Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 84. Hukuman


__ADS_3

Dua hari lagi genap sebulan setelah Alesandra dan Alfio ditahan. Sementara Roy kini masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO).


Pihak berwenang bertindak cepat dalam menangani kasus kecelakaan dan penyerangan terhadap Sea. Hingga tibalah hari ini, hari di mana akan digelar sidang putusan oleh hakim.


“Bolehkah aku bertemu Kak Alfio setelah sidang?” Sea bersandar pada lengan suaminya di ruang tunggu pengadilan.


“Jangan memaksanya untuk bertemu denganmu,” jawab Noah.


“Makanya aku bertanya padamu, Phiu sayang.” Noah melirik ke arah istrinya, tatapan puppy eyes itu lagi yang ia temui.


Setelah menghela napasnya, akhirnya Noah mengangguk seraya satu tangannya membelai surai lembut milik istrinya. “Aku akan usahakan. Biarkan aku yang bicara padanya lebih dulu.”


“Terima kasih, Phiu sayang.”


“Cium aku jika kamu benar-benar berterima kasih,” kelakar Noah.


Sea membulatkan matanya saat mendengar godaan sang suami. “Mas! Orang lain bisa mendengarmu.”


Sea melirik ke sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar candaan suaminya. Dirinya pasti akan sangat malu, jika salah satu pengacaranya ada yang mendengar hal itu.


Melihat respon Sea yang menurut Noah sangat lucu, ia semakin bersemangat menggoda istrinya itu. Dalam hati Noah bersyukur, candaannya mampu mengurangi ketegangan Sea.


Sejujurnya, sejak semalam Noah merasa khawatir. Sejak Sea mengetahui kebenarannya, mengenai Alesandra juga hubungan antara Alfio dan Aneesa, wanita itu sungguh merasa terpukul.


Sea lebih banyak diam dan mengurung diri di dalam kamar. Dirinya yang tak bisa terus-teruasan mendampingi istrinya karena pekerjaan, membuat kekhawatiran Noah menjadi berlipat-lipat ganda.


Beruntung bagi Noah, pagi ini senyum dan tawa istrinya bisa kembali ia lihat. Walau hanya sedikit, namun Noah merasa kekhawatirannya berkurang.


...———————...


Agenda sidang pagi ini adalah pembacaan putusan kepada terdakwa Alesandra dan pria suruhannya. Sea, Noah, Ayah Peter dan Mami Joanna masuk lebih dulu ke dalam ruang persidangan didampingi oleh tim kuasa hukum mereka yang berjumlah 4 orang.


Tak lama berselang, Alesandra beserta pria suruhannya itu juga masuk dengan tangan diborgol. Keduanya didudukkan berdampingan di kursi pesakitan.


Jika si pria terus menunduk, berbeda dengan Alesandra yang masih sempat menatap nyalang pada Sea. Berbeda saat ia mengalihkan pandangannya pada Noah, wanita itu seolah ingin meminta pertolongan lewat tatapannya.


Pria yang melakukan penyerangan pada Sea didakwa telah melakukan pembunuhan dengan rencana. Terlebih setelah dilakukan penyelidikan, bayi dalam kandungan Sea benar meninggal akibat peristiwa tersebut.

__ADS_1


Genggaman erat tangan Sea begitu terasa pada lengan Noah. Hal itu bisa dirasakannya ketika hakim ketua mempersilakan pria yang telah membuat mereka kehilangan calon buah hatinya untuk berdiri di tempatnya.


Menyadari hal itu, Noah lantas mengusap lembut punggung tangan istrinya, “Butuh sesuatu? Udara segar, mungkin?”


Sea menggeleng dan tersenyum ke arah suaminya. “Tidak, aku baik-baik saja,” jawabnya.


“Jangan khawatirkan apa pun. Ada kami semua di sini,” ucap Noah.


Suasana menegangkan sungguh terasa di ruang persidangan. Tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara, kecuali hakim ketua. Pria suruhan Alesandra yang menjadi terdakwa dalam kasus ini, terus menundukkan pandangannya ketika hakim ketua membacakan putusan yang dijatuhkan padanya.


Atas perbuatannya, ia dijerat dengan kurungan penjara selama 20 tahun. Isak tangis dari seorang wanita dengan bayi mungil dalam gendongannya menggema ke penjuru ruangan sidang.


Air mata Sea turut berlinang tanpa diperintah. Mungkin wanita itu adalah istri pria yang telah melukainya, begitu pikir Sea. Sebagai sesama wanita, hatinya ikut sakit dan menyayangkan perbuatan pria itu yang tak memikirkan akibat dari tindakannya.


Setelah membacakan putusan untuk si pria, kini giliran pembacaan putusan untuk Alesandra. Dari tempatnya duduk, Noah bisa melihat ayah dari Alesandra sesekali berbisik kepada tim kuasa hukum mereka.


Tak berbeda dengan orang suruhannya, Alesandra pun harus menerima hukuman kurungan penjara selama 20 tahun. Alesandra dipidana sebagai pelaku tindak pidana sebab ia sebagai seseorang yang menyuruh melakukan juga yang memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekayaannya supaya melakukan perbuatan tersebut.


