Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 64. Makan malam untuk bumil


__ADS_3

Restoran Jepang menjadi pilihan Sea untuk makan malam bersama kedua mertuanya malam ini. Meski suaminya sudah mengoceh selama berjam-jam bahwa ibu hamil sebaiknya makan sayur dan buah lebih banyak. Juga sebaiknya menghindari makanan yang belum matang sempurna.


Namun Sea terus berkilah jika hidangan di restoran Jepang tidak melulu soal sushi. Banyak hidangan lain yang bisa ia nikmati dan tentunya juga bergizi tinggi.


Apalagi yang bisa dilakukan Noah jika bumil kesayangannya sudah bertitah dan sepertinya tak ingin dibantah. Dokter Frisha sudah mengatakan jika salah satu hal penting lain adalah menjaga suasana hati sang bumil. Noah dipesan untuk menjaga pikiran dan hati istrinya, hingga jauh dari kata sakit hati juga stres.


Sementara Sea, pilihan resto Jepang sebenarnya tak luput dari rencananya untuk membalas kekesalannya pada Noah. Saat memeriksakan kehamilannya, tak cukup sekali Noah memastikan pada Dokter Frisha mengenai hubungan suami istri saat hamil. Dokter Frisha sampai menggeleng, karena pertanyaan berulang dari rekan sejawatnya itu.


“Lakuin aja asal kamu melakukannya dengan lembut. Ingat… ada bayi kalian di dalam sana.” Ucap Dokter Frisha saat tadi Noah bertanya.


“Mengenai frekuensinya, apa harus saya kurangi juga?” tanya Noah kembali yang sontak membuat wajah Sea memerah menahan malu. Pasalnya Dokter Frisha tertawa setelahnya.


”Frekuensi? Sesering apa kalian melakukannya? Pantes aja cepet jadi, kamu kejar setoran, ya?” tawa dokter cantik itu menggema. Sementara Sea semakin menunduk karena malu.


“Fris!” tegur Noah kala itu. Ia butuh jawaban, bukan cengiran dari rekannya.


Meski sudah tahu jawabannya, Noah merasa lebih tenang jika dokter yang ahli dibidangnya yang mengatakannya langsung. Dengan begitu Sea tak punya alasan untuk menolak jika dirinya ingin, begitu pikirnya.


“Ya ya ya, maaf. Frekuensi, ya? Hemm, sebaiknya kurangi saja dulu. Tunggu sampai usia kandungan Sea telah menginjak 3 bulan,” jelas Frisha.


Terima kasih Tuhan, terima kasih Dokter… batin Sea.


Ia lantas menoleh pada suaminya dan menaik turunkan alisnya. Sementara Noah membalasnya dengan senyum kecut tanda ia mengaku kalah.


Baiklah… selama 3 bulan ke depan, biarkan Sea beristrirahat lebih banyak, ucapnya dalam hati.


...………....


Sea dan Noah sudah duduk bersisian dengan nyaman di kursi yang mengitari sebuah meja bundar. Keduanya kini berada di salah satu restoran Jepang yang cukup terkenal di kota itu.


Restoran yang tak hanya terkenal dengan cita rasa yang otentik dari Negara yang dijuluki Negeri Matahari Terbit. Tetapi juga terkenal dengan pelayanannya yang tidak mengecewakan.


Saat tadi baru masuk, Sea dan Noah disambut dengan ramah oleh seorang pelayan. Suasana Negeri Jepang sungguh terasa lewat dekorasi ruangannya. Interiornya sebagian besar terbuat dari kayu, semakin menonjolkan tema tempat makan itu.


Selain beberapa meja bundar yang kini Sea dan Noah tempati, ada beberapa bilik yang nyaman dan terlihat unik bagi Sea. Sebelumnya wanita itu ingin menempati salah satu dari bilik di sana. Sayangnya, keinginannya tak bisa terwujud sebab semua bilik sudah diisi oleh pengunjung lain.


Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Ayah Peter dan Mami Joanna terlihat masuk ke dalam restoran. Netra kedua paruh baya itu tampak berbinar saat menatap ke arah putra dan menantunya. Siapa pun yang melihat akan tahu bila kini sepasang paruh baya itu tengah bahagia.


Sea berdiri dari kursinya, menyambut Mami Joanna yang merentangkan tangannya hendak di peluk. “Selamat ya, sayang…” ucapnya.

__ADS_1


“Makasih Mami,” balas Sea dengan suara bergetar.


Entahlah, namun rasa haru tiba-tiba saja menyelimuti batinnya. Ia merasa bersalah pada calon buah hatinya yang telah tiada. Dulu ia susah payah menyembunyikan kehadirannya.


Sangat berbeda dengan kehamilannya yang sekarang. Suka cita, doa, dan ucapan selamat tak henti-henti berdatangan untuknya. Sea merasa bersyukur bisa merasakan kebahagiaan ini sekali lagi. Meski tetap dibayangi oleh rasa sedih dan bersalah pada calon buah hatinya yang telah tiada.


“Ini hadiah untuk ibu hamil kita yang cantik,” celetuk Mami Joanna, menarik Sea kembali dari lamunannya.


Sebuah kotak beludru berwarna biru diberikan oleh Mami Joanna. “Bukalah,” pintanya.


“Terima kasih Mami, tapi….” Sea tampak berat hati menerima pemberian mertuanya. Ia tahu dirinya sudah merepotkan pasangan paruh baya itu sangat banyak.


Semenjak usianya 18 tahun, Mami Joanna dan Ayah Peter lah yang bertindak sebagai kedua orang tuanya. Menyayangi juga membimbing Sea keluar dari bayang-bayang kesedihan setelah kehilangan kedua orang tuanya.


