
“Jadi semua kekacauan ini, hanya karena dia ingin ke toilet!” Alfio menggerutu di depan pintu toilet wanita.
Toilet wanita, dua kata itu yang menghalangi Alfio untuk menerobos masuk ke dalam sana. Cukup lama pria itu berdiri di sana, semakin banyak pula pengunjung Mall yang menatapnya aneh.
“Si*l!” Alfio menggerutu lagi.
Pria itu akhirnya menyadari apa alasan hingga dirinya menjadi pusat perhatian. Di pundaknya kini tersampir tas milik Tessa.
Terdengar Alfio mengembuskan napasnya kasar. Dia tidak termasuk dalam golongan pria yang sabar. “Apa sih yang dilakukannya di dalam sana!”
Dirinya masih harus menunggu beberapa menit lagi sebelum pintu toilet akhirnya terbuka. Kemudian disusul sosok Tessa yang berjalan keluar dengan langkah yang perlahan.
“Hei! Lama banget sih, lu ngapain aja di dalam sana?!” Alfio menyambut Tessa dengan tak ramah.
“Bukan urusan lu!” Jawab Tessa juga tak ramah.
Ia menoleh pada Alfio, lalu satu tangannya meraih tas miliknya yang tersampir di pundak Alfio.
“Tapi, terima kasih ya.” Tessa melangkah menjauh, meninggalkan Alfio yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Alfio masih bertahan di tempatnya. Ia mengamati punggung Tessa yang semakin menjauh darinya. Wanita itu terlihat berjalan sempoyongan.
Alfio baru menyadari satu hal. Wajah wanita itu tampak pucat dari sebelumnya. Sempat terpikir mungkin saja hal itu terjadi karena Tessa telah menyeka riasan wajahnya. Namun karena tak yakin juga khawatir, akhirnya Alfio ikut melangkah cepat untuk menyusul Tessa.
Alfio mengikuti langkah Tessa. Alasannya karena paper bag yang berisi pakaian Tessa masih ada padanya. Saat melihat wanita itu meluruhkan tubuhnya ke salah satu bangku yang ada di hall Mall, Alfio mempercepat langkahnya.
“Lu baik-baik aja?” Alfio menyodorkan sebotol air mineral pada Tessa.
Tanpa mengubah arah pandangnya tetap lurus ke depan, Tessa meraih botol air tersebut. Entah apa yang sedang ditatapnya, namun Alfio bisa menebak jika wanita itu tidak baik-baik saja.
“Kalau ada yang sakit, periksalah ke dokter.” Meski Alfio mengucapkannya dengan nada yang tak ramah, namun Tessa bisa merasakan ketulusan pria yang berdiri di hadapannya.
“Lu ngapain di sini? Lu ngikutin gue?” Tessa akhirnya mau menatap Alfio.
Alfio berdecak, “Nih!” Alfio meletakkan paper bag yang ia bawa di pangkuan Tessa.
“Lu pikir gue gak ada kerjaan,” sambunnya.
__ADS_1
Namun apa yang ia ucapkan tak sesuai dengan yang dilakukannya. Bukannya pergi, Alfio malah ikut duduk di bangku yang sama dan tepat di sisi Tessa.
“Loh kok malah duduk di sini? Sana pergi.” Tessa mendorong-dorong lengan Alfio agar pria itu segera pergi.
Sayangnya yang ia lakukan sia-sia saja. Tubuhnya masih lemas setelah baru saja ia memuntahkan sarapannya. Alfio tetap saja bergeming di tempatnya.
Hal itu membuat suasana hati Tessa jadi buruk. Apa lagi pria yang duduk di sisinya saat ini, bisa saja menjadi sumber masalahnya kelak. Seandainya apa yang ada di pikirannya benar-benar terjadi.
“Lu kenapa sih? Mau apa lagi? Mau buktiin apa lagi sekarang, hah?!” Tak bisa lagi menahan kekesalannya, Tessa lantas membentak Alfio.
Beberapa pengunjung Mall yang berlalu-lalang di sekitar mereka, sempat menoleh ke arah keduanya. “Apa-apaan sih lu, kenapa teriak-teriak?!” ucap Alfio.
“Dasar cewek bar-bar!” Celetuknya kemudian karena geram dengan sikap Tessa.
Pebinor sialan! Enak aja menghina gue! Geram Tessa dalam hati.
