Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 25. Kabar buruk


__ADS_3

“Sea... Sea... Sea...” Tak henti-hentinya Alfio memanggil-manggil nama wanita yang kini berada dalam dekapannya.


Dengan lembut pria itu menepuk-nepuk pipi Sea, berharap ia terusik dan segera membuka kedua netranya. Namun usaha Alfio tetap saja gagal.


“Mengemudilah lebih cepat!” perintah Alfio. “Kita harus segera sampai ke rumah sakit terdekat selain rumah sakit Pelita Harapan!” imbuhnya.


Sontak karyawan Kafe Venus yang mengemudikan mobil Alfio, menatap dengan penuh tanya melalui spion tengah mobil. Mengapa tak boleh di rumah sakit Pelita Harapan? Tanyanya dalam hati.


Tanpa sengaja tatapan Alfio dan karyawannya tadi bertemu. Sontak saja Alfio yang dalam keadaan panik melampiaskan semua emosinya pada karyawannya itu. “Apa yang kau lihat, huh!” Bentaknya.


“Lebih baik kau mengemudi lebih cepat! Jika sesuatu terjadi pada Sea, kau yang akan kusalahkan karena mengemudi sangat lambat!” gerutu Alfio.


Karyawan tersebut mendelik. “Loh! Kok jadi saya yang disalahin, bos."


“Seandainya bos tak melarang, mungkin kita sudah sampai di rumah sakit Pelita Harapan,” lanjutnya dengan bersungut-sungut. “Lagian kenapa sih bos tak boleh di rumah sakit itu?” tanyanya penasaran.


Rasa ingin tahu karyawan itu ditanggapi Alfio dengan tatapan tajamnya. “Diamlah! Tugasmu sekarang hanya mengemudi!” ucap Alfio.


“Jadi, tutup mulutmu dan fokuslah mengemudi! Dalam 5 menit kita sudah harus sampai ke rumah sakit terdekat!” titahnya.


Si karyawan hanya bisa menelan salivanya. Bosnya yang ramah dan gemar bercanda itu rupanya juga bisa berubah seperti seekor singa. Segera, kaki kanannya semakin dalam menginjak pedal gas. Berharap di depan mereka lalu lintas akan lancar dan tak ada hambatan.


Setibanya di rumah sakit, Alfio menggendong Sea menuju IGD. Antara panik dan terus ingin mendekap Sea, pria itu bahkan mengabaikan dua orang perawat yang sudah siap dengan stretched atau ranjang transfer pasien di depan pintu IGD.


Alfio membaringkan Sea dengan perlahan dan hati-hati ke atas hospital bed. Seorang dokter dan dua perawat menghampiri, menanyakan apa yang terjadi hingga wanita cantik di hadapan mereka terbaring tak sadarkan diri.


Dengan bibir bergetar, Alfio menceritakan kronologis kejadiannya. Karena tak ingin menerima kenyataan andai saja apa yang ia pikirkan itu benar, Alfio sengaja tak memberi informasi perihal dugaannya jika wanita itu tengah berbadan dua.


Dari tatapan dan raut wajah Alfio yang sangat khawatir, dokter dan perawat tadi menarik kesimpulan jika pria itu pastinya memiliki cinta yang sangat besar pada wanita lemah ini.


“Baiklah Tuan, silakan mundur dulu. Dokter akan segera memeriksa kondisi pasien,” ucap salah seorang perawat.


Dengan berat hati, Alfio berpindah tempat. Melangkah mundur guna mengambil sedikit jarak. Namun, tetap saja pria itu memastikan Sea berada dalam jangkauan pandangannya.


Perawat akhirnya menarik tirai yang kemudian menghalangi pandangan Alfio sepenuhnya. Perasaan cemasnya semakin menjadi-jadi, tatkala sudah 10 menit berlalu dan belum ada tanda-tanda dokter selesai memeriksa Sea.


Alfio hanya terus mengamati saat beberapa perawat mondar-mandir membawa infus stand dan alat-alat kesehatan lainnya. Lalu disusul seorang dokter wanita lain yang turut masuk ke balik tirai.


Melihat kini ada dua orang dokter yang memeriksa Sea, kening Alfio mengernyit. Kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi pada Sea? Tanyanya dalam hati.


Beruntung tirai di sekeliling Sea akhirnya terbuka. Hampir saja Alfio yang kekhawatirannya semakin besar, menerobos masuk. Seandainya dokter dan perawat itu tidak segera menyelesaikan tugas mereka.


