Menikahi Pembunuh Kekasihku

Menikahi Pembunuh Kekasihku
Bab 65. Dua garis merah


__ADS_3

Sea sangat menikmati makan malamnya kali ini. Terlepas dari kehadiran Alesandra di awal makan malam, yang sempat memperburuk suasana hatinya. Selebihnya wanita yang tengah mengandung itu sangat bahagia.


Berbeda dengan Noah yang tak bisa menikmati makan malamnya. Pria itu merasa mual saat mencicipi beberapa jenis makanan dengan aroma yang kuat.


Tak terasa makan malam pun telah usai. Sebelum pulang, Sea menyempatkan diri untuk ke toilet. Makan terlalu banyak membuat perutnya terasa begah.


Sekitar 10 menit Sea habiskan waktu di toilet. Wanita itu bergerak lebih cepat, tak ingin membuat Noah menunggu lebih lama lagi. Namun saat hendak kembali ke mejanya, salah satu pintu bilik terbuka.


Melihat siapa yang keluar dari balik pintu bilik, sontak saja Sea bersembunyi di balik sebuah pilar besar. Semoga saja Alesandra tak menyadari kehadiranku, batinnya.


“Tapi mengapa aku harus bersembunyi seperti ini dari Alesandra?” Gumamnya lirih.


Sea menggeleng, ia heran dengan tingkahnya. Mengapa harus bersembunyi sedangkan ia tak memiliki kesalahan apa pun. Terlebih pada Alesandra yang memang sudah tahu jika mereka berada di restoran yang sama.


Baru saja Sea hendak melanjutkan langkahnya, ia melihat seorang pria yang juga turut keluar dari bilik yang sama dengan Alesandra. Sea mengurungkan niatnya untuk berlalu. Ia memutuskan untuk tetap bersembunyi di balik pilar.


Entah mengapa sosok pria kekar yang sudah dua kali ia lihat bersama Alesandra, sangat menarik perhatiannya. “Aku semakin penasaran, sebenarnya apa hubungan mereka,” monolognya.


Dari balik pilar, Sea berusaha agar bisa melihat interaksi Alesandra dan pria kekar itu. Keningnya mengernyit kala melihat penampilan Alesandra yang tak serapi saat is pertama tiba.


Surai panjangnya yang tergerai, tampak tak beraturan. Blazer putihnya sudah tak membalut tubuhnya lagi. Alesandra tampak membawanya dalam genggamannya. Meski begitu, ia tampak cukup nyaman walau hanya mengenakan kemeja tanpa lengan.


Dari tempatnya berdiri, Sea bisa melihat pria kekar itu berbisik pada Alesandra. Ibu hamil itu begitu penasaran, terhadap apa yang dibicarakan keduanya.


Terlebih setelah melihat Alesandra melotot pada si pria kekar. Sea menggerutu dalam hati, kenapa juga mereka harus bisik-bisik. Kan aku gak bisa denger!


Rasa penasaran Sea semakin besar manakala mendengar gelak tawa si pria kekar. Bukannya ikut tertawa, Alesandra terlihat seperti sedang menahan amarahnya. Bahkan sebelum pergi si pria kekar dengan sengaja merem*s b*k*ng Alesandra.


Sea menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Apa-apaan itu?” gumamnya. “Aku tak salah lihat, kan?”


Melihat respon Alesandra yang hanya mendengus saat menerima perlakuan tak sopan dari si pria kekar, mengundang tanya di benak Sea. Kenapa membiarkan pria tadi melecehkannya? Kenapa gak mengelak atah melawannya saja, pikir Sea.


Setelah bertindak tak sopan pada Alesandra, pria kekar itu tampak berlalu. Pandangan Sea mengikuti ke mana langkah si pria pergi dan benar saja dia meninggalkan Alesandra begitu saja.


Hanya berselang berapa menit, giliran Alesandra menyusul. Dokter cantik itu terlihat hendak pergi dari restoran. Sesekali ia menghentak-hentakkan langkah kakinya saat berjalan menuju mobilnya.


Selayaknya detektif, tanpa sadar Sea mengikuti langkah Alesandra. Dari jendela restoran Sea bisa melihat bayangan wanita itu menghilang setelah masuk ke dalam mobilnya.


“Sepertinya pria tadi bukanlah pria yang baik,” monolognya sebelum pundaknya ditepuk oleh seseorang.


“Auuwwww!” Sea memekik karena pundaknya ditepuk hingga ia terlonjak karena terkejut. Saat ia menoleh, pelakunya adalah suaminya sendiri.