Tak terima disebut sebagai cewek bar-bar, sontak Tessa berdiri dari duduknya. Ia berkacak pinggang di hadapan Alfio.
Hampir saja Alfio tertawa, saat ia mendapati Tessa yang melotot padanya. Lucu sekali wajahnya! Dia pikir aku akan takut, batin Alfio.
“Lebih bar-bar mana dibanding lu? Memaksa masuk ke fitting room dan cium gue tanpa izin, huh!” ucap Tessa dengan geram.
“Lu?!” Alfio sontak berdiri dan mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajah Tessa.
“Ap- hhmmmpphh.” Belum selesai ucapan Tessa, namun Alfio bergerak lebih cepat membungkamnya dengan satu tangannya.
“Gila! Lu mau permalukan gue, hah?” bisik Alfio ketika berhasil menghilangkan jarak di antara mereka.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Tessa berusaha memberontak. Beberapa pengunjung berkomentar sinis pada Alfio. Pria itu dinilai bertindak kasar pada kekasihnya, begitu pikir mereka.
“Masalah rumah tangga diselesaikan di rumah aja, tak baik diumbar di depan umum. ” Celetuk seorang wanita paruh baya sembari berlalu menjauh dari Alfio dan Tessa.
“Mas, yang lembut dong sama istrinya!” Celetuk seorang wanita yang lain, mengomentari perlakuan Alfio pada Tessa.
Satu per satu penonton dadakan drama pertengkaran Alfio dan Tessa mulai berkomentar. Tak ingin hal ini berlanjut dan berujung merepotkannya, Alfio terpaksa menjauhkan tangannya yang membekap bibir Tessa. Begitu pun rengkuhannya pada pinggang ramping wanita itu, akhirnya ia lepaskan.
Tanpa berkata apa pun lagi, Tessa segera pergi dari sana. Meninggalkan Alfio yang terus bergeming seraya menatap tajam punggung wanita itu yang semakin menjauh.
__ADS_1
Setelah melajukan mobilnya menjauh dari kawasan mall, Tessa menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia pikir dirinya telah lolos dari Alfio.
Namun saat menyadari kemungkinan terburuk yang akan ia hadapi setelah ini, dadanya kembali terasa sesak. “Jika dugaanku memang benar, itu artinya aku tak akan pernah bisa lepas dari bayangnya.” Gumam Tessa dengan air mata yang mulai luruh dari pelupuk matanya.
Di tengah suasana haru yang menyelimuti pikiran dan hati Tessa, panggilan telepon dari pria yang menjadi penyebab ia menangis masuk ke ponselnya. “Mau apa lagi pria gila ini?” gumamnya.
Telah ia biarkan ponsel itu terus berdering, namun si penelepon sepertinya tak putus asa meski panggilannya terus diabaikan. Tessa akhirnya mendengus tanda ia menyerah.
Ditekannya salah satu tombol pada kemudinya, kemudian suara seorang pria menggema di dalam mobil. “Di mana lu?” tanyanya.
“Apa lagi?” Tessa menjawab dengan bertanya. “Harusnya tadi gue teriak-teriak minta tolong, biar lu digebukin massa!” imbuhnya.
“Itu bukan jawaban dari pertanyaan gue. Di mana lu?” tanya pria itu sekali lagi.
“Gue gak punya kewajiban untuk jawab pertanyaan lu,” jawab Tessa.
“Sudah jelas wajib jawab. Jangan lupa, lu punya hutang sama gue,” ucap pria itu dengan pongahnya.
“Hutang? Ngadi-ngadi!” Balas Tessa.
“Lu amnesia, ya? Lupa jika gaun yang lu pakai sekarang belum lu bayar.”
Tessa sontak menepuk dahinya dengan satu tangan. Si*l! Gerutunya dalam hati.
“Kirim nomor rekening lu, gue transfer!” Balas Tessa.
“Gak semudah itu, cantik! Gue gak menerima pembayaran dengan transfer.” Seringai menghiasi wajah tampan pria itu.
“Gue kirim alamat apartemen gue. Temui gue di sana!”
Tuut tuut tuut.
Dan panggilan itu diakhiri sepihak oleh Alfio diiringi tawanya.
Salahmu sendiri mengapa membuatku candu! Batin Alfio menatap ponselnya.
...———————————...
__ADS_1