
“Tidurlah! kamu memang harus banyak istirahat.”
Noah tak berharap Sea membalas ucapannya. Pria itu sangat menyadari jika, jangankan untuk bicara dengannya, untuk menatap dirinya saja, Sea tampaknya enggan.
Semua itu Noah simpulkan setelah melihat sikap dingin istrinya. Bagaimana usaha istrinya untuk kembali terlelap, meski dirinya baru saja terbangun dari tidur panjangnya setelah diberikan obat penenang.
Meski kedua manik matanya tertutup rapat, Sea bisa merasakan kehadiran Noah di sisinya. Sea tahu jika Noah tak sedikitpun berpindah tempat dari posisinya terakhir kali. Pria itu tetap setia duduk di samping hospital bed dengan tenang. Bahkan sangat tenang karena tak sekalipun Noah berbicara.
Noah hanya akan bergerak, saat pria itu hendak membenarkan posisi selimut istrinya. Noah juga tak hentinya mengecek suhu tubuh atau hanya sekedar mengecek laju cairan infus miliknya. Semuanya ia lakukan dengan sangat pelan dan hati-hati. Sea tahu tujuan Noah seperti itu karena tak ingin mengusik tidurnya.
Harusnya hatiku menghangat… bukankah perhatian seperti ini yang kuharapkan? Sea coba mencari tahu apa yang diinginkan oleh hatinya. Semakin melihat ke dalam hatinya, akan tetapi hanya rasa bersalah dan kekecewaan yang ia temukan di sana.
................
Jarum jam rasanya bergerak sangat lambat dari biasanya. Keheningan menemani sepasang suami istri itu untuk melewati malam ini. Hingga saat adzan subuh berkumandang, barulah Sea merasakan ada pergerakan dari suaminya.
Sea mengintip dari celah-celah kecil netranya yang terpejam. Ia bisa melihat punggung suaminya berjalan memasuki kamar mandi yang masih berada dalam ruang perawatan VVIP yang sama. Bunyi gemericik air yang samar-samar terdengar menandakan jika suaminya sedang membersihkan tubuhnya.
Sea segera membuka mata. Meski tubuhnya terasa sulit untuk bergerak terutama di bagian perut, namun Sea berusaha untuk bangun. “Aku harus menghubungi seseorang yang bisa membawaku pergi dari sini,” gumamnya sangat lirih.
Tangannya yang terbebas dari jarum infus ia gunakan untuk meraba nakas yang berada tepat di sampingnya. “Huf… tak ada! Di mana ya, ponselku.”
Bahkan, dengan susah payah Sea membuka laci nakas dan mencari ponselnya di sana. Hasilnya tetap sama, nihil.
“Auucchhh….” Sea meringis tatkala perih terasa di sekitar area perutnya yang terbalut perban. Bertepatan dengan Noah yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Sea!” pekik Noah. Dengan langkah lebarnya, Noah segera menghampiri istrinya.
“Ada apa? Katakan bagian mana yang sakit?” tanya Noah seraya membantu Sea kembali berbaring seperti semula.
Sea menggeleng. “Kamu mencari sesuatu?” tebak Noah.
“Aku mencari ponselku,” jawab Sea.
“Semua barang milikmu masih berada di kantor polisi,” kata Noah.
“Ka-kantor po-polisi?” tanya Sea terbata.
“Iya benar, di kantor polisi.” Anggukan kepala Noah semakin meyakinkan jika yang diucapkan pria itu benar.
__ADS_1
“Kamu tentunya ingat, apa yang terjadi hingga akhirnya kamu berakhir di sini ‘kan?” lanjutnya.
Sea mengangguk sekali lagi. “Kapan aku bisa mengambilnya kembali?”
“Segera setelah semua pemeriksaan selesai,” jawab Noah. “Apa ada sesuatu yang penting?”
“Hemm… tak ada. Hanya ponselku,” jawab Sea.
“Juga ada foto hasil USG anakku. USG eyang pertama dan terakhir….” Lanjut Sea lirih setelah memalingkan wajahnya.
Meski lirih, namun semuanya masih bisa didengar oleh Noah. Rasa kehilangan yang begitu menyakitkan kembali menyayat hatinya. Kembali ia melangkah mendekati Sea, dengan lembut ia membawa wajah Sea agar kembali menatapnya.
“Anak kita, Sea,” ucapnya lembut.
“Aku janji… besok akan ke kantor polisi. Jika diizinkan, aku akan mengambil kembali tas dan barang milikmu yang lain,” imbuhnya.