“Perawat sedang memasang infus untuk memasukkan cairan ke tubuh pasien,” jelas dokter. “Mengenai kondisi istri Anda saat ini, lebih lengkapnya akan dijelaskan oleh Dokter Eka.”

__ADS_1


“Istri?” gumam Alfio lirih. Ia kesulitan menahan kedua sudut bibirnya yang hendak tersenyum saat mendengar ucapan dokter tadi.


“Mari Pak... kita bicara di sana saja,” ucap dokter wanita yang bernama Eka. Tangannya menunjuk ke salah satu sudut di ruang IGD yang jaraknya tak cukup jauh dari Sea.


“Selamat ya, Tuan. Istri Anda kini sedang mengandung,” ucap dokter Eka.


Sementara Alfio yang sudah menduga hal ini dibuat mematung akibat ungkapan tulus dokter Eka. Dokter wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu tersenyum semakin lebar melihat respon yang diberikan Noah.


Bertahun-tahun menjadi dokter kandungan, sudah banyak pula ia temui berbagai ekspresi dari para calon ayah dan calon ibu saat mengetahui kabar gembira seperti ini. Sungguh berbeda dengan apa yang dipikirkan dokter Eka, pasalnya diamnya Alfio kini sesungguhnya karena pria itu berharap jika berita itu tak benar adanya.


"Jadi, Sea benar-benar hamil, dok?” tanyanya.


Melihat keraguan di wajah pria yang ia duga sebagai calon ayah, dokter Eka kembali mengulang pernyataannya. “Benar, Tuan.”


“Sekali lagi saya ucapkan selamat atas kehamilan istri Anda,” imbuhnya. “Hanya saja, tolong Anda lebih memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsi istri Anda. Wanita hamil memerlukan lebih banyak asupan nutrisi dan vitamin. Juga yang terpenting, tolong dijaga agar istri Anda tidak kelelahan dan memiliki tidur yang cukup.”


Alfio hanya mengangguk setelah mendengar nasihat dari dokter Eka. Hingga dokter Eka pamit undur diri pun, Alfio masih betah mematung di tempatnya.


Si*l! Si brengs*k itu benar-benar kurang aj*r! Dia mengaku tak cinta, lantas mengaoa menghamili Sea! Alfio memaki dalam hati.


Tentunya aku bisa menerima kehadiran Sea bagaimanapun kondisinya, aku sungguh mencintainya. Tapi untuk bayi dari pria si*lan itu, aku tak akan mau! Batin Alfio.


Pergulatan batin Alfio akhirnya terhenti saat salah seorang perawat menghampirinya. “Permisi, Tuan. Istri Anda sudah sadar, dia mencari Anda.”


“Sea…” panggilnya.


“Ka-ak Alfio?” balas Sea lirih karena merasa tenaganya belum kembali seutuhnya.


“Sea-“ ucapan Alfio terjeda. Pria itu duduk pada kursi kecil di samping hospital bed. “Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?” tanyanya.


Sea menggelengkan kepalanya lemah sebagai jawaban.


“Sea… kata dokter, kamu… kamu… ham-“ belum selesai ucapan Alfio, tangisan Sea sudah pecah. Wanita itu sudah tahu apa yang hendak dikatakan oleh Alfio. Ia menangis sebab merasa dirinya sudah lalai dan tak becus menjaga amanat pemberian Tuhan padanya.


Melihat Sea yang menitikkan air mata, Alfio salah paham dan semakin membenci kehadiran malaikat kecil di rahim wanita yang ia cintai. Tak cukup hanya menyalahkan Noah, pria itu turut menyalahkan kehadiran titipan Tuhan.


Kebencian telah menutup mata hati Alfio. Tanpa berpikir panjang, pria itu menghubungi Alesandra, dokter wanita yang beberapa hari lalu telah menjadi sekutunya.


“Ada apa? Banyak pasien menungguku, aku tak bisa bicara lama denganmu.” Akhirnya setelah mendengar nada tunggu cukup lama, panggilan Alfio dijawab lalu terdengarlah suara seorang wanita di seberang telepon.


“Cih,” Alfio berdecih. “Aku pun tak ‘kan menghubungimu jika ini tak penting,” balas Alfio.


“Sepertinya kau dan aku harus merelakan orang yang kita cintai,” ucap Alfio.

__ADS_1


Alesandra tahu jika yang dimaksud oleh Alfio adalah Noah dan hal itu tentu saja akan menarik perhatiannya. “Maksudmu? Katakan dengan jelas!”


