juga enggan, sebab wanita itu masih ingin meresapi nikmat saat dirinya dan suami berlomba mencapai nikmatnya surga dunia.


Noah masih mengungkung tubuh polos istrinya, nalurinya berbisik enggan untuk berpindah dari posisinya saat ini. Bayangan akan nikmatnya penyatuan yang baru saja terjadi, membuat adik besar Noah setuju untuk tetap berada dekat dengan rumahnya.


‘Adik Besar’, Noah menahan tawanya saat mengingat julukan yang diberikan Sea beberapa saat lalu untuk benda pusakanya.


“Kamu beneran gak mau kenalan nih sama adik kecilku?” Tanya Noah sesaat sebelum prosesi penyatuan itu dimulai.


“Adik kecil?” Tanya Sea balik. Saat itu Sea masih menormalkan napasnya akibat permainan nakal tangan dan bibir suaminya di dua tempat ter-sensitif miliknya.


Masih di atas ranjang, tanpa malu dan canggung Noah berdiri dengan lututnya. Ia menunjukkan pada istrinya apa yang ia sebut dengan adik kecil.


“Aaarrggh… Mas!” Pekik Sea. Wanita itu terkejut hingga refleks menutup mata dengan kedua tangannya.


“Ada apa?” tanya Noah bingung. Pandangannya ia turunkan pada adiknya yang berdiri tegak, kokoh, kuat, dan terpercaya.


“Apa dia menakutimu?” pria itu berubah khawatir. Mengingat kenangan malam pertama mereka yang memang kurang baik.


Sea menggeleng. “Kamu berbohong, Mas.” Noah bingung mendengar Sea merajuk. “Katamu adik kecil, mana ada kecil!” Celetuknya.


“Ini tuh adik besar, Mas.” Seru Sea.


Sea tak lagi menutup kedua matanya, tanpa sadar tangannya terulur membelai 'adik' yang masih diperdebatkan kecil dan besarnya. “Dari mana kecilnya? Toh panjang gini… gemuk pula!” Gumamnya.


Noah menelan salivanya berkali-kali. Apa Sea berniat menyiksa dirinya? Hal itu yang terlintas di benaknya kala itu.


Tangan Sea membelai naik turun seperti sedang mengukur-ukur untuk menebak panjang benda itu. “Mas apa ini akan muat?” Kini wajah Sea yang terlihat cemas.


“Pasti muat dong… kan udah pernah,” kata Noah seraya membelai mesra pipi istrinya. Jangan sampai Sea berubah pikiran, doanya dalam hati.


Sea mengangguk lemah. “Tapi saat itu sangat sakit, Mas.”


“Maafkan aku ya, saat itu aku benar-benar telah bersalah padamu,” ungkap Noah. Permintaan maaf yang benar-benar berasal dari lubuk hatinya.


“Kali ini aku janji, hanya kenikmatan yang akan kamu rasakan,” janji Noah.


Lama Sea bungkam, wanita itu tampak berpikir. Selama Sea berpikir adik kecil Noah yang sekarang sudah besar semakin merasa tersiksa ingin segera masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Sea pun akhirnya mengangguk dan kembali merebahkan tubuhnya. “Aku percaya padamu, Ma-aaakkhhhh…!”


Sea dibuat memekik, bahkan sebelum menyelesaikan ucapannya. Si adik besar benar-benar sudah tak sabar. Dengan sekali hentakan saja dia sudah berhasil memulai perjalanan sepasang suami istri itu menuju puncak kenikmatan.


...…………………...


Adzan Subuh telah berkumandang. Mendengar itu, Noah terjaga lebih dulu. Saat membuka mata, pandangannya pertama kali adalah punggung polos istrinya.


Senyuman di wajah Noah terbit mendahului mentari yang masih betah di peraduannya. Dengan tak sabar Noah mengecupi mulai dari punggung hingga ke pundak istrinya. Meski netranya masih terus memejam, Sea mulai bergerak tak nyaman karena tidurnya diganggu.


Kecupan Noah beralih ke tengkuk istrinya dan benar saja, tak butuh lama Sea akhirnya membuka mata.


“Mas, aku sudah lelah,” keluhnya.


“Iya… aku tahu. Tapi jangan sampai melewatkan kewajiban kita,” kata Noah menasihati istrinya.


“Sudah waktunya Shalat Subuh, ayo bangun!” Ucapnya.


Sea mengangguk meski kembali memejamkan matanya. “Sea, ayo bangun sekarang. Kita masih harus membersihkan tubuh kita dulu.”


Dengan susah payah, Sea membuka kedua netranya. “Iya… iya… ini aku udah bangun.”


Noah menyambutnya dengan senyum. “Semangat dong! Kita harus berdoa semoga kerja keras adik besar semalam bisa membuahkan hasil.”


Benar katanya, si adik besar benar-benar bekerja keras semalam. Batin Sea, seraya mengingat dan menghitung berapa ronde pertempuran yang dilakukan si adik besar semalam.


“Hayoo… mikirin apa?” Noah menjawil puncak hidung istrinya. Membuyarkan semua bayangan Sea tentang kegiatan mereka semalam.