Jarak wajah keduanya cukup dekat, bahkan Sea dan Noah bisa saling merasakan hangatnya embusan napas masing-masing. Lalu, tiba-tiba …
Cup.
Sebuah kecupan lembut Noah daratkan di kening istrinya. “Aku juga sangat ingin melihat foto USG anak kita,” sahutnya.
Dengan pipi yang merona, Sea menatap punggung kekar suaminya yang berjalan menjauh. “Harusnya aku terus saja pura-pura tidur,” gumamnya.
“Jika, Mas Noah terus bersikap hangat, lembut, dan manis seperti ini… aku yakin hatiku yang membeku akan lebih cepat mencairnya.”
“Aku belum siap untuk kembali bertaruh dengan cintanya,” gumam Sea.
...…………...
Pagi menjelang… bukannya membaik, Noah dan Sea kembali saling mendiami. Meski Sea tak lagi harus berpura-pura tidur, namun bukan berarti wanita itu mau menatap suaminya lama-lama.
Pandangan Sea hanya tertuju pada jendela besar yang menampakkan birunya langit dan gedung-gedung tinggi lainnya di sekitar rumah sakit.
“Bagaimana keadaanmu, Sea?” tanya Owen.
Dokter sekaligus sahabat suaminya itu, mengunjungi ruang perawatan Sea segera setelah jam kerjanya selesai di IGD.
“Sudah lebih baik, terima kasih perhatian kalian,” balas Sea ramah.
__ADS_1
Sementara Sandy, sahabat Noah yang lain yang datang bersama Owen bisa melihat jelas bagaimana ketegangan antara kedua sahabatnya.
“Noah, kamu masih belum kembali bekerja?” tanya Sandy yang berusaha mencairkan suasana.
Noah menggeleng. “Tidak,” jawab Noah yakin. “Sampai istriku benar-benar pulih, barulah aku akan kembali bekerja.”
Noah sengaja menekankan kata istriku dalam ucapannya. Sementara Owen, jelas sekali terlihat dari senyumnya seperti sedang mencibir ucapan Noah.
Menurut Sandy, suasana pagi itu lebih terasa mencekam dibandingkan dengan ketika ia menonton film bergenre horor. Akhirnya, dokter muda itu putuskan untuk mengajak Owen pergi sebelum keadaan semakin memanas.
Tak lama setelah kepergian Owen dan Sandy, kedua orang tua Noah pun tiba. Kedatangan Ayah Peter dan Mami Joanna kembali mengakhiri keheningan yang terjadi antara Sea dan Noah.
“Syukurlah kamu sudah lebih baik,” ucap Mami Joanna seraya satu tangannya terus membelai lembut puncak kepala menantu yang ia sayangi.
“Terima kasih, Mami,” balas Sea singkat.
Ayah Peter dan Mami Joanna saling pandang. Pikiran keduanya sama, menantunya masih sangat terguncang atas musibah yang menimpanya.
“Mami bawakan nasi tim ayam kesukaanmu,” ucap Mami Joanna dengan riang. “Kamu makan ya, sayang….”
Tanpa menunggu perintah, Noah membuka bekal yang dibawa oleh ibunya. Aroma nasi tim ayam yang menggugah selera segera menyeruak ke seluruh penjuru ruangan.
Dari bagaimana Noah yang dengan sabar menyuapi Sea, Mami Joanna bisa melihat perhatian tulus putranya pada menantunya. Harapan akan membaiknya keadaan rumah tangga keduanya kini semakin besar.
....................
Pukul 10.00 pagi, Noah meminta izin pada Sea lalu pada kedua orang tuanya untuk pergi ke kantor polisi. Selain untuk memeriksa bagaimana kelanjutan kasus kecelakaan yang menjadikan istrinya korban, Noah ingin menepati janjinya pada Sea. Pria itu juga sudah tak sabar ingin melihat foto USG calon buah hati mereka yang kini telah kembali kepangkuan Sang Khalik.
Ayah Peter memutuskan untuk menemani putranya ke kantor polisi. Sesaat setelah kepergian keduanya, Sea menatap lama pada wajah teduh ibu mertuanya. Wanita yang ia hormati dan sayangi seperti ibu kandungnya sendiri.
“Mi… bolehkah Sea meminta sesuatu?” tanyanya.
“Tentu saja, sayang. Katakan, apa yang kamu inginkan.”
“Maafkan aku, Mami …”
“Aku ingin… pulang!”
...-----------...
__ADS_1