“Dugaanku benar. Sea benar-benar hamil!” jelas Alfio. “Kehadiran anak diantara mereka akan mengikat mereka berdua selamanya,” ucap Alfio semakin memancing amarah Alesandra.


Dokter cantik itu kini meradang, rencana Alfio berhasil. Seringai terbit di wajahnya kala mendengar respon Alesandra. “Aku tak akan merelakan Noah sampai kapanpun. Akan kupastikan jika kehadiran anak itu tak akan bisa menghalangiku!” Ucap Alesandra.


Setelah mengakhiri panggilannya, Alfio kembali ke dalam ruang IGD. Hatinya menghangat saat melihat betapa damainya wajah Sea yang sedang tertidur.


Sebesar apa rasa bencinya, untuk menyakiti Sea ia tak akan mampu. Ia biarkan Alesandra yang memikirkan cara licik untuk merebut Noah. Biar saja dokter bodoh itu yang mengotori tangannya, batin Alfio.


...….........................


Cukup lama Alfio menunggui Sea di IGD, setelah cairan infusnya habis Sea diizinkan untuk pulang. Bersyukur dokter mengatakan jika wanita itu tak perlu dirawat di rumah sakit. Cukup lebih banyak istirahat, menghindari stress, juga mengonsumsi vitamin dan makanan yang berigizi.


Sea tak mengabari satu orang pun mengenai apa yang terjadi padanya. Meski itu suami, mertuanya, atau kedua sahabatnya.


Tampak hari sebentar lagi sudah berganti malam saat keduanya dalam perjalanan setelah meninggalkan rumah sakit. Sea bersyukur ada Alfio yang mau menolongnya.


“Kak, bolehkah jika aku meminta kamu merahasiakan mengenai kehamilanku?” pinta Sea.


“Tentu, aku akan melakukannya jika itu yang kamu inginkan. Tapi, kamu tentunya tahu, jika kehamilan bukanlah hal yang main-main. Suamimu sebaiknya tahu mengenai hal ini,” ucap Alfio. Pria itu sengaja mengatakan hal itu agar bisa mengetahui respon Sea.


Sea mengalihkan pandangannya ke jalan melalui jendela mobil. Tak ia jawab pertanyaan Alfio. Helaan napas panjang yang berkali-kali ia lakukan, cukup menjadi jawaban jika wanita itu dipenuhi keraguan.


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ingat kata dokter, kamu tak boleh stress,” ucap Alfio. “Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. Untuk saat ini, karena hanya aku yang tahu maka berjanjilah untuk selalu memberitahuku jika ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman.”


Sea menjawab dengan senyuman manisnya. “Terima kasih, kak.”


Alfio memutar musik yang kiranya dapat membuat Sea lebih rileks dalam perjalanan mereka. “Tidurlah dulu, akan kubangunkan saat kita tiba di rumahmu.”


Pria itu berharap jika semua sikap dan perhatiannya, harusnya sudah bisa menggetarkan hati Sea. Sayangnya cinta dan kekecewaan Sea pada suaminya telah memenuhi segala ruang di hatinya. Hingga sulit bagi Sea untuk menyematkan nama lain lagi di hatinya.


Suasana dalam mobil Alfio sungguh tenang. Tak ada suara, hanya alunan suara merdu seorang penyanyi yang terdengar. Tak jauh di depan, mobil yang Alfio kemudikan sebentar lagi akan melewati pertigaan jalan. Tanpa pria itu duga dari sisi kiri ada sebuah mobil yang tiba-tiba melaju dengan kecepatn tinggi dan ….


Bbbbbbuuuuuummmmmmmm.


Tabrakan dua mobil tak dapat terelakkan. Sesaat mobil Alfio terputar ke sembarang arah beberapa kali. Dalam keadaan yang lemah, Alfio masih menyadari jika yang barusan terjadi bukanlah kecelakaan, melainkan mobilnya sengaja ditabrak dari sisi kiri.


Pria itu melirik ke arah Sea, yang duduk di bagian penumpang. Terbersit sesuatu dalam benak Alfio saat mendengar Sea menjerit ketakutan. Alfio akhirnya menyadari sesuatu.


Hanya dalam sekejap, kedua netra Sea kembali terpejam dengan darah yang mengalir dari dahinya. Kedua tangannya ia letakkan di atas perutnya, Alfio tahu apa tujuan Sea melakukan hal itu. Dalam hati Alfio berdoa semoga Sea baik-baik saja.


Si*lan! Akan kubalas kau! Geram Alfio sebelum ia ikut kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


...--------------...


__ADS_2