__ADS_1


Niat hati ingin marah, namun karena tatapan menelisik Noah padanya hingga Sea mengurungkan niatnya. “Eh, Phiu… aku baru aja mau kembali,” ucapnya seraya menyengir.


“Apa toiletnya sudah pindah ke sini?” selidik Noah.


Sea menggeleng. “Tentu aja belum.”


“Lalu, apa yang dilakukan bumil cantik ini di sini, hemm?” tanya Noah seraya merengkuh pinggang istrinya. Pria itu mengajak Sea untuk kembali ke meja mereka. Kedua orang tuanya menunggu di sana.


“Emm, itu a-aku, a-ku anu….” Sea menjadi gugup seketika. Ia takut Noah akan marah padanya.


“Kamu kenapa? Kamu ngapain emang?” tanya Noah. Jawaban Sea membuatnya curiga.


“Itu… aku sepertinya melihat temanku di sana,” kilahnya


”Apa kamu yakin jika melihat temanmu? Atau apa kamu yakin jawabanmu itu jujur?”selidik Noah.


Sea menghentikan langkahnya. Noah pun ikut melakukannya, sebab tangannya masih berada di pinggang istrinya.


“Janji kamu jangan marah?” pinta Sea sengan wajah bersalah.


“Aku mengikuti Alesandra,” aku Sea.


“Sudah dua kali aku melihatnya bertemu bersama seorang pria,” jawab Sea.


“Lantas? Tak ada yang aneh,” komentar Noah.


“Aku penasaran apa hubungan mereka,” ujar Sea.


“Jangan mencampuri urusan pribadi orang lain.” Noah menasihati istrinya.


“Tapi… pria itu sepertinya bukan pria baik deh,” ucap Sea.


“Terlepas pria itu baik atau tidak, jangan pikirkan mereka. Kamu harus memikirkan keselamatan dirimu juga anak kita,” balas Noah. Tangannya terulur mengusap perut rata Sea.


“Sekarang kita pulang. Sudah sangat larut, ibu hamil tak boleh tidur terlambat.


Sea mengangguk. Suaminya benar, sekarang bukan hanya soal dirinya saja. Tapi kini ada calon buah hati mereka yang harus ia jaga.


……………..


Keesokan harinya, Sea begitu bersemangat untuk berangkat ke kampus. Dalam benaknya, ia ingin segera menemui Tessa, Phila, juga Alfio. Sea tak sabar ingin menyampaikan berita kehamilannya pada orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


Begitu tiba di kampus, yang pertama ia temui adalah Phila. “Tessa mana?” tanyanya.


“Sakit,” jawab Phila singkat.


“Seburuk apa kondisinya?” Sea mulai mengkhawatirkan sahabatnya.


Sayangnya Phila hanya mengedikkan bahunya, tanda ia tak tahu.


“Gimana jika kita ke rumah Tessa?” usul Sea.


“Ada yang ingin kusampaikan pada kalian berdua,” sambungnya.


Beberapa jam berlalu, kini Sea dan Phila sudah berada di depan pintu rumah mewah sahabatnya. Setelah menekan bel berkali-kali, akhirnya terdengar bunyi kunci pintu yang diputar. Tak lama setelahnya wajah Tessa muncul dari balik pintu.


“Sea? Phila?” Tessa dibuat terkejut dengan kehadiran dua sahabatnya.


“Tessa!” Seru Sea dan Phila bersamaan.


“Kami mau nengokin, lu.” Ucap Phila..


“Kampus rasanya sepi gak ada lu,” celetuk Sea.


Ketiganya tertawa bersamaan. Senang akhirnya bisa berkumpul bersama lagi.


“Ya udah, masuk yuk….” Tessa mengajak kedua sahabatnya ke dalam kamar pribadinya.


Baru saja masuk, Sea segera ke toilet. Sudah sejak tadi dia menahan keinginannya untuk ke toilet. Setelah Sea selesai, giliran Phila yang ingin menggunakan toilet.


Cukup lama Phila di dalam sana. Namun saat keluar dari toilet, raut wajah wanita itu berubah. ''Ekhem….” Phila berdeham.


Sea dan Tessa yang sedang mengobrol di ranjang beralih menoleh padanya. “Udah Phil? Gabung sini, yuk!” Ajak Sea.


Phila mendekat ke ranjang, “Kumohon jujurlah,” ucapnya.


Sea dan Tessa mengernyitkan keningnya. “Apaan sih Phil?”


Keduanya menelan salivanya saat melihat Phila yang memegang benda pipih dengan garis dua berwarna merah di sana.


“Milik siapa ini?” tanya Phila menatap ke arah Sea dan Tessa bergantian.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2