“Tak ada tapi,” Mami Joanna menyela ucapan menantunya. “Ini sudah menjadi kebiasaan di keluarga kita.”


“Kebahagiaan yang kamu beri karena kehamilanmu, tak akan sebanding dengan benda berharga apa pun yang ada di dunia ini,” ucapnya. “Kami sangat bersyukur, Tuhan begitu menyayangi keluarga kita.”


Sea mengangguk setuju dengan Mami Joanna. Meski saat kehilangan kedua orang tuannya, Sea sempat meragukan kasih sayang Tuhan padanya. Namun setelah bertemu dengan keluarga Myles yang begitu menyayanginya, Sea percaya jika Tuhan punya rencana lain di balik musibah yang menimpanya.


Seperti sekarang, tak pernah ia duga jika akan menjadi istri dari pria yang diam-diam ia cintai. Bahkan kini ia telah mengandung benih pria itu di dalam rahimnya.


Sebuah kalung yang sangat cantik berliontinkan berlian menjadi hadiah pemberian kedua mertuanya. “Terima kasih Mami, Ayah… ini sangat cantik. Aku sangat menyukainya,” ucap Sea menatap Ayah Peter dan Mami Joanna secara bergantian.


Kebahagiaan Sea malam itu tak berlangsung lama. Pasalnya, tanpa ia duga seorang wanita cantik dengan penampilan cukup berkelas menyapa suaminya.


“Noah….” Serunya.


“Alesandra?!” Noah cukup terkejut dengan kehadiran wanita yang tak lain adalah rekan sejawatnya. Wanita yang tak disukai kehadirannya oleh istri cantiknya.


“Ya, aku hendak makan malam. Tak kusangka kita bisa bertemu di sini,” ungkapnya dengan sorot mata bahagia.


“Ekhem….” Sea berdeham membuat Noah dan Alesandra bersamaan menatap padanya.


“Aku dan istriku sedang makan malam keluarga,” ucap Noah kembali duduk dan merangkul pundak istrinya.


Alesandra hanya mengangguk untuk menyapa Sea. Kemudian ia segera beralih menyapa kedua orang tua Noah.


“Perkenalkan Tuan dan Nyonya, saya rekan Noah di rumah sakit. Nama saya, Alesandra.” Dokter cantik itu terlihat sangat anggun saat memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


Berbeda dengan Sea yang mencebik saat melihat apa yang dilakukan oleh saingannya untuk meraih simpati. Apalagi dengan tak tahu dirinya, Alesandra mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang kosong.


Tatapan tajam miliknya, segera ia layangkan pada suaminya. Sementara Noah yang ditatap seperti itu hanya bisa menggeleng tanda jika yang terjadi saat ini, tak pernah menjadi bagian dari rencananya.


Merasa geram dengan tingkah Alesandra, Sea memiliki ide untuk membuat wanita itu kesal. “Ikutlah makan malam bersama kami,” ucap Sea dengan ramah.


“Kau bisa ikut merayakan kehamilanku,” sambungnya.


“Ha-hamil?” tanya Alesandra terbata-bata. Tak ia duga wanita itu akan kembali hamil secepat itu.


Si*lan! Baru beberapa bulan yang lalu aku menghabiskan banyak uang untuk melenyapkan bayi yang dikandungnya. Sekarang dia sudah hamil lagi?! Gerutu Alesandra dalam hati.


“Ya, hamil. Aku sedang mengandung buah cinta kami,” jawab Sea disertai senyum kemenangan.


Sea masih ingin melanjutkan ucapannya, namun perhatiannya teralihkan oleh sosok pria kekar yang baru saja masuk ke dalam restoran. Alesandra mengikuti arah pandang Sea, seketika tubuhnya menegang saat melihat pria yang ditatap Sea.


“Ekhem….” Gantian kini Alesandra yang berdeham.


“Kalau begitu selamat ya,” ucapnya menarik perhatian Sea kembali.


Setelah mengucapkan itu, Alesandra segera bangkit dari kursinya dan berpamitan. “Maaf, sebenarnya aku sangat ingin bergabung. Sayangnya, aku telah memiliki janji lain,” ungkapnya.


Jika Noah bisa menghela napas lega dengan keputusan Alesandra, Sea malah tersenyum senang karena itu. Ia tak harus menahan kekesalan karena Alesandra yang sejak tadi terus saja membanggakan dirinya sendiri di depan kedua mertuanya.


“Sayang sekali, padahal sangat asyik mengobrol denganmu,” ucap Mami Joanna. “Kami akan mengundangmu makan malam bersama lain kali,” sambungnya.


Alesandra mengangguk sebelum akhirnya beranjak pergi menuju sebuah bilik. Setelah Alesandra menghilang dari pandangannya, Sea kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut Restoran. Ia ingin mencari tahu di mana pria bertubuh kekar itu duduk.


Tak mendapati sosok yang ia cari, Sea berkesimpulan jika pria itu mungkin berada di salah satu bilik di sana. Gerak-gerik Sea mengundang tanya dari sang suami. “Kamu mencari sesuatu, Mhiu sayang?” tanyanya.


“Eh, ti-tidak.”


“Kalau begitu makanlah,” pinta Noah.


“Makanannya tak akan lezat jika sudah dingin,” sambungnya seraya menatap piring kosongnya.


Sea yang paham maksud suaminya segera bergegas menghidangkan beberapa pilihan menu pada piring tersebut. “Selamat makan, Phiu.” Ucapnya.


Jangan-jangan pria itu adalah janji temu Alesandra? Mereka ada hubungan apa? Dan di mana sebenarnya aku pernah bertemu dengan pria itu? tanya Sea dalam benaknya.

__ADS_1


...—————————...


__ADS_2