Tak ada tangisan Alesandra, yang ada wanita itu histeris. Ia berteriak, membentak hakim yang ia rasa tak adil. Alesandra terus berteriak pada ayah dan tim kuasa hukumnya untuk melakukan sesuatu yang bisa membebaskannya.


Tentu saja hal itu akan mereka lakukan, namun tidak pada hari itu. Alesandra harusnya menyadari jika pembelaan apa pun tak akan bisa membebaskannya. Ia tetap harus mempertanggungjawabkan semua kejahatan yang telah ia perbuat.


Hingga setelah makan siang, Sea masih lebih banyak diam. Tak banyak yang ia bicarakan, bahkan saat yang lainnya sedang membahas mengenai langkah yang mungkin diambil oleh pihak Alesandra, Sea tak tertarik sama sekali.


Noah sangat tahu, hal apa yang mengusik pikiran istrinya. Sebentar lagi rombongannya masih harus kembali ke pengadilan untuk menghadiri sidang putusan dengan terdakwa yang tak lain adalah Alfio. Atas tindakannya yang telah merusak atau menghilangkan barang bukti.


Barang bukti yang dimaksud adalah rekaman CCTV yang menampilkan pertemuan antara Alesandra dan orang suruhannya untuk mencelakakan Sea dengan cara tabrakan mobil. Berkat kerja keras Roy, Alfio berhasil mendapatkan rekaman itu lebih dulu. Bukannya melaporkan atau menyerahkan pada pihak kepolisian, ia malah mengambil keuntungan dari rekaman tersebut dengan cara mengancam Alesandra.


Kini semuanya sudah kembali berada di ruang persidangan. Saat Alfio masuk, pria itu sempat menatap Sea seraya tersenyum. Pria itu juga mengangguk untuk menyapa Noah.


Dalam hati ingin rasanya Noah cemburu saat melihat istrinya turut membalas senyuman dari Alfio. Namun ia urungkan niatnya, kewarasannya mengatakan jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu.


Sidang kembali digelar. Semua orang yang berada di dalam ruang sidang mengikuti satu per satu rentetan proses persidangan. Hingga tiba saatnya hakim membacakan putusannya.


“Dijerat dengan hukuman 4 tahun kurungan penjara,” kata- kata hakim yang tak dibantah sedikit pun oleh Alfio.


Air mata menggenangi pelupuk mata Sea. Biar bagaimanapun Alfio adalah orang terdekatnya. Apalagi setelah tahu alasan Alfio pernah berniat mencelakainya, Sea semakin merasa iba pada pria itu.

__ADS_1


Setelah sidang usai, akhirnya Alfio menerima permintaan Sea untuk bertemu. Noah berbesar hati mengizinkan keduanya bicara.


“Jangan menangis, wajahmu berubah menjadi jelek.” Canda Alfio saat pertama kali keduanya bertemu.


Sea ikut tertawa menanggapi candaan Alfio. “Jangan minta maaf, wajahmu tak cocok untuk memelas.” Sea balas mengejek Alfio sebelum akhirnya tangisnya meledak.


“Dasar cengeng!” Pria itu merogoh saku celananya. Memberikan sebuah kunci untuk Sea.


“Minta Noah mengantarmu ke sana,” suruh Alfio.


“Ke mana?” tanya Sea.


“Galeri foto milikku. Kita pernah ke sana, kamu masih ingat kan?” Pertanyaan Alfio dijawab anggukan oleh Sea.


“Aku menyiapkan hadiah untukmu. Ambillah sendiri,” lanjut Alfio.


Sea mengambil kunci yang disodorkan Alfio. “Apa kita masih berteman?”


“Jika suamimu mengizinkan, kenapa tidak.”


“Mas Noah itu pria yang baik dan pengertian,” balas Sea membanggakan suaminya.


Alfio tergelak mendengar pujian Sea. “Apa kau lupa, sudah berapa kali suamimu memukul wajah tampanku hanya karena cemburu.”


Mengingat kejadian yang pernah terjadi dahulu membuat Alfio dan Sea tertawa bersama. “Maafkan aku,” lirih Alfio berucap setelah menghentikan tawanya.


Sea mengangguk dengan netra yang kembali berkaca-kaca. “Jaga dirimu, bahagialah bersama Noah.”


“Dia pria yang baik, aku pernah mempercayakan adikku yang kusayang padanya. Aku tahu dia sudah menjaganya dengan sangat baik, sayangnya takdir berkata lain.”


“Sekarang kembali kupercayakan Noah menjagamu. Semoga akhir bahagia menjadi takdir kalian berdua,” ungkap Alfio memaksa air mata Sea tumpah dari kedua netranya.


Waktu pertemuan yang memang dibatasi mengakhiri perjumpaan keduanya. Sebelum Sea menghilang di balik pintu, Alfio menghentikan langkahnya.


“Sea!” panggilnya.


“Jika bertemu Tessa, sampaikan salamku padanya. Akan kutemui dia, segera setelah aku keluar dari tempat ini,” ucap Alfio membuat wajah Sea seketika memucat.

__ADS_1


...——————————...


__ADS_2