“Sekarang kita Shalat dulu. Setelah itu kalau kamu mengizinkan, adik besar ingin mencoba gaya baru lagi,” ucap Noah.


“Hah? Gaya baru lagi?” Wajah Sea berubah horor mendengar ucapan suaminya.


“Memangnya adik besarmu tahu berapa gaya, Mas?” Tanya Sea, wajahnya tampak cemas. Noah menahan tawa melihat hal itu.


“Perasaan dari semalam alasannya gitu mulu! Memangnya dia berencana mencoba berapa gaya, Mas?” Cecar Sea.


Noah tak menjawab pertanyaan istrinya. Noah terkekeh, lalu segera menggendong tubuh polos istrinya menuju kamar mandi. Jika, tidak begitu Sea akan terus mencecarnya dengan pertanyaan seputar gaya yang ingin dipraktekkan adik besarnya.


Tak tahu saja istrinya itu, jika semua gaya semalam adalah hasil kursus kilat Noah pada Si Mbah gugel kemarin sore.


...………………………...

__ADS_1


Jam menunjukkan sudah pukul 10 pagi. Pasangan Sea dan Noah baru saja selesai dari ritual mandinya yang kedua kali.


Salahkan si adik besar yang ingin mencoba dua gaya baru yang semalam tak sempat ia praktekkan. Alhasil, setelah Shalat Subuh berjamaah, Noah kembali mengajak istrinya bertempur di atas sofa. Sebab gaya baru yang ingin dicoba si adik besar harus dilakukan di sana.


Satu hal yang sangat Sea syukuri. Noah tak pernah absen mengajaknya melakukan Shalat Sunnah dua rakaat setiap kali keduanya akan melakukan hubungan suami istri.


Saat ini Sea sedang bersiap di depan cermin. Memoles wajahnya dengan riasan tipis. Biasanya Sea tak butuh waktu lama untuk melakukan hal tersebut. Namun kali ini, wanita itu memerlukan waktu ekstra. Beberapa jejak percintaan yang Noah tinggalkan di leher jenjangnya harus ia samarkan dengan make-up.


Noah baru selesai dengan ritual mandinya saat Sea sedang mengeringkan rambutnya. Hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggang, Noah beranjak menuju lemari dan mengambil pakaian santainya. Tapi sebelum melakukan itu semua, tak lupa ia mengecup kening istrinya lebih dulu.


Tangan Sea dengan lihai memainkan alat untuk menata rambutnya agar menjadi sedikit bergelombang di bagian ujung. Meski begitu, ia terus mengamati gerakan suaminya dari pantulan cermin. Setelah berpakaian, Noah dengan santai duduk di sofa kamarnya dan bermain dengan gawainya.


“Cantiknya istriku,” puji Noah saat melihat tampilan Sea yang sudah rapi dengan kemeja over sized yang dipadukan dengan celana jeans.


“Memangnya mau pergi ke mana?” tanya Noah saat melihat istrinya memakai sepatu.


“Pulang,” jawab Sea.


Noah melongo di tempatnya. Mencerna baik-baik satu kata yang baru saja terucap dari bibir istrinya.


“Pulang?” Ulangnya untuk meyakinkan dan Sea merespon dengan mengangguk.


Noah masih tak percaya. Bagaimana mungkin? Semalam, setelah keduanya menyelesaikan sesi percintaan yang terakhir, Noah masih sempat bertanya pada sang istri mengenai keputusannya.


Apakah akan ikut pulang bersama keempat sahabatnya atau masih ingin tinggal. Dan semalam sea hanya menggeleng. Jadilah ia menyimpulkan jika Sea belum ingin kembali ke kota. Noah bahkan menepati janjinya untuk menghargai keputusan istrinya. Pria itu bersedia tinggal di sana lebih lama. Menemani sang istri untuk lepas dari traumanya.


“Mas, sampai kapan akan melamun seperti itu?” tanya Sea.


“Eh, aku… aku… tak salah dengar kan? Kamu benar ingin kita pulang, kan?” Noah ingin meyakinkan jika telinganya tak salah.


Sea mengangguk. “Iya, kita akan pulang.”


“Tapi, jika Mas Noah tidak bergegas bisa saja batal. Sebab kita akan tertinggal kapal,” jelas Sea.


Noah tak tahu harus merespon apa, kebahagiaan yang diberikan istrinya berlipat-lipat. Tanpa aba-aba, Noah memeluk tubuh istrinya erat. Noah mengecupi seluruh wajah Sea, terutama di bibir merah muda istrinya. Ia lakukan hal itu berkali-kali. Kecupannya akan turun ke ceruk leher istrinya, namun segera dihentikan oleh Sea.


“Mas, kumohon… bahkan bekas semalam masih ada,” ucap Sea.


Noah menulikan telinganya, pria itu hendak memindahkan tangan Sea yang menghalanginya.


“Mas, pilih ranjang atau pulang?!” Ucap Sea memberi pilihan pada suaminya dengan tegas.

__ADS_1


Pilihan yang sulit, batin Noah.


...——————————...


__ADS_2